Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
8. Topeng


__ADS_3


Berdiri anggun seorang wanita di depan cermin. Dia bersolek dan memantas dirinya. Tersenyum senang setelah mengamati penampilannya.


" Aku masih cantik. " Pujinya lalu berjalan dan mengusap lembut wajahnya sendiri penuh dengan kekaguman. Matanya berbinar bahagia dan senyum manis tersaji di ujung bibirnya.


Keningnya mengkerut saat menyibak tirai dan melihat wanita lain yang tengah berdiri membersihkan kebun kediaman keluarga besar Armanto. " Cih, si anak tukang kebun yang menyebalkan. Kau yang sok cantik, bisa bisanya kau dicintai oleh orang satu rumah ini. Apa istimewamu?" Lena meremas tirai dengan afeksi. Dia tak sebaik kelihatannya.


Lena, istri dari Gino. Mempunyai siasat yang sulit di tebak. Benar dia tidak memiliki rahim lagi sekarang, tapi melihat gelagatnya yang amat membenci Ayana di belakangnya, sebenarnya apa yang sedang diinginkannya?


Mengapa dia justru ingin menikahkan suaminya sendiri dengan Ayana?


sungguh tak masuk akal.


" Lihat saja, permainan akan segera di mulai. Lihat dan saksikan bagaimana aku akan menghancurkan kalian semua." Lena tersenyum dengan sebelah bibir yang terangkat, sungguh mengerikan. Layaknya iblis yang mengintai mangsa sebagai perundungan.


" Sayang..!." Seru seseorang dari balik pintu dan seketika membuat Lena berlari dan terduduk di kursi rodanya lagi.


" Hem..?" Sahut Lena dengan suara perlahan seakan lemah lembut dan menenangkan.


" Wah, kau sudah cantik sekali Pagi-pagi. Apa ada acara?" Tanya Gino dengan rambutnya yang masih kusut dan wajahnya yang masih khas bangun tidur.


" Memangnya kapan aku terlihat jelek?" Lena kemudian memoleskan lip tint berwarna merah di bibir tipisnya.


Guyonan kecil seperti itu yang bisa membuat Gino tertawa, tapi tidak dengan Lena yang sesungguhnya. Lena hanya berpura-pura menjadi malaikat di rumah ini. Siapa sangka bila dia sejatinya adalah iblis atau anak buah Dajjal mungkin.


" Dari mana? kau belum mandi tapi sudah berkeliaran. " Dengua Lena lalu menatap Gino dari pantulan cermin.


Gino mendekat dan duduk di sebelah Lena." Aku baru saja mendapatkan kepastian dari Ayana. Dia mau menjadi ibu dari anak kita."Gino terlihat bahagia.


" Bagus Mas. " Lena tersenyum senang.


" Lalu bagaimana dengan restu Ayah dan Bunda?"


" Restu? kita tidak butuh itu. Aku hanya butuh restumu. Aku hanya akan menikahinya secara siri sampai dia melahirkan anak untuk kita sesuai keinginanmu saja."


" Mas, Maafkan aku. Demi aku kau melakukan hal gila seperti ini." Lena menunduk seolah sedang bersedih. Tapi, siapa yang tau jika dia tengah bersorak-sorai karena satu lalat masuk kedalam perangkapnya.


Gino menatap teduh kedua manik Lena. " Sudahlah kita sudah membahas ini bersama. Tidak ada yang perlu disesali bukan?"


" Hem..." Lena mengangguk perlahan.


...🌹🌹🌹...


Bergetar benda pipih disebelahnya tapi tak membuat Ayana seketika mengangkatnya. Si gigi kelinci rupanya sedang merindukannya. Tak tega akhirnya dia mengangkatnya.


' Hai Saayaaaangg...!' Seru suara dari seberang memekakkan telinga.


' Apasih? bisa pelan tidak?' Protes Ayana kesal sembari mengusap-usap telinganya yang penging.


' Ay, kangen....! ' Lanjutnya lagi.


' *Hem, Ternyata peletku sangatlah ampuh sampai kau tergila-gila padaku seperti itu.'


' Oh, ayolah apa kau tidak merindukanku?'


' Iya tentu*..' Jawaban Ayana ambigu dia tak menyebut kata rindu yang sama seperti dengan apa yang Jackie lontarkan.


Lama mereka berbincang hanya sekedar omong kosong. Tak terendus keanehan ataukah memang jarak yang menurunkan kadar kepekaan?


Jackie sama sekali tidak menaruh curiga. Dia masih yakin dan percaya kepada Ayana.

__ADS_1


Sedangkan Ayana hanya mampu menahan getir kebohongan. Dia menelan pil pahit lantaran harus menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Dia tak ingin merusak hari-hari Jackie yang berada disana seorang diri.


Lagi, ponsel Ayana kembali berdering. Kali ini pesan masuk dari Gino.


Kak Gino.


Datang sekarang juga ke apartemen xxxxxxx Jangan beri tahu siapapun. Hanya ada kita berdua.


Tak membalas pesan Gino, Ayana memilih merenung barang sesaat lantas bangkit dan menyambar tas slempangnya dan pergi begitu saja mengabaikan mata kuliah yang sebentar lagi akan dimulai.


" Mau kemana? " Tanya Yuna. Ya dia harus melaporkan apa yang terjadi kepada Jackie tentang setiap apa yang Ayana lakukan. Dan ini sangat mencurigakan. Pulang mendadak tanpa ada perbincangan sebelumnya.


" Pulang, lihat aku bocor dan lupa membawa pembalut. Aku ijin ya, perutku juga sakit." Dalihnya yang disertai dengan erangan kecil dan bibirnya meringis menahan nyeri. Sungguh kebetulan yang tiada duanya. Pantas saja seharian moodnya kacau.


" Oh, cepat pulanglah. Nanti aku yang akan ijinkan." Bisik Yuna.


Di sebuah apartemen xxxxxxx flat 43. Ayana berdiri sendirian dia meremas Sling bag miliknya. Bola matanya mengedar memindai seluruh sudut bangunan. Apartemen yang mewah dan berkelas. Lengkap dengan segala fasilitasnya. Ayana menengguk ludahnya perlahan, terasa sulit dan seret bahkan. seperti terasa banyak tangan sedang mencekik lehernya saat ini.


Pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Dia menengok dan mendapati sosok lelaki yang akhir-akhir ini sangat di bencinya. Laki-laki yang memaksanya untuk melakukan pernikahan tak masuk akal ini.


" Sudah lama?" Tanyanya dengan lembut.


Ayana hanya bisa mengangguk perlahan dengan raut wajah yang redup. Kabut kecemasan melingkupi setiap apa-apa yang akan dilakukan.


" Operasi Paman sudah berjalan dengan baik. Tinggal menunggu masa pemulihan saja." Terdengar bunyi pintu terbuka setelah Gino menekan kode pintu apartemen miliknya.


...🌹🌹🌹...


...POV Ayana....


" Sah...! " seru keempat orang yang menjadi saksi pernikahanku.


" Alhamdulillah.. ! " ucap sang penghulu yang menikahkan kami berdua.


Tidak akan kulakukan semua ini jika tidak untuk menebus nyawa ayahku.


Dan, untukmu kekasihku Maafkan aku yang telah menghianati hubungan kita.


Maafkan aku yang telah menusukmu menikamu dan menghujam mu dengan rasa sakit yang bertubi-tubi.


Aku tahu dan aku yakin Setelah semua ini kau ketahui kau akan sangat membenciku bahkan untuk sekedar melihat wajahku pun kau akan merasa jijik.


Penghulu dan para saksi telah pulang meninggalkan kami berdua di dalam ruang apartemen yang masih terasa asing bagiku.


Aku hanya duduk termenung terdiam memikirkan semua yang telah kulakukan ini benar atau salah aku tak pernah tahu apa hasilnya yang kutahu hanya sakit yang tersisa.


Aku masih tak mengerti mengapa sepasang suami istri ini mereka tega menyeretku ke dalam urusan yang pelik ini?


benar Kak Lena tidak memiliki rahim, benar dia sudah tidak bisa mengandung lagi tetapi tidak ada cara lain yang lebih bisa membuatnya bahagia seperti mengangkat anak misalnya.


mungkin perasaanku saja yang terlalu tajam perihal masalah ini Tapi yang kurasakan Kak Lena memiliki sesuatu yang lain di balik segala ucapannya aku jadi meragukannya, meragukan sikap baiknya selama ini apakah semua itu hanya topeng belaka?


Suasana semakin canggung dan kaku saat dia hanya terdiam duduk di sofa dengan berusaha memejamkan matanya di mana Yang kulihat bulu matanya yang tertutup itu masih sesekali bergerak. Sepertinya ini bukan hal yang menyenangkan baginya Dia seolah merasa tertekan juga dalam keadaan ini.


" Kak, Aku ingin bertanya sesuatu padamu " kataku dengan hati yang ragu tapi aku yakin dia akan memberi jawaban.


" Hemmm. " Sahutnya hanya dengan deheman tanpa memperdulikan ku atau melihat wajahku barang sesaat.


Deheman itu berarti dia mengizinkanku untuk bertanya. aku sedikit beringsut dan menatapnya kulihat tangan kekar itu berusaha menutupi kedua matanya yang masih bergerak dan mengusapnya dengan kasar Dia seolah frustasi akan keadaan ini.


" Kak, aku masih tidak mengerti mengapa kalian menginginkan sesuatu yang aneh seperti ini Apa hubungannya aku dengan kalian jika kalian ingin memiliki anak Bukankah kalian bisa mengambilnya dari tempat adopsi? " Tanyaku yang rupanya sama sekali tidak bisa merebut atensinya dari usahanya untuk memejamkan mata.

__ADS_1


" Tidak bisakah kau diam Ayana tidak bisakah kau menjaga mulutmu itu?" ucapnya tanpa membuka mata dan nada suaranya terdengar dingin dan itu sedikit membuatku merasa sakit. sakit yang kurasa bukan lantaran apa-apa tapi aku disini hanya merasa sebagai seorang istri yang tidak dihargai oleh suaminya.


Ya, istri kata itulah sekarang yang menyandang status ku. Aku sekarang adalah seorang istri dari Gino Putra Armanto tapi rasanya tidak ada kebahagiaan didalam statusku itu.


" Hargailah aku sebagai suamimu. bukankah kita sudah mempunyai kesepakatan? kau menerima uangnya Dan kita melakukan pernikahan ini, sekarang diam lah aku hanya ingin tenang Aku hanya ingin tidur jangan ganggu aku." Sambungnya lagi setelah menyalurkan rasa frustasinya dengan memijit keningnya mungkin dia sedikit berdenyut dan pusing dengan semua ini.


" Aku hanya perlu tahu, rasanya... tidak logis saja jika seorang istri menikah kan suaminya dengan wanita sepertiku. Aku sadar diri aku ini hanya anak seorang tukang kebun di rumah besar kalian" kataku dengan suara yang bergetar aku tak kuasa lagi menahan tangis atau kesedihan pernikahanku ini.


Pernikahan yang seharusnya berakhir bahagia tapi disini aku hanya merasakan derita Aku menyesal karena telah mengambil keputusan ini tetapi di sisi lain aku berfikir mungkin ini lebih terhormat daripada sekedar menjadi ja**ng di luaran sana setidaknya aku hanya melacur dengan suamiku sendiri.


" Nana, kumohon diamlah! Aku tidak ingin berbuat kasar atau berkata kasar padamu. Cukup kau diam kau terima uangnya dan kita lakukan semua ini bersama lebih cepat itu lebih baik aku harap kau segera hamil."


Segera hamil katanya?


aku tertawa dalam hati sungguh aku menertawai kebodohannya ini bagaimana bisa aku segera hamil jika dia saja tidak pernah menyentuhku atau melakukan sesuatu yang lebih.


" Aku tahu, Aku tahu itu kau hanya menginginkan anak dari ku kan ayo kita lakukan sekarang! " Sungguh mendengar ucapannya membuatku tersulut emosi aku lantas berdiri dan berusaha untuk melepas kancing kemejaku tepat di hadapannya.


Aku merasa jika keberadaan ku disini hanyalah sebagai tempat penghasil anak baginya dan tidak lebih daripada itu. saat tanganku mulai bergerak aktif melepas satu persatu kancing kemejaku dia terhenyak berdiri lalu membentakku.


" Hentikan! aku sama sekali tidak menyukai ja**ng bersikaplah seperti wanita yang berkelas, bersikaplah seperti wanita baik-baik di hadapanku! " Sarkas nya setelah memakiku dia begitu marah setelah melihatku.


Apa yang sebenarnya dia inginkan Bukankah baru saja Dia berkata ingin segera menyelesaikan semua ini? Tetapi dia melarangku untuk melepas barang satu persatu kancing bajuku ada apa ini sepertinya apa yang diucapkannya sangat bertolak belakang dengan keinginan di hatinya.


Tidak segera mengajakku ke kamar, ataupun melakukan sesuatu yang lain, Dia masih terdiam di posisinya dan aku pun sama kini aku hanya bisa menunduk dan menangis memikirkan semua ini.


Malam ini malam pertama kami hanya kami habiskan dengan saling berdiam diri tanpa bertegur sapa bahkan kami pun tidak menghiraukan rasa lapar di perut kami masing-masing, sungguh ini sangat miris dengan kenyataannya di mana kami baru saja mengucapkan ijab qobul.


Tak mau ambil pusing, aku meninggalkannya sendirian di ruang tamu. Dia masih bersandar di sofa dan berusaha memejamkan matanya. aku perlahan mulai masuk menyusuri setiap ruangan di dalam flat ini, ada 1 kamar yang berpintu lumayan besar dan aku memasukinya. Tepat sekali itu adalah kamar kami, itu adalah kamar utama dalam flat ini.


Aku melupakan sesuatu aku baru ingat jika aku datang ke sini tanpa membawa apapun. Ya baju ganti pun aku tidak membawanya dan sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan.


Tapi langkahku terhenti saat aku berada tepat didepan pintu dan suara bariton yang menggema itu mulai menegurku. " Baju-bajumu sudah tersedia di lemari Istriku yang membelikannya untukmu. "


Aku hanya diam malas aja untuk membahas semua ini.


Aku mulai memasuki kamar itu kulihat banyak lemari besar yang berjajar rapi juga ranjang yang ukurannya mungkin bisa saja dua kali lipat daripada ranjang di kamarku yang sempit itu.


Perpaduan warna yang pas antara coklat dengan krem Aku suka warna ini warna yang menenangkan. Tirainya pun berwarna senada Aku hanya bisa tersenyum miris. Andai, andai dan andai. andai saja ini memang benar-benar kepunyaanku yang kutempati bersama dengan suamiku yang benar-benar kucintai kelak. Tapi, ini hanyalah angan yang nyatanya terjadi memang aku disini dengan suamiku tapi bukan suami yang benar-benar kuharapkan.


" Bersiaplah, aku akan keluar sebentar baju tidurmu ada di lemari paling pojok sebelah sana. " katanya sembari menunjuk lemari yang berada di pojok ruangan ini.


"jika kau lapar ada makanan kau bisanya menghangatkannya di microwave. aku pergi " sambungnya lagi sebelum mendapatkan jawaban dari ku dia pergi begitu saja meninggalkanku yang masih takjub dengan suasana di kamar ini.


Ah...., sudahlah untuk apa memusingkan yang belum terjadi? Sekarang, nikmati saja apa yang ada. Memang itu yang harus ditanamkan pada pola pikirku yang rumit ini. Di sisi lain, aku merasa bersalah kepada Jackie. Tapi, di sisi lain aku harus melakukan ini demi ayahku.


Rupanya aku juga sekarang telah menjadi manusia munafik dengan topeng yang membekap mulutku untuk mengatakan kejujuran.


Dengan topeng yang membuatku terlihat baik di mata orang padahal sejatinya aku adalah manusia yang kejam.


Aku hanya bisa menatap nanar pantulan diriku yang berada di cermin tepat dihadapanku. Ya aku sekarang telah menjadi manusia munafik aku sekarang telah menjadi manusia yang bertopeng.


Dari luar aku mungkin terlihat cantik dan baik tetapi di dalam hatiku aku menjadi manusia yang jahat dan keji terbukti aku mampu menyakiti Jackie sampai sejauh ini.



yuhu!!


Mimi datang lagi!!!


Happy reading ya buat kalian semua.

__ADS_1


Makasih yang udah berkunjung jangan lupa tinggalin like sebagai bentuk apresiasi atas segala tulisan Mimi yang receh ini.


Jangan lupa juga tinggalkan komentar biar MiMi lebih semangat buat nulis ya!!


__ADS_2