Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
111. Lamat lamat


__ADS_3

...~~~~...


Kala rindu membebat kalbu, semilir sang Bayu tak mampu lagi menderu.


Semakin jauh dan kian berlalu, terombang-ambing di tepian bibir nan kelu.


Membelai tanpa raga, beradu kasih tanpa Sukma.


Biarkan sang pujangga yang tahu apa itu lara dari mencinta.


Diah, satu bulan semenjak kepergiannya. Dia menangis sendirian di pojokan kamarnya. Sejatinya hatinya begitu hampa, tanpa siapapun yang membimbing langkahnya. Tak lagi punya saudara, dan tak lagi punya muka untuk kembali menyapa.


"Aku benar-benar hamil" Ucapanya sesenggukan dalam isakan yang tertahan. Sendirian menghadapi semuanya semenjak Ayah dan ibunya berpulang dengan cara yang tragis dan terabadikan sejuta mata.


"Nak, kau.... tumbuhlah dengan baik ya? Ibu menyayangimu. Sebisa mungkin ibu akan mandiri dan tak akan merepotkan siapapun." Ucapnya sambil mengusap perutnya yang rata. Menyalurkan segala energi yang tersimpan dalam raga.


Air matanya tak berhenti menetes, mereka tetap berjatuhan meski tanpa perintah sang tuan. Seolah tak mendengarkan peringatan, Air mata itu semakin deras bak hujan buatan.


"Seharusnya aku tak sebodoh itu mudah percaya Pada Tuan Alex. Benar dia mencintaiku. Tapi keluarganya? Aku tau peranan restu tak kalah besarnya dari ridho sang Maha Kuasa. Sebab itu, aku memilih untuk membesarkan mu tanpa sosok Ayah. Tak apa kan sayang?"


"Nak~~~ Suatu saat nanti, jika kau tak sengaja bertemu dengannya, kau bebas menentukan pilihan untuk ikut dengan siapa. Yang mereka tolak itu aku anak si pembunuh. Bukan kamu yang tidak mengerti apa-apa." Ucap Diah berderai air mata.


Berserakan sudah tisu di seluruh penjuru ruangan. Seharian setelah membeli alat tes kehamilan, dia justru sedih tak berkesudahan. Dia benar-benar terpuruk. Sejatinya dukungan memiliki peranan penting dalam perkembangan mental ibu dan janin.


Tapi sayang dan malangnya, Diah tak memiliki keduanya. Dukungan sebagai ibu dan istri pun tak di dapatkannya.


"Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikanku teman di saat aku sendirian. Aku sangat bahagia sekarang." Diah tersenyum simpul dan menghapus air matanya.

__ADS_1


"Aku tak bisa berdiam diri dan terus bersedih seperti ini. Ini sangat tak baik untuk aku dan janinku. Aku harus mencari kesibukan agar tak terlalu terpengaruh dengan keadaanku saat ini." Diah menyandarkan kepalanya dan menatap hampa sebuah pohon bunga yang nyaris mati kering di depan jendela.


"Mungkin aku bisa berjualan online, aku lumayan pandai memasak kan.. Emm... bagaimana kalau membuat camilan pedas." Dia berbicara dengan dirinya sendiri setelah seharian menguras air matanya.


Memang harus begitu kan? kudu semangat, tanpa Ayah lebih baik daripada membuang bayinya.


Sementara itu di bagian tanah Indonesia yang lain.


"Bau apa ini?" Tanya Alex pada Rian yang berdiri di dekatnya.


Rian ikut mengendus sekitarnya, dia sedang berada di dalam lift dan hanya berdua. Yang Rian takutkan jika ada korsleting listrik. Dia sangat serius mengendus tanpa tau maksud ucapan Alex.


"Kau belum mandi ya?" Celetuk Alex memicing tajam menatap Rian yang kebingungan.


"Apa? aku? enak saja. Sudahlah!" Rian membantahnya.


"Ini, bukan masalah parfum Bos. Tapi sesuatu yang lain, sepertinya kau harus ke THT." Kata Rian yang begitu kesalnya lantaran tuduhan tak beralasan Alex.


Waktu terasa begitu cepat berlalu, mengikis usia dan masa. Alex dengan orang suruhannya masih mencari jejak kepergian Diah. Belum ada kabar apapun meski sudah satu bulan semenjak kepergiannya itu.


"Di..... dimanakah kamu?" Alex menggumam berbicara pada hamparan awan yang berjajar dan siap menitikkan hujan.


Yang Alex pikirkan itu sangatlah sederhana, Diah hidup sebatang kara dan Dia sudah merusak pendidikan dan masa depannya. Hanya sesal yang ada membelenggu jiwa. Dia tak mengira bila semuanya akan menjadi begitu runyam.


Terdengar sara ketukan pintu dan itu dari Bunda Winda.


"Ada apa lagi Bun? mau mendesakku lagi untuk menentukan tanggal pernikahan?" Pasalnya satu minggu yang lalu, Bunda Winda begitu gencar meminta agar Alex dan Tata untuk segera menikah.

__ADS_1


Tapi, Alex tak serta merta mau menerimanya. Alex bahkan menantang sang Ayah untuk menghilangkannya dari daftar warisan. Demi Diah dan calon anaknya. Namun, semua ini tak sejalan dengan keinginannya. Dia berjuang tanpa ada yang mau di perjuangkan.


Bila saja ada Diah di sisinya saat ini, Dia tak akan begitu hampa dan bisa bertahan meski tanpa harta. Tapi, cintanya memilih untuk lari tanpa perjuangan sama sekali.


Malam hari, Dia benar-benar sedang tak ada kerjaan dan memilih untuk melajukan kendaraanya tanpa tujuan. Dan lihat bagaimana takdir kembali mempertemukan.


Saat di lampu merah, lamat-lama Alex melihat seorang wanita yang tengah menaiki ojol, mengenakan kaus kebesaran berwarna pink, dan rambutnya yang diikat asal. Alex ingat betul siapa pemilik leher jenjang tersebut.


Dari mulai Diah mengantri membeli martabak, lalu sesekali dia mengusap perutnya dan kemudian di lanjutkan dengan dia yang membeli susu khusus untuk ibu hamil di sebuah mini market. Alex melihat itu semua.


Hatinya sudah begitu bergemuruh menahan haru, menahan rasa rindu yang satu bulan lamanya membelenggu. Alex terlalu emosional, sampai-sampai dia menepuk-nepuk pahanya sendiri untuk meyakinkan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


Tak sedikit barang bawaan Diah, dia ternyata baru saja pulang dari supermarket untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Terlihat juga bagaimana sikap baiknya kepada si mamang ojol. Dia mengejar mamang ojol hanya untuk sekedar berbagi martabak dan juga uang tip.


Saat Diah hendak masuk kedalam flatnya, Alex dengan seketika mengejarnya, Diah sedikit berlari lalu kemudian berusaha menutup pintunya. Sayang sungguh di sayang, Dia kalah cepat dengan Alex.


Alex mengganjal pintu menggunakan kakinya lalu dengan cepatnya dia mendorong Diah untuk masuk. Diah kalah tenaga dan juga sekaligus Dia memikirkan tentang keadaanya yang sedang hamil.


"Tu... tuan?" Diah sungguh tergagap dia hilang kosa kata. Lidahnya bahkan seakan sedang membeku di dalam mulutnya.


"Ka... kamu? Darimana tahu keberadaan ku?" Tanyanya dengan begitu terbata bata dan wajahnya yang menegang. Secepat inikah pelariannya terkuak?


Alex tak bicara apapun, Dia kemudian memeluk erat Diah dan mengusir segala kerinduannya. Tak perduli lagi bagaimana nanti ujungnya, yang Alex mau adalah mereka yang berjuang bersama.


"Jangan lari dariku, biarkan aku memelukmu beberapa saat seperti ini. Aku sangat rindu." Ucapnya sembari menghirup dalam dalam aroma tubuh wanitanya yang selama satu bulan ini tak pernah lagi menyapa indra penciumannya.


Diah yang masih syok hanya bisa berdiri mematung di tempatnya. Dia terkunci dan tak bisa lari. Berada dalam kungungan orang yang ingin memperjuangkannya mati matian.

__ADS_1


Nak, sayangku... ingat ini baik baik, saat ini Ayahmu sedang memeluk Ibu. Batin Diah dengan air matanya yang merembes keluar tanpa ijin si pemilik.


__ADS_2