
...π€π€
...
...ππΌπΌπΌπ...
Bergelung dalam selimut tebalnya, Alex memicingkan matanya dan terperanjat saat sosok wanita paruh baya sudah berdiri tepat di sampingnya dengan tatapan berjuta makna.
"Bangun!" Serunya lalu menarik selimut sang anak.
Alex masih malas, dia sangat enggan mengenai hal ini, padahal sebelumnya mereka sudah sepakat.
"Alex, bangun! Tante Agustin sudah menghubungi Bunda. Dia sudah siap dan sedang di jalan." Bunda Winda menepuk-nepuk punggung Alex yang tidur dengan posisi tengkurap.
Suara parau, serak khas orang bangun tidur. Tanpa baju dan hanya memakai celana pendeknya. Kebiasaan ini sudah tertata sedari kecil dan susah untuk dihilangkan. "Bun, bisa di tunda tidak? dua jam lagi ya?"
Bunda Winda menggeleng dan tersenyum kecil. " Tidak ada tunda menunda lagi. Sudah cepat bersiap, Bunda tunggu di meja makan. Kita sarapan, dan berangkat!" Ujarnya bersemangat.
Alex terduduk menatap punggung sang Bunda yang kian menghilang tertelan jangkauan pandangan yang terhalang daun pintu.
"Haruskah?" Gumamnya yang kemudian tersenyum kecut.
Seorang Alex yang banyak digilai wanita. Menjadi yang tertampan di kampusnya, kini harus mengikuti kencan buta demi calon istri?
Alex memulai ritual mandinya, sejenak berendam di bathtub berisi air hangat, merelaksasi tubuhnya yang terasa lelah meski belum memulai segenap aktivitas. Bermain busa putih nan lembut dalam genggaman tangannya dia tersenyum, berfikir mengapa hanya untuk mencari pasangan hidup saja harus merepotkan ibunya.
Di tempat lain.
"Tante, bisa tidak kita batalkan saja?" Tanya Diah yang tengah di dandani oleh Agustina.
Calon istri yang dimaksudkan oleh Agustina adalah Diah. Diah masih saudara jauh dari suami Agustina. Dan dia juga merupakan kandidat terbaik menurutnya.
"Tidak!" Agustina menggeleng yakin.
"Jika kamu menolaknya, kamu akan menyesal."
"Tapi katamu dia lelaki tua Tante. dia belasan tahun lebih tua dariku kan?" Diah bertanya tetapi maksudnya adalah meyakinkan agar Agustina mengiba dan berubah pikiran.
Agustina memoleskan blush on di pipi Diah. "Tante, sudah kenal sangat baik dengan keluarganya. Walaupun dia jauh lebih tua darimu, tapi wajahnya masih pantas dibilang sebagai anak kuliahan. Dia baik, sopan dan hangat. Tante jamin, kau akan sangat senang setelah bertemu dengannya nanti." Banyak pujian teruntuk sosok yang di agungkan tapi tak ditunjukkan nama maupun gambar diri.
Diah hanya menyimak dan mencerna.
Padahal, baru beberapa hari lalu aku bertemu dengan pangeran ku.
__ADS_1
Yah, walaupun dia juga jauh lebih tua dariku, tapi dia masih layak dibilang anak muda.
Tapi...., mungkin saja dengan mengikuti usulan Tante Agustin, nasibku akan berubah.
Yang ku tau Tante Agustin adalah orang yang bisa dipercaya.
Diah menggumam dan terjebak dalam lamunan.
Di dalam perjalanan, tak ada perbincangan yang serius, Bahkan gadis yang di jodohkan itu terlihat murung dan lesu. Hingga tak terasa mereka sampai di sebuah taman bermain atau lebih tepatnya area wisata yang identik dengan taman bunga.
Ah, di sini ya?
Pasti nanti banyak yang akan berfikiran aku jalan dengan Om Om. Diah berkeluh-kesah dalam hatinya.
"Kenapa? sedari tadi melamun terus? jangan begitu. Ketemu dulu, kalau tidak cocok, baru menyerah. Ini belum apa-apa sudah melempem." Desis Tante Agustin menceramahi Diah.
Angin bertiup lumayan kencang dimana cuaca cerah berawan bertemankan suhu lembab di sekitaran. Diah hanya berjalan mengekor tanpa keceriaan yang terpatri.
"Hai!!" Seru suara yang tak asing bagi Diah. Suara wanita yang baru beberapa hari lalu menjadi majikannya di rumah besar.
"Hai!" Balas Agustin tak kalah riang.
Keduanya lalu bercengkrama dan kemudian...
"Ini loh, Win yang aku calonkan." Kata Agustin dengan senyuman sumringah.
" Siang Bu!" Diah menyapa dengan kikuknya. "Sa... saya baik Bu Eh nyonya." Diah sungguh jadi tak enak hati.
Diah menarik Agustin lalu berbisik lirih, sangat lirih dengan mengetatkan giginya. Mulutnya tak terbuka, tapi jelas dia sedang berbicara. " Tante, aku pulang saja. Dia ini majikanku beberapa hari kemarin. Aku merawat menantunya. Sungguh aku tak pantas Tante. Aku pulang saja ya. Kita batalkan saja." Cicit Diah di telinga Agustin yang justru memicu gelak tawa dari Agustin.
"Ah, kamu ini kenapa?" Tampilnya seolah tidak ada sanggahan apapun dari Diah.
"Ada apa Mbak?" Bunda Winda mengernyit heran.
Agustin tersenyum simpul lalu mengubah topik pembicaraan. "Oh tidak dia hanya kebelet saja. Eh iya, dimana Alex?" Agustin mengamati sekitarnya tapi tak nampak batang hidung keponakannya itu.
Bunda Winda melambai dan Alex mengangguk paham, mendekat kepada Bunda Winda. Masih belum terlihat, siapa gadis yang di pilihkan untuknya.
Ah, pak Alex!
Seharusnya aku senang kan? Tapi, aku juga harus tau diri.
Dia majikanku...! Tadinya aku mengidolakannya tapi sekarang aku sadar diri.
Diah kemudian beralasan ingin pergi ke kamar kecil. Dia berpamitan hanya untuk menghindari bertemu dengan Alex.
__ADS_1
"Ah, matilah aku!! Alex Putra Armanto. Sungguh aku tidak pantas." Diah gelisah, *******-***** ujung roknya dan menggigit-gigit bibir bawahnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Lamunannya buyar kala terdengar suara ketukan pintu. Diah menempelkan telinganya, berharap itu bukan Tante Agustin ataupun Nyonya Winda.
"Diah! Cepat keluar!! Waktuku tidak banyak, aku harus segera bekerja setelah ini!" Suara laki-laki yang menggema terdengar jelas ditelinga.
Jantung Diah semakin berdetak tak menentu. Tangannya sampai berkeringat dingin. Dia takut juga malu. Apalagi saat ingat kejadian di kamar pembantu tempo hari lalu.
"I... iya pak!" Sahutnya setengah berteriak.
Alex sudah menunggunya, berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Lama sekali, sebenarnya apa yang kau keluarkan? batu giok atau batu kali?" Katanya dengan nada bicara yang ketus dan terdengar geram.
Diah yang kikuk lantas menunduk dan kelu lidahnya seakan membeku dan sulit berkata-kata.
"Cepat, mau kemana kita?" Alex terdengar tidak sabaran. Ditambah lagi dengan tangannya yang sudah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Em... pak." Ragu Diah berbicara. Dia memilin ujung tali gelangnya. "Kalau waktu bapak tidak banyak, kita bisa batalkan saja. Saya tau bapak orang sibuk. Dan juga saya rasa perjodohan ini tidak akan cocok." Ujarnya.
Mendengar perkataan Diah yang seakan-akan menolak kehadirannya membuat Alex tersenyum getir. Senyum yang mengartikan ada surat kekecewaan di dalamnya. Gagal lagi menemukan calon istri begitu kira-kira siratan hatinya yang meronta.
"Banyak bicara juga kamu. Cepat ikut saya!" Ucapnya seenak hati mengabaikan lawan bicara yang tertunduk tak berani menatapnya.
Apa-apaan ini?
Tadi saat tau calonya dia, aku merasa sedikit tenang.
Aku tak perlu grogi. Tapi sekarang dia menolakku mentah-mentah? Oh, tidak bisa anak kecil!!
Seenak jidat saja kamu ingin membatalkan perjodohan ini sebelum aku tau seluruh seluk beluk kehidupanmu, tak akan kulepaskan kamu. Alex bermonolog dalam hatinya yang seiring dengan langkah kakinya yang lebar mendahului Diah.
Aih!
Malu sekali aku!! Harusnya tadi aku tidak usah datang saja. Kalau begini, aku harus bagaimana?
Apa, dia hanya ingin mempermalukan atau mempermainkan aku?
__ADS_1
Oh ayolah. Normal bukan bila Diah ketakutan?
Dia hanya Manusia biasa dan rakyat jelata. tak pantas rasanya jika dia mendamba seorang tuan yang rupawan. Diah masih tau diri. Ibunya mengajarkan padanya untuk tahu batasan.