Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
48. Jangan begitu.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Masih bergelung dalam selimut tebalnya, kedua insan yang selesai memadu kasih pada dini hari.


Kehangatan masih terasa kala tangan kekar mulai meraba dan membelai mesra wajah yang tengah terlelap menutup mata. Mengarungi indahnya mimpi dan meniti asa yang tak terjanji.


Jackie, lelaki itu kini telah benar-benar menjadi budak dari wanita yang tengah bermimpi indah. Wanita yang dahulu pernah di sia-siakan dan beberapa kali menerima perlakuan tak baiknya kini menjadi ratu dihatinya.


"Sayang, bangun." Lembut Jackie berucap. Suaranya mendayu dan berat merambat menuju gendang telinga membuat berdiri bulu kuduk yang ada.


Tertarik satu titik kurva saat dia tersenyum tipis melihat sang istri yang hanya sekedar melengkuh lirih dalam tidurnya. "Eungh....?" Hanya itu dan kembali sunyi. Si pria kemudian pun ikut melanjutkan tidurnya.


Hingga matahari kian meninggi, menembus segala celah dimuka bumi ini.


Ayana yang merasakan beban berat di perutnya mulai terbangun dan perlahan mengerjapkan matanya.


Dia tersenyum begitu manisnya saat pertama membuka mata, sosok tampan tengah tertidur dengan wajah polos nan damai.


"Kelinciku masih tidur rupanya. Tidurmu nyenyak? Ah, pasti kamu sangat nyenyak setelah semalam berkeringat banyak." Ayana menggumam dan terkikik perlahan mengamati wajah polos yang tanpa beban.


Ayana hendak bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sialnya, sedikit pergerakannya membuat kesadaran Jackie cepat kembali. Lelaki itu terbangun lalu tersenyum manis dan meraih tangan Ayana.


"Mau kemana?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Bisa kalain bayangkan betapa Errrr seksieeh si JK yang bangun dari tidurnya?


"Aku mau ke kamar mandi. Kenapa mau ikut?"


"Boleh, kita mandi bersama ya? Sepertinya asik juga bereksperimen di kamar mandi." Celetuknya sedikit frontal dan menjurus.


"Ih, Apaan sih. Kurang semalaman?"


"Hemh😊." Balasnya dengan senyuman yang mengandung banyak makna terselubung.


" Ah sudah aku mau mandi." Kata Ayana yang kemudian berlalu pergi menuju ke kamar mandi.


Jackie hanya terdiam ditempatnya tanpa bergeser dan menatap punggung sang istri yang semakin menghilang ditelan pintu dan jarak pandang.


Mengapa aku tak bosan untuk mencintainya meski dia pernah menghancurkan hatiku? Batinnya saat melihat punggung itu kian berlalu.


...Di dalam kamar mandi....


" Ah, untungnya aku tidak melupakanmu." Ayana bermonolog lirih dengan lawan bicaranya sebuah pil kecil berwarna putih.


Dia lalu tersenyum dan meminum pil tersebut. Kelegaan terlihat jelas dari sorot matanya yang menatap pantulan wajahnya.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu. Ya siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Ay, kamu tidur atau pingsan?"


"Tidak keduanya! Aku sedang.... Hei apa kau mau ku bungkuskan?" Celetuk Ayana jahil yang di sambut dengan,


"Huek!! menjijikkan!!🤮 Aku tak percaya ini mengapa aku menikahi wanita yang abstrak ini?" Keluhnya yang terdengar jelas di telinga Ayana.


"Hei aku mendengarkannya sayangku!!" Sahutnya dari dalam kamar mandi.


"Stop! Don't talking about this. Give your focus to your Job!!" Jackie menyahut kesal.


"Ok, I will !" Seru Ayana yang di ikuti gelak tawa sesudahnya.


Padahal siapa yang tahu bila Ayana di dalam hanya karena ingin mengonsumsi sebuah obat?


"Akan bertengkar lagi kita jika dia tau tentang obat ini." Gumamnya yang kemudian menyimpan obatnya kembali kedalam tas.


Ayana keluar dan selesai dengan urusannya di kamar mandi. Melangkahkan satu kakinya dan menajamkan telinga, mengaktifkan matanya memindai keadaan sekitar.


"Sepi?" Dia mencibikkan mulutnya lalu menggidikan kedua bahunya acuh.


Apa pedulinya?


sedangkan dia sendiri mau melayani suaminya hanya karena takut dosa, bukan semata-mata saling mencintai. Disini hanya Jackie yang menjadi budak cinta. Lalu Ayana?


Ayana bisa dikatakan mulai gila sebab dia masih saja mendambakan Gino. Menggunakan waktu luangnya untuk membuka ponselnya. Aplikasi chat yang akrab dengan warna hijau.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna melihat satu, dua postingan dari Dita. " Mesra sekali...🥺." Ayana menunduk lesu.


"Apakah aku sudah gila?


Mencintai Kakak dari suamiku sendiri? ini cinta atau hanya sekedar rasa terbiasa bertukar sapa saja?" Ayana menggumam lesu.


Tak lama terdengar suara langkah kaki berhenti di depan pintu hotel yang ia tempati.


"Ay!" Seru si pemilik suara kemudian melangkah masuk dan mendekat lalu mencium kening Ayana.


"Darimana?" Tanya Ayana.


"Menemui pihak hotel, aku meminta menu makanan yang eksklusif untuk diantar kemari."


"Kenapa tidak menelfon saja?" Ayana menunjuk pada intercom yang tersedia di dekat pintu masuk.


"Hem, sekalian melihat-lihat pantai tadi. Setelah makan kita jalan-jalan ya." Tanyanya dengan tatapan mata penuh pengharapan.


"Iya, terserah kamu saja." Jawaban Ayana menyiratkan bila dia sendiri tak mempunyai minat untuk menuju ke suatu tempat atau destinasi.


Jackie menangkap ada yang sedikit mengganjal. Tapi, mengingat hubungan mereka yang baru saja membaik, dia menepis semua pikiran negatifnya. Tak mau saja ada keributan di tengah acara bulan madu mereka.


" Ya sudah, kamu sudah mandi kan? bersiaplah. Aku akan mandi dulu." Ucap Jackie yang kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Ayana melanjutkan kegiatannya memakai makeup dan Jackie disibukkan dengan ritualnya di kamar mandi.


Saat di kamar mandi, tanpa sengaja Jackie menemukan bekas bungkusan tablet obat. Keningnya mengkerut lalu mulai penasaran. Dia penasaran, bagaimana bisa hotel bintang lima memiliki pekerja yang tidak teliti?


Bisa-bisanya meninggalkan sampah di dalam kamar mandi. Sangat tidak profesional.


Tapi, sesaat kemudian dia terdiam berpikir dan mengamati bungkus tablet tersebut. "Ah sudahlah, ini hanya sampah." Gumamnya sendiri.


Mereka makan berdua dan setelahnya berjalan-jalan bersama menghabiskan waktu selayaknya pasangan teromantis lainnya. Banyak mengabadikan momen kebersamaan mereka dalam bentuk foto dan video. Terlihat manis bukan?


Namun, di balik itu semua. Ternyata hanya satu sisi yang benar-benar mencintai setengah mati. Sedangkan satu sisi yang lain masih belum bisa melupakan sepenuhnya matan suaminya yang terdahulu.


"Ah, lelahnya!" Keluh Jackie dengan wajahnya yang memang terlihat lelah sekali.


Sedangkan Ayana, dia masih berjalan dengan santainya menikmati dinginnya es krim ditengah cuaca terik. "Mau." Kata Jackie meminta es krim milik istrinya.


Bukanya senang, tapi Jackie justru mengurungkan niatnya. Dia, seketika raut wajahnya berubah. " Kamu kenapa? sepertinya sangat tidak suka berada dekat denganku? Sedari kemarin kita sampai, kamu sama sekali tidak mengatakan apa keinginanmu." Kata Jackie yang sejatinya tengah dirongrong dengan rasa bingung.


"Kita menikah berdua, dan berbulan madu berdua. Tapi aku merasa sendiri di sini. Memutuskan semuanya sendiri dan kamu hanya sebatas mengikuti. Dan sekarang, hanya sekedar menikmati es krim berdua saja kamu sengaja menghindari." Katanya.


Ayana tertegun, lelaki ini rupanya telah berubah menjadi sosok yang begitu sensitif dan perasa. Dia harus memutar otak untuk menjawab tumpukan pertanyaannya tanpa mengacaukan suasana.


"Bukan begitu Jack, Aku hanya tidak ingin kau merasa kurang karena es krim ini juga tinggal sedikit. Tolonglah jangan salah artikan." Kata Ayana memberikan penjelasan dan berharap Jackie mau meyakininya.


"Hhhh, Alasan!" Jackie berdecih tergambar dalam matanya lelaki itu tengah meradang. "Aku, tidak benar-benar menginginkan makanan ini!" Jackie membanting es krim yang di pegang Ayana ke hamparan pasir.


"Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksimu. Dan ternyata sudah terjawab. Kau merasa enggan untuk berbagi denganku." Pungkasnya dengan pendirian yang teguh.


DEGH...!


Terpukul tepat di dada membuat Ayana membeku di tempatnya. Benarkah ini suaminya?


Apakah Jackie akan kembali pada dirinya yang kemarin?


Ayana, pikirannya kembali menerawang saat dimana dulu Jackie memperlakukannya secara tidak baik.


"Kamu akan marah hanya karena masalah es krim?" Tanya Ayana yang mendekat kepada Jackie. Dia menelengkan kepalanya dan menatap intens manik Jackie.


Jackie menghembuskan nafasnya kasar, dan mengalihkan pandangannya memandang hamparan lautan nampaknya kini lebih menarik baginya daripada memandang wajah sang istri.


Jackie yang telah menaruh banyak harapan, kini menjadi meragu akan jalinan hubungan yang mereka tautkan.


Apa dia belum bisa melupakannya? Batin Jackie meraba, menerawang kisah lalu mereka bertiga.


"Ahhh~~~~ suamiku marah. Ya sudah, aku akan kembali saja ke kamar dan berkemas. Maaf sudah merepotkanmu." Kata Ayana yang terdengar ironi bukan?


Bukannya membujuk atau merayu, Ayana malah bersikap acuh. Jackie membiarkan Ayana kembali ke kamar. Dia hanya diam di tempatnya duduk, memandang hamparan laut lepas dengan deburan ombak yang memecah kesunyian.


Pemandangan indah tak seindah suasana hatinya.


Jackie merenung seorang diri.

__ADS_1


Apa aku salah?


Kenapa aku menjadi begitu sensitif? Kalau memang dia belum bisa melupakannya bukan berarti Kakakku akan merespon balik dengan hal yang sama kan? Jackie berpikir sendirian, kakinya memainkan pasir lembut berwarna kecoklatan.


Tadi apa katanya, dia akan berkemas?


Apa itu artinya dia akan pulang? Jackie tersadar dan menegakkan punggungnya seketika. Matanya membulat dan menyusul istrinya dengan berlari.


Di kamar hotel.


"Untuk apa mengajakku pergi kalau nyatanya dia akan kembali jahat seperti kemarin?" Ayana mendumel sembari memasukkan baju-bajunya kedalam koper.


"Hhhh, untung saja aku mengonsumsi pil kontrasepsi hormonal itu kalau tidak? Jika kami bertengkar terus begini, bagaimana bila kami punya anak? pasti akan tambah sering bertengkar dan itu tidak baik untuk anakku." Katanya dengan tangan yang masih terus menata bajunya.


Ayana berada di depan lemari yang terbuka dan tubuhnya terhalang oleh pintu lemari sedangkan tadi karena dia juga kesal akan sikap Jackie, dia masuk kedalam kamar tanpa merapatkan pintu karena terganjal sandal hotel. Ceroboh sekali, bagaimana kalau ada orang gila yang masuk?


"Syukurlah aku tidak menjadi bodoh karena menyerahkan diriku sepenuhnya padanya. Aku tak mengira saja jika sikap aslinya seperti itu. Dia berbeda, dia bukan Jackie ku yang dulu." Ayana melipat bajunya satu persatu.


"Dia dulu begitu manis dan baik. Tapi sekarang, dia agak susah mengontrol emosinya. Berbeda dengan Kak Gino yang bisa lebih legowo dan sabar dalam menangangani wanita." Kata Ayana membandingkan sesuatu yang tak seharusnya.


"Oh, betapa beruntungnya Kak Dita. Mereka terlihat begitu menyayangi." Gumamnya lagi.


Tiba-tiba.


BRAK!!


Pintu lemari terdorong dan menutup dengan kerasnya membuat Ayana terlonjak dan sedikit bergeser dari tempatnya duduk.


Wajahnya menengadah melihat sosok suaminya yang berdiri di depannya dengan tangan yang mengepal kuat dan sorot mata yang tajam. Jangan lupakan juga jika urat lehernya sudah keluar bergaris menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.


"Oh, jadi selama ini kau masih menyimpan dia di hatimu?" Ujarnya dengan afeksi yang melengkapi. Suaranya meninggi membuat Ayana ciut nyali.


Ayana menelan ludahnya kasar. "Kau sudah mendengarnya bukan? jadi untuk apa bertanya lagi?"


Sungguh Ayana mematik api perselisihan diantara mereka. Bukanya meredam tapi Ayana malah menyulut kemarahan. "Aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi." Kata Ayana dengan entengnya.


"Ay, Apa dihatimu sama sekali tidak ada aku? Mengapa kau menutupnya untukku? Ay, aku sangat mencintaimu. Aku menyesal dulu pernah berlaku tidak baik padamu."


"Jack! apa kau tidak paham kalau aku butuh waktu? Jika kau jadi aku yang harus mengorbankan segalanya demi nyawa ayahmu lalu pacarmu sendiri menuduhmu yang bukan-bukan dan lebih percaya kepada orang lain, bagaimana!!?" Ayana meluapkan apa yang selama ini tertimbun di hatinya.


"Selama ini aku hanya diam, aku hanya diam mengobati lukaku. Tidak ada yang mendukungku kecuali Kak Gino. Lantas apa menurutmu aku bisa dengan gampangnya melupakan dia?"


"Dia, satu-satunya orang yang melindungiku, mencukupi ku, dan menjagaku disaat kau menyudutkan, meremehkan, dan merendahkanku. Apa menurutmu aku bisa melupakannya??" Ayana berbicara dengan derai air matanya yang telah terjun bebas membasahi pipinya.


JLEGER!!


Bagaikan tersambar petir, hari ini, detik ini Jackie tau apa arti Gino bagi Ayana. Sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang selalu menuntut untuk dimenegrti, sosok Gino ternyata lebih disukai karena dia mau mengerti. Bukan selalu ingin dimengerti.


"Sampai matipun aku tidak bisa melupakannya, dan juga ingat satu hal lagi. Saat itu, kau... Kau adalah penyebab kematian anakku. Kau membuatku kehilangan bayi kami!!" Ayana berteriak sejadi-jadinya saat mengingat masa itu.


Jackie, dia hanya mematung. Seharusnya dia membalas, tapi sepertinya dia menahan sesuatu.


"Di saat itu, aku sudah tidak punya siapa-siapa. Kak Lena dia hampir melenyapkan nyawaku, aku sudah meminta cerai waktu itu untuk menjauh dan melindungi bayiku. Tapi kamu!! Kamu....!!! kamu datang dan membuat bayiku pergi untuk selamanya!!😭😭" Ayana meraung dan mencengkeram kuat kerah baju Jackie.


"Saat itu hanya bayiku yang kumiliki di dunia ini. Harta benda, keluarga, dan suami semuanya sudah kurelakan sudah kulepaskan!! Tapi kau mengacaukan semuanya, demi Lena!!" Ayana meraung dan bersimpuh lemas di lantai.


Jackie masih terdiam mematung di tempatnya.


"Kau tau, hari itu aku hampir gila....!!! Dan hanya Gino hanya Gino yang menguatkan ku. Lalu...." Ayana kembali bangkit, dengan matanya yang basah dia menatap lekat manik Jackie menindasnya dalam pandangan tajam.


"Lalu kau datang kembali setelah aku menemukan keberanian? Kau tau karena hal itu aku tidak berani bergaul dengan lelaki, aku takut bergaul dengan orang kaya. Aku takut jika akan menjadi bahan permainan mereka."


"Hahahaha!" Ayana tertawa tiba-tiba dan itu mengerikan sekali. Baru saja Dia menangis dan meraung histeris dan kini tertawa lantang sampai suaranya menggema mengisi ruangan.


"Lalu kau datang kembali..." Ayana mengusap lembut pipi Jackie dan menciumnya.


" Dan setelahnya kau menyiksaku dengan caramu. Salah apa aku padamu??!" Teriaknya sampai suaranya menjadi serak. Wajahnya memerah dan dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


" Kau tau, aku sudah bosan mencoba untuk mati!! Hahahaha!! Hidupku ini sudah tak berarti!!" Ayana tertawa sinis dan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Ay, jangan seperti ini, kumohon!" Jackie memeluk Ayana dari belakang.


"Ayana Jasmine, itu namaku bukan? Indah ya? tapi tak seindah jalan hidupku." Lirihnya berbicara dengan nada suara yang bergetar merintih menhan sakit di jiwa.


Author : " Aku ga bisa ngomong. Aku nulisnya sambil mewek membayangkan aku yang jadi Ayana 😭😭😭😭."

__ADS_1


"Jangan begitu..." Jackie memeluk hangat tubuh yang masih bergetar menangis lirih dalam sendu.


__ADS_2