
...🌼🌼🌼...
Malam semakin larut, Gino tertidur di kamar setelah lama membaca buku dan Dita tertidur di sofa setelah menonton drama Korea.
Gino keluar dari kamar dan mencari Dita. Dilihatnya Dita masih berbaring dengan gaya abstarknya dan sedikit perutnya terbuka. Gino membenarkan baju Dita lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati dia membopong tubuh Dita dan memindahkannya ke ranjang.
"Sudah, kamu tidur disini." Ucap Gino dengan lirih dan menutupi tubuh Dita dengan selimut dan meninggalkan kecupan hangat di kening sebagai ucapan selamat malam.
"Hidungmu ada apanya sih? dari tadi bilang aku bau?" Lirih Gino menggumam dengan mentoel pucuk hidung sang istri.
Gino berjalan keluar, mematikan lampu dan menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati.
"Hoamzz...! Aku tidur dimana ya?" Gino kebingungan dan kemudian menempati sofa bekas Dita dan dia terlelap disana.
Gino dia tidak sendirian tidur di sofa. Dimalam yang sama, Alex dan juga Jackie, mereka juga tertidur di sofa.
...🌼🌼🌼...
Di apartemen Jackie.
" Selamat malam Sayang!" Kata Jackie yang hendak memeluk Ayana dari belakang.
Ayana segera berdiri dan membawa bantal juga selimutnya. Jackie segera bangun dan menghentikannya. " Kamu amu kemana?"
Ayana diam tak menjawab barang satu kecap. Mulutnya tetap terkatup dengan matanya yang tak mau menatap. Jackie tau, jika sudah begini Ayana sedang marah besar tandanya.
Untuk menyelamatkan diri dari keributan malam hari, Jackie memilih mengalah. " Oke! aku saja yang tidur di luar. Kamu tidur di kamar." Katanya yang kemudian meminta bantal dan selimut yang di bawa Ayana.
Jackie berjalan dan Ayana mengekor tanpa bicara. Dia kemudian mengunci pintu saat Jackie sudah berada di luar kamarnya.
CEKLEK!.
Suara pintu terkunci.
"Ay!! mau marah sampai kapan sih Ay? Sumpah aku ga ada hubungan sama Denise!! Ay...!" Jackie berusaha meyakinkan namun sia-sia.
"Ah, sial!" Jackie menendang pintu karena kesal.
"Aduh...! aduh ...!" Jackie mengaduh kesakitan karena jari kelingking kakinya yang terkilir saat menendang pintu.
"Ay!! kakiku sakit! ga mau nolongin?" Serunya kembali menggedor pintu.
Ayana yang berada di dalam kamar malah menutup telinganya dengan bantal. " Dasar drama!! sudah jelas-jelas dia salah. Mana buktinya kalau dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Denise? aku ingat pertama ketemu saja dulu panggilannya sudah mesra begitu pakai bilang i love you." Ayana menirukannya dengan cara menye-menye.
Di luar kamar.
"Argh...! ****!! Sakit sekali." Jackie berjalan terpincang-pincang menuju dapur untuk mengambil obat dan es untuk meredakan nyerinya.
"Biasanya kalau aku luka sedikit saja dia sudah panik. Ini, malah dibiarkan." Jackie mendengus kesal.
"Auh! biru? ah...." Jackie mengerang menahan sakit.
Dia seperti Pak Duda yang mengobati sendiri lukanya. Sungguh situasi yang ironis. Si istri tertidur lelap karena pengaruh obat, dan si suami mengobati luka seorang diri. Makanya Jack, jangan asal tendang pintuðŸ¤.
__ADS_1
Di kediaman Alex.
Diah masih terguncang, dia berdiam diri seharian dan mogok makan. Alex sampai kehabisan akal. Di ajak ke kamar juga Diah tak mau. Entahlah mungkin gadis itu trauma karena sesuatu hal yang buruk terjadi di dalam kamar.
Diah yang lelah menangis dan lemas karena tak makan seharian kemudian tertidur di sofa. Alex yang menunggunya pun ikut tertidur di sofa dengan setumpuk penyesalan di dadanya.
Dia menyesal telah melakukan kebodohan demi melancarkan keinginannya.
Pagi harinya.
Diah masih terduduk dan menunduk lesu. Dai seperti kehilangan semangat hidupnya.
"Makalah," Alex menyodorkan sebuah cake berwarna coklat di hadapan Diah.
Diah membuang pandangannya dia seolah jijik dengan Alex yang berada di depannya.
"Tak apa jika kau tak mau makan, tapi tolonglah jangan begini." Alex memeluk Diah dia berusaha membujuknya. " Aku berjanji akan menikahimu. Aku akan segera menikahimu."
Diah tidak memiliki tenaga untuk melerai pelukan hangat dari orang yang telah menodainya.
"Menikahiku? Menikah tanpa cinta?" Cibir Diah tak pernah mengira jika mimpinya untuk menjadi menantu di keluarga Armanto akan terlaksana dengan cara yang berbeda.
" Aku mencintaimu Diah! Aku mencintaimu!!" Alex memekik meyakinkan Diah.
"Benarkah?" Diah meneleng dengan wajah sendunya.
"Kalau kau mencintaiku tentu bukan begini caranya. Kau tidak akan merenggut mahkotaku secara paksa begini." Diah kembali menitikkan air matanya.
Alex mengusap perlahan nan lembut Surai Diah. " Itu karena kau terlalu keras kepala dan susah ku gapai. Aku belum pernah menemukan wanita sepertimu. Katakan padaku, apa alasanmu menolakku?"
Diah meremas ujung bajunya yang sudah lusuh dan berantakan. Tangannya bergetar ketakutan, dia takut Alex akan tersinggung dan marah padanya.
Alex tersenyum. Rupanya Gadisnya begitu baik dan berhati mulia. " Karena kau yang seperti itu, aku jatuh cinta. Jangan takut lagi padaku. Aku tau usia kita terpaut begitu jauh dan itu juga akan mengundang banyak perhatian." Alex memeluk dan mengecup pipi Diah yang sekarang lebih tenang dan tak lagi memberontak.
"Di, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu!" Alex menatap lekat kedua manik Diah.
Beberapa saat saling pandang, dan ada sesuatu yang berbunyi.
KRUK...!
Suara perut Diah.
"Kau lapar Sayang?" Celetuk Alex yang dengan begitu mudah bibirnya menyebutnya sayang.
Diah terbelalak dan menatap manik Alex. Si empunya mata berbalik menatapnya lalu tersenyum manis. Kali ini Alex telah kembali pada Alex yang sebelumnya. Alex yang lembut dan begitu perhatian.
Dua hari mengurung diri didalam apartemen bersama Diah, nyatanya memberikannya banyak resume. Dia banyak berfikir dan menyesali kesalahannya. Menyesali kebodohannya dan sikapnya yang tak sabaran.
"Makanlah!" Alex kembali menyodorkan sepotong kue berwarna coklat pada Diah. Tepatnya Alex menyuapi Diah.
Diah dengan malu-malu dan tertunduk kemudian mulai melahap apa yang Alex suapkan.
"Enak?" Tanyanya dengan lembut.
Diah mengangguk dan menutup mulutnya lalu berbicara. " Kau juga makan," Ucapanya sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
" Hei kenapa menangis?" Tanya Alex tak mengerti.
"Aku memang pernah berdoa untuk memiliki suami yang romantis, baik, dan hangat, tapi tidak dengan cara diperkosa terlebih dahulu!!" Isaknya dengan mulut yang penuh kue.
"Maaf, Sayang. Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Alex.
" Tidak mengulanginya lagi? apa itu artinya kau tidak akan menyetubuhiku setelah kita menikah?" Diah menelan kunyahan kue di mulutnya dengan tergesa-gesa.
"Lalu, untuk apa menikah jika kau tidak akan melakukannya padaku?"
Sungguh begitu polosnya pemikiran Diah ini.
" Bukan begitu, maksudnya aku tidak akan melakukannya dengan paksaan lagi. Aku hanya akan melakukannya jika kau mau." Kata Alex meralat pernyataannya.
"Oh, " Diah hanya ber oh ria dan kembali melanjutkan makannya.
Alex kebingungan dan merasa canggung sekarang, sebab Diah kembali tertunduk dan mengusap perut bagian bawahnya.
" Kenapa?" Tanya Alex mengerutkan keningnya.
" Yak! sakit!! kau pikir ini tidak sakit? kau bahkan tidak melihat bagaimana aku kesakitan kemarin!!" Diah berseru memaki Alex.
"Dasar calon suami sialan!!" Diah teramat kesal sat mengingat kejadian yang terburuk dalam sejarah hidupnya.
"Hei, dosa tau mengatai orang seperti itu!" Alex tak terima.
" Lebih dosa mana dari kelakuanmu yang kemarin?" Diah menyalang meluapkan kekesalannya. Dia sekarang lebih berani berbicara setelah ada kejelasan tentang hubungannya dan juga jaminan bagi masa depanya.
"Pokoknya, aku mau kita cepat menikah!" Ujar Diah.
" Iya, iya... kau begitu berapi-api sekarang." Cibir Alex yang sudah sibuk mengotak-atik ponselnya. Entah apa yang di lakukanya.
" Berapi-api katamu? aku tidak mau orang-orang tau jika kita sudah melakukannya sebelum menikah. Jika terlalu lama aku takut hamil duluan." Celetuk Diah mengutarakan alasannya mendesak meminta pernikahan harus cepat di laksanakan.
"Memangnya apa? sekali tetes langsung jadi?" Kata Alex masih dengan santainya.
"Eh, aku ini walaupun belum selesai pendidikan tapi sudah cukup tau tentang pembuahan. Dari tes yang kulakukan aku ini wanita subur, panjang lendirku ketika masa subur bisa lebih dari 10cm. Itu tandanya aku subur, bahkan sangat subur." Kata Diah.
" Ya tapi tidak sekali langsung jadi." Ujar Alex yang tak percaya begitu saja.
"Iya, feeling ku berkata begitu. Sebab aku sekarang sedang dalam masa subur, asal kau tahu. Pagi aku memeriksanya dan malamnya kau melaksanakan aksi bejatmu!" Diah melirik tajam Alex sambil menunjuknya.
Alex melompat-lompat kegirangan. Dia begitu senang bahkan sampai menari-nari di hadapan Diah. " Kalau begitu kau akan hamil dan aku akan segera menjadi Papa?"
Diah diam saja, dia begitu malas menanggapinya. Diah memilih untuk kembali menangis dan membekap mulutnya dengan bantal sofa. Sementara Alex tak menghiraukannya dan terus menari-nari sambil berceloteh kegirangan.
"Aku akan jadi Papa...."
"Aku akan jadi Papa....!"
"Wuhu....! Jadi Papa!"
" Aku belum siap hamil, brengsek!!" Diah berteriak di bawah bekapan bantal sofa.
Diatas sofa lah janji Alex terucap.
__ADS_1
Di atas sofa Jackie merana.
Di atas sofa Gino terlelap mengarungi mimpinya.