Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
85. menggila ( Alex)


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


*Tiada yang lebih menyakitkan daripada kepergiannya.


Tiada yang lebih menyesakkan dada daripada berpisah sebelum berjumpa.


Wahai anak-anakku, disini ibumu meminta maafmu.


Disini ibumu selalu merindu dan mendoakanmu.


Tenanglah disana bersama para bidadari surga.


Ibumu ini mencintaimu selamanya.


...🥀🥀🥀*...


Ayana, dia menangis tergugu di atas pusara putranya. Dia merasa kecewa dan bersedih karena tak mampu menjaga. Ayana yang rapuh selalu menyalahkan dirinya akan segala yang terjadi dalam hidupnya.


Tidak sendiri, Ayana ditemani suaminya, kakak ipar beserta Istrinya dan juga mertuanya.


"Sayang, sudah. Jangan menangis lagi. Doakan saja agar anak-anak tenang disana." Ucap Bunda Winda mengelus perlahan rambut Ayana.


"Jack...." Ayana memanggil Jackie dan berpindah ke dalam pelukan sang suami.


Hanya ada kesedihan yang menggelayuti. Bibir Ayana sudah tak mampu bercakap lagi. Kedua bibirnya hanya terkatup Kelu menahan kesedihan di kalbu.


"Sudah...., tenang ya. Atur nafas..., ingat rahimmu. Ingat pesan dokter tadi." Ucap Jackie berbisik lirih menasehati.


Sebelum mengijinkan kepulangan pasien, sang Dokter telah banyak berpesan. Selain menghindari mengangkat beban berat, dokter juga menyarankan agar Ayana tidak terlalu stres dan mengatur emosinya.


Sama halnya seperti saat sedang haid. Ayana juga mengalaminya. Pada masa ini dia sedang mengalami masa nifas meski belum waktunya mengalami persalinan, tapi luka di rahimnya membuat pendarahan ringan terjadi dan menimbulkan rasa nyeri dan mulas sama seperti saat haid.


"Sshh...!" Ayana mendesis menahan nyeri dan juga merasakan gelanyar darah yang mengalir.


"Kenapa? keluar lagi?" Tanya Jackie yang lebih cemas dibandingkan dengan Ayana sendiri. Dia lebih panik juga takut di bandingkan dengan si pasien.


"Kita kembali ke rumah sakit lagi ya?" Ucap Jackie yang sungguh cemas.


"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Ayana menolaknya. Dia masih merasa kuat untuk saat ini.


Dari sebelah depannya ada Gino dan juga Dita yang saling berdampingan. Mereka berdiri di tepi makam mungil dan Dita menitikkan air matanya.


"Sudah, jangan menangis." Gino mengusap pundak sang istri mencoba menetralkan kesedihannya.


" Bagaimana aku tidak menangis? aku sudah berusaha untuk membantu menjaganya. Tapi Tuhan menjemputnya lagi. Aku sedih kau tahu!" Cibirnya sambil menatap nyalang sang suami.


"Jangan melihatku seperti itu, aku salah apa? sudahlah jangan menangis disini, setidaknya kau harus terlihat kuat di hadapan Ayana." Ucap Gino menasehati Dita.


"Cih!" Dita hanya berdecih dan kembali mengusap tanah basah pusara sang keponakan.


Bunda Winda dan Ayah Dhani pun melakukan hal yang sama. Mereka menabur bunga dan mengirimkan doa.


"Sayangnya Ayah dan Bunda baik-baik ya. I love you my Putra." Ucap Ayana berpamitan pada papan nisan sang anak lalu mengusapnya penuh kasih dan kemudian mengecupnya.


Siapa yang tidak terenyuh melihat apa yang Ayana lakukan. Dia tak meronta-ronta, dia tak banyak bicara. Tapi air matanya tak berhenti bercucuran dan bertemankan dengan suara lirih isakan. Sungguh ini merupakan kesedihan yang mendalam yang membuat lidahnya beku dan tak mampu untuk berucap.


Di dalam mobil saat perjalanan pulang. Ayana memilih bersandar dan beristirahat di dada bidang suaminya. Dia mencurahkan kesedihannya meski tanpa kata. Pilu dan mengharu-biru membuat suasana menjadi kelabu.


Tak ada yang bisa Jackie lakukan kecuali menenagkan Ayana dengan menepuk-nepuk perlahan punggung sang istri dan sesekali mendaratkan kecupan hangat di keningnya sebagai bentuk dukungan moril dan penguatan diri.


Sampai tiba di rumah pun, Ayana masih dalam dekapan hangat Jackie. Dia terlelap karena lelah menangis. Tanpa membangunkan, Jackie memilih menggendong Ayana ala bridal style dan membaringkannya di dalam kamar mereka.


"I love you honey." Lirih Jackie yang kemudian meninggalkan Ayana.


Jackie memilih mandi dan kemudian membuatkan makan siang untuk mereka.


Di kediaman Gino.


"Udah ah nangisnya." Gino mengulurkan tisu pada Dita yang kemudian Dita mengambilnya dengan kasar.


"Kamu itu ya Mas, tidak tau perasaan wanita! Aku ini sedih ya, harus kehilangan keponakanku! Terus kamu melarangku menangis sedari tadi? Kamu maunya apa?" Dita berbicara dengan nada tinggi dan terkesan menantang dan mengharapkan keributan terjadi.


Alih-alih meladeni istrinya, Gino kemudian berdiri dan melemparkan tisu baru yang masih utuh pada Dita.


"Oh, begitu? ya sudah, lanjutkan nangisnya. Aku mau keluar dulu!" Kata Gino yang kemudian pergi tanpa menunggu persetujuan dari Dita.


"Ouh! Dasar suami tidak peka!! Cueknya Ya Allah!!" Dita meremas rambutnya frustasi.

__ADS_1


Tak menyangka saja dia bila Gino akan mengacuhkanya begitu saja dan memilih pergi tanpa menenagkanya terlebih dahulu.


"Awas saja kamu ya! Aku tidak akan masak! aku juga akan pergi!" Dita menggerutu dan kemudian memasukkan beberapa bajunya kedalam tasnya.


Entahlah ada apa dengan Dita yang menjadi sangat sensitif dan sulit di tebak. Dia mudah marah. Padahal tadi yang meminta agar dia menangis dan di biarkan saja juga dirinya sendiri. iya kan? Lalu salahnya Gino dimana?


Gino pergi bukan tanpa alasan. Sebenarnya jiwanya juga terguncang akan apa yang terjadi pada mantan istrinya. Melihat Ayana menangis di tepi makam anaknya membuat Gino kembali memutar kenangan lawasnya. Dia kembali teringat bagaimana mereka berkelahi di atas pusara sang anak.


Dia teringat bagaimana Ayana begitu hancur dan meminta cerai setelahnya.


"Ini semua seakan mengorek luka lamaku saat kehilangan buah hatiku. Aku begitu sedih untukmu ay." Gino tertunduk di dekat mobilnya yang ada di basement.


Saat Gino tengah menyendiri, dia melihat sekelebat sosok Dita yang berjalan cepat melewatinya. Gino segera bangkit dan mengejarnya.


Dita berjalan dengan pandangan buram sebab air matanya menutupi pandangnya.


" Tidak peka! Dasar bodoh! begitu bisa menikah sampai tiga kali!" Celanya sambil terus melangkahkan kaki.


"Hei! Siapa yang kau maksud? Aku?" Cegah Gino memegangi pergelangan tangan Dita.


"Iya! siapa lagi? memangnya ada orang lain disini?" Ketus Dita berbicara dengan suaranya yang memekik keras.


Gino menoleh kesekitar dan kemudian menggendong tubuh Dita layaknya sebuah karung beras.


"Lepaskan!!" Dita memberontak dan memukuli punggung Gino.


" Tidak!" Tolak Gino.


" Lepaskan! aku bisa jalan sendiri!"


" Tidak kau pasti mau minggat kan?"


" Bagaimana kau tau?" Dita bingung bagaimana suaminya bisa tahu? padahal Dita hanya membawa baju tidur dan berencana akan bermalam di apartemen lamanya.


Gino terkekeh, berat tubuh Dita bukanlah apa-apa bagi bahu kekarnya. " Hahahaha! lain kali jangan ceroboh! Lihat Bra mu tersangkut di sweater rajutmu!"


"Apa?" Dita memekik dan meraba bagian belakangnya. Wajahnya menjadi layu dan memerah.


Rupanya suaminya tidak berbohong. Dia benar-benar akan malu jika Gino tak membawanya pulang. Bahkan dia bisa viral di media sosial dengan hastag, Bra salah tempat. Ouh betapa malunya Dita...


Dit lain kali coba prepare yang bener gitu. Jangan modal mewek terus kabur. Kebiasaan banget bikin malu tau!


"Iya nanti di kamar." Kata Gino dengan datar.


BRUGH!


Gino melemparkan tubuh Dita di ranjang. " Tolong ya, besok lagi tidak usah lebay!"


"Lebay kenapa?" Dita merapikan rambutnya yang acak-acakan.


" Jangan apa-apa kabur!" Kata Gino yang ikut duduk di dekat Dita.


" Ya habisnya Bapak, istri lagi sedih bukanya ditenangkan atau di elus, eh malah main lempar tisu terus pergi."


" Hanya karena hal sepele begitu kau marah dan pergi?" Gino menggeleng Tidak percaya. Dita ternyata begitu kekanakan.


"Apapun itu, selesaikan masalah rumah tangga kita di dalam rumah, Jangan pergi atau menghindar sebelum masalah kelar!" Imbuhnya lagi menasehati si istri yang keras kepala.


" Tapi kau juga pergi meninggalkanku." Jawab Dita tak mau kalah.


" Aku hanya ingin menjenguk Alex." Gino berdalih. Padahal yang sesungguhnya Gino ingin memiliki ruang untuk menyendiri.


"Oh menjenguk Alex? tapi aku yakin kau bohong!" Dita menatap tajam manik Gino.


Gino menjadi gelagapan dan bingung mencari pembenaran. " Katamu tadi kau pergi karena aku pergi?"


"Iya! kenapa?" Sahut Dita.


" Lalu kalau aku mempunyai wanita lain apa kau juga akan?" Belum selesai Gino berbicara, Dita sudah menyambarnya.


Gino hanya berniat untuk mengalihkan topik pembicaraan, tapi siapa sangka pengalihan itu justru berbuah perdebatan sengit.


" Tentu, of course! if you can, i can. if you do, I do. Kamu kan kepala rumah tangganya, mana ada ekor mendahului atau menyimpang dari jejak kepalanya?" Dita berbicara dengan santai.


Dia kembali membuka tasnya dan merapikan baju-bajunya yang tak jadi di bawanya pergi. " Jadi kalau kau mendua, maka aku akan bertiga, berempat, atau bahkan berlima. Bagus kan? itulah bukti aku ini wanita cerdas, selalu mengambangkan apa yang suami berikan."


Kepala Gino langsung berdenyut Setelah mendengarkan celotehan Dita. Sungguh dia ini berbeda dari istrinya yang sebelumnya yang lemah lembut. Dita cenderung lebih bertekstur dan berprofil.

__ADS_1


"Ah...., sudah lebih baik kau menangis saja daripada banyak bicara begini. Nah...., nah...., menangis sana. ini tisunya!" Gino memberikan tisu pada Dita.


Apa-apaan ini? suaminya lebih suka mendengar tangisannya daripada strategi perangnya? Ouh sungguh rumah tangga yang harmonis dan jauh dari kata anarkis 🤭🤭.


"Tisu di kamar ini berguna untuk mengelap sesuatu yang lain. Kau berikan aku benih, aku mengubahnya menjadi bayi. Kau berikan aku uang, aku mengubahnya menjadi makanan matang. Kau memberikanku kesedihan maka aku akan memberikanmu siksaan, hukuman, penyesalan, dan kekecewaan!" Tukas Dita.


Gino tak terima. " Hei! kenapa di part terakhir begitu banyak kata sarkastik?" Protesnya.


"Tidak bisakah kita berbaikan saja? Aku tidak mau menduda yang ke tiga kalinya. Jadi, istriku yang cantik, sudah ya marahnya..." Gino tersenyum melancarkan aksi rayunya.


"Selain cantik apalagi coba sebutkan?" Dita mengulum senyumnya menanti pujian.


"Cantik, pandai, baik, hemat dan juga ramah tamah. Jangan marah lagi ya? calon ibu dari anak-anakku harus bersikap baik dan lemah lembut." Ucap Gino dengan manisnya. Jangan lupakan wajahnya yang sok imut.


"Hehehehe, begitu dong. Ga nurut ga ku jadikan anakmu!" Ancam Dita.


" Memang sudah ada tanda-tanda?" Gino begitu berharap.


" Belum juga sih." Dita terkikik lalu berbaring.


"Pak, em... Sayang... kemarilah." Dita menepuk sisi kosong di sebelahnya.


" Ada apa? jangan ada sesi tanya jawab lagi ah, pusing kepalaku harus berdebat denganmu."


" Tidak bukan, Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kau jangan terlalu besar berharap ya."


Perkataan Dita memicu rasa penasaran bagi Gino. " Apa? katakanlah!"


" Semejak satu kali itu.... aku.... aku.... telat haid satu Minggu."


"Apa? satu minggu? apa kau hamil? kau sudah memeriksanya?" Tanya Gino begitu antusias.


Dita menggeleng. " Belum, sedari gadis kan haidku tidak begitu tepat waktu. Kadang mundur seminggu kadang juga maju."


"Oh, ya sudah. Santai saja, jangan terlalu di pikirkan. Kita jalani saja hubungan kita ini." Pungkas Gino yang memangkas segala harapnya.


" Kalau begitu kita harus lebih rajin kan?" Celetuk Dita.


" Maksudmu? apa sekarang juga bisa?" Gino langsung mengungkung tubuh Dita. Sang istri hanya mengangguk menjawabnya dengan pipi yang merona tersipu malu.


Dan..., terjadilah untuk yang kedua kalinya. Bapak Gino, semoga bibit unggul segera tumbuh ya. Saya selaku panitia penyelenggara mendoakan semoga cepat terbentuknya embrio dan berhasilnya pembuahan 🤭.


...🌼🌼🌼...


Di kediaman Alex.


Alex merajuk dan dia kesal bukan main. Ternyata begitu sulitnya untuk menggapai hati gadis kecil. Dengan uang Dita tak luluh, dengan kekayaan tak berpengaruh, dengan tampang tak bersimpuh. Lalu dengan apa?Alex pusing tujuh keliling dibuatnya.


Malam hari selepas kencan buta dengan Tata. Alex kecewa sebab Diah hanya berprilaku biasa saja tanpa menunjukkan kecemburuan atau ketidak relaan.


"Diah! ikut saya!" Seru Alex memberikan perintah pada Diah yang sedang mencuci gelas-gelas di dapur.


" Iya Pak, sebentar." Sahutnya.


" Sekarang!!" Alex membentak sampai-sampai Diah terlonjak kaget dan memegangi dadanya. Dia berpikir salah apa lagi dia.


Masuk kedalam kamar, Alex menarik kasar lalu melemparkannya ke ranjang. Diah kebingungan dan menangis ketakutan. Ada apa ini?


Apa iya sang penolongnya kini akan berubah menjadi pelaku?


" Ada apa pak? apa salah saya?" Diah berangsur mundur secara perlahan membuat seprei semakin acak-acakan.


" Aku sudah tidak tahan lagi! Kau selalu mengabaikan ku. Aku tidak menerima penolakan lagi darimu!!" Alex melepas penyangga lehernya dan melemparnya ke sembarang arah.


"Pak..., bapak kan masih sakit." Diah dengan polosnya masih berpikiran kalau Alex benar-benar cidera parah. Mungkin Diah lupa jika ada dokter Jihan sebagai orang kepercayaan Alex yang bisa mengatur semuanya?


Tanpa menunggu persetujuan ataupun permisi. Alex langsung merobek baju Diah dan melakukan aksinya. Diah memberontak tapi kalah tenaga. Diah menangis tapi Alex menyumpalnya dengan bibirnya. Sungguh malam ini merupakan malam yang tak terlupakan bagi Diah. Alex telah menguasai separuh dari dirinya, separuh dari jiwanya.


Masa depan Diah pun ikut Karan dan terkubur bersama dengan keegoisan sang Tuan.


" Tuntut aku! tuntut Aku! kau hanya milikku! jangan menolak aku lagi!" Ucap Alex terus meracau setiap kali menghunuskan benda tumpulnya pada lubang sempit yang belum terjamah.


"Tidak ada yang akan mau denganmu lagi setelah ini. Lihat kemari dan tersenyumlah!" Alex mengarahkan kamera kemudian mengambil gambar dengan flash kamera yang menyala.


Ini mungkin akan masuk kedalam sejarah keluarga Armanto dimana salah satu putarannya menjadi pemerkosa yang meminta di tuntut secara langsung oleh si korban.


Lex ah, kenapa jadi menggila?

__ADS_1


Okey Bab selanjutnya tentang orang yang menyusup diantara Jackie dan Ayana. siapakah dia?


__ADS_2