
...🌸🌸🌸...
"Sudah siap?" Jackie bersiap, dia berdiri di depan cermin sambil memeluk Ayana.
"Sudah, tapi.. aku ingin berpamitan dengannya." Kata Ayana yang mendongakkan kepalanya menatap garis rahang sang suami dari bawah.
"Terimakasih, kau tak membedakan anakku." Ucap Ayana menyatakan ganjalan dihatinya.
"Hei, kita menikah atau tidak. Anakmu dengan kakakku adalah keponakanku juga kan? Sama saja. Hanya saja yang membedakannya adalah, Sekarang dia benar-benar menjadi anakku juga karena kamu udah jadi istri aku."
Ayana mengangguk mendengarkan ketulusan dari suaminya. Begitu rupanya cara berfikirnya, tak bisa di percaya. Dia yang dahulu marah sampai tak mau mendengarkan segala alasan yang ada, kini malah berfikir bijak dan dewasa.
Kemana perginya Jackie yang dulu? Yang tak mau menilai dari segala sisi dan hanya percaya pada satu opini sepihak?
"Ayo! aku antarkan, kau ibu terbaik sayang. Dia pasti akan bangga memilikimu." Kata Jackie membesarkan hati istrinya.
Apakah, tanda suasana tenang ini merupakan awal datangnya badai?
Entahlah, yang jelas di dalam bui ada seseorang yang sudah siap menghirup udara bebas lantaran mendapatkan penangguhan penahanan karena berkelakuan baik. Lena, tinggal menunggu Minggu dan dia akan kembali.
Bermodalkan kenalan pengacara handal dan juga beruang yang juga merupakan seseorang dari bagian masa lalunya, Lena kembali mendapatkan kesempatan baik untuk segera bebas.
SERT...!
SERT...!
SERT....!
Suara dari ujung paku berkarat yang beradu dengan lantai semen kasar. Lena memainkan ujungnya sambil menyeringai menyeramkan.
"Dua Minggu lagi, Dua Minggu lagi aku akan menyapa kalian semuanya."Sekarang, aku sudah lebih berpengalaman, aku akan bermain dengan cantik dengan kalian semuanya. Apakah kalian siap?" Lena terkikik berbicara dengan bayangan dirinya sendiri.
Ayana menapakkan kakinya di makam si sulung. Dia menangis disana berpamitan dengan si buah hati yang tak sempat bersua di Dunia. Menyesal pun tiada guna, Ayana kini sudah bisa mengikhlaskan setelah bertahun-tahun lamanya.
"Sayang, Bunda pulang dulu ya? Lain kali Bunda akan kemari lagi dan menengokmu." Ayana berucap dengan buliran air mata yang sudah mengucur terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sayang, lain kali Ayah akan bawa bunda kemari untuk menengokmu lagi." Ucap Jackie yang kemudian membawa sang istri kedalam dekapannya.
Sakit sungguh sakit ketika dihadapkan pada kenyataan pahit dimana takdir berkata perpisahan tak bisa lagi di rubah jalannya.
Di seberang jalan dari tanah pemakaman. Sepasang mata mengawasi Ayana dan Jackie yang berdiri di samping liang kecil. Dia menggumam. "Siapa itu? apa Ayana...." Gumam si mata-mata.
Sepeninggal Ayana dan Jackie meninggalkan tempat tersebut, Seseorang berjaket hitam itu mendekat pada makam yang tadi di tandainya.
Bibirnya menggumam membaca tulisan pada nisan tersebut, tertera nama Gino Putra Armanto sebagai walinya.
"Ini kan nama mantan suami Lena? lalu apa kaitannya dengan Ayana, sampai dia menangis tersedu seperti itu?"
Marvin dia terdiam dan menerka-nerka apa yang sebenarnya telah dia lewatkan sebagai pemain pembantu dalam rencana jahat Lena yang lalu.
"Tunggu, Lena hanya bercerita jika ada wanita yang berusaha merusak rumah tangganya dulu, yang berusaha merebut suaminya. Apakah maksud ucapannya adalah Ayana? Tapi aku yakin Ayana tidak seperti itu. Jika padaku saja yang berandal ini dia bisa bersikap sangat baik dan mau menolong, apalagi dengan orang terdekatnya..." Marvin masih terus menerka segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Sia*nya, hal tersebut menuntunnya untuk kembali pada kisah hidup Ayana. Marvin begitu tertarik untuk tahu yang sebenarnya terjadi sampai dia memutuskan untuk menyamar menjadi pelayan di Cafe milik Shaga yang kebetulan Marvin dan Evan, dahulunya adalah teman masa kecil.
"Kamu, tumbenan mau kerja seperti ini?" Cicit Evan sambil mengelap meja.
"Ya, bagaimana Van, namanya juga butuh duit. Aku udah off dari dunia balapan, semua milikku habis sebagai taruhan, termasuk rumah warisan papa dan mama." Ujar Marvin.
"Sebenarnya ada, tapi Lena pacarnya yang dahulu sempat hampir bertunangan itu menyimpannya. Menyimpan semua surat-suratnya dan sekarang dia berada di dalam penjara." Evan merasa tertarik dan duduk di hadapan Marvin.
"Kau bisa mengurusnya lewat jalur hukum kan? dia tidak punya hak secuil pun dengan peninggalan Kak Alvin. Dia bukan istrinya." Kata Evan yang terbawa suasana.
"Ah, aku tidak bisa melakukannya sebab ada suatu hal yang bisa merugikanku jika aku melakukannya dengan sembrono. Aku harus pelan-pelan Evan."
"Oh, rumit sekali jalan hidupmu. Sudah sana tugasmu di belakang! sebentar lagi Bos dan istri Cantiknya akan datang."
"Baik..." Jawab Marvin sambil membungkukkan badannya selayaknya pelayan terbaik.
"Gayamu!" Evan menendang bokong Marvin untuk mempercepat langkah Marvin menuju ke dapur belakang.
Tak lama dari itu, seseorang dengan naik kursi roda datang memasuki Cafe. Shaga setelah kejadian penusukan itu, ternyata punggungnya tak lagi memiliki keseimbangan karena tusukan tersebut merusak salah satu syaraf yang mengatur keseimbangan tubuh.
__ADS_1
"Ga, mau kopi?" Tanya Reizu yang sudah berada di hadapan suaminya lalu mengusap paha Shaga perlahan membersihkannya dari debu yang beterbangan.
"Hem!" Jawabnya hanya memberikan deheman.
Shaga dan Reizu sudah menikah dan hanya digelar di dalam kawasan istana. Kedua masih sama-sama berusaha menyesuaikan diri dengan pernikahan mereka.
"Evan, tolong buatkan kopi untuk Suamiku ya. Buatkan kesukaannya." Kata Reizu berpesan.
"Ga, sampai kapan, kamu bakal terus kayak gini ke aku? tidakkah kita bisa memulai semuanya dengan indah? Ga~~~, kita sudah menjadi suami istri, tapi sikapmu masih seperti ini." Reizu berbicara dengan suara lembut dan menatap serius wajah sang suami yang masih saja bersikap dingin padanya.
"Ga~, tolong jawab aku. Aku butuh kamu yang ceria Ga. Kita tidak bisa menyalahi peraturan kerajaan. Suka atau tidak ini takdir kita. Dan ini lebih baik daripada kematian. Ga~, suamiku. Tidak hanya kamu yang terpaksa disini, tapi aku juga." Kata Reizu mengutarakan perasaannya.
Tangan Shaga terulur dan berhenti diatas pucuk kepala Reizu. "Zu, jangan seperti ini. Kita bicarakan ini di rumah saja. Disini bukan tempatnya."
"Tidak, di rumah kamu selalu mengurung diri didalam kamar. Kamu tidak mau berbicara denganku. "
"Husst....!" Shaga meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri. Tubuhnya kemudian sedikit membungkuk dan mulai berbisik. "Jangan buka aib kita di hadapan umum. Simpan baik-baik dan selesaikan di rumah. Aku yakin kamu istri yang pintar."
"Evan, katanya hari ada pelayan baru. Mana?" Celetuk Shaga sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Reizu hanya bisa terdiam setelah suaminya berusaha untuk kembali bersikap dingin dengannya. Reizu memutuskan untuk duduk sendirian di bangku luar yang ada di cafe tersebut.
"Oh, iya sebentar aku panggilkan dia." Kata Evan yang kemudian berlarian menuju ke dapur belakang.
"Bro! di panggil Bos, bersikap yang baik dan sembunyikan tatomu itu." Kata Evan memberikan pengarahan.
Marvin kemudian keluar dengan penampilan terbaiknya. Semua tatonya yang ada di pergelangan tangan dan lengannya tertutup sempurna dengan setelan kaus panjang.
Tapi... Marvin seperti tercabut nyawanya dimana yang di temui dan dia panggil sebagai Bos saat ini adalah orang yang sama, yang dia tusuk di pinggir jalan beberapa bulan yang lalu.
Dia menggunakan kursi roda? apa ini karena penusukan itu? jika ku ingat saat itu memang aku telah menusuk lalu merobek bagian punggungnya. Dan.... jika saja tak ada dia kala itu. Maka mungkin aku sudah menjadi pembunuh malaikatku sendri. AYANA.
"Siapa namamu?" Tanya Shaga mewawancarai.
"Namaku Marvin." Jawabnya tidak bisa berbohong lagi pasalnya Shaga bertanya sembari memeriksa CV Marvin via email.
__ADS_1
"O...! Good!" Kata Shaga yang kemudian mematikan ponselnya dan menatap Marvin.
Tunggu, apa dia mengenaliku? Mengenali aku si tersangka penusukan itu?