
...🌺🌺🌺...
" Aduh aduh...., anakku." Bunda Winda menatap iba sambil mengusap luka lebam di wajah sang putra.
"Bunda jangan disentuh, ini sakit!" Alex mengeluhkan luka lebam di wajahnya yang tampan.
Bunda tertawa geli setelahnya. " Hihihihi! Alex, cinta itu butuh pengorbanan Nak. Tak apa lah sedikit lecet."
"Bunda, ini bukan lecet lagi. Bahkan rahangku ternyata bergeser." Ucap Alex dengan kesalnya. " Apa bunda tidak bilang bagaimana prosedurnya? mereka mengerjakan tugasnya secara brutal." Lagi Alex mengeluhkan akan betapa kerasnya para preman sewaan sang Bunda kala memukulinya.
"Ah, tidak apa-apa. Jangan cengeng! Ini justru terlihat lebih alami dan bunda suka akan hasil kerja mereka. Bukankah semakin parah, semakin besar hutang hudinya?" Bunda balik bertanya dan kesemuanya memang benar adanya.
"Ya tapi tidak harus begini juga!" Ketua Alex berbicara.
" Hust! kita mulai!" Kata Bunda Winda yang kemudian tiba-tiba merangkul Alex dan menangis di samping sang anak.
"Oh, anakku...! Wajah tampannya...., Katakan pada Bunda Nak, siapa yang sudah melakukan ini padamu?" Ucapnya sambil menangis histeris yang pura-pura tentunya.
" Alex tidak apa-apa Bunda." Kata Alex yang terdengar lemah tak berdaya. Bahkan Suaranya tenggelam dalam raungan sang Bunda yang berakting dengan sempurna.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu tidak pernah sama sekali terlibat dalam hal kriminal seperti ini. Katakan apa alasannya kau sampai bisa seperti ini? Katakan!! biar bunda tuntut mereka semuanya! Bisa bisanya membuat putra keluarga Armanto jadi babak belur begini. Bunda tidak terima." Kata Bunda Winda.
Alex menjawab pertanyaan dari Bunda Winda dengan suara yang lemah. Bukanya di buat-buat tapi rahangnya memang belum boleh digunakan untuk banyak bicara atau menganga lebar.
Keadaan seperti ini disebut dengan Dislokasi rahang atau dislokasi sendi temporomandibular terjadi ketika posisi tulang rahang bawah bergeser dari kaitannya dengan rahang atas, atau keluar dari posisi normal.Tulang yang bergeser bisa dikembalikan ke posisi semula dengan bantuan medis. Meski begitu, kondisi ini tetap dapat menimbulkan rasa nyeri dan menyulitkan saat tidur dan makan.
"Ini karena aku menolong wanita itu Bun." Kata Alex lirih.
" Wanita? wanita siapa?" Bunda Winda begitu serius dan tangisannya terhenti secara mendadak.
Alex berusaha bersandar lalu meringis kesakitan lagi. " Aduh....! Aku menolong Diah. Dia di hadang beberapa preman dan entahlah apa yang mereka inginkan, aku hanya kasihan dan menolongnya saja"
" Lalu kau berkelahi? Untuk apa? biarkan saja gadis angkuh itu menerima perlakuan buruk. Untuk apa kau menolongnya? dia saja sudah menolak lamaran dari keluarga kita. Baik, bunda akan menghubungi pengacara."
Alex melongo, untuk apa menghubungi pengacara? bukankah hanya membutuhkan perawatan selama beberapa hari dan selesai?
Seseorang yang mendengarkan percakapan ibu dan anak itu hanya diam mematung lalu masuk kedalam kamar Alex tanpa suara derap langkah kaki. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.
__ADS_1
"Untuk apa pengacara Bun? kita hanya butuh dokter. Dan soal dia yang menolakku, itu bukan wewenang ku untuk mengontrol perasaannya."
" Tapi Bunda tetap tidak bisa terima Alex! Dia sudah menolakmu, dan sekarang karena dia juga kau menjadi babak belur begini. Bunda akan tuntut dia!" Lugas dan tegas Bunda Winda berbicara membuat seorang gadis yang memasuki kamar Alex langsung tergugu mendengarnya.
"Ma... maafkan saya nyonya. gara-gara saya tuan Alex jadi seperti ini." Ucap Diah dengan tertunduk.
" Apa! Oh kau?" Pekik Bunda Winda melihat kedatangan Diah. Dia menarik nafas panjang sebelum menyemburkan segala kekesalannya. " Kau!! Gara gara kau anakku jadi seperti ini!"
Bunda Winda begitu emosional, dia berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajah Diah dan menatapnya dengan remeh. " Kau tau sekarang betapa baiknya anakku ini. Meski kau menolaknya dia tetap bersikap baik dan menolongmu."
"Oh...., aku tidak percaya ini. Dan kau kenapa menginjakkan kakimu di rumah putraku?" Bunda Winda terlihat begitu alami dan menyeramkan sekarang. " Apa? apalagi yang kau inginkan dari anakku?"
Diah menggeleng beberapa kali, dia menunduk menyembunyikan tangisnya. Alex sebenarnya sudah tak tega melihat wanitanya terlihat tersudut seperti tersangka.
"A... Aku tidak menginginkan apapun dari kalian. Aku hanya ingin menebus hutang budiku pada tuan Alex."
BLAM!!
Ini yang ditunggu. Alex dia merayakan sesuatu di dalam hatinya, begitupun dengan bunda Winda yang seketika berbalik badan lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum pada sang putra tanda jika misi mereka sebentar lagi akan berhasil.
"Dengan apa? Dengan apa kau akan membayarnya? Apa kau sanggup membiayai tagihan rumah sakit? Perlu kau ketahui wajah putraku ini merupakan aset. Kau tau betapa mahalnya perawatan untuk perbaikan ini? RAHANGNYA BERGESER!! " Sengaja Bunda Winda menekankan luka yang di derita Alex untuk menekan keadaan Diah.
"A... aku tidak punya uang Nyonya." Kata Diah dengan bahu yang turun naik dan tergugu.
"Dan satu lagi Bun, aku merasakan Rasa nyeri yang hebat di bagian dada, terutama ketika bernapas, batuk, menekuk atau memutar tubuh, serta menekan tulang dada dan di sekitar tulang dada. Juga seperti ada yang bengkak atau terasa lembut di sekitar tulang rusuk. Dan ini lihatlah ada memar juga. Ini begitu menyiksaku." Ujar Alex menjabarkan keadaannya.
"Ah....! Apa?" Bunda Winda mendelik kali ini. Memang dia meminta para preman untuk memukuli putranya tapi tidak menyangka akan sampai menyebabkan tulang rusuknya retak.
" Be.. benarkah?" Diah menatap Alex dengan tatapan nanar.
Bunda Winda semakin mendekat kepada Diah. " Katakan apa kau puas mendengarnya? Sekarang aku minta ganti rugi darimu!"
Diah sudah kehabisan akal. Uang tidak punya, ganti rugi dengan apa? Apalagi dia merupakan orang yang sebelumnya berkecimpung dalam dunia medis. Diah juga tau benar bagaimana rasa dan juga berapa biaya untuk pengobatan tersebut.
Jangankan untuk membayar tagihan rumah sakit, untuk makan saja dia sekarang pusing tujuh keliling.
" Bun, aku sudah memintanya untuk merawatku sampai aku sembuh. Aku tau dia tidak punya uang." Lirih Alex berbicara karena sudah tak tega melihat Diah ditindas oleh sang Bunda.
"Tidak, tidak....! Tidak akan cukup jika hanya merawatmu. Kalian bukan muhrim, dan jika dia merawatmu makan kalian akan berpeluang melakukan zina. Tidak Bunda tidak SETUJU."
__ADS_1
"Nyonya, aku tidak punya uang. Jadi tolong berikan saya kelonggaran."
"Kelonggaran? oh.... aku benar-benar tidak menyangka kau masih berani meminta itu. Aku minta kau bertanggungjawab penuh atas anakku. dari pagi sampai pagi lagi."
"Tapi Nyonya...."
"Kau mau bertanggung jawab?"
"Iya Nyonya."
"Menikahlah!"
"Menikah Nyonya? Tapi saya tidak pantas." Belum selesai Diah berbicara Bunda Winda sudah kembali memberondongnya.
" Masih berani menolak? atau kau tidak mau bertanggungjawab? Anakku begini gara-gara kamu!! Menurutmu, siapa yang akan mau lagi dengannya jika nantinya kesembuhannya tidak bisa seratus persen?" Bunda Winda menarik nafasnya lalu melanjutkan ucapannya.
" Gelas saja yang sudah pecah tak akan bisa kembali utuh meski kau memperbaikinya sedemikian rupa. Dan ini putraku, dia berharga untukku. Kau harus bertanggungjawab seumur hidupmu!! Camkan itu!" Bunda Winda pergi melenggang meninggalkan Diah yang melemas dan bersimpuh di lantai.
Setelah itu, di tempat lain.
PLAK...!
PLAK!
PLAK!
Tamparan tamparan keras mendarat di pipi para preman. " Kalian mengapa sangat ceroboh? anakku sampai mengalami retak pada rusuknya."
" Siapa yang memukul atau menendang di bagian itu?" Bunda Winda memekik dengan melotot pada preman.
Preman malah saling tunjuk dan membuat Bunda Winda mengamuk dengan menambah tamparan satu persatu. Bunda Winda pergi setelah merasa puas melampiaskan amarahnya.
" Untungnya tangannya lembut, imut dan halus. Ditempeleng nyonya juga rasanya hanya seperti di tepak anak kecil."
" iya, kau benar hanya seperti menggelitik." Ujar preman saling mencibir dan pergi.
Di dalam kamar Alex.
"Suapi." Pinta Alex.
__ADS_1
" Suapi? tapi maaf tuan. Tuan tidak bisa mengunyah sekarang jadi hanya bisa makan ini." Ucap Diah membawakan bubur ayam yang super lembut dan tidak perlu mengunyah untuk menelannya.
Ah, gagal. Aku ingin makan disuapi malah di beri bubur dengan sedotan. Alex hanya bisa mendengus lirih.