Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
18. Terpuruk


__ADS_3


...🌹🌹🌹...


Terjatuh, dan terpuruk merupakan satu kesatuan yang solid yang mampu meleburkan asa hidup manusia.


Di sebuah kamar, Kakak beradik sedang bercengkrama atau lebih tepatnya si Kakak sedang memarahi sang adik habis-habisan. Adik yang dulu polos dan lugu, adik yang penurut setelah 3 tahun berada di negri orang kini tampil berbeda. Bukan hanya tindik. Tapi juga tato yang banyak melekat di kulit putihnya.


" Astaga, Jk!! Aku tidak tau lagi bagaimana menasehatimu. Kenapa kau suka sekali mentato tubuhmu?" Kata Alex sembari berkacak pinggang dan menatapnya tajam.


Jackie yang di tatap tetap tak menunjukkan rasa bersalahnya dan membuat Alex semakin gemas lalu menampol kepala bagian belakang Jackie.


PLAK!!


" Aish...., kau ini Kak norak sekali. Ini adalah seni. "


" Oke itu seni, itu bukan tato permanen kan?" Alex masih berharap jika gambar yang melekat itu bisa di hapus.


Jackie lagi-lagi terkekeh. " Ini permanen Kak, semua ini permanen. Bagus kan?"


Alex mendengus kesal dan kemudian meninggalkannya " Bagus kepalamu!!" Umpatnya sembari berjalan keluar kamar. " Awas saja kalau Bunda sampai sakit gara-gara ulahmu itu, aku yang akan mencincangmu sampai *****!!" Kata Alex yang bernada ancaman tapi tak membuat Jackie takut, dia malah tertawa-tawa.


" Tidak akan, aku kan anak emasnya. Paling, dia akan terkena darah tinggi saja selama beberapa hari." Sambung Jackie dengan entengnya.


Jackie, setelah kejadian hari itu. Hari dimana dia melihat Ayana terjatuh dengan kaki yang berlinang darah. Membuatnya ketakutan, tapi penghianatan yang di lakukan Ayana membuatnya menyimpan dendam dan luka. Dengan miras dan juga tindik, tato dan juga berkemah, Jackie sibuk mencari pelampiasannya untuk sekedar self healing. Tapi apapun itu, seberapapun keras usahanya tak dapat dengan mudah menghapus segala ingatan dan kenangnya bersama dengan Ayana.


Benci dan cinta kini dimilikinya dalam porsi yang sama. Dan membuatnya jatuh terjerembab dalam kepayahan.


Di lain sisi. Sosok Ayana lebih menjadi sosok yang tertutup dan pendiam Setelah kejadian itu. Ada rasa trauma untuk membaur bersama orang-orang yang statusnya lebih diatasnya. Ada rasa takut saat dia dekat dengan seorang pria.


Kini, dia bekerja di salah satu perusahaan yang sebelumnya di handle oleh Gino. Tentunya tanpa sepengetahuan dari Ayana. Ayana bukan manusia lancang yang doyan melewati batas. Dengan Gino yang membiayai dan memberikan pekerjaan, sudah lebih dari cukup baginya. Bahkan terlepas dari itu semua, Ayana merasa tak berhak untuk tau.


Teman-temannya semuanya adalah perempuan, tak ada satupun teman laki-laki. Ayana takut bila dekat dengan lelaki. Takut saja jika mereka tau dirinya adalah janda dan dari keluarga miskin maka mereka akan menjauh dan itu akan menorehkan luka lagi. Ayana lelah merasa terluka.


...🌹🌹🌹...


Di rumah keluarga Armanto.


Makan malam.


" Sudah kau siapkan semua kebutuhanmu Jack?" Tanya Bunda Winda dengan seluruh atensi yang tertuju kepada si anak emas bergigi kelinci tersebut.


" Oh, ia Bun. Besok pagi jam 6 sudah harus di Bandara." Terangnya sembari makan.


" Besok Kakak yang akan mengantarmu." Kata Gino yang sedari tadi diam.


Alex dan Ayah sedang ada meeting room dengan klien yang tadi siang sempat tertunda.

__ADS_1


" Tidak usah, Terimakasih banyak Kak. Aku masih bisa sendiri. Aku sudah besar sekarang." Jawabnya menolak ajakan Gino.


Penolakan yang di Sergai senyuman membuat Bunda Winda tersenyum dan berpikiran jika semuanya baik-baik saja.


Acara makan malam selesai tanpa mengundang kecurigaan dari Bunda Winda. Mereka terlihat akrab dengan sesekali menampilkan senyuman hangat.


Di kamar Gino.


' **Hallo Dita, Bagaimana kau sudah memindahkan Ayana?'


' Sudah Pak, sudah dari kemarin. Bapak tidak kemari**?' Kemari yang di maksud Dita adalah mengunjungi anak perusahaan yang sebelumnya dipimpin oleh Gino.


'**Oh, tidak. Disini masih banyak yang harus ku tangani. Ku pasrahkan semuanya disana padamu terutama tentang Ayana. Setelah adikku resmi menjabat disana, kau segera kemari dan kembalilah menjadi sekretaris ku.'


' Iya Pak, siap. Saya mengerti**.'


Panggilan di akhiri begitu saja tanpa ada basa basi.


Di seberang Panggilan. " Emhh, enaknya jadi bos, apa-apa tinggal semaunya saja. Eh tapi ogah juga aku harus mengurus ratusan karyawan, mengurus banyak perusahaan. Ah... otakku belum sampai kesana. Mengurus kebutuhan satu bos saja aku sudah pusing. Siapa si Ayana ini, mengapa dia begitu spesial. Pacar bukan, adik juga bukan, tapi Pak Gino begitu royal dan sangat menjamin kebutuhan hidup si Ayana ini. Ah.... aku jadi kepo..." Gumam Dita memikirkan tentang Ayana.


Dua hari setelahnya.


Kesibukan terjadi di kantor. Semua di persiapkan untuk menyambut kedatangan CEO baru. Bos kecil mereka memanggilnya sebab mereka tau jika bos mereka ini adalah anak bungsu dari ketiga bersaudara yang tampan dan kaya raya.


" Ayana, kau periksa lagi saja meja kerja CEO baru kita. Jangan sampai ada kesalahan. Sisihkan bunga dan pajangan yang tidak di butuhkan. Ganti bunga yang di meja dengan tanaman hias di pot saja dan taruh di sudut ruangan. Minta OB untuk membantumu." Titah Dita yang juga sibuk mengarahkan karyawan lain untuk menyambut sang CEO baru.


" Cepatlah, aku kemarin lupa untuk menggantinya. Tidak apa-apa kan? kau bisa kan?" Imbuh Dita sebelum pergi.


" Oh baguslah. 30 menit lagi dia sampai." Kata Dita.


Ayana melotot. " Apa? 30 menit? cari dimana Kak tanaman hias itu?" Dia panik.


" Kemana sajalah terserah, oh iya dia sangat suka pohon palem. Dua kalau bisa."


" Oh, Astaga...! Baik segera." Ayana lekas berlari menuju ke ruang OB dan meminta bantuan beberapa staf OB untuk membantunya.


20 menit digunakan Ayana untuk berlarian dan ikut membantu mengangkat pot yang berukuran lumayan besar. Semuanya sudah berbaris rapi di meja kerjanya menyambut kedatangan CEO baru. Sedangkan Ayana masih saja berpeluh keringat mengatur sudut yang pas seorang diri. Para OB yang tadi membantunya sudah pergi untuk menyiapkan hal lain.


" Dia suka diletakkan dimana tanaman ini?" Gumam Ayana sembari menggigit bibir bawahnya.


Terdengar derit pintu terbuka, satu sosok yang tak asing berdiri dengan stelan hitam dengan rok selutut. " Ini ruangan Bapak, sudah sesuai seperti apa yang Kakak bapak minta." Kata Dita mempersilahkan.


Ayana melongo sesaat dan kemudian menunduk tak berani menatap atau bergerak sedikitpun dari tempatnya. Lelaki yang di hadapannya kini adalah lelaki yang pernah di sakitinya beberapa tahun lalu. Lelaki yang di khianati olehnya demi kesembuhan mendiang ayahnya. Ayana sungguh ditempa oleh beban yang bertumpuk setiap kali mengingat hal itu. Rasa bersalah seolah membenamkanya kesasar bumi.


" Ay... Ay... Pssst...!" Dita mendesis memanggil Ayana yang melamun.


Ayana tergagap dan seketika mendekat kepada Dita. " Iya Kak?"

__ADS_1


Dita hanya melotot kepadanya dan kemudian tersenyum semanis madu pada Jackie. " Ini sekretaris anda Pak. Namanya A...."


Belum selesai memperkenalkan, Jackie sudah menyambarnya.


" Ya, saya sudah sangat tau siapa dia. Saya sudah lama mengenalnya. Kau boleh pergi." Kata Jackie menunjuk Dita dan memerintahkannya untuk keluar.


Dita tersenyum pias dan begitupun dengan Ayana yang mengekor Dita untuk keluar.


" Kau!" Seru Jackie dengan satu tangannya terlentang menghadang Ayana dan satu tangannya lagi masih terdiam di dalam saku celana.


" Siapa yang menyuruhmu keluar? Kita masih ada urusan." Kata Jackie dengan tatapan mengintimidasi Ayana dan membuat Ayana menjadi semakin ciut nyali.


Sungguh canggung suasana saat ini dimana Dita juga ikut mematung terdiam beberapa saat.


" Dita! jangan lupa tutup pintunya." Titah Jackie tanpa melihat Dita dan tatapannya hanya fokus pada Ayana yang masih menunduk tak berani melihatnya.



Jackie berbalik dan mengunci pintunya.


Astaga sungguh Ayana sangat kasihan sekali dia sangat ketakutan, dia takut jika Jackie kembali melakukan kekerasan padanya seperti dulu. Meskipun dulu hal itu terjadi tanpa ada unsur kesengajaan, tapi tetap saja Ayana trauma.


" Kau disini?" Tanya Jackie mengejek.


Jackie semakin mendekat dan tangannya memainkan rambut panjang Ayana. " Kau menjadi semakin cantik sekarang. Katakan padaku, Rumah tangga siapa lagi yang kau rusak sekarang? Setelah memeras Kakakku. Sekarang siapa lagi korbanmu? Siapa yang menjadi investormu?" Tanya Jackie yang sangat merendahkan Ayana.


Ayana hanya terdiam dan tertunduk tanpa berani menatap Jackie. Tangannya sibuk meremas jari jemarinya yang saling bertaut. Bibirnya kelu tak mampu berucap. Dia tak mengerti mengapa Tuhan menempatkannya dalam situasi yang bahkan membuatnya sulit bernafas.


" Hei! Jawab!!" Jackie menjentikkan jarinya tepat di hadapan Ayana yang sontak membuat Ayana melihatnya refleks.



" Kau salah paham." Ucap Ayana singkat sebelum dia jatuh pingsan.


Gadis itu sangat takut dengan sikap Jackie yang selalu meremehkan dan merendahkannya Ayana masih sangat trauma.


" Astaga!! aku tidak melakukan apapun dan kau pingsan? Gadis lemah!!" Jackie berlalu dan duduk di kursi kebesarannya lalu menghubungi Dita.


Tak berselang lama Dita datang. Di biarkanya begitu saja Ayana tergeletak di lantai. Bak predator berdarah dingin yang tak berperasaan.


" Pak, dia kenapa?" Dita bingung juga panik dia menepuk-nepuk pipi Ayana.


" Mungkin karena belum sempat sarapan. Entahlah aku juga tidak tau. Kau bawalah pergi, menganggu pemandangan saja." Ucapnya dengan berbalik lalu menghadap ke jendela luar yang seolah malas melihat adegan pingsan tersebut.


Apakah mereka bisa berdamai dengan masa lalu?


__ADS_1


Duh, Mas Jl kok sebegitu dinginnya?


Ah, taulah kenapa aku bikin karakter yang dingin dan arogan seperti ini?😭😭.


__ADS_2