Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
26. Makan malam.


__ADS_3


...🌹🌹🌹...


Ayana masih mematung dan memegang bibirnya. Lidahnya kelu dan tak mampu berucap. Dia berdiri terdiam seolah menikmati takdirnya.


...🍁🍁🍁...


" Cepat selesaikan sekarang juga!" Pekik Jackie mengamuk di ruang rapat. Masih dengan lebam dan luka di sudut bibirnya.


Ayana hanya tertunduk dan menyimak jalanya rapat meski dengan begitu banyak beban yang bertumpuk di pundaknya. Hatinya sesak kala melihat keadaan Kakak beradaik di dalam satu ruang rapat dengan tatapan mata saling membenci. Semua itu karena dia.


Rapat selesai dengan beberapa karyawan yang menggerutu akan sikap Jackie yang dinilai tidak profesional yang mencampurkan antara masalah pribadi kedalam forum diskusi. Ayana keluar dengan wajah lesunya.


" Kenapa? wajahmu seperti baju yang tak disetrika?" Dita berjalan beriringan dengan Ayana.


Bukan tak tau sama sekali. Tapi Dita hanya berpura-pura dia tak mengetahuinya. Padahal semalam selepas baku hantam terjadi, dia jugalah yang mengobati luka di wajah dan kaki Gino.


Flashback on.


" Mau makan apa ya?" Dita melihat jajaran mi instan di sebuah rak minimarket.


Tangannya terulur dan kemudian mengambil beberapa bungkus mi instan dan juga minuman kaleng.


" Ah ini saja, seperti enak." Katanya bermonolog.


Dita berjalan keluar meninggalkan minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Memang rumah Dita dan kosan yang ditempati Ayana memiliki rute searah. Sekelebat dia melihat mobil Jackie dan kemudian di susul dengan mobil Gino. Bermodalkan rasa keingintahuannya, Dita nekat untuk membuntuti keduanya.


Namun, saat Jackie menuju ke kosan Ayana. Gino memutuskan untuk putar arah dan tak sengaja bertemu dan menangkap basah Dita yang membuntutinya.


" Dita?" Gumam Gino saat memergoki Dita yang malah berjongkok di pagar tanaman untuk berkamuflase. Dita sedang bercosplay menjadi pagar tanaman rupanya.


" Hehehe... ! Iya Pak." Angguknya sembari tertawa kecil lantaran malu dan mati kutu. Dita menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


" Kenapa kau disitu?" Gino turun dari mobil dan mendekat dengan berjalan pincang.


Dita melotot melihat gaya berjalan Gino yang berbeda dari biasanya. " Bapak Kenapa?" Tanya Dita dengan cemas.


" Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit." Jawabnya yang kemudian berhenti di hadapan Dita.


" Kau membuntutiku?" Terkanya percaya diri.


Dita menunduk dan mencari alasan. " Oh, tidak Pak kebetulan aku tadi membeli ini di minimarket." Katanya sambil menunjuk minimarket yang masih terlihat dari lokasi Gino menepi.


Gino mengangguk beberapa kali. " Kau terlanjur melihatku kacau begini. Ah,,~~~ tiba-tiba aku merasa lapar." Katanya dengan tangan yang mengusap-usap perutnya.


" Emmm, hehehe..! Maaf Pak bukanya tak mau menawari. Tapi saya hanya punya mi instan." Dita sungguh malu.


" Tak apa, aku juga kadang memakan mi instan. Mari ku antar pulang." Gino merasa canggung sebenarnya. Tapi mengingat bila Dita adalah orang kepercayaannya selama ini rasa canggungnya mulai menguap. Kecanggungan itu hanya ada karena keadaannya yang sedang berantakan bukan karena ada sesuatu yang lain di dalam hubungan.

__ADS_1


Dita membuatkan mi dan Gino menyantapnya dengan lahap. Dita yang sedari tadi diam tak berani menyinggung soal penampilan bosnya yang berantakan mulai berani bersuara.


" Bapak habis berantem dengan siapa? Kenapa sampai pincang dan lebam?" Tanyanya.


" Oh, ini. Apalagi yang bisa ku tutupi darimu dit. Aku bertengkar dengan Jackie."


" Pak, kalian Kakak beradik bertengkar soal apa? perebutan saham atau warisan?" Di kepala Dita yang biasa terjadi adalah perebutan harta benda yang menjadikan perselisihan.


Gino menggeleng. " Bukan, ini soal Ayana."


"AYANA??" Dita memekik kuat dan melotot lalu kian mendekat pada Gino seolah tak percaya dan salah rungu.


Gino menceritakan semuanya dari awal sampai akhir dengan sesekali meringis menahan sakit karena Dita mengobati lukanya.


Flashback off.


" Ayana! Masuk keruangan saya." Titah Jackie dengan wajah dingin tak menatap Ayana yang sedang menggarap beberapa pekerjaan.


" Iya pak." Sahutnya lirih dan gugup.


Setelah kejadian semalam, apalagi sekarang ini?


Ayana merasakan oksigen disekitarnya kian menipis hingga membuat lehernya serasa tercekat.


Ayana masuk kedalam ruangan dan Jackie langsung menutup tirai serta menutup pintu.


" Ada apa Pak kenapa tirainya harus di tutup?" Tanyanya takut-takut.


" Kau lihat ini, ini, dan ini?" Jackie menunjukkan beberapa lukanya yang masih terlihat baru di tulang pipi, dahi yang tertutup rambut dan juga di telapak tangannya.


Ayana mendelik seketika kala melihat betapa bodohnya Jackie uang membiarkan luka di telapak tangannya masih menganga tanpa mendapatkan penanganan medis.


" Pak?" Ayana meraih tangan Jackie dan tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.


Semalam saat menciumnya. Ayana tidak memperhatikan keadaan Jackie. " Jack, kau ini bodoh atau apa? kalau lukamu ini terinfeksi bagaimana? huh?" Ayana menangis. Runtuh sudah sosok dirinya yang selalu sok kuat dan tegar untuk tak menangisi segala kesalahannya dimasa lalu.


Jackie hanya terdiam tak berbicara apapun. Hanya matanya saja yang fokus tak berkedip menatap paras ayu yang sedang menangis di depannya.


" Kenapa? bukanya kau senang jika aku tersakiti? Kau senang jika melihatku terluka begini?" Cibir Jackie mengeluarkan segala kekesalannya.


Ayana menangis tersedu lalu menggeleng berkali-kali seolah menampik apa yang dinyatakan oleh mantan kekasihnya itu. " Tidak, tidak, bukan seperti itu."


" Apalagi yang kau harapkan? Jujurlah dan bersenang senang lah saat melihatku sakit begini. Bukankah aku baik hati? Aku menuruti apapun kemauanmu."


Ayana menangis lagi semakin sesak dan pilu.


" Tidak Jack, tidak! Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku tidak pernah mengharapkan kau terluka sedikitpun!!"


" Cih!! pembohong!!"

__ADS_1


" Kau lihat aku, lihat mataku! aku jujur. Memang dulu aku yang salah. Aku yang menghianati cintamu, aku menghianati perasaanmu. Tapi itu semua demi nyawa Bapakku!!"


" Masih saja berkelik!" Jackie melepaskan paksa tangan Ayana dari tangannya.


Kau masih menutup hatimu. Bagaimana aku bisa menjelaskannya jika kau terus begini?


Jackie berjalan dan berhenti menghadap kesebuah jendela besar dia menatap kosong jajaran gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Tanpa di duga, entah keberanian dari mana, Ayana langsung memeluknya erat dari belakang.


" Maafkan aku! Hiduplah dengan bahagia dan carilah wanita baik-baik. Lepaskan aku, biarkan aku mengundurkan diri, biarkan aku menjauh dari hidupmu. Aku berjanji tak akan pernah menganggumu lagi."


" Lepaskan!!" Bentak Jackie kuat tapi tak membuat Ayana gentar.


" Aku tidak akan melepaskan ini sebelum kau memecatku. Pecat aku sekarang!!" Teriak Ayana tak kalah kencang.


" Diam dan jangan berteriak di ruanganku! kau tak punya hak diruanganku!!" Kata Jackie penuh penekanan dan melepas dengan paksa pelukan Ayana dan membuat tangannya kembali mengucurkan darah segar.


Bersamaan dengan itu, masuklah Ayah Dhani dan Bunda Winda. Mereka senagaja datang untuk melakukan inspeksi dadakan atas kinerja sang anak bontot.


Keduanya melongo saat melihat Ayana yang menangis bersimpuh di hadapan Jackie dengan Jackie yang mengabaikannya dengan tangan yang berdrah menetas diatas paha Ayana.


" Kalian?" Gumam Bunda Winda membuat keduanya menoleh.


" Ayah, Bunda?" Lirih Jackie yang terdiam mematung melihat kehadiran Ayah dan Bundanya yang datang tanpa pemberitahuan.


" Sayang, tanganmu terluka? Ayana kau disini?" Bunda Winda segera membantu Ayana untuk berdiri dan menutup luka Jackie dengan tisu.


Keadaan sungguh tegang. Sementara Ayah Dhani dia diam menyimak semuanya. " Kalian punya hubungan?" Celetuknya tanpa basa-basi.


Ayana menggeleng dan Jackie mengangguk." Iya Yah, kami berpacaran." Jawab Jackie tanpa filter dan membuat Ayana mengernyitkan keningnya. Ayana tak paham dengan cara berpikir Jackie.


Bagaimana bisa mengatakan berpacaran, sedangkan setiap harinya Jackie hanya selalu menyiksa mentalnya?


" Tidak tuan, dia bohong." Sanggah Ayana yang kemudian bangun dan mengusap air matanya kasar.


Tanpa dinyana. " Aku tidak berbohong Ayah, kami memang berpacaran dan dia malu dengan statusnya. Saat aku ingin memberitahu kepada kalian dia menolak dan Kami bertengkar." Kata Jackie yang semakin menjadi dalam kebohongan.


" Ayana, kenapa harus malu sayang? jika memang benar kami akan merestui kalian. Ya kan Yah?" Ucap Bunda Winda dengan lembut yang lalu mengusap punggung Ayana.


Oh astaga!! Jackie!!


Sungguh sulit dipahami cara berpikirmu itu!!


" Kau dengar itu Ay? Ayah dan Bunda memberikan restu. Bagaimana kalau kita langsung menikah saja? aku tidak mau berpacaran terlalu lama. Aku takut kau di ambil orang lain." Jackie berbicara dengan menyelipkan anak rambut dibelakang telinga Ayana yang kemudian membelai lembut rambutnya seolah dia sangat mencintai gadis itu.


" Emmm, so sweet. Rupanya ini hanya pertengkaran sepasang kekasih? Ayo Ayah, kita pergi. Jangan ganggu mereka." Bunda Winda menarik lengan suaminya dan mengajaknya keluar.


Ayah Dhani hanya menurut saja dan memberikan senyum berjuta makna untuk anak bontotnya.


" Nanti malam kita makan malam ya sayang!! Ajak pacarmu!!" Seru Bunda Winda sambil melambai dan tertawa kecil.

__ADS_1


Selepas Ayah dan Bundanya pergi. Perangai Jackie kembali berubah. Dia mencium paksa Ayana dan mencengkeram kuat rahang Ayana setelahnya. " Mulai sekarang, hidup dan matimu adalah mainan baru untukku!!" Desisinya ditelinga Ayana lalu pergi begitu saja.


__ADS_2