Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
65. Ketakutan.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Dita dan Gino terduduk di sofa keduanya saling menjaga jarak. Dita tak mau bila nantinya dia dituding pamer kemesraan di hadapan mantan istri dari suaminya. Oh, sungguh hubungan mereka sangatlah rumit. Bayangkan saja, jika terealisasi di dunia nyata akan seperti apa rasa canggung mereka?


Ayana yang terkena pengaruh obat juga masih terlelap. Tapi tidak dengan Gino yang masih terjaga dan menatap lembut ke wajah Dita dan bergantian menatap Ayana.


Mereka berdua....


Keduanya memiliki kisah denganku. Tapi hanya satu yang akan kujadikan titik tumpu terakhirku. Kamu, si cuek yang ternyata pencemburu. Batin Gino yang kemudian tangannya mengusap lembut pucuk kepala Dita dan membenarkan selimutnya yang melorot.


Gino kembali menatap Ayana dari tempat dimana dia duduk. Tatapannya mengartikan banyak makna yang tersirat. Ada rasa bersalah dan juga sesal si dalamnya. Bagaimanapun juga, yang terjadi pada Ayana saat ini, tak lepas dari keikutsertaannya di masa lalu.


Jika dulu Gino tak terlalu percaya dan memanjakan Lena.


Jika dulu dia bisa lebih tegas dalam melindungi Ayana.


Semua perasaan itu saling berhimpitan dan menyesakkan dadanya.


Maafkan Kakak Ay.


Karena Kakak, kau jadi banyak menanggung beban seperti ini.


Sekarang, tak ada yang bisa kulakukan selain menuruti apa yang membuatmu bahagia. Apapun, apapun itu Ay. Gino hanya mampu membatin di dalam hatinya.


Di sisi lain.


"Ah, ponselnya tidak bisa kuhubungi." Jackie marah-marah tidak jelas dan meremas ponselnya bahkan nyaris membantingnya.


Alex yang sedang asik menonton TV terusik dengan tingkah Jackie. " Hei tenanglah! kau berisik sekali." Protesnya dengan melemparkan sebuah snacks ke arah Jackie.


"Kak, aku benar-benar mulai curiga sekarang. Tadi pagi kak Dita bilang Istriku sedang melakukan yoga dan tak mengangkat panggilanku." Katanya terhenti.


"Lalu?" Sahut Alex dengan cueknya. Ya sebenarnya hanya basa-basi saja dia bertanya daripada tidak sama sekali dan terkesan tidak perduli. ya kan?


"Lalu sekarang nomor ketiganya tidak ada yang bisa kuhubungi!" Jackie mengerang kesal dan meremas rambutnya lalu duduk di sebelah Alex.


"Ketiganya? memang wanitamu ada berapa?" Tanyanya dengan polos.


Astaga!


Tiga yang di maksud Jackie adalah Ayana dan juga kakak iparnya beserta Kakak pertamanya yang baru saja pulang. Dih Alex, ternyata otakmu agak sedikit bebal.


"Maksudku Ayana, Kak Dita dan Kak Gino. Nomor mereka mati semua!" Jackie menjelaskan dengan nada geramnya.


Alex melipat tangannya ke dada dan seakan tengah berfikir. " Em.... kalau kak Dita dan Kak Gino sudah pasti mereka sedang menggarap tugas dari Bunda." Alex menggaruk dagunya dengan telunjuk. " Tapi kalau istrimu?Dia cantik, baik, dan wajahnya imut, Ya..... masih pantas sih kalau menggunakan seragam sekolah SMA." Alex membumbui perasaan Jackie yang semakin berkecamuk.


Bagaikan jatuh tertimpa tangga.


Bukanya meredam, Alex malah membangunkan macan yang tidur.


Tentu saja Jackie menjadi semakin tak karuan karena mulut Alex yang lancang berbicara. Alex, dia berniat sekedar bercanda.


Tapi....


Alex tidak begitu tau akan perubahan perangai adiknya setelah kejadian yang mereka alami beberapa tahun lalu.


Kejadian yang membuat adiknya menjadi sosok yang kasar dan bengis.


Sosok yang mencurigai setiap orang dan krisis kepercayaan terhadap siapapun termasuk dirinya sendiri.


Raut wajah Jackie berubah. "Apa dia sedang memiliki lelaki lain?" Pikirnya yang sudah berburuk sangka.


"Aku pergi! urus semuanya yang disini!" Ujarnya sambil berlari.


Dan


BANG!!!


Pintu tertutup dengan kerasnya sampai membuat dinding sedikit bergetar. Alex hanya diam melongo.


Mengapa adiknya tiba-tiba pergi begitu saja? Rupanya pikiran Alex belum terkoneksi dengan baik.


Masih juga dia belum paham bila penyebab kepergian adiknya adalah mulutnya yang lancang

__ADS_1


WUZZ!!


Jackie langsung menuju bandara dan terbang menuju ke kota dimana tempatnya tinggal.


Keesokan harinya di rumah sakit.


Matahari kian meninggi, dan....... terlihat pemandangan suami yang manja sedang terlelap dalam dekapan sang istri.


Bagaimana bisa?


Bukankah semalam awalnya Gino yang mendekap Dita?


Tentu saja bisa, begini ceritanya.


...Flashback on....


"Eungh!" Dita melengkuh dan terbangun tapi pertama yang dilihatnya adalah suaminya yang bersusah payah menahan kantuk agar istrinya tetap bisa bersandar di dalam dekapannya dengan nyaman.


Kamu manis sekali.


Bentuk perhatian kecil ini... Apa, kau memiliki perasaan terhadapku? Batin Dita menatap wajah ngantuk suaminya.


Dita beranjak dan segera terhalang oleh Gino yang meraih pergelangan tangannya. " Mau kemana?" Tanyanya dengan perlahan dan mata sayu yang melengkapi.


"Mau pipis, apa kamu mau ikut suamiku?" Tandas Dita setengah menyindir.


Masa iya, suaminya mau menyaksikan acara buang hajatnya? Gila!!


"Cih!" Tak menjawab Gino hanya berdecih dan menggidikan kedua bahunya. Tanda enggan.


Selesai dari kamar mandi, Dita melihat Gino tertidur dengan posisinya yang tak nyaman. Tentu saja, semua karena tubuhnya yang bongsor menimpa sebuah sofa kecil. Bahu lebarnya terlihat letih menahan berat tubuhnya yang sedari tadi tak seimbang karena mengantuk.


Dita tersenyum simpul saat berhenti dan berdiri tepat di hadapan Gino. Kepalanya menggeleng lalu duduk berbagi sofa dengan sang suami.


"Sofa ini terlalu kecil." Gumam Dita mengomentari sofa tempatnya duduk.


"Eungh?" Gino kembali terbangun dan sedikit membuka matanya. Telinganya masih mendengar istrinya yang sedang mendumel.


"Kau pasti lelah? Apa saja kegiatanmu kemarin?" Tanya Dita yang tiba-tiba memijit bahu dan leher Gino.


Dia sangat pengertian. Batin Gino sambil tersenyum merasakan rileksasi dari pijatan istrinya.


Peluk ya?


Tapi mengapa tiba-tiba sekali? dan juga ini dirumah sakit dan di depan mantan istrinya. Apakah tidak apa-apa? Dita bergulat dengan pemikirannya menatap Ayana sekilas lalu menatap Gino.


"Suamiku, tapi ini di rumah sakit. Aku tidak enak pada....." Belum selesai Dita berbicara Gino sudah merebah menimpanya yang secara otomatis Gino kini berada dalam dekapan sang istri.


"Ah, begini lebih baik." Kata Gino lirih.


"Aish!! tapi aku malu.... Bagaimana kalau dia terbangun? bagaimanapun dia mantan istrimu, aku tak enak hati." Kata Dita.


Gino memutar tubuhnya dan kini saling bertukar pandang dengan Dita. "Kau istri sahku, kenapa harus tak enak hati? Bantu aku.... bantu aku menghilangkan kecanggungan ku denganya. Bantu aku untuk membina rumah tangga yang bahagia sampai aku tua." Ucap Gino penuh pengharapan yang seketika membuat Dita melelehkan air matanya.


Entahlah ini karena faktor pms atau memang Dita yang cengeng tapi tanpa perintahnya, kepalanya mengangguk mau begitu saja dihadapan suaminya.


Dan....


Terjadilah ***** ******* sebagai pengikat pada asa yang tak kasat.


Dita memejam menikmati setiap sapuan lembut nan basah dari bibir suaminya.


Entah mengapa hatinya begitu senang menerimanya. Pipinya sampai memerah dengan kedua matanya yang tertutup.


"Kau manis." Puji Gino di akhir ciuman. Membuat Dita semakin meleleh.


Aku malu. Gumam Dita dalam hati. Bila bisa terlihat mungkin saat ini inner child yang dimilikinya tengah tersenyum senang dan menggambar di hamparan pasir dengan ranting kayu.


"Pasti sangat lelah ya?" Tanya Dita saat tubuh Gino masuk kedalam dekapannya.


Gino hanya mengangguk dan lebih memilih kembali memejamkan matanya untuk mendapatkan kualitas tidurnya.


"Tidak usah pijit lagi, usap saja kepalaku." Pinta Gino dengan setengah berbisik.


"Baik. Cepatlah tidur." Kata Dita lalu menuruti kemauan suaminya.


Dan mereka tertidur dengan saling memeluk. Berbagi ruang di sofa yang sempit dan tampaknya peranan Dita sudah seperti bantal guling.

__ADS_1


...Flashback off....


Di rumah sakit.


Mereka tampak serasi. Kak Gino, kini kau telah menemukan separuh jiwamu.


Kali ini aku yakin bila Kak Dita adalah wanita yang tepat untukmu.


Tak ada sedikitpun hal mengganjal saat ku tatap matanya, dia tulus kepadaku meski aku ini adalah mantan istrimu.


Jika aku jadi dia, belum tentu aku mampu dan mau membantu sampai sejauh ini. Ayana menatap dua sejoli yang masih terlelap saling memeluk dalam tidurnya.


"Tubuhku masih lemas." Ayana beringsut dan kembali menatap langit-langit ruang rawat inapnya.


Tinggal menunggu beberapa hari lagi maka kau akan memasuki usia kandungan 4 bulan sayang. Dan setelah itu, aku akan memberitahukan kepada Ayahmu. Satu tangan Ayana mengusap lembut perutnya. Menjalin komunikasi dari hati ke hati dengan calon anaknya.


Di kosan Ayana.


"Nak Jack?" Tanya Bu Sri sambil berjalan dengan perlahan menghampiri Jackie. "Kapan sampainya?" Tanyanya antusias.


Jackie menatap sekeliling, di ia memindai sesuatu. " Bu, apa Ayana datang kemari?" Tanyanya dengan wajah kusut dan terlihat sekali auranya menghitam.


Bu Sri menghembuskan nafasnya dalam-dalam yang serasa berat. " Ayo ikut aku." Jawabnya tanpa basa basi.


Bu Sri mendudukan Jackie di ruang tamunya lalu menyuguhkan teh hangat beserta biskuit. "Ini diminum dulu." Ucapnya lembut.


"Iya Bu, Terimakasih." Jackie tersenyum sekedarnya.


"Apa Ayana ada disini Bu?"


"Kenapa kau terlihat sangat cemas tapi juga sangat curiga. Ada apa?" Bu Sri bertanya padahal dia sudah sangat tau dan bisa melihat apa yang terjadi secara keseluruhan.


"Emmm....." Jackie menggumam dengan ragu. " Bu...., Ayana pergi saat aku ada bisnis keluar kota tapi dia meninggalkan ponselnya dan kamar kami juga berantakan saat aku memeriksa tadi.


Tak mau berlama-lama dan menyebabkan permasalahan yang lebih jauh lagi, Bu Sri lalu mulai meraih tangan kanan Jackie.


"Santailah, ada hal yang harus ibu beritahukan kepadamu." Ujarnya dengan nada bicara yang serius.


Jackie mengernyitkan keningnya. "Apa itu Bu?"


Tak banyak persyaratan dan *****-bengek, Bu Sri lalu membacakan sesuatu dan mengusap ekor mata Jackie dengan ibu jarinya. " Pejamkan matamu dan bersandar lah, ini sedikit menguras tenagamu." Kata Bu Sri.


Di usaplah kelopak mata Jackie. Jackie terlihat gusar dan gelisah saat dia menjelajah waktu kebelakang melihat segala kejadian yang menimpa istrinya dari semenjak kejadian dulu, dari mulai Ayana yang menikah karena terpaksa, dari Ayana yang kehilangan bayinya.


Dan Ayana yang menuai semua yang Jackie lakukan terhadapnya tanpa membalasnya sedikitpun.


Meluncur bulir bening dari sudut mata Jackie, nafasnya tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam di dalam laut yang sangat dalam sekalipun tekanan yang luar biasa menghimpit dadanya.


"Ay....!" Teriaknya sejadinya saat terbangun.


"Tenangkan dirimu." Bu Sri mengusap pundak Jackie.


Jackie terdiam dalam tangisnya yang tak bersuara. Dia begitu merasakan sakit yang Ayana lalui sedari dulu.


"Sekarang kau mengerti mengapa diawal bertemu denganmu dia begitu berbeda?"


Jackie mengangguk dengan kesedihan yang pekat.


"Dia trauma pada lelaki, dia takut menjalin hubungan, dia merasa terancam jika berdekatan dengan mereka yang berstatus kaya. Dia sendirian dan rapuh, dia sama sepertiku. Karena itu, aku mengangkatnya sebagai putriku, dan aku.... bersamanya kejiwaanku membaik dengan sendirinya."


Jackie terdiam menyimak semua yang Bu Sri bicarakan.


"Sekarang, dia tengah hamil anakmu, dia tengah mengandung anakmu. Kau tau mengapa dia begitu bersikeras ingin melahirkan anakmu meski dokter sudah memberikan fonis?" Tanya Bu Sri lalu duduk di samping Jackie.


Jackie dengan tatapan kosong menatap Bu Sri, "Tidak." Jackie menggeleng dengan putus asa.


"Dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Kesalahan yang menurutnya tak patut untuk di maafkan. Dia melihatmu begitu menginginkan anak. Untuk itu, dia rela mengabaikan kesehatannya sendiri demi bisa memberikanmu keturunan. Memberikan apa yang kau dambakan." Kata Bu Sri yang tak kuasa menahan kesedihannya.


"Aku... aku sebagai wanita yang terbuang karena tak bisa memberikan keturunan, sangat mengerti mengapa Ayana mempertahankan kehamilannya." Bu Sri menatap lekat kedua manik Jackie.


"Dukung dia, bantu dia untuk menjaga janinnya. Dia begitu mencintaimu melebihi nyawanya. Jangan kau juga menyalahkan dirimu akan hal ini. Inis semua sudah garis takdir kalian. Tidak ada yang bisa membantu atau mengubahnya."


"Katakan Bu, apakah akan ada hal buruk yang menimpanya?" Jackie bertanya dengan suara yang bergetar dan mata yang basah menggenang.


Bu Sri menggeleng perlahan dan memunculkan senyum palsunya.


Nak, aku hanya melihat setelah ini kalian akan menghadapi hal sulit.

__ADS_1


Tapi.... aku tidak akan mendahului takdir. Biarkan Tuhan yang menunjukkan. Mampuku hanya meluruskan kesalahpahaman yang tertanam sedari lama diantara kalian.


__ADS_2