Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
24. Mantan suami baik hati.


__ADS_3


...🌹🌹🌹...


Atas usulan Bu Sri, demi alasan pengobatan Jackie, dia meminta agar Jackie menginap di rumahnya. Dan..., hal itu tidak disia-siakan oleh Jackie. Senang saja dia memanfaatkan kesempatan didalam kesempitan.


" Hei, kamu!" Serunya memanggil Ayana yang tengah menyapu lantai. " Awas, nutupin!!" Ujarnya dengan santai sembari menonton TV. Tak lupa dengan Snack yang berada di tangannya.


Ayana mendengus kesal dan memutar bola matanya malas. Begitulah hari-harinya terlewatkan saat Jackie bersamanya. Seolah sengaja sekali dia untuk selalu mengerjai Ayana. Menyuruh ini dan itu, mengambilkan ini dan itu dan masih banyak lagi.


" Bu, mau sampai kapan sih kita harus menampung dia?" Kesalnya mengadu pada Bu Sri yang sedang berjualan di warungnya.


Bu Sri tertawa kecil melihat raut wajah Ayana yang berkabut derita. Terlihat sekali Ayana begitu jengah dengan keberadaan Jackie.


" Kenapa? kalian bertengkar lagi?" Tebaknya santai dan jangan lupakan suaranya yang begitu damai dan keibuan.


Ayana mendengus dan duduk di bangku panjang. " Bu, apa tidak apa-apa kita menampungnya? Aku takutnya dia nanti akan menjadi manja?" Ayana mengadukan apa yang menjadi ganjalan di hatinya.


Belum sempat menjawabnya, Jackie sudah datang dengan berkacak pinggang. " Siapa..., siapa yang manja?" Katanya dengan mata yang terbuka lebar seolah menantang.


Ih, dasar! Kenapa juga telinganya itu selalu bisa mendengar apapun yang sedang ku adukan?


Oh, Jackie Putra Armanto.... Kau dulu begitu imut dan menggemaskan! Tapi lihat sekarang, kau sangat menyebalkan!!


Apa tidak malu dengan tindikan dan tubuh kekarmu itu huh?


Astaga.... Ingin rasanya aku mengajarimu sekarang. Kakiku sudah lelah menuruti perintah anehmu!! Ayana mengumpat dalam hati.


" Tidak, tidak ada!!" Sahutnya keras-keras kemudian berlari meninggalkan warung Bu Sri dan dia lebih memilih masuk kedalam kamar kosnya.


" Aish...! Benar-benar....!" Ayana mendelik dan hendak meninju udara di hadapannya. Pangan lupakan dia juga frustrasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri. " Menyebalkan!!!" Pekiknya dengan suara tertahan sebab dia membekap mulutnya dengan bantal.


Di warung.


" Bilang apa dia tadi Bu?" Tanya Jackie yang duduk di bangku.


Bu Sri terkekeh-kekeh dengan sikap keduanya. Entahlah apa itu, tapi Bu Sri melihat dimasa depan keduanya akan saling melengkapi dan bergantung satu sama lain. " Kalian ini!" Bu Sri menggeleng lalu duduk di sebelah Jackie.


" Dia tidak bilang apa-apa. Dan kau..., kenapa tidak mau pulang di apartemenmu Nak? Kau sudah baik-baik saja. Semua yang menggangguku sudah pergi, tapi kau malah senang mengganggu Ayana."


Keberadaan Jackie di rumah Bu Sri sebenarnya sudah tidak berkaitan lagi dengan gangguan si mahluk halus. Itu hanya alasan Jackie saja di depan Ayana. Niat awal mengerjai, tapi pada akhirnya dia malah seolah menjadi kecanduan bila satu jam saja tak melihat Ayana. Walaupun hanya meminta selembar tisu pun, itu selalu menggunakan jasa Ayana agar semata-mata Jackie bisa melihatnya.


" Bu, aku hanya ingin memberikan pelajaran kepadanya. Dia dulu..." Ucapan Jackie menggantung saat Bu Sri menepuk bahunya perlahan.

__ADS_1


" Ibu sudah tau, bahkan dari saat bertemu dengan gadis baik itu. Ibu dapat melihat semuanya. Kau yang terlalu membencinya berlebihan. Kau termakan hasutan mantan Kakak iparmu." Kata Bu Sri.


Jackie tercenung, tapi dia tak lantas percaya begitu saja dengan ucapan Bu Sri. Jackie terdiam dan kemudian beranjak pergi menuju ke kamar kost Ayana. " Aku permisi dulu Bu.." Pamitnya sopan sebelum pergi.


Bu Sri hanya tersenyum lalu mengangguk. "Iya."


Di sisi lain.


" Pak...!" Seru Dita yang terkejut akan kehadiran Gino.


" Hem..." Sahutnya yang sembari berjalan memasuki ruang kerja Jackie yang kosong tak berpenghuni.


" Ada apa, mereka sampai tidak masuk secara bersamaan?" Tanya Gino penuh selidik. Bukanya apa-apa dia hanya takut saja jika terjadi sesuatu pada keduanya. Bagaimanapun keduanya adalah adiknya dan mantan istrinya.


" Sa... saya juga tidak tau pak. Tapi soal ijin Ayana, itu langsung dari pak Jackie yang memerintahkan. Bahkan sampai berapa hari pun, gajinya harus tetap di hitung full." Jawab Dita.


Gino memijit keningnya. " Apa kau tidak mencoba bertanya langsung pada Ayana?"


" Sudah pak, dan katanya dia harus mengurusi Pak Jackie yang seang sakit. Untuk sakitnya apa, dia merahasiakannya Pak." Jawab Dita jujur menjabarkan apa yang diketahuinya.


" Ya sudah, kau boleh pergi." Gino terdiam duduk di sofa barang sesaat dan memeriksa beberapa berkas yang bertumpuk di meja.


" Astaga! anak ini, tidak bertanggungjawab sama sekali!!" Keluhnya yang tapi tetap saja mengurus beberapa berkas dan menandatangani.


...🍁🍁🍁...


" Hei, kau!! Ambilkan aku minum!" Titahnya seenak jidatnya sembari sibuk memainkan game online.


Sedari siang tadi, Jackie mengambil alih kuasa kamar kos yang sempit itu. Bahkan luasnya tak ada separuh dari kamar mandi Jackie di apartemen.


" Ini!" Ayana menyodorkan segelas air dengan kesal.


Jacki memicingkan matanya. " Kenapa tidak berwarna?" Tanyanya yang memicu darah Ayana naik ke ubun-ubun. " Aku kan membelikanmu banyak persediaan makanan dan minuman, lalu kau hanya memberikanku air putih? Oh, sungguh beradab sekali sekertaris ku ini." Katanya bak belati bermata dua. Antara memuji dan menghina selalu sejajar dibuatnya.


Sabar Ayana, Sabar....


Ingatlah membunuh itu dosa. Kesalnya dalam hati, tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain hanya menuruti kemauan Jackie.


" Ini dan ini!" Ayana melengkapi semuanya dan meletakkannya di lantai. Minuman kaleng, Snack, dan juga buah yang sudah di potong. " Ini tuan." Ucapnya yang sengaja menyindir Jackie sebab tingkahnya seperti anak mami.


" Tuan?" Jackie menaikkan sebelah alisnya.


" Aku suka panggilan itu. Pertahankan ya!" Katanya sembari tertawa dan menenggak minuman bersoda.

__ADS_1


Ayana mengangguk lalu permisi untuk pergi. " Saya permisi dulu Pak mau membantu Bu Sri." Pamitnya.


Jackie meletakkan ponselnya dan menatapnya lekat. " Apa? Pak...?" Katanya dengan nada dingin.


" Telingamu itu tuli atau bagaimana? Baru saja aku bilang kan, panggil dengan sebutan tuan." Ujarnya dengan sombong.


Astaga!


Ingin ku Jambak saja bibirnya itu!! Geram Ayana dalam hati. Sungguh dia kesal bukan main.


Meski begitu dia hanya menurut saja. " Baik pak." Jawabnya terdengar sopan.


" Hemh" Jackie mengangguk senang beberapa kali. " Suapi aku." Katanya lagi dan menunjuk pada piring buah.


Ayana mendelik tak percaya. Dia ini sekertaris atau babu sih sebenarnya? Dari mulai Jackie membuka mata sampai tidur lagi, tak luput semua dengan pelayanannya. Benar saja, mungkin setelah ini Ayana akan gila. " Tapi, bapak bisa makan sendiri." Lirihnya.


" Buka matamu lebar-lebar, kau tidak lihat betapa tanganku ini sibuk bermain?" Ucapnya penuh dengan pernyataan jika dia yang berkuasa dan menunjukkan kegiatannya bermain game unfaedah.


" Iya." Kata Ayana tanpa penolakan.


Malam harinya.


"Akhirnya!" Dengus Ayana yang sembari duduk dan memijit pundaknya di bawah pohon.


" Kau lelah?" Tanya seorang Nyang tiba-tiba duduk di sebelahnya dan tersenyum manis kepadanya.


" Kak?" Serunya antusias lalu memeluk Gino dengan refleknya.


Ayana sungguh senang dengan kehadiran Gino. Setidaknya mantan suaminya baik hati dan tidak seperti Jackie.


" Kapan datang?" Tanya Ayana dengan mata yang berbinar-binar.


" Tadi pagi. Tidak pagi juga. Hampir siang." Jawab Gino menjelaskan.


" Ada bisnis ya?" Tebak Ayana.


" Kau pandai sekali cantik. Iya aku ada urusan." Jawab Gino sembari tersenyum dan menepuk pucuk kepala Ayana.


Bagaikan oase ditengah Sahara. Kini Ayana berbagi keluh kesahnya dengan mantan suami. Hubungan mereka baik dan terjalin layaknya tak pernah terjadi perselisihan sebelumnya. Sikap Gino yang dewasa dan mampu memaafkan segala hal buruk dimasa lalu membuatnya bisa berdamai dengan keadaan. Terbalik dengan Jackie yang selalu mengungkit dan membenci kisah lalunya dengan Ayana.


Akankah mereka bertiga bisa berdamai dengan masa lalu yang pahit?


__ADS_1


__ADS_2