Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
50. Demam.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


Tok...!


Tok...!


Suara ketukan pintu berulang kali menggema di dalam rumah Jackie.


" Apa tidak ada orang?" Gumam Alex yang berdiri di depan pintu unit apartemen milik Jackie.


JEGLEK...!


Pintu terbuka dan menampilkan sosok Ayana yang masih memakai celemek. Ayana tersenyum lalu mempersilahkan Kakak iparnya untuk masuk.


"Kak Alex, masuk. kak." Ucapnya mengajak masuk.


"Jk Ada kan?" Tanyanya.


"Ada, dia belum bangun." Kata Ayana yang kemudian kembali ke dapur untuk membuatkan minum tamunya.


"Baunya harum sekali. Kamu masak Apa Ay?" Tanya Alex sambil tersenyum dan hidungnya mengendus wangi masakan adik iparnya.


"Ini? hanya nasi uduk. Jackie yang minta." jawab Ayana tersenyum ramah.


"Enak ya, kalau sudah ada istri. Mau makan ini itu ada yang melayani." Gumam Alex yang kemudian tertawa geli membayangkan.


"Makanya Kakak cepat cari calon." Sindir Ayana yang tersenyum jahil.


"Calon ya?" Alex menggaruk alisnya. "Sudah ada sih." Ujarnya ragu.


" Wah, benarkah?" Ayana yang antusias kemudian mendekat dengan matanya yang berbinar senang. " Siapa? apa aku mengenalnya? Eoh?" Ayana menggoyang lengan Alex.


Dengan malu-malu dan menyembunyikan senyumannya " Kau mengenalnya, dia sangat dekat denganmu beberapa bulan terakhir ini." Jawab Alex.


Ayana membelalakkan matanya dan mulutnya menganga tak percaya. " Di... diah? iya Diah?" Ayana menebak dengan tepat. Sangat tepat hingga membuat Alex berdesis.


"Husstt... jangan keras-keras! nanti JK akan meledekku habis-habisan. Lagian juga Diah belum mengiyakan." Cicit Alex memainkan bibirnya yang mengerucut.


"A... Ah~~~ begitu?" Ayana mengangguk paham.


"Ada apa ini? kenapa kalian duduknya dekat-dekat begitu?" Celetuk Jackie yang baru saja selesai bersiap.


Dia berjalan sambil menenteng dasinya yang belum terpakai. "Sayang, pakaikan dasiku." Pintanya memberikan perintah yang tak boleh di bantah.


"Iya." Jawab Ayana patuh lalu mendekat dan memakaikan dasi pada Jackie meski dengan berjinjit.


"Ah, adegan ini. Padahal dulu kau sering memakaikan dasiku ya Ay? Sekarang malah jadi istrinya Jackie. Lihat kalian tidak serasi, kakimu saja sampai berjinjit." Ucap Alex menggoda pasangan yang baru saja berbaikan itu.


Ayana hanya tersenyum sedangkan Jackie segera menutup kedua telinga Ayana dan tatapan matanya tertuju pada Alex.


" Ayo kita adu tinju!" Serunya yang masih terdengar di telinga Ayana. Tak suka saja dia bila kakaknya menggoda seperti itu.


" Hahahaha!! tidak tidak aku pasti kalah. Ototmu itu... Ouh, mengerikan." Alex bergidik ngeri.


" Sudahlah, dia hanya bercanda." Ayana merapikan dasi Jackie lalu menepuk dua kali bahu suaminya dan memberikan senyuman terbaiknya.


Tak lupa juga pujian mendarat. " Tampan sekali suamiku." Pujinya dengan senyuman manis yang mengiringi.


"Terimakasih, Sayang!" Jawab Jackie yang kemudian mengecup kening Ayana.


"Ouh, romantisnya ☺️? Apakah aku sedang ada di dalam drama?" Cibir Alex meledek adiknya.


"Sudah-sudah ayo kita makan." Kata Ayana menyudahi sindiran antara Kakak beradik tersebut.


Di meja makan.


Sudah berjajar nasi uduk dengan sederet lauknya dari telur dadar, sambal, ayam goreng dan juga mentimun tak lupa orek tempe kesukaan Jackie.


"Wah, enak sekali. Ay, sungguh kau itu paket komplit. Baik, cantik, pintar masak dan penyabar." Kata Alex.


"Kira-kira kalau memuji ada suaminya disini." Tandas Jackie jangan wajah seriusnya.


"Apa suamimu sedang dapat jatah bulanan? sensitif sekali denganku." Cibir Alex.


"Kak, sudah ayo makan. Dia itu memang pencemburu." Jawab Ayana.


"Tapi aku ini Kakaknya bukan siapa-siapa dan juga aku ini hanya memujimu berdasarkan fakta." Alex membela dirinya.


"Kak Gino juga Kakakku kan? tapi dia mantan suami istriku. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Kak." Kata Jackie.


"Ish, Kau lihat itu Ay?" Alex meminta pembelaan. "Itu sudah masa lalu. Jangan suka kau ungkit lagi. Apa kau tidak melihat bagaimana dia sudah bahagia bersama dengan Dita?" Ucap Alex.


Jika menyinggung soal Gino. Ayana memilih diam. Dia tidak mau saja sepatah katanya membuat suaminya salah paham. Disini Ayana mengerti sebatas mana porsinya berbicara.


"Jangan cemburui dia lagi, dia sudah mendapatkan calon." Kata Ayana dengan lembut lalu mengusap lengan Jackie.


"Iyakah?" Tanyanya mengulang tak percaya.


"Iya, Diah calonya." Kata Ayana.


"Hahahaha....! Pedofil!!" Jackie dengan senang hati mengatai kakaknya seolah tiada beban dan dosa.


Alex melotot seketika. " Oh, adikku yang tak Budiman... Kau lupa balas budi? ingat siapa yang menemanimu mencari bukti rekaman CCTV di kantor saat pagi buta? Hanya aku... aku kakakmu yang kau sebut pedofil ini."


Ayana tertawa. Lucu saja mereka ini tidak pernah berubah jika sudah berkumpul bersama selalu saja adu argumentasi.


"Iya, iya aku tidak akan mengataiku lagi. Maaf." Kata Jackie lirih di ujung kata.


" λͺ°λΌκ³ ? Apa?" Ulang Alex mendekatkan telinganya pertanda jika Jackie wajib mengulangi permintaan maafnya.


"λ―Έμ•ˆν•΄μš”! Maafkan aku!" Ulangnya dengan power full.

__ADS_1


Alex mengangguk-angguk puas dan tersenyum manis.



Ouh, babang Alex... senyumnya 😊😊. Pakai pelet apasih bang? sampe aku terkintil-****** sama kamu?


"Anak baik," Katanya yang kemudian menepuk-nepuk kepala Jackie dengan sayang. "Ayo, kita lanjutkan makanya. Jangan sungkan, anggap rumah sendiri." Ujarnya seenak hati sambil tersenyum senang. Lupa mungkin dia sekarang sedang berada dimana.


Selesai makan dan Jackie berangkat kerja dengan Alex. Seperti pasangan yang romantis lainnya, Ayana mengantarkan Jackie sampai kedepan pintu. Selesai dengan itu..


Ayana yang berniat kembali beberes rumah menghentikan langkahnya. Terasa nyeri yang amat sangat di perut bagian bawah dia sampai mencengkeram kuat handel pintu yang masih di pegangnya.


"Sakit sekali!!" Rintihnya.


pintu kembali terbuka dengan kode sandi yang terpencet lancar dari luar.


" Sayang, ada yang tertinggal." Kata Jackie yang kemudian memeluk Ayana dan menghujaninya dengan kecupan mesra di seluruh wajah istrinya.


Sesuatu yang tertinggal itu hanyalah alasannya saja. Yang benar-benar tertinggal adalah bekalnya ciumannya untuk seharian ini. πŸ˜’ Modus saja kamu Jack.


Ayana merubah ekspresi wajahnya dari meringis nyeri seketika tersenyum lebar saat suaminya datang. Menyembunyikan rasa sakitnya adalah pilihan terbaik saat ini. Dia tidak mau pekerjaan suaminya terganggu.


Hari ini Alex datang menjemput karena mereka memang akan ada dinas keluar kota. Tepatnya mereka bertiga dengan Gino juga.


"Ciumanku mana?" Jackie menagih ciuman miliknya yang belum diberikan.


"Iya." Ayana terkekeh lalu menciumi wajah suaminya rata, sama seperti yang Jackie lakukan tadi.


"Bye! aku berangkat ya. Sampai jumpa dua hari lagi." Ucapnya sebelum pergi.


Selepas keberangkatan Jackie. Tubuh Ayana merosot dan meringkuk di lantai. "Sakit sekali...." Rintihnya.


...Di dalam mobil Alex dan Jackie. ...


"Wih, yang sudah minta bekal. Jadi bersemangat sekali." Lagi Alex meledek adiknya.


"Apaan sih." Jackie mengelak.


" Malu ya? Kenapa malu? kalau tidak mau malu harusnya di bersihkan dulu sisa lipstiknya." Kata Alex dan membuat Jackie kelabakan membersihkan wajahnya.


"Tapi bohong!" Kata Alex yang diteruskan dengan gelak tawa.


Adik kecilnya ini masih sama. Mudah sekali di tipu.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


"Jadi hari ini berangkat?" Tanya Dita yang sibuk mengepel lantai.


"Iya ISTRIKU." Sahut Gino yang mengaitkan kancing bajunya.


" Pak, bisa berhenti tidak jangan panggil istriku begitu." Protes Dita.


Gino menyisir rambutnya. " Lalu mau di panggil apa? inem? ijah? atau mbok?" Sindirnya menimpali melihat penampilan Dita yang menjadi gemar memakai daster.


"Panggil namaku saja ya?" Pintanya.


"Lalu kau akan memaggilku dengan sebutan pak lagi?" Kata Gino.


"Tidak, kalau nama saja bagaimana?" Dita mengajukan ide.


" Mau ngelunjak?" Ketus Gino.


Dita mengkerut lalu menggeleng tak berani.


" Panggil Sayang saja ya." Pinta Gino kemudian menatap mata Dita. " Ya..., walaupun sekarang kita belum ada perasaan seperti itu, tapi tidak ada salahnya membiasakan diri kan?" Ucap Gino dengan tangannya yang menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Dita.


Tangan Gino turun perlahan lalu berdiam melingkar di pinggang Dita. " Harus terbiasa begini, bersikap baik dan saling menyayangi." Kata Gino dengan lembutnya.


Dita yang di peluk hanya bisa melongo dan membeku. Dia sangat kaku dalam hal romantis seperti ini. " Jangan peluk, aku belum mandi." Ucap Dita.


" Belum mandi? tak masalah bahkan aku akan menciummu juga." Kata Gino yang sudah melayangkan satu kecupan di pipi Dita.


Pipi Dita berubah menjadi merona, agak pink pink gitu, mirip pantat bayi abis kena tabok πŸ˜†πŸ˜†.


"Dua hari ini kau boleh pergi kemanapun yang kau suka. Tapi ingat, saat aku pulang kau harus apa?"


"Harus sudah siap menyambut kedatangan suamiku si CEO yang tampan ini." Jawab Dita malas.


" Anak pintar." Ucap Gino lalu mengecup bibir istrinya.


Dita yang mendapatkan perlakuan manis menjadi salah tingkah dan berlari meninggalkan suaminya. " Aku mandi dulu!! kau sarapan ya Sayang!!" Serunya saat berlari menuju ke kamar mandi.


"Sayang," Gino tersenyum melihat pantulan dirinya. " Bagus juga, tidak buruk." Gumamnya.


Dita mengantarkan keberangkatan Gino sampai ke bandara, dan setelah dari bandara Dita berencana untuk berkunjung ke rumah iparnya.


Entah mengapa tapi sepertinya ada yang menuntunnya untuk menuju ke kediaman Jackie.


Lama mengetuk dan juga menghubungi, ternyata suara ponsel Ayana terdengar tak jauh dari pintu. Pikiran Dita menjadi berkecamuk tak menentu. Segala pikiran buruk mulai hinggap.


Dia takut terjadi sesuatu dengan adik iparnya itu. Beruntunglah Dita masih ingat kode sandi kunci pintu apartemen Jackie. Dita membukanya dan mendapati Ayana yang tergeletak tak berdaya di lantai.


Dita panik dan menepuk-nepuk pipi Ayana. Ayana terbangun lalu merintih. " Kak tolong aku, perutku sangat sakit."


"Ayo kita kerumah sakit." Kata Dita yang dengan segera menggendong Ayana di punggungnya.


Jangan remehkan kekuatan Dita, Dia gadis tomboy pemilik sabuk hitam. sudah pasti dan tentu Perkasa.


Dita memakaikan sabuk pengaman dan meletakkan Ayana di bangku tengahnya. Masih sempat-sempatnya Ayana sebelum kembali pingsan berpesan. " Jangan beritahu siapapun tentang ini termasuk suamiku." Pintanya yang kemudian di susul dengan matanya yang terpejam rapat.


Dita, dia panik bukan main. Jangankan untuk menghubungi siapa-siapa, sekarang pun dia tak tau ada dimana ponselnya. Yang terpenting baginya adalah mengurus Ayana.


"Tubuhmu panas sekali." Lirihnya setelah menyentuh kening Ayana.


...🍁🍁🌼🍁🍁 ...

__ADS_1


" Dari hasil tes kami. Pasien ini memiliki Maslah dengan rahimnya." Ucap dokter membacakan hasil Usg dan Rontgen Ayana.


Dita hanya membelo membulatkan matanya. Dia sama sekali tak tau riwayat kesehatan Ayana.


"Ada apa sebenarnya Dok?" Tanya Dita.


"Dari hasil tes kami menyimpulkan bahwa pasien tengah mengandung. Usia kehamilannya masih sangat kecil sekitar 3 Minggu ." Ucapan dokter terhenti lalu membuka kaca matanya.


"Sebenarnya pasien ini belum boleh hamil." Kata dokter.


" Mengapa begitu Dok?" Tanya Dita dengan kepolosannya.


" Pasien memiliki trauma di rahimnya. Dari yang kami lihat, ini trauma seperti bekas terbentur benda yang cukup keras dan tidak hanya sekali."


" Saya Kakak iparnya, saya baru tau mengenai hal ini." Ucap Dita menjelaskan posisinya.


" Sebaiknya kita bicarakan ini dengan pasien dan juga suaminya guna mengambil keputusan penanganan. Apakah akan segera menggugurkan kandungannya atau..."


" Apa tidak bisa di pertahankan Dok?" Tanya Dita.


Dokter menggeleng pelan.


...🍁🍁🌼🍁🍁...


4 jam tak sadarkan diri. Akhirnya Ayana membuka matanya.


" Ay, kamu sudah sadar?" Tanya Dita khawatir.


" Kak?" Pelan Ayana menyahut lalu bersandar di headboard wajahnya terlihat sangat pucat.


" Apa kata dokter?" Tanya Ayana.


" Kamu hamil Ay.." Jawab Dita.


" Benarkah?" Ada semburat kebagian saat mendengar kabar baik tersebut.


" Tapi, Dokter bilang kondisi rahimmu belum memungkinkan kamu untuk melanjutkan kehamilan ini. Pihak medis menyarankan untuk melakukan pengguguran kandungan sebelum bayimu membesar." Ucap Dita lesu.


"Tidak tau aku harus bahagia atau bersedih Kak. Aku hanya takut. Aku tidak mau menjadi pembunuh dari anakku sendiri." Ayana mengusap air matanya yang sudah luruh dari semenjak Dita menjabarkan kondisinya.


" Lalu harus bagaimana? Ay... lihat aku. sebaiknya kau ikuti saja apa yang pihak medis rujukkan. Kesehatanmu lebih penting." Kata Dita.


"Tapi Kak, anak ini juga punya hak untuk hidup." Ayana mengusap lembut perutnya.


"Tapi Ay, kondisimu tidak memungkinkan. Kita harus membicarakan ini dengan keluarga." Kata Dita yang hendak bangkit namun di tahan oleh Ayana.


" Jangan Kak." Ayana menggeleng. Tatapan matanya memohon meminta agar semuanya dirahasiakan. " Biarkan saja sampai waktunya tiba. Aku tidak mau mendahului takdir. Biarkan Tuhan yang menentukan hidup dan mati. Anakku ini juga punya hak." Ujarnya memelas.


" Dia baru 3 Minggu dan kau sudah tersiksa begini Ay..." Ucap Dita yang akhirnya ikut menangis dan memeluk adik iparnya.


" 3 Minggu?" Ayana terlihat senang meski dengan air mata yang menggenang.


Dia lalu mengusap perutnya yang rata dan mengurai pelukannya dengan Dita. " Kau sudah ada 3 Minggu sayang?" Ayana berbicara pada perut ratanya.


Dita yang menyaksikan itu ikut merasakan dilema yang Ayana tanggung.


" Ceritakan padaku mengapa kau sampai mengalami cidera di rahim." Kata Dita.


Ayana menceritakan semuanya.


" Jadi yang melakukan ini padamu adalah istri pertama Gino?" Tanya Dita tak percaya.


"Wah ingin rasanya ku hajar dia."


"Sebelumnya Dokter bilang rahimku masih baik-baik saja. Sampai suatu hari saat aku belum sembuh, Jackie yang termakan hasutan dari Kak Lena datang dan mengamuk. Dia berkelahi dengan Kak Gino dan aku yang berusaha melerai malah kembali mendapatkan hantaman kuat di perutku." Ayana tersenyum getir menggambarkan luka yang dalam yang nampaknya masih tersimpan rapi dalam ingatannya.


"Dari itulah, rahimku bermasalah. Rahimku mengalami trauma. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan. Dan saat masa tersulitku itu hanya Kak Gino yang setia membantuku." Kata Ayana dengan seulas senyuman di akhir kata.


" Kau beruntung memiliki pria sebaik dia Kak. Percaya padaku. Dia tak akan menyia-nyiakan wanitanya." Ayana mengangguk meyakinkan Dita dan mengusap lembut tangan Dita seakan dia bicara.


Jaga baik-baik lelakimu. Dia orang baik. Begitu kira-kira.


Iya, lelaki baik yang kau maksud itu suamiku.


"Tentang kehamilanku ini, berpura-puralah kau tidak pernah tau ya. Aku mohon."


"Mengapa harus disembunyikan Ay?"


" Aku tak mau Kak bila nanti kak Gino akan kembali bersetru dengan Jackie. Aku sudah cukup senang sekarang melihat mereka kembali akur."


Dita tak bertanya tapi dia mengkerutkan dahinya. Ayana tau arah penasaran Dita. " Jika kak Gino tau aku hamil sedang dokter saja memintaku untuk tidak hamil, maka semuanya akan tau kalau hubunganku dengan Jackie adalah..." Ayana tertunduk dan menangis.


" Adalah apa? jangan buat aku takut?" Dita mendesak penjelasan Ayana.


" Di awal pernikahan, kami bukan pasangan yang harmonis. Dan dia juga mau menikahiku hanya karena ingin membuatku merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh suami sama seperti kak Lena dulu."


"Apa? jadi kalian menikah bukan karena saling mencintai?" Cecar Dita.


" Ayana mengangguk pasrah. Tak ada lagi yang bisa dia tutupi dari Dita."


"Yang kuat ya Ay." Dita lalu memeluk Ayana dan menguatkannya.


Akupun sama, aku menikah dengan mantan suamimu hanya karena terjebak keadaan.


Tapi kau benar, suamiku jauh lebih baik daripada Suamimu.


Baiklah, aku akan menjaga rahasia ini.


Ternyata, apa yang kulihat tak semanis kenyataannya.


"Sudah jangan menangis lagi. Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran kan?" Dita mengusap air mata Ayana yang meleleh membasahi pipinya.


" Pantas saja kau bisa hamil dalam keadaan yang tak seharusnya. Pasti komunikasi diantara kalian juga tidak baik." Batinnya saat melihat wajah Ayana.


😭😭😭 Author ikut mewek. Sedih gitu, banyak berkorban tapi tak terlihat. Ay, begitu malang nasibmu.

__ADS_1


__ADS_2