
...🌹🌹🌹🌹...
Malam semakin larut tetapi Gino sama sekali tidak masuk ke dalam kamar. Dia masih saja berada di sofa ruang tamu, agaknya dia terlelap benar-benar tertidur dengan posisi yang kurang nyaman.
Setelah sebelumnya Gino pergi meninggalkan Ayana dia kembali pada pukul 2 dini hari dengan keadaan yang sungguh kusut sepertinya dia frustasi.
Ayana yang terbangun lantaran merasa kehausan lalu berjalan menuju ke dapur tak sengaja matanya menangkap sosok yang tengah tertidur di sofa ruang tamu.
Gino tertidur dengan posisinya yang meringkuk dia terlihat kedinginan rambutnya kusut dan acak-acakan. Sungguh keadaan yang kacau Ayana bingung mengapa dia tampak seperti itu sedangkan pernikahan yang terjadi adalah atas kehendaknya sendiri itu setahunnya.
Tak tega melihat keadaan Gino yang seperti itu, Ayana berinisiatif untuk membangunkan lelaki yang dibencinya. Namum meski begitu dia tersadar jika lelaki itu tidak juga sepenuhnya bersalah mungkin ada sesuatu yang lain yang membuatnya mau melakukan semua ini.
Dengan perlahan Ayana mengguncangkan lengan suaminya namun tidak juga ada reaksi nampaknya suaminya itu begitu lelah.
Tidak ada respon dari suaminya, membuat Ayana hanya bisa menggeleng dia tersenyum tipis lalu kembali masuk kedalam kamarnya mengambil selimut lalu menutupi sebagian tubuh suaminya hingga ke leher.
Seberapapun dia membenci laki-laki itu kenyataan berkata lain padanya. Setidaknya sekarang dia harus bersikap baik tunduk dan patuh serta berbakti kepada suaminya mungkin itu setimpal untuk balasan atas nyawa ayahnya yang sudah tertolong karena uluran tangan Gino.
Ayana mengambilkan bantal dan membenarkan posisi tidur Gino. Saat dia perlahan mengangkat kepala suaminya itu, lalu meletakkannya dengan sangat lembut di atas bantal yang empuk, terjadi sebuah pergerakan yang tak pernah diduganya tangan jino tiba-tiba merengkuhnya menariknya masuk kedalam dekapan hangatnya. Bibir suaminya itu meracau dia bicara tidak jelas mengatakan sesuatu yang tak dapat dimengerti oleh Ayana.
Suasana berubah secara tiba-tiba kini yang Ayana dengarkan hanyalah suara detak jantung suaminya yang berpadu bertalu dengan suara detak jarum jam yang terdengar seirama. Mengubah keheningan malam menjadi suatu lantunan merdu yang mungkin suatu saat nanti akan dirindukannya.
Kini Ayana paham mengapa keadaan suaminya begitu kacau. Ya laki-laki itu stres. Dia tertekan, Dia frustasi, pelampiasannya hanya pada sebuah benda cair yang memabukkan dan kini dia semakin yakin karena aroma khas yang menguar dari nafas suaminya. Gino tengah mabuk sekarang.
Kenapa kak jino terlihat frustasi? sedangkan yang kutahu, semua yang terjadi ini adalah atas kehendaknya sendiri. Ada apa sebenarnya ini? Ayana hanya bisa membatin dan kini dia mendongak melihat wajah yang tenang dan damai itu terlelap. Bibirnya masih saja berkelumit entah apa yang dikatakan Gino tapi sepertinya itu adalah luapan dari isi hatinya.
Perlahan Ayana kembali bergerak dia berusaha untuk bangkit dia tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Posisi yang membuat detak jantungnya terlihat seperti orang yang sedang terkena sakit jantung detak jantung yang tidak beraturan yang sebelumnya pernah dia rasakan ketika ciumannya diambil oleh Jackie.
CUP!
Satu kecupan hangat nan singkat mendarat di bibir ranum Ayana dia tak menyangka kejadian ini begitu cepat dan sangat mengejutkan nya. Dengan susah payah Ayana berusaha menelan ludahnya sendiri lehernya serasa tercekat, jantungnya terasa berhenti, tangannya terasa dingin, entah rasa apa itu yang jelas saat ini jika lampu menyala dengan terang akan terlihat begitu merah pipinya.
Setelah kecupan singkat itu terjadi Gino perlahan membuka mata sayunya dia terlihat sendu terlihat sedih dia menatap kedua manik coklat Ayana seolah mereka berbicara dengan tatapan mata.
Aku sedang sedih sekarang. Eoh, Tak bisakah kau menghiburku sebentar saja? bukankah kau sekarang adalah istriku aku? Begitulah suara hati Gino kala menatap wajah Ayana dia ingin teman dia ingin berbagi cerita dia ingin meluapkan segala apa yang ada di dalam dadanya saat ini.
Ada apa dengan mu kak? Kenapa kau terlihat menyedihkan seperti ini? Memang beberapa saat lalu aku membencimu. Tetapi melihat keadaanmu yang seperti ini mengingat kembali dimana kita sering bersama diwaktu kecilku nampaknya aku tidak patut untuk membencimu. Kau terlalu baik untukku benci. Sahut batin Ayana. Dia hanya berani berkata-kata di dalam hati dan tak berani untuk mengutarakannya. Bagaimana bisa mengutarakan jika saat ini terkikis lah jarak di antara mereka mereka begitu dekat detak jantung Mereka pun kini saling bersahutan.
" Kau adik kecil kami, wanita cilik..., kini kau menjadi istriku. aku rasa aku sudah gila." kata Gino yang sejujurnya dia menertawai apa yang telah dilakukannya.
" Apa Kakak butuh teman bicara? Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi biarkan aku duduk sendiri, aku tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Ini membuatku merasa gerah."
__ADS_1
" Kau kegerahan dengan posisi kita seperti ini? baguslah, kau bisa membuka bajumu atau aku akan membukakannya untukmu jika kau mau."
Ucapan Gino seketika membuat mata Ayana terbelalak dia sungguh terkejut sejak kapan lelaki yang terlihat sopan dan santun itu menjadi lelaki cabul.
Ayana memberontak, sungguh saat ini pipinya sudah merah detak jantungnya tak karuan keringat dingin keluar dia sangat malu sekarang. " Lepaskan aku mohon, kau tak lihat keringatku keluar hah? aku sangat gerah."
" Lucu sekali tingkah istriku ini, aku jadi semakin gemas. Aku ingin seperti ini sebentar saja. Aku ingin memelukmu. belum saatnya aku mengatakan semuanya, dengan memelukmu seperti ini itu bisa sedikit menguraikan kegelisahan dalam diriku aku mohon kau mengerti." Gino berbicara dengan suara rendah nya ya suara yang terdengar menggelitik di telinga Ayana membuat darahnya berdesir dan membangkitkan sesuatu yang lain geura nyarap aneh kini dia rasakan semakin aneh dan membuat sesuatu yang lain berdenyut.
" Bisa kau usap kepalaku aku ingin merasakan ketenangan, Aku ingin mencari kenyamanan denganmu Aku ingin membiasakan diriku denganmu bisa kau melakukannya? kau sekarang istriku Ayana."
Dengan gugup tapi juga pasrah Ayana pun menuruti kemauan Gino. jari lentiknya perlahan mengusap sembari merapikan rambut suaminya yang acak-acakan lalu bibirnya mulai kembali lagi bertanya dia ingin tahu akan sesuatu mengapa suaminya terlihat begitu menyedihkan sekarang di malam pertama mereka. "Ada apa kak? kau bisa bercerita denganku berkali-kali Kau menyebutku sebagai istrimu Bukankah suami-istri seharusnya berbagi? Aku ingin tahu."
Alih-alih berbicara Gino justru mempererat pelukannya Dia seolah sangat gelisah, dia galau, dia penat akan segala masalahnya. Tertekan seorang diri memikirkan masalah seorang diri itulah mungkin keadaannya sekarang.
" Jangan bawel, diamlah! Aku hanya ingin memelukmu, Aku hanya ingin ketenangan ini diamlah!" Gino berbicara dengan matanya yang terpejam dia berusaha memejamkan matanya walau itu sangat sulit.
" Kak Apakah kau mau membantuku? " kata Ayana tiba-tiba.
Gino lalu menatap wajah Ayana dan mereka saling tatap untuk beberapa saat " Membantumu untuk urusan apa? "
" Janji dulu padaku jika kau tidak akan marah padaku." kata Ayana seolah dia takut jika suaminya ini akan marah dengan apa yang nantinya dia utarakan.
" Hemm, aku berjanji sekarang bicaralah aku akan mendengarkannya." sahut Gino dengan acuhnya Dia seolah tak peduli dengan masalah yang Ayana hadapi.
" Jangan berbelit-belit Ayana, katakan saja sekarang siapa yang kau maksud Alex atau Jackie?" Gino berbicara dengan nada suara yang berbeda, nada suaranya naik berapa oktaf, matanya menyala merah padam. Dan Dia terlihat sangat tidak suka dengan apa yang dibicarakan oleh Ayana.
" Alex atau Jacky?!" Tanya Gino yang mendesak Ayana untuk segera memberikan jawaban pasti.
" Jackie." jawab Ayana yang kini tak berani menatap wajah suaminya dan memilih mengalihkan pandangannya ke dada bidang suaminya.
" Apa? " sahut Gino yang seolah tak percaya dengan telinganya sendiri.
" Apa kau menjalin hubungan dengan Jacky? kau berpacaran dengannya? kau pacarnya? katakan padaku. "
" Iya kami berpacaran bahkan saat ini aku pun belum memutuskan hubungan dengannya aku adalah pacar adikmu."
" Apa? katakan bahwa ini hanya akal-akalan mu saja untuk membuatku tidak nyaman dengan hubungan kita."
" untuk apa? untuk apa aku mengakali mu? aku sangat jujur sekarang, aku dan Jackie kami menjalin hubungan."
Dengan cepat Gino lalu mendudukan Ayana mereka kini duduk berdua Gino menatap Ayana dengan matanya yang setengah sipit ia memicingkan matanya dia tidak percaya dengan kemampuan telinganya saat ini.
" Lalu kau ingin aku membantumu untuk apa? untuk berpura-pura tidak tahu hubungan kalian? untuk menjadi suami bodoh yang membiarkan istrinya tetap menjalin hubungan dengan pria lain?"
__ADS_1
" bukan Kak Tapi sebaliknya Aku ingin berterus terang kepada Jackie."
" Berterus terang tentang pernikahan kita?" Gino melihat sejenak Ayana. "Hahahaha...! aku tidak setuju itu."
" Dengarkan aku, aku tidak bisa membantu dalam masalahmu itu. Aku tidak ingin anggota keluargaku tahu akan hubungan kita. Bukankah kau Sudah menandatangani perjanjian kita? setelah melahirkan anakku Aku ingin kita bercerai pernikahan ini hanya kita yang tahu dan saat keluargaku bertanya nanti aku akan mengatakan kepada mereka jika anak itu adalah anak ku bersama wanita lain tapi itu bukan kau."
Benar kata Gino memang sebelum pernikahan berlangsung sebelum akad mendapat jawaban sah. Ayana terlebih dahulu sudah menandatangani beberapa surat perjanjian dengan poin penting di dalamnya. Poin di mana dalam pernikahan ini setelah dia melahirkan Putra ataupun putri dari Gino, maka mereka akan bercerai. Ayana mendapatkan sejumlah uang untuk melanjutkan hidupnya dan Gino akan kembali kepada istrinya itulah isi perjanjian mereka.
"Tapi Kak, aku tidak tega jika harus terus-terusan berbohong kepadanya Aku mencintainya."
" Tidak tega katamu? kau bahkan sudah meremukan hatinya! bukan lagi berselingkuh. Tapi kau sudah menghianati nya." Gino tertawa remeh dia meremehkan Ayana dan menggeleng beberapa kali untuk mengusir pikirannya itu dia tidak menyangka saja jika sekarang dia menjadi suami dari pacar adiknya.
" menghilanglah dari Nya dan jadilah istriku sepenuhnya Aku akan berusaha menutupi jejakmu darinya aku akan membantumu untuk mencari alasan kau mau putus atau kau mau terus dengannya itu keputusanmu tapi tidak di saat kita masih bersama. Disaat kita bersama, Disaat kau sah menjadi istriku secara agama kau sepenuhnya milikku."
" Itu artinya kamu minta aku untuk putus dengannya kan untuk mengakhiri hubunganku dengannya kan?"
" Berpikirlah sendiri, aku yakin kau bukan wanita bodoh. Kau pintar, Ayah sudah menyekolahkanmu sedari kau TK hingga sekarang. Kau pasti bisa mengambil keputusan." Entah itu kata yang membangunkan sisi optimis atau justru menjatuhkan menjadi sebuah pesimis yang besar sindiran halus itu tepat menusuk ke dalam hati Ayana ya secara tidak langsung suaminya ini mengungkit segala kebaikan yang telah keluarga armanto berikan kepadanya.
Bergetar ponsel Ayana di dalam saku celananya. dia merogoh nya lalu menunjukkannya kepada Gino. Panggilan itu dari Jackie.
" Jangan kau angkat! aku hanya minta kau menghilang untuk 1 tahun ini darinya. Itu sangatlah mudah kau hanya cukup membatasi komunikasi mu dengannya. Dia tidak akan pulang dalam satu tahun ini dan Setelah 1 tahun ini aku tidak apa jika kau menjalin hubungan lagi dengan nya atau pun kau menikah dengannya hubungan kita hanya sebatas hubungan yang saling menguntungkan Aku harap tidak akan ada perasaan di dalamnya."
" Ya, hubungan yang saling menguntungkan di mana Aku memperoleh uang dan kau memperoleh anak kau ingin menegaskan itu kan Kak?" ketus Ayana dengan wajah tertunduk dan bulir air matanya sudah jatuh ia merasa sangat rendah sekarang dia merasa Tak ada bedanya antara dirinya dengan ja**ng.
jika ja**ng menjajakan dirinya di pasaran. jika ja**n menjajakan dirinya di jalanan, maka Ayana cukup menjajakan dirinya di atas ranjang bersama suaminya. setidaknya itu lebih terhormat dan memiliki sertifikasi halal. Semua ini dilakukannya demi Ayahnya. Bahkan Gino sudah mengirim Ayah Ayana untuk mendapatkan pengobatan terbaik di negeri tetangga.
" Sudahlah abaikan saja dia. Nana, kau bisa mengambilkan ku minum? Aku haus.." Kata Gino yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
Ayana masih menunduk dan menangis lalu dengan terpaksa dia bangkit dan mengambilkan minum untuk suaminya.
keadaannya sungguh miris sekarang seharusnya pernikahan itu berlandaskan cinta dan berakhir dengan sebuah kebahagiaan Tapi nampaknya tidak untuk Ayah nah dia kurang beruntung dalam hal ini.
Saat Ayana tengah berdiri di depan kulkas untuk mengambil sebotol air mineral, Gino lalu memeluknya dari belakang. Gino memulai semuanya tanpa pemanasan, tanpa kata-kata manis. Dia menghujam dan menerobos pertahan Ayana dengan brutal. Entah karena api cemburu atau karena memang dia tengah berna**u.
Malam pertama yang menyedihkan dimana Ayana melepaskan mahkotanya tanpa keihklasan.
Pertama memang terasa kasar, tapi setelah beberapa menit berlalu. Permainan berubah begitu menjadi sangat lembut dan keduanya menikmati penyatuan mereka. Sikap agresif yang di awal ditunjukkan oleh Gino adalah karena dia tak menyangka dan tak suka dengan ucapan Ayana yang mengatakan cinta untuk pria lain di hadapannya.
" Jangan marah, aku minta maaf untuk perlakuan kasar kau tadi jadilah istriku sepenuhnya. Walaupun nantinya kita akan berpisah, tapi aku ingin milikku tetaplah milikku. Aku tidak suka berbagi hal spesial."
" Hemm...." Hanya dengan deheman Ayana menyahuti apa yang Gino ucapkan.
Baginya tak ada bedanya. Apapun itu setelahnya Ayana tetap akan terbuang. Inilah cerita sesungguhnya, ceritanya tentang penghianatan cintanya.
__ADS_1