Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
115. Sabun cuci piring.


__ADS_3

...~~~...


Masih di tempat yang sama, Ayana dan Jackie berada di dalam rumah tuanya. Ayana masih sangat ingin melepaskan kerinduan dengan mengenang setiap sudut ruangan yang ada.


"Kita pulang ke rumah besar yuk?" Ajak jackie pada sang istri yang masih memetik kangkung di belakang rumah kecil tersebut.


Ayana bangkit dari jongkoknya kemudian duduk di samping sang suami. "Kenapa, tidak suka ya menginap disini?" Tanyanya tanpa melihat wajah Jackie yang sedang memainkan bibirnya.


Ayana mengerti mengapa suaminya sangat bosan sekarang, disana tidak ada TV, Wifi, dan juga kasur empuk.


"Pulanglah kesana, jika kamu mau. Aku tidak memaksa kan sayang?" Ayana mulai menyiangi kangkung tersebut.


Sebenarnya rumah itu tidak kosong dan masih di tempati oleh seorang yang jackie pekerjakan. Seorang tukang kebun yang juga bekerja untuk rumah besar. Peralatan dapurnya masih sangat lengkap, hanya saja semuanya sudah sangat usang.


Mendengar perkataan Ayana yang menyiratkan secara dalam rasa kekecewaan, Jackie kemudian kembali menimang. Apa salahnya mengalah dan menuruti kemauan istrinya yang sederhana ini?


"Emm.... Kamu kan tau Ay, aku susah tidur tanpa kamu." Ucapnya dengan nada manja dan mencium pundak ayan dengan tiba tiba.


Ayana menggidikkan bahunya. "Jangan seperti ini, kit di desa sayang. jangan mengumbar kemesraan kalau ga mau jadi bahan perbincangan selma satu bulan." Tukas Ayana yang menatap teduh sang suami yang agaknya sedang dalam mode On.


Mata Ayana melirik ke bawah dan tersenyum sesudahnya. "Kondisikan juga partner kecilmu itu." Ujarnya yang kemudian bangkit dan memasuki dapur yang sangat minimalis juga minim perabotan.


Tangan kekar melingkar di pinggang ramping dengan sapuan semilir angin senja. Jackie menumpukan dagunya pada pundak sang istri dan ayana tersenyum kala merasakan belaian lembut dari nafas sang suami yang mulai menyapa leher jenjangnya.


"Aku kangen." Ujar Jackie dengan lembutnya dan berbisik di telinga sang istri.


Halah, modus aja mau minta jatah. kangen apaan? perasaan seharian udh berduaan.


"Kangen? bisa nanti aja kangennya? aku masih mau masak." Ayana mulai memotong tempe. "Daripada nempel kayak tas punggung begini, mendingan bantuin potongin bawang." Tangan terampil Ayana kemudian mengambil bawang dan cabai, diletakkannya dalam wadah lengkap dengan pisau dan talenan lalu meminta suaminya untuk merajangnya.


"Ini di iris tipis tipis." Ayana meminta bantuan yang sarat akan paksaan melalui sorot mata yang ia pancarkan.


"Ih..... Iya aku bantuin, tapi nanti malem nambah." Ujar Jackie mengajukan syarat yang berlaku untuk meraih keuntungan.


"Kalau menginap disini, boleh si nambah. Tapi kalau di rumah besar mana bisa?"


"Kenapa tidak bisa? bukannya sama saja?" Jackie menyahut dengan tangan yang sibuk mengupas dan memotong bawang.


"Ya bagaimana? kan aku tetap tidur di sini, dan kamu disana, mana bisa di lakukan secara jarak jauh?"


"Kamu mau taat protokol? jaga jarak minimal 1m. Ok, Bisa tapi anuku ku panjangin dulu jadi 1m 16cm. Gimana?" Kata Jackie sambil terkikik geli. Dia sudah membayangkan sesuatu saat ini. Fantasi liarnya mulai tergugah.


"Sayang, itu Anu apa belalai gajah? maksa banget sampe segitu. Berarti kalau jarak dekat bisa tembus ke ubun ubun."


"Bisa banget, Gimana mau praktek sekarang?" Tanya Jackie dengan mata yang berbinar.


"Huh! maunya!" Ayana terkikik dan membalikkan badannya. Dia malas kembali berdebat dan membicarakan si anu yang malah membuat anu yang lainnya bangkit.

__ADS_1


"Ya maulah, selagi suamimu masih muda dan perkasa, kamu juga harus, kudu, dan wajib bercocok tanaman bersama."


"Iya, iya sayang iya, aku tahu. Tapi awas aja kalau kamu sampe berani menggarap sawah yang lain, Hemmhh.......!"


"Tapi Ay, lumayan kan kalau bagi hasil?" Celetuk Jackie yang sengaja membuat ayana jengkel dengan makna kiasan yang diucapkannya.


"Lumayan katamu? Maksudnya kamu yang tanam di tempat lain terus anaknya kamu bawa pulang?"


"Ya Hasilnya itu mau gimana lagi? sayang kan kalau di buang."


"Oh, Bilang aja kamu mau cari istri lagi karena aku lama hamilnya, iya kan?"


Entahlah mengapa tapi hal seperti ini sering terjadi dimana candaan berubah menjadi hal menyebalkan dan menyinggung perasan.


Ayana marah, lalu menghentakkan kakinya dan meninggalkan dapur begitu saja. Dia hendak menuju ke kamarnya yang lama dan seketika Jackie menghadangnya.


"jangan marah" Ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. "Cuma bercanda doang Ay." Ucapnya menjelaskan.


Bercanda katanya? Inilah satu sisi yang sering di salah artikan manusia. Di mana semua kan menjadi aman dan baik baik saja jika sudah mengunakan balutan kata BERCANDA. Semudah itukah?


Ayana tak menggubris dan menuju kamarnya.


Bau saja tadi tertawa bersama dan sekarang sudah menangis saja. Dia menangis dan hatinya tertusuk perih kala menyinggung soal kehamilan, Sesuatu yang sejujurnya masih terasa sangat menyiksa baginya di mana dia tak bisa dengan semudah membalik tangan bisa mendapatkannya.


Keadaannya memang sudah jauh lebih baik secara medis, tapi secara psikis, hal ini memberikan guncangan baginya. Dia hanyalah wanita biasa yang juga ingin merasakan besarnya karunia berupa nyawa yang di kandung dalam rahimnya.


"Kamu tidak bermaksud? tapi tolong jangan jadikan semua candaan!" Ucap Ayana memekik keras.


"Sayang, tolong buka pintunya. Aku sungguh minta maaf." Kata jackie yang memohon sembari terus saja tangannya menggedor pintu.


Bukankah ini hal kecil? Tapi mengapa aku begitu sakit mendengarnya? Ah, tidak. Ini pasti ada maksud yang terselubung dari ucapannya.


Jackie bersandar di pintu dan menempelkan telinganya berharap sang istri segera tergerak dan membukanya. Tapi....


Tanpa aba aba, Ayana membuka pintu begitu saja dan membuat suaminya terjungkal dan ambruk ke lantai.


Ayana menahan tawanya melihat kejadian barusan. Tapi sebisa mungkin Dia tetap menunjukkan sisi kemarahannya. Ya istilahnya gengsi.


"Ups....! Maaf aku hanya bercanda." Balasnya kemudian sambil nyengir kuda.


Jackie mengabaikan rasa sakit di lututnya dan kemudian tersenyum membalas cengiran sang istri. "Tidk marah kan? Jangan marah ya, sumpah aku tidak sengaja tadi sayang." Ucapnya penuh penyesalan dengan wajah mengiba yang luar biasa seperti anak balita yang merayu ibunya.


"Hem...!" Ayana lalu melengos pergi dan mengabaikan sang suami.


"Setidaknya ini lebih bik daripada dia mengunci pintu kamar, bisa gawat kan aku tidak di masakin dan tidak ada agenda anu anu?" Jackie menggumam lirih dan mengusap lututnya yang sakit akibat terbentur ubin semen.


"Sshhh... Ah, pake segala kebelet lagi." Lirihnya yang kemudian pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kalo ga mikir lapar, malas juga aku keluar kamar." Ucap Ayana menggumam. "Lumayan," nilainya saat melihat hasil potongan cabai dan bawang suaminya.


Ayana sibuk memasak dan seseorang tiba tiba datang degan merengek kepadanya.


"Ay, cara mengatasi kulit yang kecabean apa ya?"


"Di cuci bersih lah!" Jawabnya memberikan solusi.


"Udah, tapi masih panas banget." Keluh Jackie dengan menunjukkan rasa yang tidak nyaman baginya.


"Nih, di cuci pakai sabun cuci piring." Ujar Ayana yang masih fokus memasak.


KLIK!


Suara kompor di matikan. Ayana menoleh dan mulai memberikn atensinya. Terlihat Jackie yang berdiri tidak seperti bisanya. Dia berdiri dengan kaki mengangkang dan disertai reaksi tidak nyaman.


"Ay, masa iya di cuci pakai ini? entar kalau jadi keset gimana? kan jadi susah masuknya, mana punyamu aja rapet dan keset."


Ayana memicing dengan sejuta tanya di benaknya.


"Maksudnya apasih Jackie Putra Armanto?" Ucap Ayana penuh penekanan yang itu berarti dia sudah mulai kesal dengan menyebutkan nama panjang suaminya.


"Itu ku, em... Anuku kecabean, tadi lupa cuci tangan pas mau ke kamar mandi." Adu si Jackie dengan wajah terintimidasi.


"Bwahahahahaha! Jadi terongmu di cabein? coba liat udah merah kayak terong balado belum?" Ayana sengaja menggoda dan dia tak bisa menghentikan tawanya setelah melihat wajah sang suami yang meringis menahan panas.


"Ish, Ay... jangan ketawa. Bantuin, sumpah ini panas banget loh."


Inikah jodoh yang seperti dua sisi koin yang saing melengkapi? yang satu tertawa dan yang stu bersedih tersiksa?


"Yasudah ayo ke kamar mandi, di cuci lagi yang bersih sana."


"Tapi Ay, sumpah ini panas banget. Kalau berendam boleh ga ya?"


"Boleh udah sana, tapi cuci tangan dulu yang sampe bener bener bersih." Kata Ayana memberikan interupsi.


"Aku cuci tangan sambil berendem, terus kamu yang cuci e...hem..." Jackie menunjuk benda pusaka degan lidahnya yang bergerak di dalam mulutnya hingga pipinya menonjol sebelah.


"Biar apa begitu biar di lihat tetangga, kalau kita melakukan hal yang tidak senonoh?" Kata Ayana menceramahi. "Lagian kalau aku yang urut, bisa itu kebangun dan menggeliat.


Udah ah cuci sendiri sana.!" Ayana mendorong tubuh jackie yang berjalan sambil megangkang menuju ke kamar mandi.


"Besok lagi ogah aku bantuin potong cabe Ay...!" Jackie berseru dari dalam kamar mandi.


"Iya ga usah bantuin ga apa apa, daripada hilang harapan masa depan aku." Ayana menyahut lirih.


"Ini beneran pakai sabun cuci piring? Kalau bersih kesat dan bersinar gimana?" Seru Jackie dari dalam bilik kamar mandi.

__ADS_1


"Hahahaha....! Terserah!" Ayana menyahut malas sambil tertawa membayangkan sesuatu yang mungkin jika bersinar akan seperti tongkat yang suak di pakai satpam.


__ADS_2