
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
Mana like nya?
Masih sepi aja.
" Sudah turunlah!" Ketus Alex berbicara dengan Diah menyuruhnya untuk turun tanpa membukakan pintu atau sabuk pengaman.
"Ini tidak di bukakan dulu atau apa gitu Pak?" Tanya Diah tanpa punya malu berharap sikap manis dari Alex.
"Hemh!" Alex mendengus dan menatap datar Diah.
"Untuk apa? aku... bersikap baik dan manis hanya dengan pacar, atau calon istri, atau istriku. Selebihnya No!!" Kata Alex dengan entengnya, oh iya jangan lupakan wajahnya yang arogan.
"Jadi.... Hus! hus! hus! Cepat keluar, aku masih banyak urusan." Imbuhnya lagi tanpa melihat bagaimana ekspresi Diah.
"Dasar menyebalkan! tadi saja sewaktu membutuhkanku kau begitu memohon padaku. Tapi sekarang?" Diah menyeru mengutarakan kejengkelannya.
"Oh, ini ternyata wajah aslimu? Oke.... I know." Kata Diah yang kemudian beringsut untuk turun.
"Iya inilah aku kenapa? you have problem with this?" Celetuk Alex yang terdengar begitu menyebalkan dan penuh dengan kearogansiannya.
"Open your ear!! kita sudah tidak ada hubungan lagi sejak kau menolakku, sejak perjodohan kita berakhir. Jadi aku sudah tidak ada tanggung jawab lagi denganmu. did you understand what I said?" Tanyanya lagi sambil menelengkan kepalanya menatap remeh Diah.
"Yak!!" Tak bisa lagi Diah berkata-kata, dia lalu turun dan membanting kasar pintu mobil Alex.
"Hei!! kau tidak bisa pelan!!" Alex berteriak kesal mendapati pintu mobil kesayangannya di banting tanpa perasaan. " Kau tau mobilku ini mahal?"
"Whatever!! I don't care!!" Tak kalah lantang Diah berteriak membalas seruan Alex.
Diah berbalik badan, berjalan dengan menghentakkan kakinya. Sesekali terlihat dari dalam mobil Alex Diah menendang batu kerikil.
Di dalam mobilnya Alex tertawa jahil. " Hahahaha! aku puas sekali. Ternyata begitu dia kalau sedang marah. Oke..., kita lihat sejauh mana kau bertahan dengan gengsimu." Gumam Alex lalu melakukan mobilnya.
Di dalam kamarnya.
"Arghh... ! Arghh...!" Diah mengerang kesal dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Dasar berengsek!! seenaknya saja kau mempermainkanku!! Sumpah demi Tuhan aku menyesal pernah mengidolakanmu!!" Diah meledak-ledak sendirian menumpahkan segala yang menyesakkan dadanya.
"Tuhan... kenapa kau pertemukan aku dengannya?" Diah mengiba mendramatisir keadaan dengan berbicara kepada Tuhannya.
Pagi hari.
"Diah, nanti kamu yang urus si kakek yang ada di kamar melati 6 ya?" Ucap rekan kerjanya pada Diah yang meletakkan kepalanya di atas meja dengan tangannya yang tertekuk sebagai bantalan.
"Diah, kamu pagi-pagi kok tidur?" Tanya rekannya perlahan.
Diah terbangun dan mengangkat wajahnya. Temannya terlonjak seketika.
"Astaga!!" Teman Diah melonjak sambil memegangi dadanya.
Pasalnya, Diah sekarang sudah mirip dengan zombie. Semalaman dia tak bisa tidur terus saja memikirkan mengapa Alex tiba-tiba berubah dan tak mengejarnya lagi.
Apakah Alex punya yang lain?
Begitu kira-kira Diah menebaknya berulang kali lalu menampiknya sendiri.
Mengapa setelah pergi menjauh malah jadi tak rela?
"Kamu habis ngapain? mata sampai mirip panda begitu?" Tanya Rekan kerja Diah.
__ADS_1
"Hua .., aku... aku... patah hati." Celotehnya.
"Patah hati?" Alda terheran. "Patah hati itu karena apa? memangnya kamu punya pacar?" Tanya Alda.
Diah menggeleng dan di sambut tawa keras dari Alda. " Punya pacar tidak kok bisa patah hati. Aneh-aneh saja." Alda menggeleng.
"Tapi benar-benar sakit. Disini..." Diah menepuk-nepuk dadanya menunjukkan asal muasal rasa sakitnya.
"Hahahahaha! Sudah sana cepat, sudah waktunya si kakek minum obat." Ucap Alda yang kemudian berlalu pergi.
"Hua....! Hua....! Sakit." Diah menerawang kejadian semalam.
"Ternyata begini sakitnya dicampakkan." Diah mengusap perlahan ingusnya.
"Tuhan kirimkan lah aku~~~
kekasih yang baik hati~~~
Yang mencintai aku~~~~
Apa adanya!!!" Serunya bernyanyi seorang diri di ruang ganti yang kemudian di sambung dengan suara gelak tawa dari sosok tak kasat mata.
"Hei!! kunti!! diam kau!! hanya aku yang boleh menyanyi di sini!! Kau diamlah!! suaramu fals!!" Seru Diah berteriak memaki mbak Kun.
Diah memejamkan matanya setelah memaki, pasalnya bulu kuduknya langsung berdiri seketika. Suara mbak Kun kian lirih. Tapi mitosnya, bila suaranya jauh maka....
iya, benar sekali. Maka si mbak Kun itu dekat.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuma bariklana Fina razaqtana.......! Hua....! Sial!! ngapain deket-deket? Aku hanya bercanda!!" Diah lari terbirit-birit setelah melihat dari ekor matanya si Mbak Kun berdiri di sebelahnya.
"Hadoh!! ngimpi apa sih? jadi sial begini." Diah meracau sambil berjalan dan tak sengaja menabrak seseorang.
" Ma... maf Pak saya tidak sengaja." Ujarnya meminta maaf dan tertunduk yang dilihatnya hanya ujung sepatu kulit berwarna hitam mengkilap milik lelaki tentunya.
"Jangan ceroboh! Minggir!" Alex menoyor jidat Diah dengan jari telunjuknya dan menggeserkan tubuh Diah agar tak menghalanginya.
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
"Ah~~~ lelah sekali." Dita berbaring di lantai setelah seharian dia membersihkan rumah.
"Aku di bayar mahal untuk jadi babu dan tukang pijat, oh iya, juru masak juga." Dita mengingat lagi jadwal pekerjaannya yang menumpuk sebagai seorang istri.
Klunting!!
Sebuah pesan masuk dan membuat Dita bersemangat seketika.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
"Hallo?" Sapanya bersemangat.
...................? Dari seberang sana.
"Em, jam 8 malam ya?" Tanya Dita.
.........................
"Ok!" Jawabnya yang kemudian mematikan Panggilan.
"Asik, jam 8 malam. Akhirnya aku bisa bersenang-senang." Dita tertawa senang lalu bergerak seperti burung yang mengepakkan sayapnya.
"Sebentar lagi pak suamiku pulang. Semoga dia mengijinkanku untuk pergi." Dita sungguh senang.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Terdengar suara kode pintu yang ditekan dari luar.
Dita bersiap dan merapikan penampilannya.
__ADS_1
" Humhh, bau bawang." Cibirnya setelah membaui dirinya sendiri.
"Aku pulang!" Seru Gino yang baru melangkahkan kakinya tapi sudah disambut dengan senyum merekah dari Dita.
Gino mengerutkan keningnya heran. "Kamu kenapa? ketempelan?" Celetuknya yang seketika membuat senyum sumringah Dita luntur.
Istri lagi senang-senangnya eh malah di jatuhkan begitu saja. Di banting sampai terbenam kedasar bumi. Ayolah Gino apa salahnya sih memuji istrimu?
Dita memajukan bibirnya beberapa centi, membuat Gino. tersenyum tipis dan tangan jahilnya merauk bibir Dita. " Jangan sok imut!" ucapnya.
"A~~~~h, Kamu merusak bahagiaku." Protes Dita.
"Kenapa? aku merusak? apanya?" Tanya Gino.
"Ya kamu, tadi.. apa susahnya sih berpura-pura kalau aku ini cantik laku memujiku? sebagai upahku seharian membersihkan rumahmu." Celetuk Dita.
Gino yang gemas lalu menyentil kening Dita. " Rumahku, rumahku!" Kesalnya.
"Kita ini suami istri. Rumahku ya. rumahmu juga." Ucap Gino.
" Kembalikan!" Ketus Dita.
"Apanya?" Gino tak mengerti.
"Bahagiaku." Jawab Dita kesal wajahnya sungguh seperti kertas yang kusut.
" O.... oh~~~~." Gino tersenyum dan mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Aku tak tau caranya." Polosnya dia berbicara.
" Bilang Dita cantik!" kata Dita sambil mengerling manja.
"Dita manis." Ucapnya lagi lalu memutar badannya.
" Dita pintar." Kata Dita yang memegang roknya layaknya orang yang baru selesai menari balet di panggung.
Gino tanpa menolak lalu menirukan dan menuruti kemauan istrinya, tak pelak gelak tawa pun memenuhi ruangan.
...πΏπΏπ»πΏπΏ...
"Em... sayangku, suamiku, pak bos ku." Kata Dita memulai rencananya untuk meminta ijin.
"Hem?" Sahut Gino yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Aku besok malam ada undangan, boleh pergi kan? boleh ya? boleh ya? ya? ya? ya?" Ucapnya sambil mengedipkan mata genitnya.
Gino lagi lagi tertawa melihat tingkah Dita.
"Undangan apa?" Tanya Gino.
" Undangan reunian." Jawab Dita.
"Reuni? SMP? SMA? atau..."
"SMA suamiku. Aku sangat lama tidak bertemu dengan mereka jadi boleh ya?" Dita memohon.
" Sebentar, Alex bilang kamu dulu tomboy, Jadi temanmu itu perempuan atau laki-laki?"
"Namanya reuni ya satu angkatan dong Pak. Da perempuan dan juga laki-lakinya."
"Tidak usah!" Kata Gino memutuskan.
" Kenapa?" Dita membulatkan matanya.
"Hei, kau ini istri Gino Putra Armanto. Aku tidak mau ada berita aneh-aneh tersebar nantinya apa lagi teman dekatmu dulu kebanyakan laki-laki. Tidak aku tidak rela!" Final Gino memberikan putusan.
"ta.. Tapi....." Dita menunduk lesu saat melihat perubahan wajah suaminya.
__ADS_1
kenapa aku jadi ciut nyali sih,? cuma minta ijin saja sekali bentak aku melempem.