
...🌹🌹🌹...
Dengan berjalan tertatih, Gino memapah Ayana. Mereka berdua memakamkan buah hatinya di sebuah tanah pemakaman.
Air mata Ayana tak surut- surutnya sedari dia sadar menangis tersedu.
Apa yang dia pertahankan, apa yang dia perjuangkan nyatanya harus gugur begitu saja.
" Maafkan Mama sayang." Ucap Ayana dengan mengelus tanah kuburan yang masih basah.
" Maafkan Papa juga ya Nak. Papa terlalu sibuk bekerja hingga lalai menjagamu dan juga Mamamu." Ucap Gino juga menimpali dan ikut mengusap punggung Ayana.
" Ini semua salahku Kak. Seharusnya aku meminta ijin darimu terlebih dahulu. Aku.... aku..." Ayana tak sanggup berucap. Dia tergugu.
Gino menatapnya iba. Sungguh iba hingga membuat hatinya tergerak untuk memeluk tubuh ringkih istri sirinya yang baru saja selesai kuret.
" Jangan bersedih lagi." Kata Gino lembut.
Bukanya diam, Ayana justru merenggangkan pelukannya dan menatap nyalang Gino. " Mudah bagimu bicara seperti itu, kau tak merasa kehilangan dia. Kau bisa dengan mudahnya melupakan kami dan selalu mengutamakan pekerjaanmu. Kami juga butuh kamu Kak!!" Ucap Ayana dengan suara yang bergetar tertahan.
" Iya, aku tau. Ku mohon, Maafkan aku..." Gino kembali menarik Ayana kedalam dekapannya.
" Aku kehilangan dia... " Ucap Ayana sesenggukan dan tangannya mulai mendekap erat Gino.
Keduanya tak kuasa menahan luapan afeksi yang membludak. Mereka sama-sama kehilangan, mereka sama-sama terluka.
" Aku tak menyangka ini terjadi," Lirih Ayana yang masih meracau.
" Ikhlaskan, dia akan menunggu kita di surga nanti. " Kata Gino menghibur Ayana.
" Ini semua pasti ada campur tangan dari Kak Lena. Semuanya begitu aneh saat bersamanya." Ayana menatap Gino nanar.
" Kau mencurigainya? Jangan terpengaruh emosi. Tenangkan dirimu." Gino mengusap pucuk kepala Ayana.
__ADS_1
" Kau membelanya?" Ayana tersenyum miring. " Semua begitu aneh saat bersamanya kemarin. Apa kau tidak pernah berpikir jika kita terjebak dalam skenarionya.?" Ayana terduduk di pinggiran jalanan. Dia mengabaikan bersih atau kotor tempat yang di dudukinya.
" Aku tidak membelanya Sayang." Sanggah Gino yang kemudian berjongkok di hadapan Ayana dan mengusap lutut wanitanya.
" Kau bicara apa?" Aneh saja bagi Gino yang tiba-tiba arah pembicaraan Ayana berbelok tak jelas arahnya.
" Dari tatapan matanya, aku merasakan kebencian. Saat melihatmu dan melihatku dia berlumur amarah yang terpendam. Aku rasa setelah ini dia akan melakukan hal gila lainnya."
" Hentikan Ayana! kau sudah keterlaluan! Darimana kau bisa berbicara seperti itu tanpa bukti. Aku yang melihatnya kemarin, dia mencemaskan mu, dia khawatir dengan keadaan mu. Dia juga terluka, bagaimana dia bisa kau anggap sebagai tersangka? Kau sudah gila!!" Gino berdiri dan berkacak pinggang. Satu tangannya menyurai rambutnya kebelakang.
Gino kembali berjongkok dan menatap dalam Ayana " Dengarkan aku, dia juga korban disini. Darimana kau dapat pemikiran sempit seperti itu?"
" Cih....!" Ayana berdecih Setelah sebelumnya dia mengamati betapa Gino sangat tidak suka jika istri pertamanya di jadikan tertuduh. " Dari apa yang tak sengaja kudengar kemarin. Aku tau kau tidak akan percaya. Tapi....." Ayana mengusap kasar air matanya.
" Tapi apa?" Gino mulai tersulut emosi.
" Dia merencanakan hal buruk untuk keluarga Armanto. Dia membenci kalian, terutama kau!" Tatapan tajam Ayana membuat Gino mundur beberapa langkah.
" Demi keselamatan aku dan juga Ayahku. Aku mohon padamu segera ceraikan aku. Aku tidak ingin ayahku menjadi korban selanjutnya." Ayana memohon dengan pipi yang basah.
" Kau tidak mencintaiku, itu hanya rasa kasihan yang bercampur dengan na**u." Tangkis Ayana menampik pernyataan Gino.
Flashback On.
Saat didalam mobil menuju ke rumah sakit, sebenarnya Ayana sempat kembali memiliki kesadaran. Namun, rasa sakit yang luar biasa di perutnya membuatnya jatuh pingsan. Dia mendengar semua percakapan Lena dan juga si sopir abal-abal.
Ayana yang ketakutan, memilih berpura-pura pingsan walau sebenarnya telinganya mendengar semua rencana dan kesaksian mereka. Sayangnya, dia tak memegang bukti yang kuat. Tak ada data dan fakta autentik. Semua yang menjadi bukti hanya tangkapan bola matanya dan juga gendang telinganya yang tajam.
Flashback off.
Melihat reaksi Gino yang membela istri pertamanya, membuat Ayana berfikir jika percuma saja dia mengatakan apa yang di dengarnya kepada Gino. Gino pasti akan menampik dan mengatakan jika saat itu Ayana hanya sedang berkubang dalam hayalan lantaran trauma.
" Aku mohon padamu, Gino Putra Armanto. Ceraikanlah aku." Ucap Ayana yang merosot begitu saja lalu tertelungkup bersujud dikaki Gino sehingga membuat Gino memundurkan kakinya dan menatap heran Ayana.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
" Dia tidak mendatangiku lagi. Pasti sedang bersama si jal**g itu." Lena tersenyum licik lalu mulai menghubungi Gino untuk datang dengan ponselnya.
Lena berjalan lalu berhenti di depan cermin kamar hotel. Dia mengagumi kecantikannya sendiri sembari mengusap-usap rahangnya dan juga tersenyum setelahnya.
" Kau memang cantik dan cerdik." Pujinya percaya diri.
Tak lama dari itu, setelah selesai mengantarkan Ayana, Gino memutuskan untuk kembali ke hotel yang ditempati Lena. Dia meluangkan waktu untuk merawat dan menjaga istri tuanya meski sebenarnya dia teramat sangat sedih saat ini. Buah hatinya gugur sebelum sempat membuka mata untuk menyaksikan bagaimana indah rupa Papa dan Mamanya.
" Sudah Mas aku baik baik saja. Bagaimana keadaan Ayana?" Lena memulai perannya.
" Dia baik, hanya saja sedikit terguncang. Kami sangat kehilangan." Jawab Gino sembari menunduk menyembunyikan kesedihannya.
" Maafkan aku Mas. Aku tidak tau jika dia sudah mengandung. Jika saja aku tau, tentu aku tidak akan mengajaknya pergi ke bukit itu. Kau juga tak pernah bercerita padaku." Sengaja Lena mengulik untuk melihat sejauh mana rasa kehilangan Gino atas bayinya.
" Maafkan aku, aku juga tidak tau jika disana adalah sarang begal." Lirihnya agar terlihat begitu sedih. Padahal dia sangat senang. Oh ayolah, dia bahkan akan berguling-guling kesenangan setelah Gino pergi nanti.
" Sudahlah, semua sudah terjadi." Ringkas Gino yang kemudian merebahkan dirinya ke sofa dan memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut.
Lena menyusulnya dan menghambur ke pelukannya dengan perlahan dengan susah payah karena dia berpindah dari kursi roda ke sofa. Tentu saja setiap gerakannya hanya di buat-buat.
...🌹🌹🌹...
Di bandara internasional Fiumicino.
" Lihatlah, kau akan menyesal karena telah mengabaikan ku. Apa salahku sampai kau membuangmu seperti ini?" Gumam seorang pria bertubuh kekar yang duduk seorang diri sembari melihat sebuah foto di galeri ponselnya.
Pria itu bergegas kala penerbangan miliknya mulai disebut akan segera mengudara.
" Bersiap-siaplah, kau pikir kau bisa lari dariku? kau milikku." Gumamnya lagi yang kemudian memakai tas punggungnya.
🤧🤧 Ini babang Jackie yang frustrasi berat setelah berbulan-bulan di cueki oleh Ayana. Dia ngamuk gaish...
Apakah yang akan terjadi selanjutnya setelah mereka bertemu nantinya?
__ADS_1