
4 bulan sudah semenjak kejadian rekayasa yang di buat oleh Lena dimana dia ingin mengadu domba setiap anggota keluarga.
Gino, dia lebih memilih untuk fokus pada pekerjaannya. Tepat setelah malam itu, dia mengunjungi proyek barunya di kota x yang membutuhkan banyak atensi sehingga tidak memungkinkan untuknya pulang sebelum proyek tersebut rampung.
Lena, dia merasa gagal dan salah langkah. Layaknya berada dalam Sebuah bidak catur, dia mati langkah dan tak dapat bergerak sebelum lawannya bergerak. Dan kali ini, lawannya terlihat diam tanpa pergerakan yang berarti.
Ayana, dia yang menjadi umpan dalam permainan yang di buat oleh mantan majikannya. Emm,, lebih tepatnya menantu dari keluarga Armanto, dia lebih memilih untuk fokus pada kesehatan Sang Ayah selama masa recovery.
" Nak, Ayah sudah sehat. Ini waktunya bagimu untuk kembali ke keluarga Armanto." Pak Pras menatap lembut putrinya yang masih menyuapinya.
" Sehat apannya Pak? lihat Bapak masih duduk dimana?" Ayana menunjuk kursi roda yang dinaiki Pak Pras dengan dagunya.
"Bapak tenang saja, keluarga Armanto itu sangat baik. Mereka semua yang menanggung pengobatan bapak dan memintaku menjaga Bapak disini. Ini apartemen ini juga milik mereka yang tak terpakai. Mereka ikhlas membantu kita Pak. Aku jadi penasaran sebenarnya hubungan Bapak dan Tuan Dhani itu sedekat apa?" Tidak sepenuhnya Ayana berbohong, memang benar rumah yang di tempatinya kini adalah pemberian dari keluarga Armanto, lebih tepatnya Gino Putra Armanto. Pengobatannya pun juga. Ayana mengatakan ini bukan tanpa sebab. Dia hanya ingin sang Ayah tidak terbebani dengan apa yang terjadi.
Tiga bulan pergi, Gino dan Ayana hanya sekedar bertegur sapa melalui chat. Tidak ada yang istimewa, meskipun mereka kini adalah sepasang suami istri. Bagi Gino yang telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi menyentuh Ayana sampai Ayana memiliki perasaan terhadapnya. Tetapi di sisi lain, jiwanya meronta kala menginginkan sentuhan dan merindukan cumbuan yang pernah mereka lakukan.
" Bapak dulu, sewaktu orang tua Bapak belum jatuh miskin. Pak Dhani itu adalah anak angkat di keluarga Bapak. Dia cucu kesayangan dari nenekmu. Dhani itu pekerja keras, sebab itu nenekmu menyukainya. Sementara Bapak, bapak hanya si pemalas. Terlebih lagi perihal perjodohan Bapak. Bapak dulu menolak di jodohkan dan memaksa Dhani untuk menggantikan Bapak."
" Jadi Nyonya Winda itu, sebenarnya dulunya adalah calon Bapak? Bapak menyesal memilih ibu?" Ayana terkejut. Ini pertama kalinya dia mengetahui sejarah pertemanan antara pak Pras dengan Tuan Dhani.
Pak Pras menggeleng. " Bapak tidak pernah menyesal, Bagi Bapak pernah bersama dan membahagiakan ibumu adalah hal terhebat yang pernah bapak lakukan. Juga kamu, kamu adalah satu-satunya harta di dalam kehidupan bapak. " Pak Pras mengusap lembut pucuk kepala Ayana lalu menciumnya.
" Sekarang kamu tau kan, mengapa Winda dan Dhani selalu menolak saat bapak ingin menyicil hutang-hutang Bapak? Mereka tak pernah menghitungnya sebagai hutang. Tapi bapak sendiri yang tidak enak hati. Sebenarnya bukanya Bapak ini bermalas malasan sewaktu muda, tapi Bapak punya penyakit lemah jantung yang bapak sembunyikan dari keluarga bapak." Ujarnya dengan senyum piasnya.
Ayana tertegun, ternyata banyak rahasia yang dia tak tahu.
" Menjadi tukang kebun di keluarga Armanto juga atas paksaan Bapak Nak. Kesepakatan ini kami buat karena bapak yang memaksanya. Dhani tidak mengijinkan bapak untuk bekerja kasar di luaran sana. Fisik bapak tidak akan kuat. Winda memutuskan untuk memberikan pekerjaan yang remeh kepada bapak, semata-mata untuk membuat hati bapak senang. Karena dengan begitu bapak masih bisa mencukupi kebutuhan makan kita dengan baik." Terang Pak Pras membuka semua kenyataan.
" Jadi, sebenarnya bapak tidak bekerja? Hanya menumpang hidup pada mereka?" Ayana semakin tidak mengerti.
Ayana kembali duduk dengan mimik wajah yang sulit di artikan. Dia terlihat berpikir dan juga menimang.
" Ya, daripada menganggur. Dhani sudah berjanji kepada kedua almarhum kakek dan nenek untuk menjaga bapak, Dia juga berjanji kepada mendiang kakek dan nenekmu untuk menikahkanmu nanti dengan Jackie. Sebab itu, dia selalu mewanti-wanti Jackie untuk terus menjagamu."
Deg..!
Bumi terbelah, langit serasa runtuh. Itulah kenyataannya, semua rahasia yang dijaga rapat-rapat oleh Keluarga Armanto kini terbuka dan menganga membuat Ayana terjerembab kedalamnya.
" Uhuk...! Uhuk...!" Pak Pras terbatuk lalu sesaat menghela nafasnya yang terasa berat.
Ayana khawatir. " Sakit Pak? Masih sakit?" Ayana mengusap lembut dada sang Ayah.
Pak Pras tersenyum dan memilih mengabaikan pertanyaan putrinya demi menyambung ceritanya.
" Bapak menyukai Jackie, sebab dia yang paling dekat dengan Bapak. Bapak suka dengan sikapnya yang menunjukkan ketegasan tapi juga lembut di lain sisi."
" Itu jadi penyebab Bapak selalu menganaktririkan aku saat ada Jackie?"
Pak Pras terkikik melihat kecemburuan Ayana. " Bukan menganaktirikan, Bapakmu ini hanya berlatih untuk menjadi ayah mertua yang di sayangi dan di segani anak menantunya."
Oh, tidak tahukah Pak Pras jika dia sekarang sudah menjadi mertua dari Gino Armanto yang menyayanginya karena telah menanggung segala biaya pengobatan dan juga segan padanya sampai-sampai tak berani bilang jika dia kini adalah menantunya?
Terdengar suara bel pintu, Ayana lekas membukanya dan matanya terbelalak seketika.
" Kamu? " Ayana membelo melihat si tamu yang datang.
Gino dayang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Sungguh Ayana di buatnya gugup bukan main. Ini pertama kalinya mereka bertemu dalam situasi seperti ini. jangan sampai rahasia mereka terbongkar. Hanya satu harapan Ayana, berharap semoga Gino bisa di ajak bekerjasama untuk berpura-pura.
" Assalamualaikum!" Serunya sembari menerobos masuk dan menenteng kantong belanjaan miliknya.
" Walaikumsallam!" Sahut pak Pras sembari menengok.
Gino terdiam membeku di tempatnya dan tak berkutik. Raut wajahnya kaku.
" Kak Gino, tumben mau mampir kemari ada apa?" Tanya Ayana sembari mengedipkan satu matanya melihat Gino yang malah terlihat gugup.
Gino pikir ayah mertuanya ini belum pulang dari perawatan di rumah sakit dan dia sengaja datang untuk memberikan kejutan bagi Ayana.
Sekantung penuh persediaan makanan. Dan satunya lagi berisi dengan baju dan juga parfum.
" Oh, Paman!" Aktingnya di mulai.
__ADS_1
" Paman sudah boleh pulang? Salam dari Ayah, Ayah yang memberitahu dan memintaku untuk memberikan ini. ini semua sayur dan buah yang sehat untuk Paman. Bunda yang membelikannya langsung. " Celoteh Gino panjang kali lebar untuk menutupi kegugupannya yang tertangkap basah.
Mata mereka saling beradu saat Ayana membantu membawakan kantong belanjaan tersebut. " Sini aku bantu Kak dan juga terimakasih ya. Salam untuk Nyonya." Ucapnya beradu akting dengan suaminya.
Mereka kompak bukan main, adakah yang mau bertepuk tangan?
" Sampaikan rasa terimakasih ku kepada Ayah dan Bundamu Ya. Maaf aku selalu merepotkan keluarga kalian." Ucap pak Pras yang kemudian tersenyum lembut kepada Gino.
Gino menggeleng " Tidak apa-apa, Bapak juga kan sudah seperti Kakak bagi Ayahku. Kalau bukan karena Bapak, mungkin tidak ada aku di dunia ini." Kata Gino melunakkan suasana.
Pak Pras merasa senang dengan kedatangan Gino. Mereka berbincang, sedangkan Ayana sibuk memasak untuk makan malam.
" Kak mau teh atau kopi?" Tanya Ayana sembari menyiapkan gelas.
Gino meliriknya lalu mendekatinya. Ayana yang separuh tubuhnya tertutup oleh kitchen set membuat mereka tanpa terduga melakukan sesuatu.
" Aku mau kau buatkanku jus jeruk ini." Gino mengambil jeruk dari lemari pendingin dan mendekat kepada Ayana.
Ayana mencurigai sesuatu, tingkah aneh dan juga senyum licik terbit di ujung bibir Gino.
" Oh, astaga.. Aku menjatuhkannya!" Pekik Gino Setelah sengaja menjatuhkan sebuah jeruk ke lantai marmer lalu dia berjongkok di bawahnya untuk mengambil tepat di bawah Ayana.
Ayana hanya datar saja dan mengamatinya. sungguh dia istri yang tidak peka. " Na, bisa bantu aku mengambilnya?" Kata Gino sedikit keras.
" Oh iya." Mau tak mau Ayana turut menunduk untuk semakin mendekat pada Gino.
" Ada apa?" Bisik Ayana perlahan.
" Dasar, tidak peka!!" Gino menyentil dahi istrinya.
" Auh!!" Seru Ayana kesakitan. Tidak terlalu sakit, tapi dia hanya reflek saja saat Gino menyentil dahinya.
" Kenapa tidak bilang jika Ayah sudah pulang?" Gino berbicara lirih dengan wajah yang menuntut penjelasan.
" Kau kan tidak tanya!" Ayana.
" Lalu bagaimana?" Gino.
" Bagaimana aku? Aku ingin menginap disini." Gino.
" Tidak kau harus pulang Kak. "
" Apa katamu? kau mengusirku setelah ku bawakan banyak belanjaan dan barang barang itu?" Gino mendelik lalu menunjuk dua kantung plastik di atas meja.
" Kau bawa sendiri aku tidak memintanya. Terserah kau mau pulang atau ketahuan Ayah." Final Ayana dan dia hendak beranjak.
" Ish! Ok Aku tidak akan menginap. Tapi aku ingin kau memberiku bekal." Gino.
" Bekal?" Ayana mengernyit.
" Iya bekal, nanti jam 7 malam ku tunggu di kamarmu." Ujar Gino yang kemudian meraih tengkuk Ayana lalu mencium sekilas bibirnya.
Ayana membeku. Sungguh tak terduga apa yang Gino lakukan ini. Ayana bahkan sampai menjadi patung untuk beberapa detik.
" Oh, untung saja tidak apa-apa. Cepat buatkan Na. Aku sangat haus, lama sekali kerjamu!" Ucap Gino yang menutupi apa yang baru saja di lakukanya kepada putri seorang lelaki paruh baya yang duduk sambil tersenyum di atas kursi roda.
" Sabar, kau haus sekali?" Pak Pras terkekeh.
Lucu saja bagi pak Pras melihat wajah Gino yang tengah protes.
" Iya Paman, baru saja dari proyek dan langsung kemari. Paman kapan jadwal terapi Paman?" Tanya Gino santai.
"Besok, sekitar jam sembilan pagi."
Gino melirik Ayana dan mendapatkan respon berupa centong sayur yang siap melayang dengan wajah sang pelempar yang menyeramkan kini melotot kepadanya. Apakah itu berpengaruh? Tidak.
Gino sungguh senang, bahkan sangat senang melihat mimik wajah istri keduanya yang penuh dengan afeksi itu.
" Ini minumnya." Ayana memberikan minuman lalu kembali ke dapur.
" Terimakasih." Sambut Gino dengan senangnya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
Makan malam selesai dan Pak Pras sudah berada di dalam kamarnya. Hanya ada dua kamar di apartemen tersebut. Saat acara makan Gino berucap jika dia akan pulang nanti jam sembilan menunggu temannya. Pak Pras percaya saja, toh sedari tadi memang tidak ada yang mencurigakan.
Gino masuk ke kamar terlebih dahulu bahkan saat Ayana masih sibuk mencuci piring.
" Ah, selesai juga." Ayana merenggangkan ototnya dan terdengar beberapa kali bunyi dari leher dan jemarinya.
Ayana masuk kedalam kamarnya dan mendapati Gino sudah bersedekap berdiri menatapnya serius di dekat pintu.
Ayana melihatnya heran " Ada apa?" Ayana melenggang dan duduk di tepi ranjang.
Gino mengunci pintu kamar. Ayana melotot di buatnya. Kenapa harus di kunci?
Tanpa basa-basi Gino langsung memeluk erat tubuh Ayana. " Kau tidak rindu padaku? sudah tiga bulan lebih kita tidak bertemu, " Lirih Gino bertanya dengan wajah yang menuntut jawaban manis.
Rindu? Bahkan Ayana saja sampai detik ini belum memiliki hati untuk Gino. Hatinya masih terpaut pada Jackie belum lagi setelah mendengarkan kejujuran dari Pak Pras barusan yang berhasil memporak-porandakan jiwanya.
Ini suamiku, dia di hadapanku tapi kepala, hati dan perasaanku masih selalu saja tentang Jackie.
" Tunggu, apa kau ingin meminta hakmu?" Tanya Ayana menelisik.
Gino merenggangkan pelukannya. " Tentu, kau pintar sekali. Aku sangat-sangat merindukanmu istri keduaku yang acuh dan cuek padaku." Selorohnya yang membuat hati terasa ngilu menyinggung sikap cuek Ayana padanya.
" Bukan begitu, ini terlalu cepat. Aku masih belum sepenuhnya siap.." Ayana berdalih, berkata lembut dan manis karena tak mau mengecewakan Gino.
" Emm, aku bisa memahaminya. Lalu apa yang mau kau tunjukkan?" Tanya Gino melepas pelukannya dan juga jasnya.
Ayana menuju ke nakas dan mengambil sebuah benda pipih berwarna putih.
" Ini lihat" Ayana memberikan benda itu.
Gino mengamatinya lalu tersenyum senang, dia berteriak kegirangan tanpa suara. Sungguh euforia yang tak terbantahkan. Satu tangannya segera kembali memeluk erat tubuh Ayana yang hanya setinggi dagunya.
" Kau hamil? sejak kapan? Dia anakku kan? Dia Gino junior kan?" Gino masih kegirangan.
Pletak!! satu jitakan mendarat di kepala calon Ayah itu.
" Kau pikir aku ini apa? kalau tidak denganmu lalu dengan siapa?" Ketus Ayana yang kemudian menatap Gino tajam.
" Jangan marah Eoh..." Gino berbinar dan mengusap pucuk kepala istrinya.
CUP! Kecupan singkat di bibir merah delima Ayana mendarat lembut dan hangat.
" Aku hanya sangat bahagia. Sudah seberapa besar dia? Apa dia sudah bisa mendengar?"
" Belum terlalu besar untuk itu, Dia baru berumur 14 Minggu." Jawab Ayana.
Gino berjongkok dan mencium perut rata Ayana. Terasa hangat dan amat dicintai Ayana kali ini.
Apakah aku kini mencintai kedua orang kakak beradik ini secara bersamaan?
Oh, aku merasa menjadi Wanita rakus sekarang. Bagaimana bisa?
Aku rasa aku semakin gila dan tak terkendali.
" Dia sehat kan? kenapa tidak memberitahuku sejak awal?"
" Tadinya aku ingin memberitahumu, tapi kulihat dari berbagai story Dan juga pesan-pesan mu. Kau terlalu sibuk dan aku tak mau mengganggu. " Ayana.
Gino kembali memeluk perut rata Ayana, satu tangannya menelusup masuk menyusuri dres selutut yang di kenakan istri keduanya itu. Meraba perut rata Ayana dan membuat Ayana menggeliat.
" Ish!" Protes Ayana sembari menahan geli.
" Diamlah, aku ingin menengoknya." Gino berbicara dengan nada serius. Tatapannya lembut dan menghayutkan.
Ah, mana kamera? Mengapa dia begitu mempesona?
Astaga, ternyata aku baru sadar jika ini semua ujian. Gumam Ayana di dalam hatinya yang beratku tak tau malu.
Maaf lama Up, lagi banyak kesibukan..
Happy reading ya. Jan lupa like dan komentar.. di tunggu..
__ADS_1