
...πππΌππ...
...πππΌππ...
Ranum kekuningan hamparan padi, sudah seperti pemandangan paling indah bagi Diah. Gadis itu pulang setelah kejadian semalam. Alex menurunkannya dan mengantarnya sampai kedepan pintu kosan meski tanpa berkata apapun.
"Hhhhh....! Kini aku harus membalas Budi padanya." Diah menunduk lesu, jari jemarinya memilin ujung baju tidurnya.
Dia memikirkan bagaimana caranya untuk membalas kebaikan Alex semalam. Bayangkan saja, jika tidak ada Alex saat itu. Sudah pasti Diah akan ternoda atau kehilangan uangnya.
Ponselnya berdering, mengingatkannya akan kewajibannya pada pekerjaan barunya sebagai penjual buah di kios buah pinggir jalan.
"Aku baru saja berhutang dan sekarang sudah pusing memikirkan cara membayar hutang Budi pada pria menyebalkan itu." Diah menggumam dengan wajah lesu. " Huft....! Nasib, nasib menjadi orang miskin."
"Mengapa aku menjadi merasakan sebuah penyesalan setelah menolak perjodohan itu? Andai saja aku terima, setidaknya dengan menjadi calon istrinya, hidupku akan terjamin meski di media sosial dan di hadapan netijen aku ini hanyalah sebuah benalu."
Saat bekerja merawat Ayana, tak jarang Diah mendengar beberapa orang membicarakan tentang Alex. Tentang kesuksesannya dan bagaimana mereka mengagumi sosok Alex. Dari hal itulah Diah menjadi insecure dan rendah diri. Dia merasa tidak pantas bersanding dengan Alex.
"Akh...., aku harus bertanggungjawab atas apa yang tidak aku lakukan. Mengganti rugi dengan uang? aku tidak akan mampu." Diah lalu bangkit dan beranjak mandi.
Disela-sela ritual mandinya, dia masih saja sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk bisa membayar hutang Budi tanpa harus sering-sering bertemu dengan Alex.
"Eh, apa ini sabun?" Diah terkejut ternyata dia salah dan menuang sabun wajah di kepalanya. Pikirannya sungguh kosong sampai-sampai otaknya salah mengenali sabun sebagai shampoo.
Diah, Diah... Untung saja kau tak pakai shampoo penumbuh rambut di wajah. Atau tidak kau bisa menjadi Hanoman saat keluar dari kamar mandi.ππ.
"Sumpah, aku pusing sekali memikirkan ini. Bagaimana?" Diah mengerang di akhir kalimatnya dia sampai menjambak rambutnya sendiri sangking kesalnya.
...πΊπΊπΊ...
Bosan dan jenuh itu merupakan kata yang sangat akrab dan saling melekat kuat pada Ayana sekarang. Dia berulang kali hanya bisa mendesah menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Kenapa kau bosan?" Tanya Jackie yang tengah mengerjakan pekerjaannya. Dia bahkan menghadiri rapat secara virtual.
Beruntunglah ini jaman sudah maju dan modern. Bekerja tidak harus selalu menginjakkan kaki di dalam kantor. Bayangkan saja jika ini masih jaman old? Argh... tidak tau lagi bagaimana cara mengatasi kebosanan.
"Jack, bisa kita membuat sesuatu? aku bosan selalu berdiam di rumah saja." Ucap Ayana dengan bibir yang mengerucut.
Apa? apa yang ingin kau lakukan? Apa sudah lupa pesan dokter? Hemhh memang butuh banyak limpahan kesabaran untuk menghadapi wanita hamil.
" Apa kau mau apa?" Tanya Jackie yang berusaha memberikan perhatian di tengah-tengah kesibukannya. Tetap saja jarinya tidak berhenti mengetik dan matanya tetap fokus mengamati angka dan huruf yang berjajar.
Ayana memupuskan niatnya lantaran melihat suaminya yang begitu serius bekerja. Tapi... sejurus kemudian, tangannya bergerak mengambil spidol.
"Sayang, coba naikkan kakimu kesini." Tunjuknya pada pahanya.
__ADS_1
"Untuk apa? tidak ah, nanti kena perutmu." Kata Jackie menolak dan lebih mengkhawatirkan perut buncit istrinya.
" Ayolah, aku hanya sedang ingin bermain denganmu." Ayana mulai merengek-rengek dengan wajah melasnya.
Tak tega melihat sang istri, Jackie kemudian menurutinya.
" Ini!" Ketusnya. "Sudah, jangan suka merengek begitu, aku tak mau kau begitu ekspresif dan nantinya akan membuat perutmu sakit."
"Iya..." Lirih Ayana menjawab dan sudah sibuk melakukan sesuatu pada kaki Jackie.
Ayana menggambar wajah tersenyum di kaus kaki putih Jackie. Binaran kebahagian terpancar dari wajahnya. Jackie menatapnya sesaat.
Hal sederhana seperti ini saja sudah sangat membuatmu bahagia. Aku ingin nanti setelah kau melahirkan, kita akan berkumpul bersama dan kembali merasakan renyah tawamu ini.
" Apa? kenapa hanya sebelah? cepat gambar sebelahnya." Ucap Jackie setelah melihat gambar Ayana yang membuat Ayana menjadi kembali bersemangat dan antusias menggambar lagi.
" Aku gambar begini, apa nanti kau tidak malu untuk memakainya lagi?" Kata Ayana sambil terus menggambar dan memainkan bibirnya.
Jackie mengulum senyumnya menahan geli pada telapak kakinya. " Buat apa malu? Ini yang membuat istriku. Tidak ada yang menyamainya, ini ekslusif hanya untukku. Bukankah begitu?"
" Hahahaha! Iya kau benar Sayang. Di toko tidak akan ada yang jual." Ayana ikut terkikik.
Inilah mereka yang berada dalam satu frekuensi yang sama. Mereka akan mudah menerima dan membagi tawa.
Saat sore hari.
"Kemari, biar ku keringkan rambutmu." Jackie mengambil alih hair dryer dari tangan istrinya.
"Emh.... so sweet..!" Ujar Ayana menyunggingkan senyumnya dan menatap pantulan mereka di cermin.
CUP!
Jackie mengecup kening Ayana dari atas. " Kau tak bosan Sayang, sedari kecil selalu melihat wajahku, selalu dekat denganku?"
Jackie menggeleng. " Tidak!"
"Kenapa?" Tanya Ayana yang tiba-tiba ingin tahu tentang satu rahasia kecil suaminya.
" Karena aku sudah jatuh cinta padamu sedari kau lahir." Ucap Jackie membuat Ayana membulatkan matanya takjub.
"Aih... Kau pandai membual. Bagaimana kau bisa mencintaiku dari bayi? sedangkan waktu itu aku saja masih tidak mengenal siapa kau."
"Hahahaha!" Jackie tertawa sebelum berbicara. " Entahlah tapi aku ingat betul bagaimana dulu."
"Bagaimana? ayo ceritakan." Lagi Ayana merengek dan membalik tubuhnya menghadap Jackie.
"Kemari." Jackie menarik perlahan pergelangan tangan Ayana dan menggiringnya untuk menaiki ranjang.
__ADS_1
Jackie memeluk Ayana dari belakang, sedangkan Ayana miring ke kiri. Itu merupakan posisi terlega baginya untuk bernafas tanpa terhimpit beban janin.
" Kau mau tahu?" Tanya Jackie lagi.
"Iya~~~, aku mau tau biar nanti aku bisa menceritakannya kepada anak kita suatu saat nanti."
Jackie mengulum senyumnya lagi lalu mencium leher istrinya. " Jadi dulu aku sudah menodaimu sedari kau bayi." Lirihnya berbicara menggoda sang istri.
" Me... menodai? bagaimana maksudnya? kau... kau tidak benar-benar....?" Ayana menaruh curiga. Dia memicingkan matanya lalu menatap tajam suaminya.
Jackie tersenyum jahil. " Iya menodai, jadi waktu dulu sewaktu kau masih bayi, kau begitu lucu kau tahu. pipimu tembem, matamu bulat dan bibirmu... akh... seperti jelly leci." Jackie kemudian mengecup bibir istrinya.
" Teruskan~~~!" Ayana mengguncang lengan Jackie.
Bukanya meneruskan ceritanya, Jackie malah ******* bibir sang istri. Dia salah pemahaman rupanya. Bukan itu yang diteruskan otak mesum!! tapi ceritanya π.
Ayana terengah kewalahan meladeni suaminya. " Bukan ciumannya! tapi ceritanya~~~." Ucapnya dengan nada bicara yang mendayu-dayu.
" Ah~~~~ ku pikir kau kurang tadi." Selorohnya sengaja menggoda sambil tersenyum ala mata keranjang.
" Yak!! hentikan!! Amit-amit jabang bayi.....! Amit-amit jabang bayi.....!" Ayana mengusap-usap perutnya. " Jangan kau tiru ulah mesum Ayahmu ini Nak." Cicitnya berbicara dengan si jabang bayi.
"Hei, kalau tidak meniru aku lalu akan meniru siapa? Lagian juga yang ku cabuli setiap hari adalah istriku sendiri, bukan istri tetangga. Kenapa memangnya?" Jackie berbicara sambil menaikkan kedua alisnya.
Sumpah wajahmu minta ditabok kalau begini Jackie π€§.
" Jelaskan, menodai bagaimana maksudmu?" Ayana menuntut penjelasan. tatapannya berubah seperti laser.
Jackie tertawa terbahak-bahak lalu kembali menciumi wajah Ayana. " Kau tau, aku mencabulimu sedari kau bayi. Aku mencium seluruh anggota tubuhmu." Bisik Jackie dengan jahilnya di telinga Ayana.
Ayana jadi bergidik sendiri, bulunya meremang merinding mendengarkan juga sekaligus membayangkan apa yang Jackie sebutkan.
" Dasar cabul!!" Umpatnya.
Masih tertawa dan tak menghiraukan rasa sakit dari amukan sang istri yang memukulinya. Ya... meskipun memukul tapi sekedar pukulan bercanda ya. pukulan gemas. Bukan pukulan seperti di arena Snack down.
"Apa termasuk anuku? " Tanya Ayana berharap jawabannya adalah tidak.
Tapi Jackie mengangguk dengan jahilnya.
" Yak...!" Ayana memekik laku membekap Jackie dengan bantal.
Bagaimana bisa dia selama ini tumbuh bersanding bersama pria mesum? Kebahagiaan itu sederhana. Hanya sedikit kebohongan, berbumbu lelucon agar suasana mencair.
Sebenarnya bohong jika Jackie melakukan hal tercela begitu. Dia memang suka menciumi Ayana sedari bayi tapi tidak pada bagian itu.
Kalo ga diminta like dan komentar, ga ada satupun yang peduli.
__ADS_1
Hhhhh.....! aku lelahππ.