
...~~~...
Gino masuk kedalam rumah dengan begitu hati-hati dia berjalan mengendap-endap memasuki rumahnya layaknya pencuri abal-abal. Dia tak mau saja membuat Dita terbangun di tengah malam. Gino baru menginjakkan kakinya di rumah pukul 2:30 dini hari.
Gino sengaja mandi di kamar mandi yang berada di dekat dapur untuk menghindari bunyi berisik gar Dita tidak terbangun. Setelah bersih, dia memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya Dita terlelap begitu nyenyak.
Perlahan Gino menaiki ranjang dan membuat sedikit pergerakan. Tangannya mengusap lembut rambut Dita dan mengecup keningnya.
"Ga ketemu dua hari aja udah kangen banget aku sayang." Ucap Gino yang kemudian memeluk erat Dita.
Dita yang merasakan ada pergerakan di dekat tubuhnya perlahan membuka mata, tangannya terulur dengan bergetar lalu meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang tertera.
Astaga, ini suamiku apa bukan? Batinnya ketakutan.
Dita menghubungi Gino dan Gino lalu mengangkatnya.
"Kenapa telfon? kan orangnya disini." Tanya Gino melihat aneh Dita.
Dita beringsut lalu menyalakan lampu kamarnya. Suasana remang seketika hilang. "Astaga Mas....!" Dita langsung duduk dan menengguk air minum banyak-banyak.
"Huh...!" Dita menyisir rambutnya sendiri dengan jari jemarinya. "Aman!" Ucapnya mendengus lega.
"Kamu kenapa? apa perutmu sakit? Ada apa eoh?" Tanyanya begitu bingung melihat tingkah Dita.
" Kalau mau pulang ngomong!!" Oceh Dita mencubit telinga Gino.
"Apasih? suami baru pulang kerja malah di jewer?" Cicit Gino dengan mulutnya yang mengerucut dan sebelah tangannya mengusap telinganya yang terasa lumayan pedas.
Dita melihat kesekitar ruangan lalu naik ke ranjang dan memeluk Gino dengan serta Merta. " Besok aja aku ceritain. Sekarang kita bobok aja ya?"
"Sekarang, ga mau besok. Apaan lihat telingaku merah begini gara-gara kamu. Pokoknya bilang ada apa!" Gino bersikeras.
"Mas, aku tadi ga sengaja liat film horor. Terus hantunya bisa berubah wujud gitu, hantunya menjelma jadi suami si perem...." Bisik Dita yang belum selesai bercerita tapi Gino sudah menyumpal mulutnya dengan bibirnya.
"Humph....?" Dita terbelalak.
"Udah, malam ini tidurnya jangan matiin lampu. Kadang mereka suka datang di kegelapan, terus berdiri di dekat gorden. Kamu jagan lihat ke gorden. Udah ayo bobok... besok aja.." Bisik Gino sangat perlahan di telinga sang istri yang mereka sama-sama ketakutan.
Keduanya terlelap dengan saling memeluk. Mereka sama-sama terjebak dalam kisah horor yang mereka ucapkan.
Pagi harinya.
Sampai matahari meninggi keduanya baru terbangun.
"Eungh...!" Gino melengkuh dan menggeliat mengumpulkan kesadarannya.
"Hoamzz. !" Dita dia juga menguap di awal bangun tidurnya.
Gino memencet remot dan tirai otomatis terbuka, dengan suhu AC yang semakin rendah.
__ADS_1
"Cerita semalam kenapa?" Tanya Gino langsung. Rupanya dia masih memendam rasa ingin tahunya pada cerita yang Dita sampaikan.
"Aduh, tau ga? Aku waktu kamu peluk aku diem-diem tubuhku langsung keringet dingin. Kayak membeku gitu Mas."
"Kok bisa? kenapa? bukanya udah biasa juga kita tidur berpelukan?"
"Aneh aja lah, harusnya kamu datang kan bangunin aku terus mandi atau apa gitu. Ngajak ngomong dulu atau apalah. Tapi semalem kan enggak, Kamu Dateng..... Ucluk ucluk ucluk.... kulit kamu dingin, terus bau wangi kan aneh. Mana malem-malem. Ouh ...! abis jantungku semalem Mas." Dita mengusap-usap dadanya.
"Padahal aku semalem ga mau bangunin kamu itu karena kasihan sayang. Kamu kan lagi hamil, wanita hamil itukan harus punya tidur yang berkualitas. Makanannya aku enggak mau ganggu." Ucap Gino jujur.
"Oh, bener begitu?" Dita s langsung menghambur dan duduk di pangkuan sang suami setelah mendengarkan alasan suaminya.
Dita tak menyangka, jika Gino sedetil itu dalam memperhatikannya dan juga kandungannya.
"Mas, sungguh-sungguh? Tidak berbohong kan?" Tanyanya sambil tersipu malu.
"Iya, Ouh...! buat apa aku bohong sih?" Gino menarik lagi tubuh Dita sampai keduanya berbaring dengan saling tindih dengan Dita yang ada di atas Gino.
"Jadi Mas beneran sayang sama Aku?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar.
" Astaga, iya.." Jawab Gino lemah lembut, tatapannya teduh menatap lekat wajah sang istri.
" Beneran Mas sayang?" Ulang Dita lagi yang belum percaya.
Gino mengecup sekilas bibir Dita. " Astaga Dita Andini, iya... iya... iya... Aku sudah menghamili mu, kurang apalagi bukti cinta ku?" Gino menjadi gemas bukan main.
Bisa-bisanya Dita terus mengulang pertanyaan yang sama dan tak percaya dengan suaminya sendiri sedangkan Gino sudah mulai menebar bibit cintanya?
"Hari ini libur?" Tanya Dita yang hendak bangun.
"Iya. Mau kemana kamu?" Tanya Gino mencegah Dita yang hendak bangun.
"Mau mandi, masak, terus makan. Mas apa enggak lapar?"
"Lapar, dan aku ingin memakanmu." Ucap Gino yang kemudian mulai menjajaki leher jenjang Dita dengan bibir tebalnya.
"Ta.... tapi aku belum mandi..." Ucap Dita beralasan. Sebenarnya dia masih malu-malu untuk melakukan penyatuan. Meskipun, pernikahan mereka sudah lumayan lama.
Gino semakin berbinar senang, lalu dengan cepatnya dia membalik tubuh Dita hingga Dita terkungkung di bawahnya lalu tangannya bergerak aktif membuka satu persatu kancing baju tidur Dita.
"Kita mandi bersama Sayang." Ucap Gino dengan kabut gairah yang menggebu.
Dita sungguh malu, meskipun pernah melakukannya tapi itu malam hari dalam keadaan remang-remang dan bukan di siang bolong begini dengan tubuh yang semuanya tersorot sinar matahari.
Gino melu*at lembut penuh cinta dan kasih, tanpa penekanan dan tanpa paksaan. Membuat Dita merasakan kenyamanan dan perlahan mengikuti arus permainan.
Gino sungguh memanjakan Dita, tanpa melepaskan pagutan, Gino menggendong Dita dan membawanya menuju ke bathub. Keduanya bekerja sama begitu epik dan menciptakan bunyi kecipak dan gelombang kecil di dalam kubangan air mandi.
Awalnya, Gino yang memimpin permainan. Tapi setelahnya, Dita yang menguasai segalanya, dari gaya, dan pose yang berbeda, Dita yang mengaturnya. Gino hanya senang saja mengikuti jalannya permainan tanpa memberikan bantahan.
"Aku suka gayamu sayang." Bisiknya di telinga sang istri dan membuat Dita semakin bersemangat dan mumpuni.
__ADS_1
Melengkuh dan menggelinjang, keduanya saling melakukan pelepasan. Mencengkeram kuat penuh penekanan pada setiap jengkal tubuh yang menuntut kepuasan.
"Ku tinggal kerja dua hari kamu jadi pandai begini. Aku curiga, jangan-jangan selama aku tinggal kamu banyak menonton film.... "
Dita menyambar. " Eh, enak aja! Kok bener? Ga sengaja Pak, Nemu filenya di laptop lama Bapak. Hehehehe." Ucap Dita cengengesan.
"Ini nih, susahnya punya istri mantan sekretaris pribadi. semua rahasiaku kamu pasti tau. Itu file padahal aku buatnya berapa rangkap folder loh, masih juga kamu tahu?"
"Eits, tapi tenang. Aku sudah menghapusnya semuanya.." Ucap Dita jujur.
Gino melongo setengah menyayangkan. " Kenapa di hapus? kan bisa buat..."
"No! ga ada pemanasan. Kamu kalau mau praktek langsung sama aku. Ga ada tuh liat contoh dulu. Juga ga bagus buat aku liat itu kan, punya mereka yang di video itu kan model sosis kanzler. Ntar kalau aku pengen gimana coba?"
"Awas aja kalau kamu pengen ya, Ga usah coba-coba." Ucap Gino kesal, telinganya memanas mendengar perkataan Dita. " Terus punyaku apa memangnya?" Tanya Gino yang sebenarnya penasaran akan penilaian sang istri.
" em.... punyamu..." Ucap Dita seolah sedang berfikir. "Punyamu Champ sayang, it's ok panjangnya aku suka. Yang penting bukan sonoise. Pendek, kecil.." Kata Dita yang sebenarnya hanya meledek saja.
" Ih, apa-apaan." Gino tak terima dengan penilaian istrinya akan pusaka keramat miliknya yang di nilai B aja.
"Dih, marah. Ngambek?" Dita memeluk Gino sambil menggelitik pinggang Gino. " Enggak sayang, besar kok sumpah. Ga ingat pertama kalinya sama aku gimana aku nangis?"
Setelah malam pertama Dita dan Gino, memang Dita sampai menangis menahan sakitnya. Dita bahkan sempat memarahi Gino di sela-sela penyatuannya.
Flashback On.
"Hu.... hu ...hu....! sakit" Dita menangis di dalam selimutnya. Dia tergugu menyesali apa yang baru saja dia lakukan.
" Ya maaf istriku, sakitnya cuma sebentar. Besok juga sembuh." Jawab Gino dengan entengnya.
" Sembuh apanya? mana kena air aja perih banget! Dasar tukang bohong!!" Umpatnya lalu melemparkan sebuah bantal ke wajah Gino.
"Pokoknya kalau sampai ini infeksi aku bakal tuntut kamu Pak!" Ketus Dita menunjuk hidung Gino dengan amarahnya.
"Aataga! tidak akan, aku jamin! punyaku higienis Dit, kamu pikir aku lelaki apaan?"
"Hiks... hiks... hiks.... sakit.. Kebelet pipis tapi sakit." Rengeknya lagi.
"Ya udah ayo aku anterin kalau mau pipis." Ucap Gino ingin membantu.
" Tapi sakit tau!"
"Ayolah, daripada ditahan nanti jadi kencing batu gimana? Batu giok lumayan mahal, kalau batu kali? apa ga repot itu Segede kulkas." Kata Gino yang menjahili Dita.
" Ish! semua gara-gara kamu!!" Dita melirik tajam Gino.
Dan tahukah kalian, yang di lirik malah tersenyum sangat manis. Dia begitu senang setelah membuktikan bahwa dia yang pertama dan satu-satunya.
"Auh.....!" Dita meringis menahan nyeri.
Sementara Gino tersenyum begitu bahagia dan merasa teristimewa.
__ADS_1
Flashback off.