Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
73. Upah


__ADS_3

...🌼🌼🌼...



...🌼🌼🌼...


Beberapa hari telah terlewatkan dan keadaan Ayana semakin memprihatinkan. Di usia kandungan yang baru menginjak 5 bulan tubuhnya malah semakin kurus dan dia menjadi lemah tak bertenaga.


Melalui pengawasan para dokter, Ayana di haruskan untuk benar-benar beristirahat dan menghindari pekerjaan rumah tangga walaupun hanya sekedar naik tangga.


Bertepatan hari ini dengan hari Sabtu, Jackie libur bekerja dan semua pekerjaan rumah tangga dia yang mengerjakannya. Ayana sebenarnya merasa tak enak hati. Tapi dia juga tak punya pilihan lain.


"Jack, Beristirahatlah sedari pagi kau terus bersih-bersih. Sebaiknya kita cari asisten rumah tangga saja bagaimana?" Ucap Ayana yang menghentikan pergerakan tangan Jackie mengelap meja makan.


Jackie terdiam dan menatap perut sang istri yang terlihat mulai membuncit. Bukan mulai tapi lebih tepatnya sudah lumayan besar hanya saja sepertinya tubuh Ayana yang semakin menyusut.


Ayana terlihat memiliki cekungan di matanya dan juga tulang selangkanya terlihat begitu menonjol. Jackie yang memperhatikan perubahan fisik sang istri kini di gerogoti rasa bersalah. Bagaimanapun juga dia tak akan bisa melupakan kejadian di malam itu.


Malam dimana dia mengamuk dan memaksa sang istri melayaninya tanpa meminum pil pencegah kehamilan.


Jackie lantas menarik kursi dan duduk dan menengguk air putih. Kemudian, satu tangannya merengkuh pinggang sang istri dan memangkunya, membawanya kedalam dekapannya.


Tangannya terulur dan menyelipkan sisa anak rambut Ayana. " Kau tenang saja sayang, aku sudah mencari seseorang untuk menetap disini dan mengerjakan pekerjaan rumah juga sekaligus menjagamu."


Ayana menoleh dan menatapnya menuntut jawaban. " Suapa?" Tanyanya dengan wajah serius.


"Tadinya aku merekrut Diah. Tapi.... ternyata dia sudah tidak magang lagi. Entahlah tapi sepertinya dia putus kuliah. Sayang sekali padahal hanya tinggal sedikit lagi." Jackie menyayangkan apa yang menimpa Diah.


"Kau bisa tau? darimana?"


"Aku bertemu langsung dengannya secara tidak sengaja di sebuah toko buah. Dia bekerja disana. Dia kutawari untuk kembali bekerja disini lagi, tapi dia menolaknya mentah-mentah. Apa karena perjodohan itu ya?" Jackie mengkerutkan alisnya tak mengerti.


"Bisa jadi. Tapi... selama belum dapat bagaimana? Kandunganku sangat lemah sayang." Ucap Ayana yang kemudian menunduk lesu.

__ADS_1


Jackie tau mengapa istrinya begitu kecewa atas dirinya sendiri. Tapi Jackie jauh lebih merasa bersalah akan apa yang menimpa istrinya. Penyesalannya merongrongnya.


"Biar aku saja. Aku yang bertanggungjawab atas dirimu. Jangan kau banyak berfikir lagi ya." Ucap Jackie yang kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup perut buncit sang istri dan tangan Ayana mengusap lembut Surai sang suami.


"Maaf kan aku. Seharusnya dulu aku tak menikah dengan Kak Gino maka semuanya tak akan jadi begini."


"Hussst....!" Jackie menangkup wajah istrinya lalu menciumnya tanpa ada yang terlewatkan. " Sudah kataku. Jangan ungkit dan bahas itu lagi. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu dan anak kita Oke!" Ujar Jackie yang tak mau Ayana berlarut-larut dalam kesedihan.


"I love you now! I love you." Ucap Jackie meyakinkan dan menghangatkan suasana.


"Thanks!" Jawab Ayana dengan mata yang berkaca-kaca. Lelaki yang dulu pernah di hianatinya nyatanya sekarang telah kembali menjadi sosok suami yang perhatian dan bertanggung jawab.


" I love you Daddy. I Love you Sayang." Balas Ayana yang kemudian memeluk tubuh kekar sang suami.


" Apa aku terlihat jelek sekarang?" Tanya Ayana tiba-tiba di tengah-tengah suasana haru pernyataan cinta.


Ah, ibu hamil moodnya pasti sedang berayun-ayun tak jelas tujuan. Kalau aku bilang cantik, pasti salah. Tapi, kalau aku bilang jelek, akan lebih salah lagi.


Jackie memainkan bibirnya. Menggigit-gigit kecil lalu berdecak. " Kau cantik sayang. Kalau kau tidak cantik mana aku mau denganmu."


"Oh, jadi cintamu hanya sebatas fisik? Dan aku sudah rajin bercermin sekarang. Aku jadi jelek semenjak hamil. Jadi itu berarti..."


"Stop! jangan berfikir yang tidak-tidak. Kau cantik. Apalagi hatimu. Wanita cantik dan hebat yang kumiliki. Hanya satu di dunia ini." Ucap Jackie mencari titik teraman dalam percakapan mereka.


"Bohong!" Ketus Ayana menyahut perkataan suaminya dengan memasang wajah cemberut dan bibirnya sudah maju 5 centi.


Tuh kan? Apa kataku? aku bilang apapun itu pasti selalu salah. Tuhan, bisakah kau tambah kadar kesabaran dalam diriku? Kurasa tabungan kesabaranmu agak berkurang. Jackie menggumam dalam hatinya.


"Sayang aku jujur loh!" Tukas Jackie membela dirinya. Tak mau dia dituding sebagai pembohong.


" Bohong! aku sendiri melihat gambarku sekarang aku semakin jelek dan kurus. Dan sekarang kau berbohong hanya untuk menyenangkan hatiku kan? Kalau kau suka denganku karena aku cantik, lalu sekarang aku jelek, pasti kau di luar...." Ucap Ayana menggantung tapi di susul dengan suara isak tangisnya.


Yang bilang begitu juga siapa? Oh Tuhan.... kepalaku serasa mau pecah!! Jackie mendengus kesal tapi juga tak punya pilihan selain mengalah dan merayu istrinya. Biar bagaimanapun dia tak mau ada suatu hal yang terjadi pada kandungan istrinya.

__ADS_1


"Sayang, lelaki mana yang tak memandang fisik? Bukankah dalam agama juga ada patokannya dan sudah jelas, yang pertama karena imannya, akhlaknya, hartanya dan rupanya. Kau punya semuanya kecuali harta! Aku jujur sayang kita realistis saja..." Jackie berbicara penuh penekanan dan afeksi. Tak tau lagi dia bagaimana caranya menghadapi perubahan mood wanita hamil yang begitu mendadak.


" Apa benar begitu?" Seketika tangisan Ayana terhenti dan menatap Jackie menuntut keterangan lebih lanjut.


" Apa? melihatku seperti itu...." Cicit Jackie yang kemudian mengalihkan pandangannya.


Ayana langsung tersenyum senang. Tadi tiba-tiba menangis dan seolah-olah terdzolimi. Dan sekarang tersenyum-senyum seolah baru menenagkan undian.


" Kau benar, hanya harta yang aku tidak punya." Desis Ayana kemudian kembali memeluk erat Jackie.


Huft....! Aman...!


Batin Jackie mengusap punggung Ayana.


"Tapi Maaf, sampai aku melahirkan, aku tidak bisa melayanimu. Dan kau..." Ayana menunjuk kedua matanya bergantian dengan mata Jackie dengan kedua jarinya tanda jika ada pengawasan ekstra.


"Apa~~~? jangan mencurigai ku seperti itu. Bukanya setiap malam tangan dan bibirmu masih berfungsi?" Ketus Jackie setelah acuh tak acuh.


Tau lah kalian apa maksud dan kemana arah pembicaraan Jackie?


ini ranah dewasa. Yang belum cukup usia tolong di skip saja.


"Ah, kau benar. Rahangku sampai kaku dibuatnya." Kata Ayana mendengus kesal lalu memutar bola matanya malas.


Jackie tersenyum senang. "Aku sudah selesai beres-beres, apakah bisa ku ambil upahku dengan segera?" Tanyanya sambil menaikkan alisnya menggoda sang istri.


"Ih..! apaan? ini masih siang." Tolaknya yang kemudian berdiri dan melipat kedua tangannya ke dada dengan angkuhnya memasang wajah sinis tanda tak suka.


Jackie berdecak. " Cek...!" Dia lalu tersenyum jahil dan kembali memeluk sang istri dari belakang dan menggigit-gigit kecil daun telinga Ayana. "Apa kau lupa tentang bagaimana caranya membayar upah pekerja? Akan lebih baik kalau kita membayar upah kepada pekerja sebelum keringat mereka kering."


Jackie mencuri ciuman di leher sang istri membuat empunya tersenyum dan menggeliat kegelian. "Mumpung aku sekarang masih berkeringat, ayo berikan upahku Nyonya." Ucapnya menggoda sang istri.


πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™‰ Jackie...! ini masih siang bolong!! Kamu ya, Nackal!

__ADS_1


__ADS_2