Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
34. Seharusnya bahagia. ( Wedding day )


__ADS_3


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Temaram lampu tidur menyala di kamar Jackie yang bernuansa gelap. hitam, pekat.


Ayana kesusahan menaikkan sebelah kakinya. "Agh.....," Dia mendengus perlahan dan terlihat menahan nafasnya, tanda jika dia menahan sakit yang dirasakannya.


Tanpa banyak bicara, Jackie membantunya. "Apa sangat sakit?"Lirihnya bertanya dengan tatapan mata yang tertuju pada kaki Ayana.


"Em~~~ tapi aku menikmatinya." Jawabnya.


Sungguh ironi bukan?


Sakit seperti itu dapat dinikmati katanya?? Oh, yang benar saja! dikakinya kini tertanam plat besi dan juga baut sisa operasi. Penanganan khusus dengan memasang pen dan juga gips agar kakinya bisa kembali lurus. Tapi dia bilang menikmati?


Jackie merenung, terlihat sekali setelah mendengar jawaban dari calon istrinya dia menjadi sayu. "Cepatlah tidur dan minum obatmu." Kata Jackie dingin.


Tak menjawabnya, Ayana lebih memilih segera meminum obatnya lalu berbaring dan memejamkan matanya seakan dia tak mau banyak bicara lagi dengan Jackie.


Jackie tidur di sofa dan Ayana di ranjangnya. Ayana kini berubah menjadi sosok yang berhati keras dan acuh. Dia seolah tidak perduli dimana Jackie beristirahat. Baginya, semuanya sudah berakhir saat Jackie mengatakan niatnya yang sesungguhnya untuk menikahi Ayana.


Tak usah berpura-pura peduli padaku. Setelah tahu niatmu yang sesungguhnya, aku mengerti sekarang harus bersikap bagaimana padamu. Sebaik apapun aku mencoba untuk menebus kesalahanku dimasa lalu, kau tetap saja akan membenciku.


Bukankah itu sama saja membuang-buang waktu?


Yang perlu ku lakukan hanya menjadi buta, bisu, tuli dan mati rasa untuk menerima semua luapan balas dendam mu.


Ayana merenung dalam matanya yang berusaha terpejam. Tapi telinganya mendengar semua apa yang terjadi di sekelilingnya.


Lama dia berusaha untuk tidur tapi nyatanya tetap terjaga. Hingga efek dari obat yang dikonsumsinya membuatnya terlelap.


Hari-hari berlalu seperti itu, tidak ada yang berubah sampai hari pernikahan tiba.


Ayana tampil cantik dengan balutan gaun pengantinnya. Tapi sayangnya si mempelai wanita hanya bisa duduk di atas kursi roda. Tak ada luapan kebahagiaan wajah Ayana hanya dingin dan datar seolah kehilangan gai**h hidupnya.


Banyak dari tamu undangan yang iba melihatnya dan mengusulkan agar Ayana cepat-cepat beristirahat saja. Bunda Winda akhirnya menemani menantunya itu di kamar sedangkan Jackie menyambut para tamunya.


Alex datang seorang diri, setelah memberikan ucapan selamat pada Jackie, Alex kemudian menyusul Ayana di kamarnya.


"Ayana!! Selamat ya atas pernikahanmu!! Panggil aku kakak ipar sekarang." Ucap Alex dengan senyuman yang mengembang sempurna.

__ADS_1


"Terimakasih Kakak ipar." Sahut Ayana Membalas dengan senyuman manis.


"Ouh, manisnya adik ipar ku. Boleh aku memelukmu?" Pinta Alex yang kemudian membulatkan matanya dan menatap sang Bunda yang juga masih ada disana.


Bunda Winda mengangguk senang. Putra keduanya itu memanglah sosok yang hangat dan penyayang.


Alex kemudian memeluk hangat Ayana. "Selamat kau telah menjadi nyonya Armanto. Jangan khawatir, bila suamimu memarahimu, bilang kepadaku ya." Katanya.


"Hah?" Ayana mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


"Alex, jangan menggoda adikmu terus nak." Bunda Winda paham akan ucapan Alex yang hanya menggoda saja tidak lebih.


"Iya Bun." Alex lalu melepaskan pelukannya.


"Aku kembali kesana ya." Ujar Alek menunjuk ke ruang acara.


"Sayang, beristirahat lah, jangan lupa minum obatmu. Maaf bunda tinggal dulu untuk menemui para tamu." Kata Bunda Winda.


"Iya, Bun. Terimakasih sudah menemaniku." Ayana tersenyum hangat dan tulus.


"Kau putriku sekarang, sudah sepantasnya aku juga menjaga dan merawatmu." Kata Bunda Winda tulus.


Saat Bunda beranjak, berpapasan dengan Dita dan Gino yang juga datang.


"Bunda." Kata Gino.


"Sayang, kau terlambat." Kesal Bunda Winda.


" Maaf Bun, tadi Dita ada sedikit masalah jadi kami putar arah dan terlambat." Ujar Gino menceritakan alasan keterlambatannya.


"Maaf Tante tadi ada yang tertinggal tadi jadi saya harus kembali lagi untuk mengambilnya dan akhirnya kita terlambat." Kata Dita menimpali.


"Kalian...?" Bunda Winda terkejut saat melihat tangan putranya melingkar di pinggang Dita sekretarisnya.


"Iya Bun, kami pacaran." Ucap Gino dengan senyuman manis.


"Astaga! benarkah? wah, bunda sangat senang. Lalu kapan kalian akan menikah? Cepatlah jangan lama-lama, Bunda sudah sangat ingin memiliki cucu." Ucapan antusias yang hadir sukses membuat Dita clingukan dia merasa canggung dan bersalah dalam waktu yang bersamaan.


"Nanti, Gino akan bicarakan dengan kalian." Kata Gino yang sebenarnya hanya meredam keadaan.


"Wah, bunda sangat senang. Berarti hanya tinggal Alex." Gumamnya dengan riang lalu pergi mencari Alex.

__ADS_1


Rengkuhan di pinggang terlepas saat bunda Winda pergi. Tinggal mereka bertiga di kamar.


Gino duduk di tepi ranjang, sedangkan Dita dengan setia berdiri di sebelahnya.


"Nana, selamat ya. Aku harap kau akan bahagia." Kata Gino sederhana tetapi sarat akan makna.


"Tentu, Kak. Tentu aku bahagia." Ayana mengusap air matanya yang merembes begitu saja. "Ku kira rasaku padanya sudah hilang, nyatanya tidak." Bohongnya.


Sakit, sungguh sakit. Ayana dan Gino merasakan sakit yang sama dalam satu waktu. Ayana di dalam hatinya masih menyisakan tempat khusus untuk Gino. Dan, Gino juga tidak menggeser posisi Ayana di dalam hatinya.


"Ayana, selamat ya. Wah, setelah ini apa aku harus memanggilmu dengan sebutan ibu bos?" Dita mengusir suasana haru.


Ayana tersenyum lalu menyeka air matanya. " Ah~~ itu. Aku rasa tidak perlu. Bukankah sebentar lagi aku juga harus memanggilmu dengan sebutan Kakak ipar?" Ayana menaikkan kedua alisnya.


" Ah, hahaha kau benar." Canggung Dita tertawa renyah lalu menepuk pundak Gino agar ikut tertawa.


Gino yang kaget tapi juga paham maksud Dita lalu ikut tertawa.


Resepsi pernikahan selesai saat pukul 22: 15. Pengantin pria akhirnya kembali ke kamarnya dan hendak beristirahat.


Jackie masuk kedalam kamarnya dan melihat Ayana yang terlelap masih dengan balutan baju pengantin.


Pengantin yang seharusnya bahagia kini malah tertidur membawa sisa-sisa lara.


Air matanya masih menggenang, dan sesekali isakan juga masih tersisa.


Pengantin yang seharusnya merasakan debaran dan euforia nyatanya hanya bisa memendam duka lara.


Jackie berdiri mematung menatap sendu wajah yang terlihat lelah dan pipi yang basah.


Ada rasa penyesalan yang dalam.


Ada rasa ingin meruntuhkan segala ego dengan berucap. Ay, maafkan aku telah banyak melukaimu. Aku yang sekarang adalah sama seperti aku yang dulu mencintaimu.


Tapi tidak, Jackie lebih memilih bertahan dalam gengsi.


Jackie membersihkan dirinya, setelah selesai dia duduk di meja rias melihat pantulan dirinya dan juga istrinya di cermin.


Tergeletak dua lembar kertas dan juga dua buah kado kecil di atas meja rias yang tertuju untuk Ayana. Terlihat jelas dari tulisan nama yang tertera.


Untuk Ayana, dari siapa? Gumamnya yang hanya terdiam mengamati tanpa berani membukanya.

__ADS_1


__ADS_2