
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Tergeletak dua lembar kertas dan juga dua buah kado kecil di atas meja rias yang tertuju untuk Ayana. Terlihat jelas dari tulisan nama yang tertera.
Untuk Ayana, dari siapa? Gumamnya yang hanya terdiam mengamati tanpa berani membukanya.?
Jackie mengambil bantal dan selimut, lalu bersiap untuk tidur di sofa. Bukan tidak tau, tapi Ayana sempat meliriknya sekilas lalu tertidur lagi.
pagi harinya.
Ayana Hanya duduk bersandar pada headboard dan menatap kosong kearah kakinya yang masih berbalut gips. Dia seolah kehilangan asa dan gairah hidupnya entah apa yang dipikirkannya tapi terlihat jelas jika wajahnya lesu dan lelah.
"ada yang bisa kubantu?" ujar Jackie yang tiba-tiba duduk di samping Ayana setelah keluar dari kamar mandi.
bukannya menjawab pertanyaan suaminya Ayana balik bertanya kepada Jackie. "Bagaimana tato mu sudah baikan?"
"untuk apa kau menghawatirkan tato ku? ini luka yang aku inginkan. Sebaiknya kau menghawatirkan dirimu sendiri aku tidak apa-apa Ay."
Ay panggilan ini sudah jarang sekali terdengar bahkan hampir tidak pernah terdengar setelah mereka bertemu kembali. Sudah beberapa tahun yang lalu panggilan ini musnah ditelan bumi. Dan sekarang kembali terngiang begitu saja di telinga Ayana tapi Ayana tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya datar tak bisa ditebak lagi apa yang dia pikirkan, apa yang dia rasakan dan apa yang ada di dalam hatinya.
"Iya Kau benar aku memang tidak pantas untuk menghawatirkan mu aku tahu rasa benci mu masih tinggi kepadaku sampai kapanpun aku rasa Aku tidak bisa menebusnya sekalipun dengan nyawaku." kata Ayana yang sangat terdengar menyakitkan.
"tidak bukan begitu kau salah paham." Kini Jackie mulai berbicara dari hatinya agaknya rasa gengsi nya mulai memudar seiring berjalannya penyesalan yang mulai meninggi.
"Bukan seperti itu istriku." lirih Jackie berbicara dengan spontan tangannya terulur dan mendekap Ayana membawa Ayana ke dalam dekapan hangatnya yang tulus dan murni.
Tidak menolak tidak memberontak dan juga tidak mencaci-maki. Ayana hanya diam seperti patung yang tidak bernyawa. dia tidak tahu lagi ucapan mana yang harus dia percaya, kenyataan mana yang harus diterimanya. Dia hanya berfikir untuk melaluinya tanpa sebuah rasa.
"istri?" Ayana tertawa setelah mendengar kata istri dari mulut Jackie.
Bukan tawa yang lucu akan suatu hal tapi tawa yang mengerikan yang membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Ayana tertawa tapi tatapan matanya kosong.
kesalahpahaman yang tertanam di awal kisah. Ya, agaknya ini judul yang pas untuk pasangan ini. Pasangan yang selalu bersalah paham akan suatu hal yang terjadi di masa lalu maupun saat ini.
"Iya aku lupa Aku adalah istrimu. Aku adalah istri yang kau nikahi hanya semata-mata untuk membalas dendam mu. bahkan hanya untuk membalas rasa sakit hati mu. Sekarang lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Kau ingin memukulku? menyiksaku? atau bahkan membunuhku? lakukanlah Jackie aku tidak peduli lagi." Ayana berbicara dan diikuti dengan smirik di akhir ucapannya.
__ADS_1
"tidak bukan begitu." Jackie menggeleng kuat beberapa kali Dia membenamkan wajahnya ke dalam ceruk leher istrinya.
Seperti ribuan batu yang bertumpuk menyesakkan dadanya. Jackie seolah kehabisan kata untuk berbicara. Lidahnya kelu, lehernya tercekat, nafasnya serasa berhenti seiring dengan oksigen yang kian menipis di sekitarnya.
"Aku menyesal pernah membencimu. Aku tahu kau masih mencintaiku tapi dimana rasa itu sekarang? Aku sama sekali tidak bisa melihatnya di matamu. Kumohon kembalilah seperti Ayana yang dulu kembalilah seperti Ayanaku yang dulu."
Pria bungsu dari keluarga Armanto ini kini menangis tergugu memeluk erat wanitanya dengan setumpuk penyesalan yang membebani hidupnya selama ini.
Di sebuah Cafe.
"Pak, semua sudah selesai. boleh saya pulang?" Tanya karyawan Cafe yang bekerja di Cafe xxxxxxx depan gedung kantor Jackie.
Tidak menjawabnya, sang atasan hanya menggerakkan jarinya. Pertanda si bawahan boleh pergi.
"Kau kemana cantik? beberapa hari ini sudah tidak pernah terlihat lagi?" Gumam lelaki berkulit pucat yang terduduk di atas salah satu meja pelanggan.
Shaga, lelaki yang Ayana tau sebagai barista itu nyatanya adalah pemilik Cafe itu sendiri. Shaga, sosok misterius yang dingin dan sulit di tebak. Dia jarang bergaul dan hanya memiliki beberapa teman.
Terlebih lagi soal wanita, dia sangat selektif. Tapi siapa sangka, awal pertemuannya dengan Ayana membuatnya langsung jatuh hati. Shaga, dia terpesona hanya dengan melihat senyum dan lembut tutur kata Ayana.
"Aku, aku mencarimu. Kau, berhasil menghipnotisku yang beku ini." Shaga terkekeh geli lalu menenggak kopinya.
"Nona, biar saya saja. Nona duduk saja dan nikmati sarapannya." Kata perawat, oh bukan lebih tepatnya pengasuh yang di pekerjakan oleh Jackie untuk merawat Ayana selama dia dinas keluar kota.
Tak menanyakan kabar, juga tak menaruh respon hangat, Ayana lebih ke arah hambar. Dia memperlakukan Jackie layaknya seorang suami, hanya saja hambar tanpa ada rasa.
"Mbak, aku bisa sendiri." Ayana menolak halus bantuan si perawat.
"Nona beruntung sekali ya, suami Nona sangat perhatian. Hampir setiap jam Tuan selalu menanyakan bagaimana kabar Nona." Kata si perawat yang berniat untuk menggoda Ayana.
Saat si perawat berkata seperti itu, tentu saja itu bukan kemauannya sendiri. Dia di utus oleh tuannya. Jackie yang menyuruhnya bahkan dengan ponsel yang masih tersambung di dalam saku baju si perawat.
"Iya Mbak, makasih." Jawab Ayana datar tanpa senyuman ataupun sesuatu yang menyiratkan kebahagiaan.
Merasa selesai dengan tugasnya, si perawat lalu berpamitan ke balkon untuk menyiram bunga Ayana.
Tapi sebenarnya....
__ADS_1
'Hallo Pak?'
'Iya Hallo. Bagaimana, apa Nona sudah baikan?'
'Iya dia lebih baik, sedikit. Tapi, kapan Bapak pulang? Saya tidak enak hati kalau terus-terusan menjadi informan begini. Kenapa Bapak dan Nona tidak langsung berbicara saja.'
'Nona mu itu sedang marah padaku. Jadi aku membutuhkan bantuanmu. Sudah, asalkan dia baik-baik saja maka sudah lebih daripada cukup.' Jackie tersenyum lega.
'Jaga baik-baik Nona ya. Sore ini aku sampai.'
'Iya pak.' Si perawat patuh dan menutut.
πππππππππππππ
Langit menunjukkan semburat jingga, membuat siapapun yang melihatnya terpana. Juga dengan Ayana yang tengah berdiri mematung menatap luas langit membentang.
Jackie memasuki apartemen dan menerima sambutan dari si perawat dan lantas Jackie meminta si perawat untuk pulang. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik membuat Ayana tak menyadari kedatangan suaminya.
Apa yang akan dilakukan oleh Jackie? mungkin kejutan kecil atau...
"Ay...." Lembut Jackie memanggilnya lalu memeluknya erat.
Ayana berjingkat dengan sedikit melonjak. Jackie tersenyum simpul lalu mencuri ciuman di leher Ayana.
Ayana diam tak membalas sapaan Jackie. Ada rasa kesal sebab Jackie mengerjainya.
"Senang kan aku sudah pulang?" Tanya Jackie penuh percaya diri.
"Hmm..." Hanya deheman tanpa tatapan ataupun anggukan.
Tangan Jackie lalu memakaikan sebuah gelang di pergelangan tangan Ayana. " Aku ada hadiah buatmu." Kata Jackie dengan senyum yang terus mengembang.
Meskipun tak mendapatkan balasan dan respon Ayana terkesan dingin dengan rasa yang perlahan pergi, Jackie tak dapat memungkiri bila di dalam hatinya hanya Ayana lah yang mampu menghuninya seorang diri.
"Cantik." Jackie memuji dari dalam hatinya. Bukan cantik gelangnya, tapi cantik seseorang yang tengah dipeluknya.
"Makasih." Jawab Ayana lirih.
__ADS_1
Tak banyak berbicara, hanya menikmati senja berdua dengan kecupan yang selalu mendarat di kepala, pipi dan leher sang istri. Nampaknya Jackie sangat menikmati momen ini. Momen dimana dia mencari rasa yang pergi.
Dimana rasamu? Perih batinya memeluk sang istri.