
...🌼🌼🌼...
Hening suasana kamar rawat yang bernuansa putih dengan aroma obat obatan dan juga karbol yang menguar seusai petugas kebersihan membersihkan kamar rawat yang di tempati oleh Diah.
Alex Dia merasa lega juga sekaligus bahagia dengan keberhasilan operasi yang di lakoni sang istri. kini calon Ayah itu sedang berjalan dengan kaki yang ringan nan bahagia.
Tepat di lobby rumah sakit Dia berpapasan dengan seseorang yang sudah lama tak pernah lagi dijumpainya semenjak orang tersebut menorehkan luka di hatinya.
"Alex.." Panggil si wanita tersebut dengan gaya bicaranya yang teramat familiar di telinga Alex.
"Ririn?" Cetus Alex yang ternyata juga masih mengingat nama orang tersebut.
"Hai.. apa kabar?" Tanya Ririn dengan gayanya bertanya yang teramat canggung.
Alex hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. " Baik." Jawabnya tanpa penekanan dan arti berlebih.
Alex memutuskan untuk segera kembali ke kamar sang istri yang masih terbaring lemah. Tak etis saja baginya jika Dia harus berlama lama meninggalkan istrinya dan malah asyik berbicara dengan orang lain di luaran.
"Alex tunggu! aku..." Ririn ingin menyambung katanya. Namun itu semua terhenti kala melihat Alex yang sempat menoleh dan kemudian sengaja mengabaikannya.
Ah, sudahlah. mungkin aku memang tak pantas mendapatkan maaf darimu. Gumam Ririn yang kemudian berlalu sesuai alamat yang ia tuju.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya lelaki yang masih mengenakan jas dan belum sempat berganti pakaian dari kemarin itu.
"Em.." Hanya itu yang dapat Diah katakan. NYatanya setelah proses pengambilan proyektil tersebut, barulah sekarang Diah merasakan sakit yang luar biasa sebab dosis pereda nyerinya pun tak bisa di samakan dengan orag yang tak sedang mengandung.
"Sakit sekali ya?" Alex mendekat dan mengecup kening wanitanya. Ia lalu terduduk di depan Diah dan mensejajarkan wajahnya dengan sang istri yang hanya bisa berbaring dengan kondisi miring.
"Em..." Hanya itu lagi jawabannya yang kali ini disertai dengan bulir air matanya yang menetes.
"Terimakasih sudah mau berkorban banyak demi kami. Demi Ayahku, Demi anak kita, dan demi aku. Aku mencintaimu sayang." Ujar Alex yang juga menautkan kening mereka dan berbicara dengan mata yang terpejam. Jari jemarinya tak henti hentinya bergerak perlahan mengusap pucuk kepala sang istri.
Tak mau terus berlarut dalam kesedihan, Alex mencoba mengalihkan perhatian sang istri. "Mau makan?"
"Aku belum bisa makan.." Rintih Diah yang menjawab dengan perlahan.
Bagaimana Alex bisa lupa jika istrinya untuk minum saja hanya di perbolehkan untuk menengguk satu kali tenggukan. Dan untuk makan, dia masih kesusahan dalam menelan.
Alex mendongak dan melihat infus yang menggantung memastikan bahwa infusnya berjalan dengan lancar.
"Tidurlah jika mengantuk." Kata Alex pada sang istri tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
"Bantu aku beralih posisi." Rengek Diah dengan suara yang tertahan menahan sakitnya.
Dengan telaten dan sangat berhati-hati, Alex membenarkan posisi Diah yang tadinya miring kiri berganti miring ke kanan. "Kamu tidak mandi Mas?" Tanya Diah.
"Mandi tadi di kamar mandi ini. Hanya saja tidak berganti baju." Jawab Alex.
__ADS_1
"Sampai kapan aku hanya boleh miring seperti ini?" Tanyanya yang sepertinya sudah tak sabar ingin bergerak bebas.
"Kata Dokter sampai lukamu mengering sayang, sampai satu Minggu. Dan untuk benar-benar pulih kita harus menunggu selama 3 bulan." Jawab Alex menyampaikan apa yang Dokter katakan sebelumnya.
Dalam keadaan lemah seperti ini, yang lebih menguatkan dari sekedar obat adalah dorongan moril dan kasih sayang dari pasangan. Seperti saat ini, Diah merasakan dirinya lebih saat ada Alex disampingnya.
"Tadi kemana?" Tanya Diah yang sudah merasa lebih enak dengan posisinya.
"Ouh.., aku membeli makanan tadi dan aku lupa kalau kamu belum bisa makan sayang. Maaf ya.." Ucap Alex dengan teramat lembut.
Diah tersenyum menyikapi sikap suaminya yang teramat manis baginya. Seorang lelaki yang berjiwa hangat dan penyayang ini kini telah menjadi miliknya. Lelaki yang dahulu pernah secara tak sengaja masuk dalam doanya.
"Tidak apa-apa Mas. Sekarang mas makanlah. Aku juga makan kan, melalui Selang infus ini. Ini sumber nutrisi ku sekarang." Kata Diah yang tersenyum pias melihat sang suami yang juga menatapnya sendu.
"Di... untuk hari itu, maaf aku tidak bisa memberitahumu kalau aku akan menikah dengan Almarhumah Tata. Kepalaku buntu Di, dan bingung akan melakukan apa." Kata Alex yang mengungkapkan segala tumpukan uneg-uneg di dalam hatinya.
Diah mengulurkan tangannya meminta sang suami untuk mendekat. Alex mendekat meski dengan wajah yang sendu dan siap menitikan air matanya. Dia terduduk di kursi dan membiarkan Diah mengusap lembut pipinya.
"Semuanya sudah terjadi Mas, mau diapakan lagi? Ikhlaskan saja. Aku sudah mengikhlaskan yang telah lalu." Kata Diah yang seolah justru menguatkan sang suami untuk tidak terus bersedih.
"Terimakasih Sayang." Ucap Alex yang dengan cepatnya menciumi tangan Sang istri.
Aku tidak menyangka hatimu seluas ini Di.. Batin Alex yang menatap lekat Wajah sang istri dan membawanya kedalam dekapannya.
"Ehem!" Deheman Dari Seseorang membuyarkan suasana haru tersebut. "Kak, nanti saja di rumah begitunya, ini di rumah sakit." Ujar Jackie yang sengaja meledek kakaknya itu.
"Ah, JK? kalian kapan datangnya?" Alex seketika berdiri dan menyambut kedatangan adik dan juga adik iparnya itu.
Ayana yang tak mengerti sempat bingung untuk menjawab. Memangnya siapa yang sedang tidak enak badan? Tapi sesaat kemudian suaminya mengedipkan sebelah matanya dan itu membuatnya mengerti akan satu hal.
"O.... oh, iya kemarin sempat migrain kak. Tapi udah baikan. Bagaimana keadaan Kakak ipar?" Tanya Ayana yang mendekat dan melongok Diah tanpa berani untuk menyentuhnya.
"Nyonya?" Kata Diah dengan teramat lirih.
"Jangan panggil aku dengan Nyonya. Kamu adalah Kakakku sekarang, panggil saja dengan namaku. "
Diah tersenyum kikuk saat mendengar Ayana memintanya untuk memanggilnya dengan nama saja.
"Bagaimana keadaanmu Kak?" Tanya Ayana.
"Em... aku sudah lebih baik Ay.." Jawab Diah.
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan calon keponakanku?" Tanya Ayana dengan cerianya.
"Dia baik, apa kamu mau menyentuhnya?" Tanya Diah yang juga tak kalah antusias.
Ayana mulai mengulurkan tangannya dan mengusap perut rata Diah. " Dia masih terlalu kecil Ay, belum bisa terasa jika diraba." Kata Diah.
__ADS_1
Saat melihat Ayana yang begitu bahagia menyentuh perut Diah ada rasa sakit yang membuat Jackie terkoyak. Dia teringat akan perlakuan-perlakuannya dahulu dengan Ayana.
Andai saja aku mau mendengarkanmu dan tidak egois, mungkin saja saat ini kita sudah berada disini dengan anak kita Ay. Maafkan aku. Batinnya sendu.
Alex yang melihat perubahan mimik wajah adiknya lalu dengan sigapnya menepuk bahu sang adik. "Coba lagi saja, lebih giat lagi Ok!" Alex mengedipkan satu matanya untuk menghibur sang adik.
Jackie tak merespon berlebih dan hanya membalas dengan senyuman.
Saat dalam perjalanan pulang, Jackie hanya diam tanpa melihat Ayana, Dia seolah sedang menyimpan rapat sesuatu.
"Kenapa hanya diam terus dari tadi?" Ayana menolehkan kepalanya dan menatap wajah Jackie.
"HEmh...! tidak apa apa, aku hanya berfikir bagaimana kalau kita berlibur sebentar untuk pergi bulan madu?"
"Tiba tiba sekali ingin berbulan madu? kenapa?" Ayana menaruh curiga pada senyuman yang terpancar dari bibir sang suami.
Jika aku berkata jujur untuk menebus semua kebahagiaanmu yang terenggut karena ulahku apakah kamu mau? Tentu tidak, kamu pasti akan selalu menolak dang mengatakan itu semuanya tak perlu.
"Ingin saja Sayang, lagian kan emangnya tidak lela setiap hari harus bekerja?" Kata Jackie.
"Em... tapi kapan waktunya? setidaknya harus setelah anak anak selesai gajihan. Kamu tahukan aku tidak punya tangan kanan?" Cetus Ayana.
"Ah, iya aku lupa jika sekarang istriku sudah punya tanggung jawab sendri. kamu yang atur waktunya dan nanti aku yang menyesuaikan dengan jadwal kerjaku. Bagaimana?"
Sebenarnya kesibukan ini sangatlah menyelamatkan Ayana dari berbagai kebosanan dan juga tekanan yang secara tak langsung menimpanya dari saudara iparnya yang mencemburuinya meskipun dia tidak berbuat apa apa.
ya, secara tak langsung, apa yang Dita katakan padanya mengenai hubungannya yang lalu dengan Gino itu amat sangat mengganggu pikirannya. Ayana terus saja menghindari gino meskipun itu hanya sebuah kemungkinan kecil.
"Jadwalku..., Oh, ternyata masih lumayan lama dari waktu gajihan. Apa kita pergi saja besok?"
"Bagus besok kita akan pergi."
Sementara itu di lain tempat.
"Pokoknya aku mau jalan jalan." Dita mulai merengek manja pada sang suami.
"Ya maunya kemana?" Tanya Gino. "Jangan jauh jauh, bayi kita belum bisa bepergian jauh." Kata Gino yang masih sibuk mengetikkan sesuatu sedangkan Dita menyuapinya dengan buah anggur.
"Kemana ya? Ke... bogor saja bagaimana?" Ujar Dita.
"Boleh, itu tidak terlalu jauh." Kata Gino yang kemudian menutup laptopnya.
"Tapi janji padaku, setelah ini tidak ada lagi cemburu cemburu pada Ayana. Dia itu istri adikku. Aku sudah tidak ada perasaan apapun lai dengannya. Jadi kamu jangan berfikiran yang aneh aneh."
"Aku juga tidak tahu Mas, sebenarnya aku tidak ingin membencinya. tapi..."
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Tapi saat aku melihat wajahnya tuh, hawanya kesel banget..!" Ketus Dita berbicara.
Kamu kesel itu antara bawaan hamil atau memang kamunya yang pencemburu Dit,