
...πππΌππ...
...πππΌππ...
"Jihan, bisa kau pijit tanganku? rasanya lelah sekali." Pinta Alex dengan raut manjanya.
"Apa pijat?" Jihan menoleh dengan serta merta dan jangan lupakan wajah bingungnya. Dia tak mengerti mengapa tiba-tiba minta di pijat? Padahal Jihan tau bahwa keadaan Alex baik-baik saja. Bahkan, jarum infus saja tak menyentuh kulitnya.
Alex berharap dia akan semakin bisa membuat diah cemburu. Bila Diah cemburu, secara otomatis Alex akan semakin yakin bila sebenarnya Diah memiliki rasa yang mungkin belum disadarinya.
Dengan wajah tersenyum dia menunggu jawaban Iya dari Jihan.
Tapi...." Malas! aku tidak mau!!" Tolaknya tanpa perasaan. Membuat diah yang sedang mengganti seprei sejenak menghentikan tangannya.
Alex melotot tajam dengan mulut yang berkomat kamit memarahi adik sepupunya itu. Berharap Jihan akan kembali patuh dan ikut dalam permainannya.
"Kau minta pijit saja dengan dia!" Jihan menunjuk Diah yang dengan posisinya membelakangi kakak beradik yang sedang beradu akting.
"Ji....!" Alex menekankan intonasi bicaranya berharap kembali Jihan mau menurutinya.
Bukan Jihan namanya jika tak membuat orang lain kelabakan. Alex kini ketakutan, takut kalau rencananya tersingkap begitu saja.
"Kak sudahlah aku lelah berpura-pura, Carilah wanita lain sebagai partner mu. Mama sudah mengamuk tadi karena gosip tentang kita sampai di telinganya."
"Hah...?" Alex mengernyitkan keningnya.
Diah, dia hanya diam menyimak tanpa banyak bicara. Dia disini menjadi kerdil dan kehilangan hak bicara di hadapan Dokter yang berperan besar dalam hasil nilai magangnya. Tak mau salah berucap atau terkesan membuat ulah. Diah memilih untuk mencari aman.
"Tante Merlin tau?" Alex tercenung.
" Iya!" Ketus Jihan menjawab. " Dia mengamuk habis-habisan. Memarahiku karena termakan isu buah dari rencana bodohmu! Dia memintaku untuk segera pulang dan menjelaskan semuanya." Jihan berhenti sesaat dan sekilas menatap punggung Diah.
"Hhh.β¦β¦β¦!" Dia mendengus kesal. " Aku menyerah dalam permainan ini."
" Ji... ayolah!" Alex membujuk Jihan sambil memegang tangannya, memasang mata bulat merayu si sekutu.
" Sudah ya Kakak sepupuku yang tampan, baik hati, lembut dan penyayang. Aku sudah cukup pusing dengan omelan Mama! Dia menerorku setelah tau kedekatan kita. Dia bilang aku akan membuat wajahnya tercoreng, aib keluarga, dan mengataiku anak durhaka. Itu semua karena rencana bodohmu!" Jihan menunjuk Alex tepat di hidungnya.
Apa tadi Kakak sepupu?
__ADS_1
Jadi mereka bukan calon pasangan suami istri?
Alex kehabisan kata dan hanya diam tertunduk malu. Rencana tersibak begitu saja tanpa usaha dari si wanita.
"Setidaknya jangan bicarakan langsung di hadapannya." Alex bercicit tertunduk lesu seakan awan hitam berada di atas kepalanya dan menutupi seluruh auranya.
"Diah!" Seru Jihan yang agaknya sedang ingin menambahkan keonaran.
"Iya Bu Dokter?" Sahutnya yang kemudian berbalik badan dan menatap Jihan.
" Apa kau ingin nilai dan poinmu bagus?" Tanya Jihan sambil menggaruk ujung alisnya yang tetiba saja terasa gatal.
Diah masih menunduk tak berani menatap " I.... iya Bu." Jawabnya yang hanya sepenggal kata tapi sudah seperti berjuta-juta frasa rasanya.
"Duduk!" Jihan memintanya duduk dan menunjuk di sebelah Alex.
Ragu dan juga malu tapi tak ada pilihan. Diah menurut dan duduk di samping Alex. Kini keduanya seperti pelaku pencurian ayam saja. Duduk tertunduk dan diinterogasi oleh petugas kampung.
"Aku akan memberikanmu poin tertinggi bila kamu bersedia untuk menjadi pacarnya." Ucap Jihan tanpa basa-basi membuat Diah menengadah dan terbelalak menatapnya.
"A... apa? Tapi Bu, apa urusannya poinku dengan permintaan ibu barusan? Bukankah itu sikap yang tidak profesional dalam bekerja?" Ucapnya membuka suara meski dengan ketakutan.
"Ah, lupakan soal profesional. Aku ini orang dalam, aku bisa mengubah apapun dari semua yang sudah ada di laporan nilaimu. Kau juga tau itu." Ucapnya bertinggi hati.
"Sudah terima saja. Apa susahnya tinggal bilang iya?" Celetuk Alex dengan santainya dan melipat kedua tangannya ke dada menatap Diah dengan remeh. Dia pikir Diah adalah tipe wanita yang sama seperti yang lain yang akan menyerah jika sudah terbentur dengan uang dan keadaan.
Diah melirik Alex dengan dingin. " Tidak!" Jawabnya yang kemudian berdiri.
"Terimakasih untuk kerjasama kita selama ini Bu. Aku senang bisa mengenal ibu sampai sejauh ini. Tapi untuk penawaran ibu barusan aku sudah mempunyai keputusan bulat. Aku tidak akan pernah mau menjual harga diriku demi apapun." Jawabnya dengan pandangan nanar dan suara yang bergetar.
Jihan terdiam, dia merasa bersalah karena keluar dari skenario yang Alex ciptakan. Tatapannya kemudian mengarah kepada Alex seolah meminta bantuan.
"Cih!" Alex berdecih sebelum berbicara. " Dasar angkuh!" Cibirnya sesuka hati yang semakin menyayat perasaan gadis kecil yang ada di sebelahnya.
"Terimakasih atas pujiannya!" Sahut Diah menatap Alex tanpa gentar. " Aku permisi." Ucapnya kemudian berdiri.
"Oh ya Bu Dokter, tak usah repot-repot memberiku poin lagi. Aku tidak akan melanjutkan lagi magangku. Ku rasa menjadi perawat tak cocok lagi untukku." Ucap Diah seraya pergi membawa luka yang perih. Harga dirinya tercabik saat berhadapan dengan mereka yang kaya dan berkuasa.
Seenak hati saja mempermainkan kami orang-orang miskin dan lemah. Terimakasih tuhan telah menunjukkan padaku tentang siapa mereka yang sesungguhnya. Diah berbicara dalam hatinya sambil menangis meluapkan segala kesedihannya.
"Kau lihat kan, betapa angkuhnya dia?" Ucap Alex setelah kepergian Diah.
__ADS_1
Jihan tersenyum. "Bang, kurasa itu bukan angkuh. melainkan dia menjunjung tinggi harga dirinya. Baginya kehormatan lebih penting dari apapun dan mengemis tak masuk dalam kamus hidupnya. Wanita yang langka." Ucap Jihan setelah mengamati keadaan.
"Aku rasa kau harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkannya." Kata Jihan yang kemudian ikut pergi.
"Arghhβ¦β¦! Sial!" Alex mengerang kesal dan meremas rambutnya frustasi.
"Baru kali ini, sumur hidupku bertemu dengan gadis angkuh sepertinya. Tak begitu cantik ataupun kaya, tapi mengapa aku malah semakin tertarik padanya? Aku bisa gila!!" Alex bermonolog sambil menatap keluar jendela.
...πππΌππ...
Di kediaman Gino.
Setelah pemberian hadiah kecil itu, keduanya lebih sering diam. Entah mengapa, tapi sepertinya Gino masih kesal perihal pertemuannya kemarin dengan Yogi.
"Pak..., Eh... suamiku kau mau makan apa pagi ini?" Tanya Dita yang sudah bangun lebih dulu dan membuka tirai kamar mereka membiarkan cahaya matahari lolos menelusup menyilaukan mata.
"Terserah!" Jawabnya acuh tanpa membuka mata atupun bergerak.
Tak enak hati Dita lalu mendekat dan membuka perlahan selimut yang menutupi seluruh tubuh Gino.
"Pak," Panggilnya lirih " Eh, kok kaki? mana kepalanya?" Gumam Dita saat membuka selimut tapi malah kaki yang ditemuinya.
"Oh~~~~, jadi begini kalau marah? bukan memunggungi tapi memberiku kaki. Pantas saja semalam aku bisa tidur nyenyak tanpa iringan suara bajak sawah." Cicitnya sambil menahan tawa.
Bajak sawah yang dia maksud adalah suara bising Gino saat kelelahan maka Gino akan mendengkur hingga menciptakan suara berisik seperti bajak sawah.
"Pak," Ulangnya lagi dan kemudian menemukan Gino yang tengkurap. " Bangun~~~!" Lembut Dita membangunkannya.
" Masih marah?" Tanya Dita yang tak menunggu jawaban.
"Kenapa harus marah sampai begini seolah kita saling mencintai dan aku selingkuh darimu. Padahal kita juga kan baru berencana untuk saling menerima. Menjalani hubungan ini seperti air yang mengalir. Tapi kau sudah marah-marah..." Ucap Dita dengan tangan yang bergerak-gerak menggambar abstrak di punggung Gino.
" Bukan kita, tapi hanya aku yang berusaha. Kau .. kau sama sekali tidak merespon ataupun bereaksi. Aku rasa hubungan ini akan gagal." Kata Gino yang terdengar berputus asa.
Benar, selama menikah memang hanya Gino yang menunjukkan sikap ingin terus berjuang. Sementara Dita? dia hanya pasif menerima.
"Bicara apa? Sudah ayo bangun, dan mandi. Aku akan memasak sarapan untuk kita. Jangan berfikiran yang tidak-tidak, aku hanya malu." Ucap Dita yang kemudian di sambungnya dengan sebuah kecupan di pipi sang suami.
"Terimakasih untuk hadiahnya semalam." Ucapnya dengan berbisik setelah sebelumnya mencium pipi Gino.
Dia menciumku duluan?
__ADS_1
Apa dia....