Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
66. Keterpaksaan.


__ADS_3

...🍁🍁🌼🍁🍁...



...🍁🍁🌼🍁🍁...


...Kepada Mu...


Berlabuh hati pada sebuah dermaga jiwa.


Terkait setia untuk selamanya pada satu nama.


Mengikis perih, membasuh luka.


Bernaung kasih bertabur cinta.


Kepada Mu sang pembuat raga


Kepada Mu sang pengisi Sukma


Ku pasrahkan segala asa


Ku gantungkan segala ingin di jiwa


Wahai pemilik alam semesta,


Ijinkan aku mahluk ciptaan Mu untuk bahagia hingga ragaku tak lagi bernyawa.


...πŸ’Mimi litaπŸ’...


Tatapan nanar dari mantan suami terus mengintai, menatap sosok wanita yang terlihat kian pucat dan rapuh.


"Apa, kau tak ingin memberitahukan ini kepada suamimu?" Tegas Gino berbicara kepada Ayana yang sedang mendapatkan suapan sarapan paginya dari sang kakak ipar.


Ayana menatap Dita seolah mengadu. Mengadukan sikap Kakak iparnya yang terlihat galak dan menyeramkan.


"Mas~~~~, Eh.... suamiku. Tolonglah, dia masih sarapan. Nanti lagi kita bahas hal ini ya?" Pinta Dita dengan lemah lembut.


Sejak kapan Dita jadi bersikap dan bisa bersuara lemah lembut begini? Batin Gino saat rungunya menangkap ucapan istrinya yang terdengar berbeda dari sebelumnya tapi di akuinya itu adalah perubahan yang bagus.


"Hhhh.....!" Gino mendengus. Dia menyerah untuk menghadapi dua wanita yang ada di hadapannya itu.


Gino berjalan kembali ke sofa. Belum sempat dia duduk, ponselnya sudah berdering.


'Halo?' Alex.


'Iya, ada apa? apa ada masalah?' Tanya Gino.


'Tidak, hanya saja aku ingin menanyakan mengapa Jackie tidak bisa di hubungi? Apakah dia sudah sampai?'


'Sudah sampai?' Gino menatap Ayana. ' Memangnya Jackie pulang? tanpamu?' Tanya Gino dengan menyebutkan nama Jackie membuat Ayana menaruh perhatian kepadanya.


'Iya, kemarin dia pulang karena terlalu cemas pada Ayana. Entahlah anak itu pikiranya kemana-mana kalau sudah menyangkut soal istrinya. Jadi dia juga tidak menghubungimu Kak?'


'Tidak...' Gino terdiam sesaat. ' Baiklah kalau begitu, aku akan mencari tahu. Kau urus lah pekerjaan kita yang disana.'


'Apa kau lupa? urusan disini sudah selesai, ini aku sedang menuju ke rumah sakit.' Kata Alex yang memang sedang berjalan memasuki rumah sakit yang sama dengan tempat Ayana. mendapatkan perawatan.


'Oh, untuk apa? apa kau sakit?' Tanyanya.


'Tidak. Hanya hatiku yang sedikit sakit karena di abaikan oleh salah satu perawat disini.' Ucap Alex menyinggung soal Diah.


'Ah, iya. Hanya dia yang menolakmu. Baiklah sampai jumpa. Jangan lupa istirahat dan makan!' Ucap Gino berpesan.


'Hem, tentunya.' Sahut Alex lalu mengakhiri panggilan.


"Ada apa?" Tanya Dita yang sedari tadi menahan penasaran. Dia berjalan mendekat sambil membawa mangkuk bubur Ayana lalu duduk di samping Gino.


Gino menatapnya lekat. " Jackie, dia sudah pulang dari kemarin tapi tidak ada kabar. Kemana dia?" Ucapnya lalu beralih menatap Ayana. " Mana ponselmu?" Tanyanya pada Ayana sambil menggerakkan dagunya.


Ayana meringis kikuk, dia mengakui kebodohannya. Dia melupakan ponselnya. " Ponselku ada di rumah." Jawabnya sambil mengatupkan bibirnya dan keningnya mengkerut takut akan segala kemungkinan.


" Bagaimana bisa kalian se-teledor ini? Kau tau? JK sangat mengkhawatirkan mu! Dia pulang dari kemarin dan tak ada kabar sampai sekarang." Gino berbicara dengan nada cemas.


" Suamiku, tenanglah." Dita meraih lengan Gino lalu mengusapnya naik turun menularkan ketenangannya. " Sabarlah, jangan marah-marah. Ayana tidak sepenuhnya salah." Dita menjelaskan kronologi saat Ayana pingsan.


"Dia pingsan saat itu dan aku begitu panik saat melihat bercak darah di seprei. Untung saja saat itu ada Shaga yang membantu mengangkat Ayana." Kata Dita dengan jujur.

__ADS_1


Gino menunjukkan atensinya khusus pada istrinya. " Shaga?" Tanyanya penuh penekanan dan tatapan matanya yang tajam.


"Iya, kami berkenalan saat bertemu di dalam lift secara tidak sengaja. Dia barista di cafe depan kantormu."


" Kau, sudah menikah dan berkenalan dengan pria lain di dalam lift?" Tandas Gino dengan nada suara yang meninggi.


Agaknya, masalahnya mulai menjalar keberbagai cabang sekarang. Dita juga menjadi sasaran amuk setelah berkata jujur.


Ah, begini dia kalau sedang cemburu?


Kakak adik memang sama saja, mereka pencemburu berat dan tak kenal tempat.


Huft...!


Ini sekarang yang di bahas tentang suamiku atau istrinya? Ayana menatap bodoh Kakak iparnya yang saling beradu argument.


"Kenapa suara Bapak jadi begitu?" Cicit Dita.


" Bapak, Bapak!" Gino menatapnya tajam. Tatapannya siap menghujam. " Begitu rupanya kau ya? suami pergi bekerja kau malah asik berkenalan dengan pria lain di dalam lift?"


"Hei, kami hanya berkenalan. Bukan bertukar nomor telepon atau menginap di hotel! Jaga sikapmu dan jangan berlebihan seperti itu!!" Balas Dita tak kalah lantang.


"Apapun itu aku tidak suka! Aku tidak suka jika istriku mempunyai teman laki-laki!" Tandas Gino.


"Apa salahnya jika berteman? Hei, semua temanku rata-rata laki-laki dan aku baik-baik saja sampai sekarang, apa masalahnya?" Dita berkacak pinggang lalu menghentakkan kakinya kesal.


"Itu dulu! ingat sekarang kau sudah bersuami. Jaga sikapmu di hadapan pria lain!!" Gino mengingatkan.


"Jaga sikap? memangnya apa yang ku lakukan? aku tidak membuka baju di hadapannya!" Ketus Dita.


" Apa!!" Gino melotot tak percaya istrinya se fulgar itu. "Kau.....?" Gino mengepalkan tangannya geram.


"Ayana!" Serunya memanggil penonton tunggal di ruangan itu.


"Hem...? Ya....?" Ayana terkejut namanya di sebut.


" Apa kau tau soal Shaga Shaga itu?" Tanyanya mulai mengorek informasi.


Ayana mengangguk.


Ada apa ini, mengapa tiba-tiba membahas Shaga?


Apa Kak Gino sedang dilanda cemburu? Batin Ayana menerka-nerka.


"Iya, Dia tampan dan manis. Dia punya kharisma tersendiri. Kulitnya sangat bagus, putih dan mulus. Dia juga lebih muda 3 tahun darimu dan dia juga sangat sopan dan baik hati." Ayana menjawab sesuai dengan apa yang di ketahuinya perihal Shaga.


"Ah ..., " Gino tiba-tiba manggut-manggut. " Kau juga rupanya, kalian mengapa begitu mengamati si Shaga ini? apa istimewanya dia?" Gino berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk Ayana dan Dita secara bergantian melampiaskan kekesalannya.


" Sampai-sampai kalian tahu berapa usianya." Gumamnya lagi lalu duduk menyilang kan kakinya dan bersendekap dada.


"Cih...!!" Gino berdecih di akhir argument.


"Kau sangat aneh! untuk apa tiba-tiba marah tentang hal remeh?" Celetuk Dita yang membuang pandangannya enggan menatap Gino.


" Remeh? Remeh katamu? Ini Maslah besar!! Remeh darimananya kalau seorang wanita yang sudah bersuami berkenalan dengan pria lain di dalam lift?" Gino meneleng.


"Sekarang aku tanya, bagaimana kalau aku balik keadaannya? Bagaimana jika aku yang begitu?"


Tak menjawab dengan kalimat panjang, Dita hanya menunjukkan kepalan tangannya sambil berbalik badan ke arah Gino.


"Hahahah, aku rasa pembahasan kalian masih agak panjang ya? jadi untuk kelas materi ini aku rasa aku akan membolos saja. Mataku sudah mengantuk." Kata Ayana sambil menggaruk kepalanya dan meringis tak enak hati.


Dita dan Gino melongo mendengar pengusiran yang sehalus sutra meluncur dari bibir adik iparnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Ayana, Dita dan Gino menolah bersamaan.


Muncullah sosok yang sedari tadi mereka perdebatkan.


"Hai! Boleh aku masuk?" Tanya Shaga sambil tersenyum manis memamerkan deretan giginya yang putih.


"Shaga?!" Ayana dan Dita berseru terkejut bersama.

__ADS_1


Shaga kebingungan dengan respon yang di tujukan kepadanya yang terkesan berlebihan.


Ada apa ini? Batin Shaga kebingungan dan firasatnya tidak enak.


"Oh, kau yang bernama Shaga? Benarkah namamu Shaga? Seingatku namamu adalah Yogi?" Gino meneleng dengan tatapan remehnya yang ia tujukan pada Dita.


"Yogi?" Seru Dita dan Ayana bersamaan.


"Hai Gin!!" Sapanya santai pada Gino.


Gino tersenyum pias. " Ayo ikut aku, ada yang akan kubicarakan denganmu." Ucapnya yang kemudian menggiring Shaga keluar dari ruangan Ayana.


" Ay, doakan agar aku selamat ya? Ini pertama kalinya suamiku marah-marah." Dita meminta dukungan dan doa dari adik iparnya.


"Em....!" Ayana mengangguk yakin. " Iya Kak, aku do'akan!" Ayana mengepalkan tangannya dan mengangkatnya setinggi bahu untuk menyemangati Dita.


"Istriku, ayo kau juga!" Gino kembali masuk kedalam ruangan dan merangkul pundak Dita.


Panas dingin dan dada berdebar juga jangan lupakan keringat Dita yang tiba-tiba ikut tak terkontrol membasahi telapak tangannya. Gugup dan takut semuanya membaur.


Di kediaman Bu Sri.


"Nak Jackie, bagaimana keadaanmu?" Tanyanya pada Jackie yang berbaring di sofa.


"Masih lemas Bu." Jawabnya lemah.


Bu Sri meletakkan secangkir teh hangat di meja." Ya memang begitu. Begitulah rasanya kita saat menembus kembali masa lalu. Ruh kita akan dipaksa bertemu dengan semua kilasan lalu dan itu sangat menguras tenaga. Menyedot segala energi di raga. Terkadang jika yang ingin ibu lihat begitu lama dan penting, ibu sampai muntah darah." Ucap Bu Sri.


" Benarkah?" Jackie membelalakkan matanya terkejut.


"Iya, tapi sekarang ibu sudah semakin tua. Ibu lebih memilih menyimpan tenaga ibu dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Tapi.... untuk kalian, ibu tak bisa terus-terusan diam." Bu Sri duduk di sofa di seberang Jackie.


"Terimakasih Bu. Demi kami ibu rela menguras tenaga ibu." Ucap Jackie.


"Tidak, jika hanya membukakan portal ke dimensi lalu untuk orang lain, ibu masih bisa dan tak begitu menguras tenaga. Tapi kamu yang terkuras tenaganya." Ucap Bu Sri.


" Ah, begitu?" Jackie merasa tenang setidaknya dia tidak membuat wanita renta itu kehabisan tenaga.


"Tapi Bu, aku juga merasa mual sekarang." Kata Jackie.


"Itu normal, tidak apa-apa." Jawab Bu Sri. "Minum tehmu dan segera temui istrimu." Kata Bu Sri.


Jackie terdiam dan masih berusaha menetralkan segala apa yang tengah dirasakannya setelah menembus ruang di masa lalu.


Di rumah sakit.


"Dok, apakah saya bisa pulang sekarang?" Tanya Ayana pada dokter saat melakukan kunjungan pasien.


"Belum Bu, tubuh ibu masih sangat lemah." Ucap dokter.


"Tapi Dok, suami saya...." Ucapan Ayana terpotong.


"Bu, sebenarnya apa yang ibu inginkan? jika ibu ingin janin ibu selamat maka saya mohon dengan sangat. Jangan ambil resiko apapun, kandungan ibu ini sangat lemah. Bercak darah kemarin itu adalah tanda akan betapa rentannya kehamilan ibu ini. Tolonglah kurangi segala aktivitas dan juga kontrol pikiran ibu agar tidak stress. Bagaimanapun, sekuat kami berusaha, tetapi... tetap saja yang bisa menguatkan ibu ya diri ibu sendiri." Kata sang dokter panjang lebar. Pasalnya sang dokter sudah terlampau gemas pada pasiennya ini yang terus merengek ingin segera pulang.


Ayana terdiam mencerna segala ucapan sang dokter dan terpaksa menerimanya tanpa mampu menolak.


"Saya permisi." Kata dokter yang berlalu setelah tugasnya selesai.


Ayana terdiam menatap nanar langit-langit, memikirkan dan mengira apa yang akan terjadi selanjutnya bila suaminya menemukannya dalam keadaan terbaring lemah begini.


JEGLEK!


Pintu terbuka dengan tiba-tiba tanpa ketukan dan salam. Ayana yang hampir terpejam kembali membuka matanya.


" Ay.......!" Panggil seseorang dengan suaranya yang bergetar.


Seseorang?


Siapakah orang tersebut?


a. Jackie.


b. Dita.


c. Shaga.


Coba tebak siapa?

__ADS_1


__ADS_2