Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
58. soto buatan Bu Sri.


__ADS_3

...🌿🌿🌻🌿🌿...



...🌿🌿🌻🌿🌿...


Pernahkah kalian merasakan kerinduan terhadap suasana atau tempat yang memiliki banyak cerita?


Ayana, dia merindukan kosannya yang lama, merindukan masakan Bu Sri, aroma khas perpaduan bumbu dan kuah kaldu yang begitu lembut dan menggoyang lidah.


Tiba-tiba saja bergelenyar pada masakan buatan Bu Sri. Lama semenjak dia menikah tak pernah sekalipun datang berkunjung. Bagaimana kabar wanita yang sudah menganggapnya sebagai anak itu?


"Hei! kenapa melamun?" Tanya Shaga yang masih berdiri di depannya dengan memberikan senyuman terbaiknya.


Ayana tertegun dan mengedipkan matanya beberapa kali mengusir lamunannya. " E... eoh, tidak. Hanya ingin makan soto." Celetuknya.


Shaga lalu tersenyum simpul ada ide cemerlang di kepalanya untuk memikat si wanita pemilik hatinya itu. " Soto ya? aku pandai membuat soto. Apa kau mau aku buatkan?" Tanyanya penuh pengharapan pada sahutan iya aku mau.


Tapi,....


Ayana berfikir cukup lama, dia menimang sesuatu yang bukanya tak mungkin untuk terjadi. Ayana takut akan membuat suaminya cemburu. "Ah, tidak usah repot-repot. Ibuku sudah membuatkannya untukku." Jawabnya dengan tersenyum ramah.


Pupus sudah harapanmu Shaga! Yang kau dambakan memiliki sejuta cara untuk menghindar.


"Kalau begitu aku permisi dulu ya. Oh ya pesan moccachino satu ya." Ujarnya sebelum pergi dan ingat akan kopi kesukaan suaminya.


Shaga mengira jika dia memesan kopi untuk dirinya sendiri. " Dengan senang hati." Jawabnya yang kemudian mulai meracik kopi seenak mungkin.


Kopi telah jadi dan diberikannya dengan rasa bangga dan menunggu pujian dari pelanggan tersayangnya. " ini."


"Terimakasih! suamiku pasti suka..." Kata Ayana sembari tersenyum senang. Benar-benar senang karena bisa membawakan sesuatu untuk suaminya.


Layu lah Shaga.


Dia pikir tadi untuk dirinya sendiri, tau begitu kan dia tak payah repot-repot meracik secara ekstra?


Ayana pergi setelah sebelumnya meninggalkan Shaga dengan senyumnya yang menghangatkan satu sisi di relung hati sang barista.


"Hemh... tak apa Shaga. Tak sekarang tapi nanti siapa tahu?" Gumamnya menaruh harapan.


Ayana berjalan dengan santainya memasuki lobi dan menaiki gift disambut oleh anggukan dan sapaan hormat dari para karyawannya.


"Selamat siang Bu!!" Seru Ratih yang dulunya merupakan teman satu kosannya.


Ayana menepuk pundak temannya itu. "Hei, berhenti meledekku!" Ujarnya mengugurkan ledekan Ratih.


"Ah, aku tidak pernah bermimpi seumur hidupku akan memiliki teman yang jadi istri bos besar di kantorku." Celetuknya membuat Ayana tersipu.


"Hei, jangan begitu. Apapun aku kau tetap temanku kan? Aku tidak lupa bagaimana dulu kita sering berbagi cerita." Kata Ayana.


"Aku suka ternyata kau dan Bu Dita orangnya sama-sama baik dan rendah hati. Oh astaga jika aku tau selera anak dari Armanto grup adalah sekretaris, maka aku akan menjadi sekretaris saja." Keluhnya dengan bibir yang mengerucut.


"Hei, hei apa kau lupa? kan masih ada Pak Alex." Kata Ayana asal.


"Dia? kemarin calonnya dibawa kemari seorang dokter. itu yang kudengar." Kata Ratih.


Ting!!

__ADS_1


lift terbuka.


"Ah, kita lanjut nanti lagi. Aku mau menyapa suamiku dulu." Ucap Ayana dengan senyum riangnya.


"Iya. Kapan kau mengunjungi Bu Sri? dia saring menanyakanmu!" Seru Ratih dari depan ruangannya.


"Sampaikan padanya, nanti malam aku akan menginap dirumahnya." Kata Ayana.


"Benarkah?" Ratih melompat senang lalu menghampiri Ayana dan memeluknya. Dia begitu senangnya mendengar hal ini.


"Ada apa ini? berisik!!" Tanya Jackie dengan nada bicara yang bisa dibilang tak begitu santai.


"Ah pak, maaf." Kata Ratih yang kemudian undur diri.


Ayana tersenyum manis Lely memberikan kopi milik Jackie. " Ini, untukmu!" Ujarnya lalu nyelonong masuk tanpa permisi.


Jackie mengekor di belakang Ayana dan menatap sesuatu yang janggal. "Ay, kenapa bokongmu terlihat lebih besar daripada biasanya?" Tanyanya tak mengindahkan rasa risih.


"Bokong?" lagi Ayana mengulang pertanyaan suaminya.


"hem!" Jackie mengangguk. "Dan semalam, dadamu juga terlihat lebih berisi." Lirihnya disebelah telinga istrinya.


DEG!!


Ayana. Dia lupa, bagaimana bisa menyembunyikan kehamilannya jika suaminya saja seperti tak ada jeda untuk menyetubuhinya. Perubahan kecil sudah pasti Jackie akan segera menyadarinya.


"A...h sa... yang. Ini karena aku sedang mendekati masa menstruasi." Ungkapnya berdalih menutupi kebohongannya.


"Oh, begitu ya?" Jackie hanya ber O ria. Dan mengangguk lalu duduk di sofa.


"Kemarilah!" Ujarnya menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya."Aku akan menunjukkan sesuatu." Ucap Jackie yang kemudian merogoh ponselnya.


"Iya sayang bagus. Bagus sekali." Jawab Ayana yang tangannya bergerak memindah menggeser gambar.


Apa yang ditunjukkan oleh Jackie sebenarnya malah mengiris lembut hati Ayana menjadi irisan tipis yang siap dilumat.


Betapa tidak?


gambar itu adalah gambar sebuah desain rumah yang besar lengkap dengan kamar bayi yang bernuansa pastel. Sejujurnya Ayana sangat suka.


Tapi, menilik lagi akan fonis dokter membuatnya hanya bisa menelan pahit kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


Jika aku mengatakannya sekarang, aku takut kau akan memintaku untuk menggugurkan kandunganku demi kesehatanku.


Tapi Jack, aku tidak mau menjadi ibu yang jahat yang membunuh anaknya sendiri.


Batin Ayana menangis pilu dalam hati.


"Em, nanti kamar anak kita disini." Jackie menunjuk gambar kamar yang bernuansa lembut.


Ayana hanya mengangguk.


"Lalu, kamar kita disini." Ucapnya lagi.


Ayana menatapnya lekat. " Kenapa banyak sekali kamar yang sama?" Tanyanya setelah mengamati beberapa kamar memiliki desain yang sama.


"Karena kita akan punya banyak anak nantinya. Aku ingin punya 5 anak. 2 lelaki dan 3 perempuan." Ujarnya.

__ADS_1


Ah, anganmu begitu tinggi akan anak anak kita.


Andaikan kau tau kemungkinan hidupku tak lama lagi...


Maafkan aku yang tak bisa memberikan banyak anak padamu.


"Sayang, jangan melamun!" Kata Jackie yang kemudian memeluk dan menempatkan kepalanya ke perut Ayana.


"Nanti disini dia akan tumbuh, dia pasti akan sangat mirip denganmu." Ucap Jackie menaruh keyakinan.


"Tidak dia akan sangat mirip denganmu. Dia anakmu." Sahut Ayana yang lupa jika kehamilannya sedang dirahasiakan. "Tapi nanti, belum sekarang." Katanya yang kemudian tersenyum simpul menutupi perihnya kenyataan.


Jackie menatap boneka yang Ayana bawa. " Sayang, boneka ini?"


"Iya ini hadiah undian tadi. Bagus kan?" Tanya Ayana.


Jackie tertawa renyah. " Itu terlalu bagus untuk hadiah undian! Apa kau tidak tau harganya?"


"Aku tidak perduli berapa pun harganya. Yang jelas aku dapat dari undian dan aku akan meletakkannya di kantormu!"


"Kenapa di kantorku?"


"Kenapa? biar kau selalu mengingatku sepanjang hidupmu!!" Kata Ayana.


"Ah, iya terserah kau saja." Jackie malas berdebat dan memilih untuk memejamkan matanya sejenak dalam pangkuan sang istri dengan mulutnya yang tak berhenti berkomat-kamit.


" Kamu kenapa?" Tanya Ayana saat melihat mulut suaminya yang bergerak-gerak.


Jackie meringis memamerkan giginya. " Aku berdoa semoga secepatnya ada dedek bayi disini."


"Iya, semoga." Jawab Ayana dengan tangannya yang mengusap lembut Surai sang suami dengan sayang.


...🌿🌿🌻🌿🌿 ...


Apa yang akan kau lakukan jika tau usiamu tidak akan lama lagi?


Jika kau orang baik, maka kau akan banyak-banyak berbuat baik agar bisa mengukir indah namamu di akhir cerita.


Tapi jika itu orang jahat, maka.... sudah pasti akan membuat banyak keributan yang mengakibatkan banyak nyawa berguguran, setidaknya tidak mati sendirian.


Yah, begitulah...


Ayana pun sama, dia manusia biasa yang ingin mengukur indah namanya di akhir cerita hidupnya. Dia tak lagi memusingkan masa lalunya.


Tak lagi dia bergelut dengan rasa ragunya terhadap suaminya.


Dia hanya fokus pada kesehatan janinnya dan mengabaikan dirinya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba mengajak menginap disini?" Tanya Jackie terheran Setelah menepikan mobilnya di depan rumah Bu Sri.


Ayana tersenyum senang. " Aku kangen masakan Ibu." Ujarnya yang kemudian turun dan disambut oleh pelukan hangat wanita paruh baya tersebut.


"Ibu kangen sekali nak sama kamu." Kamu sehat?" Tanyanya dengan mata yang berbinar.


Ayana mengangguk. Tapi sejenak kemudian Bu Sri menangkap hal aneh dalam diri Ayana. Sesuatu hal yang membuat Ayana bersedih.


Bu Sri menyimpan rasa ingin tahunya dan kembali memeluk erat putri angkatnya itu.

__ADS_1


Apakah yang dilihat Bu Sri?


__ADS_2