Hasrat 3 cinta

Hasrat 3 cinta
27. Wasiat Almarhum Pras.


__ADS_3


Hai sadboy... !


Gampang bet lu kurus? Baca novel doang bisa kurus?


Lah gue liat iklan Indomie aja bobot udah naek🤧🤧.


But, tetep enjoy this story ya. Jan lupa like, comment Dan juga masukkan ke daftar favorit. Okey!!


Dah lah love you all and happy redding!!


Sadboy, Thank you so much...☺️☺️.


Eh iya. Vote Jan lupa ya guys. Mimi lagi ikut event ini. siapa tau dapat nominasi kan lumayan bisa bagi bagi pulsa😁😁👍.


...🌹🌹🌹...


" Apa?" Jackie berbicara seolah menantang dan memancing emosi Ayana. Tangannya tak lepas dari rahang Ayana.


" Hidupmu ada ditanganku! berani kau menolak ajakanku untuk menikah, maka bersiaplah untuk mendekam di penjara. Atau yang lebih buruk lagi, aku akan membeberkan rahasia pernikahan sirimu dengan Gino!" Jackie menyeringai mengerikan.


" Bagaimana, alurnya cukup menarik bukan? aku tau kau suka tantangan dari semenjak kau berani menghancurkan rumah tangga orang lain." Ujar Jackie yang kemudian menghempaskan kuat-kuat rahang Ayana hingga terjerembab jatuh dan kembali bersimpuh di lantai dengan air matanya yang terus saja luruh.


Jackie pergi tanpa ada rasa iba sedikitpun. Menoleh pun tidak.


Jam makan siang, seperti biasa makan siang sudah Ayana siapkan dimeja atasannya juga calon suaminya. Ada lagi ulah Jackie, dia dengan tanpa persetujuan Ayana, telah mengumumkan kepada seluruh karyawan dan juga staf, beserta dewan direksi bahwa dia dan Ayana akan segera menikah.


Permintaan khusus dibuatnya dengan meminta Ayana untuk pindah menjadi satu ruang kerja dengannya. Pujian bertubi-tubi mendarat dan menyanjung namanya menggambarkan dia adalah sosok yang manis dan suami idaman kaum hawa. Bagaimana tidak, Dimata mereka Jackie terlihat seolah mengistimewakan Ayana dengan perlakuan khusus. Tapi nyatanya? Tidak! Tidak sama sekali. Tujuannya untuk menikah juga mengandung niatan terselubung.


Selesai menata makan siang Jackie, Ayana memutuskan untuk pergi ke atap gedung. Dia ingin menyendiri menumpahkan segala gundah dalam hatinya.


" Apa maksudmu dengan semua ini...!!" Teriak Ayana memaki udara di hadapannya. Angin yang bertiup kencang memudarkan gaungan suaranya.


Bersamaan dengan itu ada Gino yang rupanya semenjak pengumuman pernikahan adiknya dinyatakan didepan publik dan disebar secara online oleh sejumlah media masa membuatnya takut. Dia takut jika adiknya itu akan menyiksa mantan istrinya secara mental.


" Nana.." Lembut Gino memanggil nama yang dulu pernah mengisi relung jiwanya.


" Kak...?" Ayana menangis tersedu. Dia tak perduli lagi akan penampilannya. Tak perduli lagi dengan riasan yang kacau balau seperti terhempas badai pasang.


" Apakah benar apa yang Jackie bicarakan tadi? Kalian serius akan menikah?" Tanya Gino khawatir.


Ayana hanya mengangguk. Posisinya terjepit dia tak ada pilihan. Ingin mati saja rasanya tapi dia masih takut dosa.


Yang Gino tau perlakuan Jackie tak seburuk apa yang Ayana alami. Yang dia tau Jackie hanya bersikap dingin dengan Ayana. Ayana juga tak pernah bercerita tentang buruknya perlakuan Jackie padanya. Ayana hanya tak ingin membuat hubungan Kakak beradik itu semakin keruh dan rumit.


" Hei, jika berita itu benar. Lantas mengapa kau bersedih sekarang?"


Ayana menarik ujung bibirnya dan tersenyum simpul menyajikan kebahagiaan palsu. " Ini tangis kebahagiaan Kak tapi juga sekaligus sedih. Aku sedih karena teringat Bapak. Dulu aku selalu membayangkan menikah dengan Bapak sebagai waliku. Tapi kini Bapak sudah tidak ada." Bohongnya.


Jelas saja dia bersedih karena menikah dibawah tekanan tanpa keuntungan sepserpun. Jika didalam pernikahan kontrak, setidaknya ada nominal penyembuh lara, tapi dalam kasus Ayana dan Jackie ini berbeda. Dia hanya menebus kesalahan yang dia lakukan sekali dengan masa penebusan yang unlimited.


" Jangan bersedih, Bapak pasti sedang ikut bahagia disana Setelah mendengar kabar pernikahanmu." Ujar Gino menenagkan Ayana. Membesarkan hati wanita yang sejatinya sudah luluh lantah tak berbentuk. Gino mengusap lembut lengan Ayana seolah menyatakan Jangan bersedih Ayana, ada aku disini.


PROK...!


PROK....!


PROK...!


Suara tepuk tangan dari seseorang yang baru saja datang membuat keduanya tertegun. Jackie datang dengan bertepuk tangan seolah sedang merayakan sesuatu.


" Ouh...., so sweet!!" Jackie memasak air muka yang menyebalkan untuk dipandang. " Harmonis sekali hubungan kalian. Hubungan antara calon ipar."


" Wah, wah wah..., calon ipar..., atau mantan suami istri? ah~~~ aku sampai bingung harus menyebut apa?" Jackie semakin mendekat, dia berjalan sembari menggaruk ujung alisnya seakan benar-benar bingung.


Gino terdiam dan tangannya mengepal, Dia merasa tersinggung akan ucapan adik kandungnya barusan. Buku-buku tangannya memutih mengepal kuat menandakan ledakan emosi di dalam darahnya sebisa mungkin dia tahan.


" Calon istriku...! Rupanya kau disini? Sedari tadi aku mencarimu dan berkeliling kantin. Rupanya kalian berduaan disini. Apa aku menganggu kegiatan kalian?"


Ayana hanya menundukkan kepalanya dia menumpahkan segala umpatan dan makian dalam bentuk air mata. Sudah habis kosa kata untuk membalas setiap suara yang Jackie lontarkan.


" Kenapa diam? dan kenapa menangis? apa kau tidak suka dengan rencana pernikahan kita? Sayang sekali, jika benar begitu maka aku akan kecewa seumur hidup." Kata Jackie dengan entengnya.


" Tidak, aku hanya sedang rindu dengan Bapak." Sahut Ayana yang ingin meredam perang dingin antara Kakak beradik tersebut.


" Aku pergi dulu. Aku turut senang dengan pernikahan kalian." Getir rasa saat Gino berucap. Sebisa mungkin dia bersikap tenang di hadapan rivalnya.


" Hadirlah ya, jangan sampai tidak. Tak apa jika hadir sendirian tanpa pasangan. Aku rasa kau sudah cukup serakah dengan menikah sebanyak dua kali dalam satu waktu." Ucap Jackie menyinggung soal hubungan Ayana dan Gino yang terdahulu.

__ADS_1


Geram dengan celotehan Jackie, Gino lantas mencengkeram kerah baju Jackie. Ayana yang reflek langsung melerainya dengan berdiri di tengah-tengah dan memeluk Jackie.


" Sudah!!" Pekik Ayana kuat. " Jangan berkelahi!!"


" See! kau lihat? betapa dia teramat sangat mencintaiku?" Kata Jackie dengan satu tangannya yang merengkuh pinggang Ayana dan masuk kedalam dekapannya.


Gino geram dan memilih pergi daripada meladeni ejekan adiknya.


" Awas saja jika bajuku kotor terkena air mata dan ingusmu!" Ketus Jackie yang mendorong kasar Ayana hingga mundur beberapa langkah dan hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


" Berpakaian yang pantas nanti malam. Belilah baju baru untuk hadir dalam undangan Bunda." Ujar Jackie seraya membersihkan bajunya seolah jijik dan pergi melenggang begitu saja.


Gino berjalan dan kembali masuk kedalam ruangannya.


" Arghh....!" Dia mengerang marah dan meremas rambutnya.


" Kenapa dia suka sekali memancing emosiku? Apakah aku sudah salah dalam melepaskan Ayana dan merelakan mereka bersama?" Gino bermonolog.


Bukan perkataan Jackie yang merendahkan yang membuatnya marah sampai seperti ini. Tapi,


Gino sangat tidak suka saat melihat Jackie merengkuh pinggang mantan istrinya. Masih ada kecemburuan disana dan itu tersirat jelas dalam tatapan matanya.


Gino meminta Dita untuk masuk kedalam ruangannya. Dita datang beberapa sat kemudian dengan tergopoh-gopoh. Dia ikut panik saat nada bicara atasannya biru terdengar penuh afeksi.


" Permisi Pak, ada apa?" Dita tergugup karena mengira ada hal yang darurat.


" Duduk!" Titah atasan yang kemudian menunjuk kursi Yanga da diseberang meja kerjanya.


Gino menyandarkan kepalanya dan memijit pangkal hidungnya. Penat sangat dia sekarang ini. Hening beberapa saat, hingga Dita kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


" Ada apa ya Pak, saya sampai di panggil kemari?"


" Dit, Kamu kan tau bagaimana hubungan saya dan adik saya."


" Pak Jackie maksud anda?"


Gino mengangguk. " Aku bertanya dan jawablah menurut sisi berpikirmu. Menurutmu, apa yang membuat adikku itu masih bertahan membenciku setelah bertahun-tahun lamanya?"


Dita mengangkat sebelah alisnya. Dia baru paham ternyata kehadirannya adalah sebagai teman curhat. " Ada beberapa kemungkinan. Yang pertama, mungkin rasa sakitnya sangatlah dalam. Atau... Dia masih meragukan anda."


Sakit hati sudah pasti. Tapi soal meragukan, meragukan tentang apa? Gino penasaran.


" Meragukan apa maksudmu?"


Gino menggeleng. Memang hatinya masih sangat menyesali keputusan Ayana yang meminta cerai darinya.


Dita menghela nafasnya. " Pantas saja Pak Jackie bersikap seperti itu. Karena melihat anda yang masih memiliki rasa terhadap Ayana, dapat ditebak dengan mudah bahwa pak Jackie sengaja melakukan semua ini hanya untuk membalaskan sakit hatinya."


Gino mengangguk setelah mencerna perkataan Dita yang terdengar ada benarnya.


" Lalu aku harus apa, untuk mengakhiri sikapnya itu?"


" Ya, dengan menjalin hubungan yang serius. Semisal Bapak datang kerumah dan mengenalkan seorang wanita secara resmi dengan kedua orang tua anda." Solusi yang terdengar baik.


Hanya saja, masalahnya Gino tak memiliki wanita yang spesial saat ini. Semenjak bercerai, dirinya hanya fokus pada pekerjaan dan cara untuk bisa menebus kesalahannya yang telah merusak masa depan Ayana.


" Kau pernah pacaran?" Tanya Gino.


Dita mengangguk.


" Sekarang kau ada pacar?"


Dita menggeleng.


" Bagus!" Gino menjentikkan jarinya.


" Kau punya keinginan yang belum terwujud?"


" Banyak sekali Pak. Hanya saja saya tidak punya banyak uang. Apalah daya rakyat jelata, yang punya banyak rencana tapi minim harta?" Dita jujur.


" 500 juta mau?" Tanya Gino.


" Mau Pak, tapi masalahnya siapa yang mau kasih saya uang sebanyak itu?"Cicit Dita asal.


" Saya. Saya akan memberikan uang 500 juta untuk kerjasama kita."


Dita terkejut dan menampar pipinya sendiri dengan mulutnya yang terbuka nyaris mengeluarkan air liurnya.


" Bapak pasti bercanda kan?" Dita meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanya bualan.

__ADS_1


" Saya serius." Jawab Gino beriring dengan bunyi ponsel Dita menandakan ada pesan yang masuk. bunyi khas dari M-banking.


" Pak!!" Pekik Dita melihat jajaran nol bertambah di saldo rekeningnya.


" Anda serius?" Dita melongo tak percaya.


" Saya serius, itu uang mukanya. Sisanya akan saya kirimkan setelah pekerjaan beres. Hanya satu tahun kita menjalin hubungan sebagai pasangan pura-pura. Selebihnya mengenai poin perjanjian akan saya buat dan kamu harus setuju. Jika menolaknya maka kamu harus mengembalikan 10 persen dari nominal yang masuk di rekening mu." Kata Gino bernada ancaman.


" A.... Apa? Sepuluh persen? saya tidak mengira bila selama ini saya bekerja dengan rentenir." Dita bersusah payah menelan ludahnya sendiri.


Gino tertawa kecil menertawai cemoohan sekretaris kepercayaannya itu.


" Sudah sana keluarlah! aku akan menyusun poin perjanjian kita." Titahnya seenak hati setelah memaksa kehendak kepada Dita. Gino berdiri tanpa menatap Dita dan menghadap ke jendela luar.


Begini kira-kira ekspresi wajah si Gino. Memang mereka benar-benar Kakak adik yang solid. Tak diragukan lagi, keduanya memiliki darah yang sama, terbukti mereka memiliki kesamaan dalam memaksa dan menekan orang lain.



Dan yang ditekan dan mendapatkan sejumlah uang yang tak sedikit, begini ekspresinya.



Dita masih tidak percaya dengan apa yang baru saja disetujuinya.


...🍁🍁🍁...


...MAKAN MALAM....


Bunda Winda sudah bersiap menunggu kedatangan Jackie di sebuah restoran berkelas.


" Lama sekali mereka Yah?" Tanyanya pada Ayah Dhani yang duduk santai sembari memainkan game di ponselnya. Sungguh like father like son. Tak beda dengan anak-anaknya.


" Sabar Bun, mungkin sedang dijalan." Sahutnya.


Di perjalanan. Hening dan sepi di dalam mobil sedan sport hitam yang melaju kencang membelah jalanan. Jackie sama sekali tak memuji atau mengomentari penampilan Ayana. Dia hanya fokus ke jalanan.


Sesampainya di restoran.


" Gandeng lenganku!" Perintahnya mengawali pembicaraan.


" Ingat jangan hanya diam dan jawab dengan sebaik mungkin. Jangan lupakan wajah bahagiamu. Sekarang tunjukkan senyum terbaikmu!" Titahnya yang menelengkan kepalanya menunggu Ayana untuk tersenyum.


Ayana tersenyum dan sebisa mungkin menata hatinya yang tertekan. " Begini?" Ayana meminta penilaian Jackie.


" Coba lebih tulus!" Hardik Jackie dengan nada bicara menindas lawan.


" Begini?" Lagi Ayana memasang senyum terbaiknya.


Sial!! jangan tergoda Jackie!!


Kenapa senyumanmu begitu ampuh? Hanya seperti itu sudah mampu menyihir ku. Argh....! Jackie membatin gemas.


Mereka berjalan bersama dengan Ayana yang menempel seperti cicak di lengan kekar Jackie.


" Ah, Ayah...! Lihat mereka datang." Bunda sangat bersemangat menyambut calon menantunya.


" Aduh aduh aduh ..! Anak bunda sudah datang." Bunda memeluk Ayana dan Jackie bergantian.


" Kau cantik sekali sayang." Puji Bunda pada Ayana.


" Nyonya, nyonya juga sangat cantik." Ayana membalas pujian Bunda Winda.


" Sayang, panggil Bunda. Sebentar lagi kau juga kan menjadi anak Bunda, jadi jangan panggil nyonya." Bunda Winda sedikit kecewa dengan panggilan nyonya.


Ayana salah tingkah dan tersipu. Ya...., tentu saja dibuat buat.


" Ayana apa kabar?" Tanya Ayah Dhani dengan senyum ramahnya.


" Baik Tu... Eh Ayah.." Jawab Ayana dengan malu-malu.


" Ayo duduk!" Ayah mengajak calon menantunya untuk duduk.


Mereka saling berhadapan, dengan Ayana disamping Jackie dan bunda dan ayah Dhani yang berada di seberangnya. Mereka makan dengan khidmat dan sesekali terlontar candaan sekilas membahas kecil keduanya dan ...


" Aku sangat lega sekarang. Kita sudah menunaikan wasiat Almarhum Pras." Celetuk Ayah Dhani ditengah perbincangan ringan.


" Wa... wasiat apa Ayah?" Ayana melongo.


" Wasiat, untuk menjagamu. Bunda tidak menyangka jika putra Bunda yang tampan ini membantu meringankan kami untuk menunaikan wasiat dari almarhum Bapakkmu. Bunda senang sekali akhirnya bisa menemukanmu dan membawamu kembali keluarga kami." Kata Bunda.

__ADS_1


" Iya, ini merupakan bentuk tanggung jawab dan rasa terimakasih kami kepada mendiang Bapakmu Nak. Kalau bukan karena beliau, tidak mungkin Ayah akan berjodoh dengan wanita yang sesempurna Bundamu ini." Kata Ayah Dhani yang terdengar begitu manis.


Ayana terenyuh, rupanya tanpa sepengetahuannya Bapaknya telah menitipkannya kepada keluarga Armanto. Dan kini, takdir yang seakan menuntunnya kembali kedalam keluarga yang dahulu dengan susah payah ditinggalkannya. Inikah takdirnya?


__ADS_2