Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Butuh Teman Berbagi


__ADS_3

Waktu itu sudah lewat jam makan siang, tapi aku sedang tak selera dan masih serius menatap laptop di depanku.


"Pak, hampir jam satu."


"Saya tahu."


"Bapak ingin makan sesuatu?"


"Makanlah, saya tidak lapar," jawabku malas.


"Bapak sudah makan?"


Aku menggeleng. "Nanti saja."


"Bapak juga harus makan untuk menjaga kesehatan," katanya.


Aku menoleh dan menatapnya. "Baiklah, kita ke resto di seberang kantor."


"Kita?" perkataanku membuat pundaknya tegak, pupil matanya melebar dan alis matanya seketika mengerut.


Aku segera mematikan laptop, lalu mengambil jas yang tersampir di kursi. "Kamu bilang saya harus makan, kan? Ayo, pergi. Temani saya. Jangan terkejut begitu."

__ADS_1


Haddeh. Sampai aku sudah berada di luar ruangan pun, Jessy masih terpaku kebingungan. Aku tahu, karena selain sewaktu meeting, aku tidak pernah makan siang di luar bersama karyawan.


"Jadi pergi?" tanyaku, kembali menoleh ke dalam ruangan. "Atau kamu keberatan menemani saya?"


Dia mengangguk dan langsung berdiri. "Maaf, Pak. Saya tidak merasa keberatan."


Aku hanya mengangguk sekali dan berlalu dari ruangan itu. Kami pun segera menuju resto di seberang kantor dan memesan makan untuk masing-masing.


"Kamu pernah dikhianati?" tanyaku sambil menatap pepohonan yang terhampar indah usai menyesap kopi pesananku. Kunyalakan rokok dan membentuk bulatan-bulatan kecil di udara dengan asap rokok yang kuisap.


Jessy tertegun. "Maaf, Pak. Kok...?"


"Jawab saja. Pernah, tidak?"


Bagus, batinku. Aku bukan bermaksud bersyukur atas penderitaan yang pernah ia alami, hanya saja aku merasa setidaknya aku tidak sendiri, bahwa semua orang pernah dikhianati.


"Bagaimana rasanya?" tanyaku nelangsa. Seakan nikotin yang memasuki tubuhku tak bekerja optimal.


Jessy berdeham. "Maaf, Pak. Tapi...."


Aku tahu dia merasa aneh dengan obrolan ini, terlebih kami -- sebagai atasan dan sekretaris -- sama sekali tidak pernah membicarakan apa pun di luar pekerjaan, apalagi tentang hal-hal pribadi seperti ini.

__ADS_1


"Hari ini saya sedang stres. Kalau boleh, saya butuh teman berbagi."


Ekspresi Jessy bertambah tegang. "Oh," gumamnya.


"Saya berharap kamu bersedia."


Dia mengangguk dan menjawab diplomatis, kendati raut bingung dengan seribu tanda tanya melekat di wajahnya. "Baik, saya bersedia menjadi pendengar yang baik untuk Bapak. Anggap saja itu tugas tidak tertulis seorang sekretaris."


"Jadi, bagaimana rasanya?"


"Menurut saya tergantung, Pak. Emm--"


"Tergantung di mana?" potongku cepat, lalu aku tertawa.


Yeah, aku hanya berkelakar, tapi Jessy tidak tertawa, mata indahnya membulat. "Maksud saya tergantung siapa sosok yang mengkhianati kita. Kalau sekadar teman, sahabat, atau rekan kerja, saya merasa biasa saja. Saya pernah mengalami itu. Kita hanya perlu menjauh dari orang-orang yang seperti itu, saya rasa sudah cukup. Tidak ada gunanya menjadikan hal itu sebagai beban."


Aku manggut-manggut dan berhenti tertawa. "Bagaimana kalau yang berkhianat itu seorang pasangan? Orang terdekat kita, misal?"


"Tergantung juga, Pak. Seberapa besar perasaan kita terhadap pasangan kita itu. Kalau biasa saja, rasanya juga biasa saja. Tapi, kalau...."


Aku mengangkat alis. "Lanjutkan!"

__ADS_1


"Kalau kita sangat mencintainya... rasanya juga sangat sakit. Rasanya seperti ingin mati. Tapi itu hanya di awal, akhirnya kita malah justru akan menertawakan diri sendiri, sebab kemenangan mutlak milik dia yang mengkhianati kalau kita tidak berusaha bangkit. Maaf, itu pengalaman saya pribadi. Bukan bermaksud menghakimi mereka yang justru masih diam dan terus terpuruk."


Aku tersenyum. Aku suka dengan jawaban bijak yang ia tuturkan. "Menurutmu, kenapa mereka berkhianat?"


__ADS_2