
Well, hari itu, saat aku tiba dan bahkan sebelum aku berhenti, Stella telah berjalan keluar dari pintu depan. Ia mengenakan gaun tipis musim panas, tanpa lengan dan berpola bunga merah menyala. Gaun itu benar-benar pas dengan warna putih kulitnya, belum lagi kakinya. Ia naik ke mobilku dan menyatakan bahwa ia kelaparan.
"Sama kalau begitu," kataku.
Kami melaju ke restoran Stella di seberang kantorku. Aku sengaja, supaya terkesan pelit, sama sekali tidak royal terhadap seorang perempuan. Restoran itu tergolong kelas atas tapi tidak terlalu mewah, dan kurasa perpaduan taplak putih dan balok-balok kayunya memenuhi syarat untuk disebut sebagai keistimewaan tepi kota. Kami duduk di meja di ujung seberang, berdua -- untuk sementara.
Tempat itu separuh untuk pebisnis dan separuh untuk para wanita yang hendak makan siang. Sementara aku mengenakan setelan kaus santai dan Stella mengenakan gaun musim panas, gaya berbusana kami tampaknya telah saling melengkapi dengan baik. Tidak diragukan lagi, Stella memang wanita tercantik di restoran itu, dan banyak kepala para pria bersetelan bisnis yang menoleh mengonfirmasinya.
"Hai, Bro...," Raymond, si lajang petualang ranjang menyapa dengan riang. Ia datang bersama Roby dan Roy, dan gebetannya masing-masing.
Seketika itu juga Stella menatap kesal padaku. "Kamu undang mereka?"
Yap, aku sengaja mengajak teman-temanku untuk makan bersama kami. Aku tidak ingin hanya berduaan dengan Stella, dan itu membuatnya sedikit jengkel. "Aku masih suami orang. Tidak mungkin kita hanya berduaan. Iya, kan?"
Stella mengangguk tanpa bisa melanjutkan protesnya. "Oke, aku ngerti."
__ADS_1
"Santai, Stell. Kita hanya menemani Pak Bos."
"Banyak bacot, lu, Ray."
"Idiw... Pak Bos sensi amat."
"Ho'oh, belum juga jadi duda."
"Kenapa?"
"Nah, itu... sensinya udah kebangetan...."
Mereka tergelak. Aku pun langsung memanggil pramusaji.
"Mau pesan apa?"
__ADS_1
Stella mencondongkan tubuh di atas meja. "Kalau boleh aku mau pesan anggur. Apa kamu keberatan?" ia bertanya.
"Silakan," jawabku, sambil tersenyum. Sewaktu ia balas tersenyum, kuyakinkan dia, "Aku tidak masalah. Terserah padamu saja."
Dia tersenyum. "Bagus." Ia mengambil daftar menu anggur dan menyerahkannya padaku.
Aku menggeleng. "Tidak, silakan," kataku. "Kamu saja yang pesan."
"Oke." Stella menarik daftar anggur ke arahnya dan langsung menelusurkan jari telunjuk menuruni halamannya, lalu berhenti di bagian tengah dan menunjuk satu menu. Keputusan itu diambil dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Aku hanya memesan makan untuk santap siang dan jus jeruk, sama dengan yang lain, kecuali Raymond, dia juga memesan anggur seperti halnya Stella. Sebenarnya mereka pasangan serasi.
"Wanita yang tahu keinginannya," kataku, sementara si pramusaji mengangguk dan berjalan pergi.
Stella mengangkat bahu. "Paling tidak kalau mengenai anggur."
__ADS_1
Selanjutnya adalah obrolan santai, lebih tepatnya obrolan ranah kaum dewasa -- topik menarik dalam sendau gurau empat sahabat, di mana para wanita itu mendengar kami dengan antusias. Terlebih Stella, dia sangat antusias dengan topik panas percintaan lelaki tiga puluhan. Kuyakini itu mempengaruhi pikirannya -- plus pengaruh anggurnya, sehingga beberapa kali tangannya berada di atas pahaku. Aku tidak menggubrisnya, aku lebih tertarik mengamati taktik Raymond yang menyusupkan tangan ke hot pants teman wanitanya. Diam-diam aku memperhatiakan ekspresi wanita itu, ia terpengaruh dengan sentuhan tangan Raymond yang nakal.
Raymond, si petualang ranjang itu -- mutlak menang banyak.