Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Stella Again!


__ADS_3

Aku mengakui Stella cantik, bahkan sebanding dengan Rhea. Tapi jauh dari dasar hatiku, aku menyadari -- aku tidak punya perasaan apa pun terhadapnya. Ketertarikan itu hanya karena dia cantik, seksi, dan jelas hanya karena hasrat lelakiku. Sedangkan untuk hubungan yang lebih serius, aku mesti berpikir seribu kali untuk menikahi wanita seperti dia. Dia terlalu terbuka dan mengumbar tubuhnya.


Tapi saat ini, sekali lagi kata-kata gadis di dalam mimpiku itu mengingatkanku bahwa penting bagiku untuk tidak mengabaikan sosok perempuan yang ada di sekitarku. Jadi, baiklah, kujawab telepon dari Stella.


"Hai, Rangga," sapa Stella dari seberang sana saat aku menerima panggilan teleponnya. "Apa kabar?"


Aku dapat mendengar keraguan dalam suaranya begitu dia bicara. "Baik," kataku. "Kamu?"


"Aku... baik. Senang mendengar suaramu lagi."


"Em, ada apa?"


"Oh, kedengarannya kamu tidak suka?"


"Bukan begitu."


"Apa aku tidak boleh rindu?"


"Stell...."


"Kenapa? Kamu tidak merindukanku?"


"Kamu tahu itu."


"Oh, ya. Salahku bertanya."


"Jadi, ada apa?"


"Aku baru pulang dari Paris. Aku membelikanmu sesuatu."


Aku diam sejenak. "Sebenarnya tidak perlu repot-repot," kataku.


"Please, aku tahu kamu punya segalanya. Tapi bukankah tidak baik menolak pemberian dari seseorang?"

__ADS_1


Aku tersenyum geli. "Oh, bujukan ekstra."


"Ya, kuharap kamu tidak berlaku seperti pria sombong yang menolakku."


Sungguh aku ingin melakukan itu.


Tidak mendapatkan jawaban, dia kembali berkata, "Rangga, kamu masih di sana?"


"Ya."


"Please, sebentar saja."


"Entahlah...."


"Jangan menolak, oke?"


"Em."


"Kamu sudah berjanji untuk tidak mengabaikanku."


Kudengar dia mengembuskan napas dengan gelisah di ujung telepon. "Aku ingin bertemu denganmu."


"Oke, baiklah. Ingin bertemu di mana?"


"Rumahku. Kamu bisa datang?"


"Emm...."


"Please...? Aku mohon?"


"Ya, ya... baik."


"Bagus!"

__ADS_1


"Well, nanti sore. Aku masih banyak pekerjaan."


"Tidak masalah. Jadi -- hmm -- di rumahku."


"Oke, kurasa--"


"Kita makan malam bersama."


"Hah?"


"Jangan lupa, aku menunggumu."


Aku meringis di telepon. "Baiklah. Kita makan malam bersama."


"Bagus. Sampai jumpa."


Tut!


Stella memutuskan sambungan telepon. Kulempar ponselku ke sofa. Aku beranjak, masuk ke ruang pribadiku. Membaringkan tubuh di atas tempat tidur dan menaruh bantal di atas mataku yang berdenyut-denyut.


Uh! Kepalaku sakit.


Tapi tadi aku sudah kepalang janji, aku memilih untuk menepatinya. Aku pun datang ke rumah Stella untuk menemuinya. Setibanya di sana, pintu rumah itu dalam keadaan terbuka. Hari belum gelap, langit masih berwarna merah keemasan, senja yang indah. Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam sore.


Tapi sial. Rumah itu mewah, tetapi belnya rewel. Aku menyerukan nama Stella beberapa kali, pun tak ada jawaban. Rumah itu digemahi suara musik berbahasa Inggris yang aku sendiri tidak tahu lagu apa itu. Yang pasti terdengar sedih, seperti tentang kesendirian dan kesepian. Sudahlah, jangan ditanggapi. Aku bahkan bukan seorang pakar musik.


"Halo? Ada orang di sini?" seruku sambil melangkah masuk. "Halo? Ms. Stella?"


Aku kembali berseru, dan kali ini terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.


"Rangga? Kamu di sana?" terdengar suara dari puncak tangga.


Aku melihat ke atas. "Apa ada orang lain yang kamu tunggu? Kurasa itu bagus, aku bisa pulang."

__ADS_1


"Jahat sekali," sungutnya, dia merengut. "Jangan belagu seperti pria sombong di depanku."


Ia bergegas turun menghampiriku, menyambarku dengan pelukan super erat plus mengecup pipi. Oh, ini terlalu intim untuk ukuran seorang teman.


__ADS_2