
Mangsa...?
Aku yang tengah mabuk berat tak mampu menyangkal pikiran itu. Kupikir iya juga. Aku butuh tubuh untuk menyalurkan hasratku yang semakin menggebu.
Anggap saja ini pucuk dicinta, ulam pun tiba, Rangga. Dia atau Rhea, sama saja, kan? Sama-sama bukan istrimu. Lagipula, Rhea sudah dinikmati oleh lelaki lain. Kalau gadis ini, siapa yang tahu, mungkin dia masih perawan. Dan keperawanan itu untukmu. Rasakanlah manisnya. Ini suatu keberuntungan.
Argh! Hasrat di dalam jiwaku semakin merongrong. Aku tidak kuat menahannya.
"Panas...," gadis itu merintih. Sepertinya dia mabuk berat sampai tidak sanggup berdiri, bahkan sekadar untuk membuka mata. Tapi dia tidak pingsan. "Tolong...."
Tunggu apa lagi? Dia butuh bantuanmu. Kau membutuhkannya. Kalian dua tubuh yang bertemu untuk saling melengkapi. Ayo, Rangga.
"Baiklah, kamu yang datang, dan kamu yang butuh bantuanku." Kuhampiri dia lebih dekat, lalu aku berjongkok hendak menggendongnya. "Tunggu dulu," kataku pada diri sendiri. Kusibakkan rambut yang menutupi wajahnya, khawatir kalau-kalau ia bukan perempuan, tapi... ah, kau tahu maksudku. Dan jujur saja, aku tipe lelaki pemilih. Aku tahu kau juga mengerti maksudku yang ini. Aku hanya menginginkan wanita cantik. Jadi, aku harus memeriksa dan memastikannya lebih dulu. Kemudian...
__ADS_1
"Kamu?"
Oh, man. Gadisku. Iya, itu gadisku. Gadis yang beberapa kali datang ke dalam mimpiku.
Aku menyentuhnya, membelai wajahnya dengan jemariku -- memastikan kalau yang kualami saat ini adalah nyata. Dan aku merasa senang bukan kepalang, bak gersang yang disirami hujan. Tahu betapa senangnya?
"Aku tidak bermimpi, tidak sekadar berhalusinasi," gumamku.
Kubawa ia pulang ke rumah.
Di sepanjang jalan, ia tak henti meringis, panas katanya. Di dalam otakku, aku berpikir kalau dia bukan hanya sekadar mabuk, tapi juga di bawah pengaruh obat perangsan*. Tanpa kusadari -- sewaktu aku fokus mengebut di jalanan, rasa panas membuat ia menarik-narik paksa pakaiannya hingga semua kancing-kancingnya terlepas dan hampir tanggal. Bahu dan dadanya sudah terekspose sepenuhnya.
Ya ampun, dia sangat menggoda. Perpaduan cantik dan seksi yang sempurna. Melihatnya, membuatku semakin terbakar hasrat.
__ADS_1
Sebelum aku menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah -- tepatnya ke kamarku, aku melepaskan jasku dan menggunakan jas itu untuk menutupi dadanya yang nyaris polos. Aku tidak ingin tubuh cantik itu dilihat oleh orang lain. Hanya aku yang boleh melihatnya, pikirku. Dalam sekejap, secara tidak langsung aku mengikrarkan diri: akulah pemiliknya, dia milikku.
Sesampainya di kamar, dengan sangat lembut dan perlahan, kuturunkan ia ke tempat tidurku. Lalu menyibakkan rambut di seputar lehernya. Jelas, dia sangat tersiksa karena rasa panas yang membakarnya dari dalam.
"Panas...," rintihnya.
Aku refleks mendekat, lebih dekat. "Kamu benar-benar cantik," gumamku.
Gadis itu terus menggelia* pelan, menoleh ke kanan dan ke kiri seraya menyingkirkan jasku dari tubuhnya, lalu ia ingin melepaskan tangannya dari dress yang ia kenakan, namun ia kesulitan melakukan itu dalam keadaan terbaring. Ia kesulitan menarik pakaiannya yang tertindih.
Tanganku pun mulai lancang. Mula-mula membantu dia melepaskan dress-nya. Tapi...
Tidak tahan. Aku tidak tahan lagi!
__ADS_1