Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Rasa Yang Terbalas


__ADS_3

"Jadi, mau tanya apa?"


Aku berhenti tertawa, lalu berdeham untuk mulai serius. "Emm... aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi sungguh, aku merasa perasaanku ini nyata. Apa kamu merasakan hal yang sama? Walaupun sedikit, apa ada rasa untukku? Sedikit saja?"


Jujur, aku tidak sedang bermain-main, atau tidak sedang dalam keragu-raguan. Jauh di dasar hati aku merasakan apa yang tengah terjadi. Aku bisa merasakannya di mana-mana. Aku tergila-gila kepada Suci.


Dia mengangguk. "Aku... aku juga merasakannya. Tidak tahu, hanya perasaan sesaat atau hanya sekadar karena kenyamanan. Tapi...."


Aku mencium keningnya. Lama dan sepenuh hati. "Terima kasih, apa pun itu, masih banyak waktu untuk meyakinkan. Membuatmu bisa yakin sepenuhnya. Yang pasti, aku ingin bersamamu. Aku ingin memilikimu, seutuhnya."


"Memiliki? Sebagai apa?"


Tentu saja aku tidak mungkin mengatakan sebagai pacar mengingat statusku dan usiaku yang bukan ABG lagi.


"Aku ingin menikahimu. Menjadikan dirimu sebagai istriku. Say yes, please? Jadilah istriku. Please, Suci?"


Seketika semburat kemerahan muncul menghiasi pipinya. "Aku mau," katanya.


"Serius?"


"Em, aku serius. Aku mau jadi istri Mas Rangga."


"Trims." Kupeluk tubuhnya dengan erat, dan kuciumi keningnya sekali lagi.

__ADS_1


"Tapi nanti, ya, Mas. Aku bicarakan dulu pada orang tuaku... tentang... kamu, tentang kita. Oke?"


"O-ke. Bagaimana kalau aku langsung menemui mereka? Setidaknya berkenalan dulu."


Suci menggeleng. "Biar aku dulu yang bicara pada mereka. Setelah itu baru aku mempertemukan Mas dengan mereka. Beri aku waktu."


Kuhela napas dengan berat dan mengembuskannya perlahan. "Baiklah, kalau menurutmu itu yang terbaik."


"Terima kasih. Omong-omong, sekarang jam berapa?"


Aku melirik ke jam dinding. "Hampir jam delapan."


"Oh, ya ampun. Aku tidak pernah bangun sesiang ini." Dia segera duduk dan menahan selimut -- menutupi dadanya. "Aku lapar."


"Tidak usah. Nanti kita turun, kita makan di bawah, ya. Tapi aku mau mandi dulu."


Aku mengiyakan. "Baiklah. Ayo, kubantu ke kamar mandi."


"Oh, no. Biar aku mandi sendiri."


Aku menyeringai. "Kenapa? Malu? Aku kan sudah melihat semuanya. Kita bahkan...."


"Aku tahu. Kita sudah melakukan dosa itu. Tapi, terlepas kita melakukan itu dengan perasaan atau tidak, yang pasti aku melakukannya untuk membantu... Mas Rangga. Selebihnya, ingat, kita belum menikah. Kita bukan pasangan yang sah. Jadi... please... kamu keluar dulu."

__ADS_1


Yeah, mungkin kau menganggapnya sok suci seperti namanya. Tapi bagiku, dia adalah sosok gadis yang baik. "Baiklah. Aku menghormatimu." Aku mengecup keningnya sekali lagi, lalu berdiri. "Kamar mandi di sebelah kiri," kataku. "Jangan ke kanan, ada pecahan kaca. Nanti aku minta tolong Anne membersihkannya, dan sekalian membantumu mandi."


"Oke. Bisa tolong ambilkan pakaianku, Mas? Aku tidak tahu kamu meletakkannya di mana. Pasti di lantai."


Benar. Ada di lantai. "Biar kuambilkan pakaian ganti."


Dia mengangguk. "Maaf, sudah merepotkan."


Sambil memunguti pakaian di lantai, aku berkata, "Tidak, kok. Jangan sungkan begitu, ya. Kamu calon istriku. Belahan jiwaku. Tidak akan ada kata repot."


Lagi, dia tersenyum malu. "Kamu sangat manis."


"Yap. Hanya pada orang yang sangat aku sayangi. Kamu." Aku mengambil handuk, lalu membuka pintu. Tapi...


Aku tidak jadi keluar, tepatnya menunda. Kututup kembali pintu itu, seolah aku sudah keluar dari kamar. Aku ingin melihat Suci dan memastikan kalau ia bisa sampai ke kamar mandi dengan aman.


Sebelum beranjak dan keluar dari selimutnya, ia tersenyum, berseri-seri. Lalu bergumam, bukan -- dia berdoa -- doa yang menyentuh hatiku.


"Tolong, Tuhan, aku ingin bisa melihat lagi. Aku ingin melihatnya. Dan tolong, beri aku kesempatan memilih, dan menentukan masa depanku sendiri. Aamiin."


Aamiin, kuaminkan doanya dalam hati. Dia turun dari tempat tidur, lalu meraba-raba menuju kamar mandi. Dalam hati aku bertanya, apa maksud doa yang tadi ia panjatkan? Mau tidak mau, itu mengarahkan aku pada perjodohan Raymond dengan tunangannya yang katanya sekarang buta.


Tenang, Rangga. Sekalipun itu benar, Raymond sudah mencampakkannya. Dia sekarang milikku. Gadis sebaik dia tidak layak untuk lelaki seperti Raymond.

__ADS_1


Aku memang bukan lelaki yang baik, tapi aku mencintainya -- tanpa memandang keterbatasannya


__ADS_2