Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Pelampiasan


__ADS_3

"Maaf," katanya. "Aku tadi lupa membawa handuk." Dia berjalan melewatiku, sangat wangi. Dan sungguh menggoda.


Bagaikan ombak bergelora, hasratku bangkit. Tidak tahu bagaimana, aku mengikutinya. Keinginanku tak tertahankan, aku berdiri di belakangnya dan langsung menyentuhnya. Untuk sesaat, aku lupa kalau wanita itu adalah sosok istri yang telah mengkhianatiku dan sebentar lagi akan kuceraikan. Yang kutahu, tubuh polosnya saat itu membuatku bergairah. Gairah yang tak mampu lagi kutahan.


Sewaktu tanganku menyentuh dadanya, pinggulnya mulai bergerak seiring sentuhanku. Menikmati. Dan itu pasti nyata, pasti. Kenapa harus berpura-pura terhadapku?


Kemejaku pun tanggal. Celana panjangku turun. Aku berhenti sejenak sekadar untuk melepaskan *alamanku.


"Kamu merindukanku?" tanyanya.


Aku tidak menyahut. Rhea menarikku ke ranjang dan langsung menguasaiku di bawah kungkungannya, ia mengarahkan diriku masuk ke dalamnya. Dia lincah, seperti Rhea yang biasanya. Suasana panas, kami tidak berhenti sesaat pun. Kami seirama, selaras. Ia menyapukan rambut hitamnya yang indah di wajahku. Ia di atas, lalu di bawah, ia bertumpu pada kedua tangan dan lututnya. Lekuk punggungnya yang indah seiring dengan *rangannya, hingga ruang kamar utama itu menggemakan suara kami saat mencapai puncak.

__ADS_1


Selama dua menit penuh, kalau bukan lebih, kami berdua hanya menatap langit-langit, tidak mengatakan apa-apa, meredakan pernapasan. Lalu ia berguling dan menciumku.


"Aku ke kamar mandi dulu," kataku.


Aku pun bangkit, berjalan menuju wastafel, berkumur-kumur, dan mencipratkan air dingin ke wajahku. Kutatap diriku di cermin, lalu menyeringai, menertawai diri sendiri. "Masa bodohlah. Toh, dia masih istriku. Sebelum proses perceraianku selesai, aku berhak atas apa pun yang ingin kulakukan kepadanya. Aku tak melanggar komitmenku."


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Rhea masuk, masih dengan tubuh polosnya yang indah. Ketika aku berbalik, Rhea langsung mengambil posisi, dia duduk menekuk lutut di depanku. Jarinya mencengkeramku erat dan bergerak dengan lincah. Dan, aku mengeran* ketika ia merasakanku di bawah sana. Aku -- merasakan lidahnya yang lincah dan menyalurkan sensasi yang nikmat. Dalam sekejap aku kembali bergairah.


Menyadari itu, Rhea berdiri sambil tersenyum lebar dan tampak bahagia. Sungguh sulit ditolak. Ia menciumi dadaku, pipiku, bibirku. "Sekali lagi," katanya. Ia memutar-mutar bola mata dan mengubah wajah yang bisa memenangkan hatiku dalam situasi normal, dan ini jelas tidak normal.

__ADS_1


Yap, aku tidak akan melewatkan situasi menguntungkan ini. Kuangkat tubuh Rhea dan kududukkan ia di samping wastafel. Tak mampu kutahan, aku masuk -- melanjutkan permainan. Di wastafel itu, aku melakukan hubungan suami istri dengan calon mantan istriku dengan kasar. Tubuhnya sampai terguncang-guncang menerima hantamanku. Hasrat yang sudah seminggu lebih kutahan, kini tak terbendung.


"Faster!" jeritnya.


Dia memintaku untuk bergerak lebih cepat. Kulakukan. Aku tidak tahan, suara ah dan ha-ku beradu dengan Rhea.


"Oh, Babe... ke ranjang, please...."


Kenapa tidak? Kugendong dia bak koala yang menempel di dadaku. Kubawa dia ke ranjang dan kuhempaskan tubuhnya dengan kasar. Aku melompat, menindihnya dan kembali masuk dalam satu hunjaman cepat. Uh oh berlangsung cukup lama. Cukup lama hingga aku benar-benar merasa puas.


Yeah! Kugempur dia tanpa ampun. Sampai aku benar-benar puas. Tak bisa kupungkiri, aku senang -- hasratku sebagai lelaki sudah tersalur. Sudah terlampiaskan kepadanya.

__ADS_1


Well, toh dia masih istriku, kan?


__ADS_2