Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Pagi Yang Kikuk


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak."


Senyuman manis Jessy menyapaku saat aku memasuki ruang kerjaku, kendati dia agak terlihat kikuk. Pasti karena kejadian kemarin sore, pikirku. Dan ini untuk pertama kali terjadi hal seperti ini. Aku juga jadi ikut tidak tenang.


Sepanjang pagi, Jessy nampak gelisah. Tanpa aku melihat atau sekadar melirik, aku tahu Jessy memperhatikan dari balik monitor yang tak bisa menutupi seluruh wajahnya.


Entah kenapa, ada keinginan dalam hatiku untuk melihatnya. Dan itu benar kulakukan, Jessy langsung salah tingkah saat tertangkap basah mencuri pandang kepadaku. Saat mata kami beradu pandang, dia seperti orang keselek potongan es batu kecil, bisa lewat tapi tetap berasa.


Dia lucu sekali. Tingkahnya menggemaskan.


Ya ampun, Rangga. Sadar... jangan biarkan dirimu terhanyut dan terbawa perasaan. Dia sekretarismu. Dan ini hanya karena masalah kemarin sore.


Yap, aku tahu Jessy merasa tidak enak hati padaku, dia pasti merasa sangat bersalah.


"Kenapa?"


"Emm? Eee... anu, Pak."


"Mau menjelaskan soal... yang terjadi kemarin sore? Iya? Kamu mau minta maaf pada saya?"


Jessy menunduk, ia mengangguk malu. "Iya, Pak," akunya. "Saya minta maaf atas kejadian kemarin."


"It's ok."


Tapi Jessy tetap nampak berbeda. Ketenangan dan keceriaannya yang kulihat sehari-hari -- hari ini jelas tak tampak. Sirna. Ia seperti mentari yang tidak terbit, tidak memancarkan sinarnya yang hangat.


"Kamu ada masalah, Jess?"


Jessy menggeleng, tapi matanya mengiyakan pertanyaanku. "Tidak ada, Pak. Maaf."

__ADS_1


"Kamu tidak usah bohong. Tidak usah sungkan."


"Emm...."


"Ada apa? Cerita saja."


"Maaf, Pak."


"Tidak apa. Kamu kan juga pernah mendengarkan masalah saya."


Hmm... wajahnya tetap tertekuk sepuluh. Nampaknya dia punya masalah pribadi yang cukup rumit.


"Jess?"


"Eh? Ya, Pak."


Eh... Jessy malah jadi salah tingkah. Aku jadi ikut merasa tidak nyaman.


"Melihat wajahmu tegang begini, tidak enak, lo, Jess."


Hmm... dia menundukkan pandangan. "Maaf, Pak," katanya.


"Ya sudah, begini saja. Kita selesaikan dulu pekerjaan kita. Nanti, jam makan siang, kita makan siang di luar. Oke?"


Oh tanpa suara lolos dari bibir mungilnya yang manis. Pupil matanya pun melebar.


"Rileks," kataku.


Jessy mengangguk. "Ya, Pak. Saya... saya usahakan."

__ADS_1


"Apa saya harus keluar dulu? Atau saya masuk ke ruangan pribadi saya dulu? Kamu sepertinya tidak nyaman dengan keberadaan saya di sini."


Wow! Gelengan kepalanya kuat sekali. "Bukan begitu, Pak. Maaf. Bapak salah paham. Saya... saya hanya sedang tidak enak badan. Ya, saya... tidak enak badan."


"Lo? Kenapa kamu masuk kerja?"


Jujur saja aku ingin berdiri menghampirinya. Tapi tidak jadi. Kutahan dan kuingatkan diriku sendiri untuk menjaga batasan. Aku merasa, aku lebih baik masuk ke ruangan pribadiku, dan membiarkan Jessy sendirian. Mungkin dia butuh ruang untuk sendiri.


"Sebaiknya... saya masuk ke ruangan saya dulu, ya. Ketuk saja nanti kalau ada perlu."


Jessy pun mengangguk lemah. "Ya, Pak," sahutnya.


Tetapi...


Wuek!


Aku tertegun. Aku baru saja memegang gagang pintu ruangan pribadiku saat mendengar suara Jessy yang hendak muntah.


"Maaf, Pak."


"Kamu baik? Mau saya antar ke rumah sakit?


"Tidak usah, Pak. Saya hanya mual."


"Kalau kamu sakit, sebaiknya kamu pulang."


Dia menggeleng enggan. "Saya ke toilet dulu, Pak. Permisi."


Ah, gadis itu membuatku tidak tenang. Suara wuek-nya terdengar beberapa kali dari luar pintu toilet.

__ADS_1


__ADS_2