
"Biar Suci saja yang menyimpannya, Ma."
"Mama saja."
"Oh, oke."
"Sudah, kamu segera tidur, ya."
Ceklek! Cetek!
Pintu kamar Suci tertutup dan kembali terkunci.
"Mas, sudah aman," bisik Suci akhirnya. Aku pun keluar, dengan merengut. "Mas? Kamu masih di sini?"
Aku hanya berdeham, tidak menyahut.
"Kamu marah, ya?"
"Ini konyol," kataku. "Seperti anak kecil."
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud untuk...."
Hening.
Aku duduk berlipat tangan di kursi meja riasnya. Sementara Suci masih berdiri mematung lima langkah di depanku. Kasihan juga melihatnya terdiam seperti itu. Dia selalu bisa membuat hatiku luluh. Aku benar-benar seperti macan yang dijinakkan olehnya -- seorang pawang yang cantik.
Aku berdiri, meraihnya ke dalam pelukanku dan menyandarkan kepalanya di dadaku. "Maaf," kataku. "Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
Duh, tersiksa sekali rasanya, bicara saja mesti bisik-bisik menahan suara.
__ADS_1
"Jadi, sekarang bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?"
Suci menggeleng. "Mau tidak mau kamu harus keluar lewat pintu depan. Tapi nanti, ya. Tunggu semua orang tertidur. Aku tidak mau kalau ada orang yang melihatmu dan memergokimu keluar dari sini."
Sudah kuduga. Aku melepaskan Suci dari pelukanku, lalu beringsut dan menghempaskan diri ke tempat tidurnya. Pasrah.
Tapi sudahlah. Kukeluarkan ponselku dan mulai mengetik...
《 Kamu pulang saja dulu. Tapi stand by, ya. Kalau saya minta dijemput tengah malam, kamu harus segera menjemput saya.
Pesan whatsapp terkirim kepada Billy.
"Sini," kataku sambil menepuk-nepukkan tanganku di atas kasur.
Suci mengikuti instingnya dan berjalan maju, lalu duduk di sampingku.
"Jadi, selama menunggu sampai tengah malam, apa yang harus kita lakukan? Hmm?"
Aku meliriknya. "Vanilla hazelnut?"
"Ya, kesukaanmu, ya kan?"
"Kamu tahu dari mana?"
"Hanya beberapa hari bukan berarti aku tidak tahu apa-apa tentang kekasihku. Kalau soal pribadi, ya aku sengaja tidak bertanya. Takut kamu paranoid."
Paranoid. Bahkan dia sangat mengerti itu.
Aku bangkit, lalu berdiri dan turun dari ranjang, meminumnya sedikit dan mencicipi kue brownie dengan dua topping, ada yang topping cokelat dan ada yang topping taburan keju.
__ADS_1
"Kuenya enak," komentarku. "Tapi maaf, ya, jangan tersinggung. Bagaimana kamu bisa membuatnya sendiri?"
Yeah, dia tertawa. "Kan pake mixer, Mas. Bahannya tinggal dicampur-campur."
"Maksudku takarannya, Sayang."
"Kan ada si Mbok...."
"Yeee... itu namanya bukan bikin sendiri, tapi berdua."
Sekali lagi dia tertawa. "Iya, nanti kalau aku sudah bisa melihat lagi, aku buatkan khusus untukmu. Dengan tanganku sendiri, tanpa bantuan siap--pa...."
Dia berhenti berceloteh saat aku menyodorkan kue cokelat ke bibirnya, tidak masuk ke mulut, tapi cukup untuk menghiasi bibir manisnya dengan cokelat yang manis.
"Jahil...!" serunya, lalu ia menjilati cokelat di bibirnya. Tapi tidak bisa bersih seluruhnya. Karena itu...
Aku yang membersihkannya. Ha ha ha.
"Sudah bersih," kataku, setelah melepaskan bibirku yang baru saja menyapu bersih cokelat dari bibirnya.
Dia tersipu. "Dasar modus!"
"Ya," *esahku. "Aku merindukanmu."
"Sebanyak apa kamu merindukanku?"
"Sebanyak pasir di lautan," bisikku. "Banyak sekali."
Aku meraih Suci ke dalam pelukanku dan mendekapnya erat-erat. Suci membalas. Terasa hangat, dan sangat nyaman.
__ADS_1
"Aku juga sangat merindukanmu. Love you...."