Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Crazy Friends


__ADS_3

"Tapi, Pak...."


Aku mengangkat alis. "Kenapa?"


"Emm... ini Pak Rangga yang nanya, lo, ya. Kalau saya di posisi Bapak, maksud saya, kalau saya dikhianati oleh seseorang, secinta apa pun saya pada orang itu, saya tidak akan sudi lagi hidup dengan seorang pengkhianat. Jadi, saya akan memilih untuk berpisah, meski risikonya saya jadi seorang... maaf, janda. Tapi ini hanya pandangan saya secara pribadi, bukan bermaksud menggurui Bapak. Maaf."


Aku tertawa sumbang. "Kamu sadar tidak, hari ini kamu sudah berapa kali minta maaf pada saya?"


"Iya, Pak, maaf."


Kutahan bibirku supaya tidak menertawainya. "Jadi menurutmu, tidak apa-apa kalau saya menduda?"


Jessy mengangguk. "Emm... menurut saya iya, tidak apa-apa. Bapak kan masih muda, saran saya, eh, maaf, Pak, maaf, saya lancang."


"Tidak apa-apa. Silakan, apa saran darimu?"

__ADS_1


"Duh, maksud saya, bukan...."


"Katakan saja, Jess. Santai."


Dia mengangguk dan terlihat ragu-ragu. "Sekali lagi maaf, Pak. Saya cuma mau bilang, menurut saya Pak Rangga tidak perlu memusingkan masalah ini. Jalani saja, malah sebaiknya dinikmati. Bapak jadi punya kesempatan membujang lagi, kan? Pasti banyak perempuan yang mau PDKT dengan Pak Rangga. Nah, itu kesempatan untuk Bapak memilih pendamping baru, dengan seselektif mungkin. Harus super hati-hati. Jangan yang hanya Bapak cintai, tapi harus yang benar-benar mencintai Bapak juga."


Aku manggut-manggut. "Kamu benar. Saya harus mencari seseorang yang mencintai saya dengan tulus, seperti Mama Sania, ya kan?"


Jessy ikut mengangguk, dan seulas senyum tipis terukir di bibirnya. "Maaf, kalau saya terkesan lancang. Saya harap Bapak tidak tersinggung, ya, apalagi sampai memotong gaji saya."


Ck! Tawaku sampai kelepasan. "Mana mungkin saya potong gaji karyawan, Jess. Ada-ada saja kamu." Tawaku berganti senyuman hangat. "Sekali lagi terima kasih, kamu sudah bersedia menjadi pendengar yang baik."


Duh... lucu, ya, dia. Kenapa nggak jual pulsa aja?


"Woi!" seru Raymond, teman baikku di zaman kuliah. Ia datang bersama Roby dan Roy, teman baikku juga. Kami berempat teman satu geng, alasan pertemanan kami simpel, hanya karena sama-sama memiliki nama awalan R. Alasan yang tidak penting, tapi seperti itulah faktanya, huruf R yang mengikat dan mengeratkan hubungan. Meski saat ini status mereka adalah karyawanku, keakraban itu tidak pernah luruh.

__ADS_1


Dan, yap, kecanggungan terjadi, ketiga pria itu duduk di meja kami tanpa permisi, aku tidak heran karena begitulah mereka -- lebih tepatnya: begitulah kami.


Jessy yang merasa tidak nyaman atas bergabungnya ketiga pria itu di meja kami langsung menoleh ke arahku. "Boleh saya balik ke kantor duluan, Pak?"


Aku melirik ke makanannya yang belum habis, aku merasa tidak enak padanya dengan situasi ini, sudah membuatnya kelaparan dan harus membuatnya pergi sebelum kenyang. "Tidak apa-apa, kamu di sini saja. Habiskan dulu makananmu."


Dia mengangguk dengan terpaksa. Sejenak kemudian, aku melirik ketiga teman baikku itu -- isyarat: pindah ke meja lain.


"Nanti gue nyusul."


"Oouw... tumben. Ada apa gerangan?" cicit Raymond sembari berjalan ke meja lain.


"Lu juga... pindah sana!" kataku pada Roby yang pura-pura tidak mengerti.


"Apa, sih, Rang? Lu aja ke sana sama Ray, Roy. Biar gue di sini nemenin si sekretaris cantik."

__ADS_1


Eh?


Dasar, teman-temanku yang gila!


__ADS_2