Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Penyesalanku


__ADS_3

Rasa kesal membuatku tak terkendali. Bukan akhir seperti ini yang kuinginkan. Aku ingin menghabiskan malamku bersama gadis impianku itu, tapi keadaan malah membuatku kembali ke kamar dalam keadaan kesal. Dengan sesak, aku meraih sebotol anggur dan menenggaknya, hingga mengakibatkan wajahku memerah setelah menenggak minuman keras itu hampir setengah botol. Akibatnya, aku jadi sedikit mabuk.


Satu hal yang tidak kumengerti, Suci ingin aku memperjuangkannya, tapi ia sendiri tidak setuju dengan caraku.


"Perjuangan macam apa yang dia inginkan? Lari? Meninggalkan orang tuanya begitu saja? Mana mungkin. Apalagi mencari uang yang besar dengan kemampuannya sendiri, itu hal yang lebih mustahil. Kenapa kamu keras kepala?"


Dalam sekejap, botol anggur di tanganku melayang dan menghantam dinding. Pecah berserakan.


"Permisi," suara perempuan seiring ketukan di pintu menarik perhatianku.


Ceklek!


Pintu terbuka.


"Hallo, Sir," ucap karyawan hotel yang langsung kupotong dengan lambaian tangan. Ia pun langsung permisi dan melanjutkan pekerjaannya, meninggalkan Suci yang baru saja ia antarkan ke depan pintu kamarku.

__ADS_1


Kuhela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Ada apa?" tanyaku. Bau alkohol langsung menyengat.


Suci tidak menyahut, sebagai gantinya ia mengulurkan tangannya, menyodorkan cincin permata pemberianku. "Maaf, aku tidak bisa menjadi istrimu."


Seperti ada sesuatu yang keras menghantam jantungku. Aku murka. Tanpa sadar, aku memegangi kedua bahunya dengan kuat. "Apa yang kamu katakan? Heh? Kamu mau mengkhianatiku?"


Gadis itu bergidik ketakutan dengan mata terpejam. "Maaf, Mas. Aku tidak ingin merepotkanmu, apalagi merusak persahabatanmu dengan Mas Raymond. Hanya itu!"


"Omong kosong!"


Kalimat yang dilontarkan Suci memukulku dengan telak. Keras, menyakitkan, dan sama sekali tak terduga. Aku sama sekali tak membutuhkan waktu untuk mencerna ataupun mendengarkan dia menuturkan alasan-alasan berikutya. Aku langsung menyambar tubuhnya dan menariknya masuk ke dalam kamarku lalu menendang pintu hotel hingga tertutup di belakang kami.


Kulirik Suci yang masih meringis. Aku pun bangkit, kuraih tangannya dan *eremasnya lembut. "Aku sangat menyesal. Maafkan aku?"


Ia balas merema*. "Aku tahu," katanya lembut.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku."


"Mas...."


"Aku tidak ingin kehilangan lagi."


"Aku mengerti, tapi keadaan--"


Aku menariknya ke dalam pelukanku. Melingkarkan tanganku begitu erat ke tubuhnya dan satu tangan menangkup bagian belakang kepalanya. "Aku akan bayarkan semua hutang orang tuamu. Setelahnya terserah, sekalipun kamu ingin bekerja keras untuk mengembalikan uang itu padaku, terserah. Yang penting kamu tetap bersamaku. Please... jangan tinggalkan aku, ya? Aku mohon."


"Tapi hubunganmu--"


Aku menahan bibirnya dengan jariku. "Tidak akan terjadi apa-apa, Raymond pasti akan mengerti kalau aku mengajaknya bicara baik-baik. Dan mengenai uang itu, jika memang perlu -- kamu bisa menghabiskan seumur hidup menjadi sekretarisku, sampai kamu bosan sendiri dan memilih hidup hanya menjadi istriku. Aku tidak akan mempermasalahkan pelunasannya. Jadi, ini solusi terbaik, kan?"


"Em, tapi--"

__ADS_1


Tidak ada lagi kata-kata. Dia berhenti bicara dan menerima ciumanku sementara kaki kami melangkah ke tempat tidur. Aku akan kembali ke balik selimut bersama pengantinku.


"Bulan madu untukmu. I love you."


__ADS_2