Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Bercanda


__ADS_3

"Boleh saya petik satu?"


"Tentu saja, ayo. Kita ke beranda."


"Oh, kamar ini ada beranda pribadi?"


"Ya," kataku.


"Ini bukannya kamar tamu?"


"Bukan. Ini kamar saya, kamar utama."


"Ya ampun, Tuan. Kok?"


"Tidak apa-apa. Dari awal kamu saya bawa ke sini, kan?"


Seketika aku menyadari ucapan bodohku itu, dan aku langsung meminta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud mengingatkannya tentang malam terkutuk itu.


"Tidak apa-apa," katanya. "Jangan dibahas. Ayo, ke beranda." Dia mengulurkan tangannya.


Deg!


Ya ampun, uluran tangan itu padahal bukan apa-apa. Tapi aku merasa sangat senang. Aku merasa seperti sosok yang sangat dibutuhkan. Hatiku berdendang ria.


"Ayo." Aku menyambut tangannya, dan membimbingnya menuju beranda.


Menang banyak?


"Pasti tempat ini sangat indah," gumamnya.


"Ya, ada banyak pohon di halaman belakang."


"Waw! Sayang, saya tidak bisa melihatnya."


"Tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti."


Eh?


"Uuuh... apa itu maksudnya?"


Kutahan bibirku saat senyuman malu ingin mengembang di sana. "Bukan apa-apa. Maaf, ya."


"Hmm... kalau benar seperti yang Tuan katakan... berarti nanti ada tiga kemungkinan."

__ADS_1


Aku tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Kemungkinan yang pertama, mungkin saya jadi tawanan lagi."


Hmm... bercandamu tidak lucu, Sayang. "Janganlah. Jangan sampai."


"Ya, jangan kalau tawanan seperti--"


"Hu'um. Jangan."


"Kalau tawanan hati?" tanyanya.


"Tawanan hati?"


Dia tertawa sendiri. "Maaf. Saya hanya bercanda."


"Bisa jadi kalau kamu mau."


Dia tidak menyahut, hanya menyunggingkan sedikit senyuman.


"Kalau kemungkinan berikutnya?"


"Mungkin jadi tamu."


"Yap. Spesial, karetnya dua."


"Kamu lucu. Kenapa nggak jualan pulsa aja?"


"Garing!"


"Oke. Kemungkinan ke-tiga. Apa?"


Dia menggeleng. "Sudahlah. Bercandanya sudah tidak lucu, Tuan. Lupakan saja."


"Kamu mau menjadi nyonya di rumah ini? Nyonya Rangga?"


"Apa itu maksudnya? Tuan melamar saya?"


Nah, lo. Salahku masih melanjutkan obrolan itu. Aku diam, berpikir -- jawaban apa yang baiknya kututurkan.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, Tuan. Kita kan hanya bercanda, jangan dimasukkan ke dalam hati. Omong-omong, sepertinya ada banyak mawar yang mekar, ya? Wanginya luar biasa."


Kecanggungan terasa. "Ya," kataku. "Ada banyak. Mau saya petikkan?"

__ADS_1


"Tidak usah saja, Tuan. Sayang, nanti layu. Kalau boleh, bantu saya menyentuhnya saja."


Suci sudah mengangkat tangannya hendak meraba, tapi tiba-tiba ponselku berdering.


"Maaf," kataku. "Saya harus...."


"Tidak apa-apa. Tuan angkat saja teleponnya."


"Ya, sebentar. Kamu jangan bergerak. Bahaya, nanti jatuh."


Aku pun menerima telepon dari Raymond dan masuk ke dalam. Dan, yap, bukan sesuatu yang penting, dia hanya menanyakan ketiga sahabatnya yang tak satu pun datang ke kantor.


"Gue sih tadi ke kantor, Roby juga."


"Sekarang lu di mana?"


"Gue udah pulang. Sekarang gue di rumah."


"Roby di situ? Gue ke situ juga, ya?"


"No, no, no. Jangan."


"Ya elaaa...."


"Gue sibuk, Ray."


"Sibuk apa, sih?"


"Dasar kepo. Lagipula Roby nggak ada di sini. Sudah, ya. Bye...."


Tut!


Aku lekas kembali ke beranda. Dan...


"Kamu kenapa?" tanyaku.


Suci tidak menyahut. Dia sedang memegangi jarinya. Menekannya kuat-kuat, mungkin untuk meredam rasa sakit.


"Kamu luka?"


Dia mengangguk. "Sedikit, terkena duri."


"Ya ampun, kamu ini. Kan bisa tunggu saya."

__ADS_1


Refleks, aku menarik tangannya dan mengisap darah di lukanya. Di saat itulah, kami sama-sama menyadari ada keanehan yang terjadi.


__ADS_2