
"Aku tergila-gila pada sentuhanmu. Kuharap, ini berarti kita sedang melakukan pemanasan untuk segera ke ranjang."
Aku mengangguk. "Well, kamu punya obat?"
"Tentu saja. Mau kuambilkan?"
"Hm, kita membutuhkan itu."
"Baiklah. Akan kuambilkan."
《 Di lantai atas. 15 menit dari sekarang. Stand by.
"Ini." Stella menyodorkan obat penambah stamina itu kepadaku.
Kusambut obat itu dan aku langsung membukanya. "Ini, minumlah. Untuklah malam yang panjang."
"Lo, ini untukmu. Aku tidak membutuhkan ini."
Aku menggeleng. "Kamu juga butuh ini, aku tidak suka lawan yang tidak seimbang."
"Tidak perlu khawatir, aku mampu."
"Baiklah, sepertinya kamu menolak--"
"Baiklah-baiklah, aku mau."
"Bagus, aku suka pasangan yang menurut. Manis sekali."
Tanpa rasa curiga, Stella menelan obatnya. "Sekarang giliranmu."
"Jangan terburu-buru, Sayang. Aku akan meminumnya di atas." Kumasukkan obat itu ke saku celanaku. "Dan sekarang...." Aku menggendong tubuh seksi itu dengan lenganku yang kekar. "Tunjukkan jalannya, di mana kamar pengantin kita?"
Stella tersipu malu. "Ah, sungguh manis," katanya.
Kami melewati tangga dan langsung menuju kamar. Di dalam sana, ranjang besar dan empuk menjanjikan kenikmatan. Kuturunkan wanita cantik di gendonganku itu dengan sangat lembut, dan dalam sekejap aku sudah berada di atas tubuhnya.
Kau yakin tidak ingin menikmati tubuh seksi ini, Rangga? Kau bisa memulainya.
__ADS_1
"Kenapa? Jangan bilang kamu akan berubah pikiran."
Sedikit senyum mengembang. "Tentu tidak, kita sudah menunggu lama untuk ini. Aku tidak akan mundur lagi."
"Kalau begitu...." Stella membuka kancing kemejaku. Yap, terlepas. Lalu ke celanaku.
Aku menegakkan bahu. "Biar aku saja," kataku. "Tapi sebelum itu...." Aku menarik tubuh Stella bangkit, dan memutar tanganku ke belakang punggungnya -- melepaskan pengait bra yang menutupi dadanya. Lagi, terlepas.
Butuh sedikit pemanasan sambil menunggu obatnya berpengaruh. Tanganku harus sedikit bekerja. "Kamu suka ini? Hmm?" aku berbisik pelan di telinganya.
"Em, tanganmu sangat pas dengan ukuranku."
"Bagaimana dengan kekuatanku?"
"Super. Aku suka."
"Well, sebaiknya kita mulai."
Aku bangkit, menarik *elana *alam itu dan melemparnya ke lantai. Lalu berdiri, menatap tubuh polos yang kini sudah terbaring.
"Ayo."
"Em, panas dan menyiksa. Aku tidak tahan lagi."
Obat itu sudah bekerja. Stella mulai gelisah, kedua kakinya terbuka lebar dengan lutut terlipat ke atas.
"Say please. Memohonlah padaku."
Dia merengek, "Rangga... jangan menyiksaku... aku sudah tidak tahan... please... masuklah. Bercintalah denganku. Aku mohon, Rangga, please...?"
Ini saatnya.
"Billy!"
Dengan satu panggilan, Billy dan tim kesebelasan siap membobol gawang.
"Apa ini? Siapa mereka?" suara tersengal itu terdengar semakin seksi. Ia turun dari ranjang dan hendak menghampiriku, tapi tertahan.
__ADS_1
Aku tertawa licik dan mengenakan kembali pakaianku. "Aku tidak sudi menyentuh perempuan sepertimu."
Dia menggeleng. "Tapi tidak begini caranya. Kamu jahat!"
"Oh, dengan diam-diam memasukkan obat perangsan* ke dalam minumanku, apa itu tidak jahat? Hmm? Kamu ingin menjebakku, ya kan? Aku tahu kamu sedang hamil."
Dia tertegun. "Aku... tidak. Kamu salah paham."
"Jangan bohong!"
"Sungguh...."
"Ssst... sudahlah. Sebaiknya nikmati ini. Mereka semua bisa memuaskanmu. *afsumu akan terpenuhi."
Stella semakin tersiksa dengan rasa inginnya. "Rangga, please... aku ingin kamu. Akh.... tolong...."
Jangan harap. "Ingat, jangan kasar dan jangan ada kekerasan, dia sedang hamil. Dan, jangan sentuh kecuali dia sendiri yang meminta. Biarkan dia yang memilih siapa yang dia mau di antara kalian. Paham?"
"Paham, Tuan!"
"Kalian semua tidak ada yang memakai obat?"
"Tidak. Sesuai perintah."
"Bagus. Eksekusi sekarang!"
"Siap!"
Aku mengangguk. "Bill, pastikan semuanya beres. Bawa videonya jika sudah selesai."
"Siap, Tuan."
Aku melirik Stella sejenak, dia menatapku nanar. Salahmu sendiri berani bermain-main denganku. Selamat menikmati.
Ceklek!
Dalam sekejap pintu tertutup di belakangku. Aku melangkah pergi.
__ADS_1
"Billy, aku ingin main denganmu! Kemari!"