Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Berbaikan


__ADS_3

Yeah. Aku tahu masih ada sesuatu yang ia simpan sendiri di kepalanya yang keras itu. Tapi tidak baik bagiku untuk memaksakan keadaan. Aku tidak ingin kelunakannya kembali menegang.


"Sayang?"


"Emm?"


"Cieee... yang sudah mau dipanggil sayang."


Aku tertawa sedikit, sementara ia mencebik. "Jangan meledekku," rengeknya manja.


"Iya, iya," kataku seraya menariknya ke dalam dekapanku. Aku bersedia jika aku harus terus mengalah padanya. "Aku mau menanyakan sesuatu. Kamu... apa kamu tahu siapa orang yang mengancammu itu?"


Dia menggeleng. "Aku tidak tahu. Waktu itu perban mataku belum dilepas. Tapi...."


"Tapi, apa?"


"Aku mengenali suaranya."


"Siapa?"

__ADS_1


"Aku tidak berani menyebutnya, Mas. Aku takut salah orang."


"Please, katakan saja. Menurut instingmu, siapa orang itu?"


Dia mendongak menatapku. "Apa kamu akan membunuhnya? Aku tidak akan memberitahumu kalau kamu berniat membunuh orang." Lalu ia seakan teringat kejadian semalam. "Oh, ya ampun. Aku... aku menusuk orang semalam. Dia tidak mati, kan?"


Aku balas menatapnya. Aku bisa melihat dengan jelas tanda tanya tergambar jelas di kedua matanya yang cokelat. Di saat itulah aku bingung, harus menjawab jujur atau berbohong?


"Tidak. Anak buahku sudah mengirimnya ke penjara," kataku, aku terpaksa berbohong -- demi kebaikan Suci. Dia tidak boleh tertekan oleh perasaan bersalahnya kalau dia tahu fakta sebenarnya.


Suci mengembuskan napas lega. "Syukurlah dia tidak mati. Kukira aku sudah menjadi seorang pembunuh."


"Aku mau pulang."


"Katakan dulu siapa orangnya?"


"Mas...."


"Hanya untuk berjaga-jaga."

__ADS_1


"Oke. Tapi kamu janji, jangan bunuh dia?"


Hmm... lagi-lagi aku tidak punya pilihan dan harus mengangguk. "Aku janji," kataku. Aku tahu aku tidak sungguh-sungguh mengucapkannya. Aku berdusta hanya untuk mengetahui nama pria itu.


Suci berdeham, lalu menundukkan kepalanya sesaat. "Aku tidak tahu instingku benar atau tidak. Tapi... kalau aku tidak salah, itu suara...."


Roy.


Itu -- nama yang dicetuskan Suci berdasarkan instingnya mengenali suara lelaki yang mengancamnya selepas ia operasi mata di Singapura. Sebelumnya Roy pernah menjenguknya dua kali sewaktu ia kecelakaan dulu. Dan itu sudah cukup bagi Suci untuk mengenali suaranya.


Tentang itu, aku tidak terlalu terkejut mengingat kedekatan Roy dengan Stella. Tapi dia sahabatku. Apa mungkin?


Selain karena dia sahabatku yang membuatku merasa berat menerima kenyataan -- memang petunjuk-petunjuk itu mengarahkan pada sosok Roy dan bisa diterka. Tapi apa buktinya? Aku tidak punya bukti kuat untuk meringkusnya. Bukan, bukan untuk membunuhnya, bahkan tanpa berjanji pada Suci pun, aku tidak akan membunuh Roy. Kami sudah bersahabat baik lebih dari lima belas tahun. Aku tidak ingin hanya karena Stella -- persahabatan kami hancur. Sudah cukup urusan dengan Raymond demi memiliki Suci, hubunganku dengan Roy harus membaik seperti hubunganku dan Roby yang sempat terpecik api karena adanya Jessy di antara kami. Mereka semua sahabatku, dan aku tidak pernah berniat mengusik kehidupan percintaan mereka. Semua terjadi di luar niatku, tanpa kesengajaan.


Huh! Pusing!


"Aku mau mandi," kata Suci, menyadarkanku dari lamunan. Kami sudah pulang, dan dia baru saja keluar dari kamarnya dengan handuk dan pakaian ganti yang tersampir di lengannya.


Aku berdiri dan berjalan menghampirinya. "Aku juga mau mandi," bisikku seraya memeluk pinggangnya. "Mandi bersamaku, ya?"

__ADS_1


__ADS_2