
Aku menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuan kedua lelaki yang dikenal buaya darat itu. Bagus Roy sedikit agak normal dibandingkan mereka berdua. Setidaknya, aku tidak beda sendiri. Yeah, aku memang ganas di ranjang, tapi hanya pada Rhea. Dan, setelah ini...
Ah, terlalu jauh pikiranku. Ingat, ya, Rangga. Kau baru itu calon duda. Jangan berpikir terlalu jauh!
"Eh, Ngga. Tumben lu makan bareng sama sekretaris? Nggak takut si Rhea cemburu? Cewek kan biasanya cemburuan."
Aku melirik malas -- sesaat -- ke arah Roby yang tiba-tiba bertanya, lalu mengalihkan lagi matakuĀ ke layar ponsel yang gelap, tidak menampilkan apa pun.
"Lu ada masalah, ya?" tanya Roy, ikut menimbrung.
Aku mengangguk. "Gue mau cerai," sahutku lemah.
Roby dan Roy saling bertukar pandang, pun Raymond yang mendadak mengalihkan perhatiannya dari si pelayan cantik. Tentu, ini berita yang sedikit mengejutkan bagi mereka -- mengingat hubunganku dan Rhea yang harmonis selama lima tahun, tidak ada pertengkaran selain satu kali yang menyebabkan Rhea resign dari pekerjaannya.
Roy menegakkan bahu. "Kenapa?" tanyanya lagi. "Gue tahu persis gimana lu, nggak mungkin lu nyerein bini lu kalau bukan karena hal serius. Gue tahu lu cinta banget sama doi. Apa...?"
"Rhea se...?" Raymond ingin melanjutkan, tapi kurasa dia tidak tega mencetuskan dugaannya.
__ADS_1
Aku *endesah. Mereka mengenalku terlalu baik. "Rhea selingkuh, dengan mantan pacarnya. Biktor."
Suasana di meja mendadak sunyi. Sekian detik kemudian, Roy menepuk pelan bahuku. "Sabar, Sob. Gue ikut prihatin."
"Sudahlah, tidak usah dibahas," kataku. Aku berusaha menutupi kerapuhanku.
Kami berempat pun lanjut bercakap-cakap mengenai pekerjaan, karena kami sudah cukup lama berteman -- tepatnya bersahabat, sehingga kami tidak akan membiarkan momen-momen kikuk menghalangi kami. Hingga beberapa menit kemudian...
"Omong-omong soal perceraian, mending entar-entar aja, Ngga," kata Raymond tiba-tiba. "Nikmati saja dulu sampai puas. Nanti, kalau lu sudah bosan, terus sudah punya ganti, baru deh lu buang. Bagus, kan?"
Ck! Mereka ngakak. Mereka itu benar-benar teman sialan.
Aku menggeleng keheranan. "Otak kalian itu isinya ranjang terus, ya. Udah bener-bener kita bahas soal pekerjaan, malah balik lagi ke ranjang."
"Haha! Obrolan soal ranjang kan memang topik paling seru, Ngga."
"Terserah lu, Rob! Sama aja lu kayak Raymond. Otak mesum!"
__ADS_1
"Mumpung masih muda, gue sarankan, lu nikmati saja dulu waktu lu yang sekarang."
Aku menggeleng. "Dasar, berengsek kalian!"
Kami pun saling bersahut dalam canda tawa, kendati aku tidak suka topik obrolannya, walau sejatinya aku sudah sangat terbiasa menghadapi kegilaan mereka.
"Hai, Stell!" Raymond berseru keras pada orang yang berdiri di depan kasir.
Dia Stella, wanita cantik, muda dan seksi -- ia balas menyapa Raymond. Dan, ya, dia pemilik resto itu yang ternyata cukup akrab dengan Raymond.
Berani taruhan, aku yakin Raymond pasti sudah pernah mengarungi malam yang panjang bersamanya. Setidaknya sekali. Tapi tidak, kurasa sudah berkali-kali.
"Kenalkan, ini Bos gue, Rangga Sanjaya, calon duda."
Cih! Berengsek!
Sialan! Kenapa gue yang jadi kena? Keterlaluan, lu, Ray....
__ADS_1