Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Hanya Permainan


__ADS_3

《 Sure. Kamu ada di rumah? Aku segera ke sana. Berdandanlah yang cantik. Sambut aku dengan kehangatan. Kamu tahu, aku sangat tidak sabar bertemu denganmu. Dan, yeah, aku kedinginan selepas hujan. Kamu mau menjadi penghangatku. Aku membutuhkanmu.


》 Yeah!


》 Tentu saja.


》 Aku tidak akan mengecewakanmu.


》 Cepatlah datang.


Yap! Saatnya pertunjukan. Mobilku berbelok meninggalkan gedung perkantoran, lalu melaju sepanjang jalan raya, dan akhirnya tiba di kawasan rumah elite tempat di mana Stella menempati rumah mewah miliknya. Sori, kuralat -- rumah warisan dari mendiang suaminya. Dan seperti waktu itu, pintu rumah itu terbuka dan aku langsung masuk, lalu menyerukan namanya.


Dengan lincah, wanita cantik yang super seksi itu bergegas turun dari tangga lantai atas dan melompat ke dalam pelukanku. Aku merengkuh tubuhnya dengan erat, lalu memutar-mutarnya sementara kami berciuman selama semenit penuh. Lalu, kembali berciuman.


"Astaga, kamu sangat cantik!" kataku sambil menurunkannya kembali ke lantai.


Dengan main-main, Stella menonjok perutku dengan tangan kiri. "Berani taruhan, itulah yang kamu katakan kepada mantan istrimu dulu," katanya.


"Ya, kuakui. Tapi masa lalu sudah berlalu, bukan? Sekarang, aku bersamamu. Aku sangat merindukanmu."


Stella memegangi kedua pipinya dengan mulut membulat dan pupil mata yang melebar. "Waw! Aku mendengar seorang Rangga Sanjaya mengatakan kalimat semanis itu kepadaku?"


"Kenapa tidak? Kamu cantik, seksi dan menggairahkan. Sosok yang pantas untuk dirindukan."


Sungguh, ia nampak begitu bahagia. Tangannya yang tadi menempel di pipi kini memeluk pinggangku. "Aku juga merindukanmu."

__ADS_1


Kami tertawa dan kembali berciuman, dalam dan penuh gairah. Stella terbuai. Atau aku...?


Entahlah. Tapi aku dengan mudah bisa membawanya ke sofa dan melepaskan gaunnya, termasuk semua pakaian dalamnya. "Sempurna," kataku.


Dia tersenyum, dengan matanya yang berbinar. "Sudah tidak ada penghalang lagi, kan?"


"Tentu. Kita sama-sama single."


"Ah, betapa senangnya aku mendengar itu."


"Jadi... kita mulai sekarang?"


Dering ponselku menyela.


"Tentu saja tidak."


"Bagus."


"Mmm-hmm. Tubuhmu lebih penting daripada telepon itu. Apa yang ada di depan mataku ini sangat menarik dan menggairahkan."


Dia mendelik gemas. "Dasar gombal!"


Lagi-lagi kami tertawa sejenak sebelum suara yang menggema itu kembali terbungkam dalam panasnya ciuman. Stella *endesah tak tertahan hanya dengan sentuhan tanganku pada dadanya yang kenyal, lalu ia mulai menggelia* saat jemariku mengelus kelembutan di antara pahanya. Tak kuberikan dia kesempatan berhenti *elenguh dan mengagungkan namaku dalam setiap *esahan.


"Please... masuk sekarang... aku tidak tahan...."

__ADS_1


Aku tersenyum. "O ya?" kataku seraya membenamkan jariku kuat-kuat.


Stella meringis, "Rangga... aku mau kamu...."


"Mmm-hmm?"


Jariku terus bergerak keluar masuk, Stella semakin tak bisa menahan *asratnya. Sesekali kuhentakkan tanganku, membuatnya ikut tersentak hingga beberapa kali kepalanya mendongak.


"Akh! Ukh! Rangga... please...."


Aku berhenti, dan kutarik dia bangkit. "Aku lapar. Beri aku makan dulu, baru kita lanjutkan babak berikutnya."


"Ih, tanggung!"


Hah! Kasihan sekali. "Ayolah... lagipula aku tidak suka permainan yang sebentar. Setelah makan...."


"Eummm... Uuuh...."


Dia *elenguh mendapatkan satu gigitan dan *sapan lembut di bahu. "Kamu mau, kan, bermain lama-lama hingga puas?"


"Eum, yah," napasnya tersengal. Dia terlihat semakin seksi.


Well, Stella bangkit dari sofa dan malakukan tugasnya dengan baik. Memasak untukku. Dia seperti kucing yang penurut. Manis sekali.


《 Stand by, Billy.

__ADS_1


__ADS_2