Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Kekhilafan


__ADS_3

"Gue bisa berubah, Man," kata Roby tiba-tiba, seakan dia tahu apa yang baru saja kupikirkan. "Gue tahu, kok. Lu heran, kan, waktu tempo hari di kandang kuda gue nggak ikut main?"


Aku menolehnya sekilas. "Mending langsung lu jelasin. Kenapa?"


"Itu gue baru tahu hasil pemeriksaan gue dua hari sebelumnya. Gue merasa itu hukuman. Tuhan sedang menghukum gue. Kebebasan gue selama ini, itu tidak seharusnya."


Aku berdeham, merasa tersindir: jangan-jangan, Tuhan juga akan menghukumku atas kesalahan-kesalahan yang sudah kulakukan belakangan ini. "Apa pun itu, gue senang lu berubah. Entah kapan giliran gue."


Dalam waktu bersamaan, Roby tersenyum. Tapi kali ini lega dan tulus. "Ya, ini lebih baik daripada gue dihukum lebih parah. Daripada gue terjangkit virus, misalnya. Iya, kan?"


"Benar. Gue sependapat. Daripada itu."


Akhirnya, setelah menit-menit berlalu, Roby mengangkat gelasnya dan minum. "Paling tidak sekarang gue optimis tentang masa depan. Mengurus dua anak bersama Jessy. Walaupun bukan anak kandung gue."

__ADS_1


"Dua? Satunya yang mana? Dia hamil anak kembar?"


Roby tergelak. "Nnggak, kok. Maksud gue yang satunya itu keponakannya Jessy."


Aku bingung. Berani taruhan, Roby bisa melihat seribu tanda tanya di wajahku. Mungkin sejuta. "Tadi lu bilang -- anak itu tinggal bersama kakak iparnya, kan? Lah, terus?"


"Sekarang hak asuhnya sudah diambil oleh keluarga Jessy."


Tanpa aku bertanya, Roby sudah mengerti. Lipatan gelombang di dahiku mewakili mulutku.


Halus bagaikan godam, otakku mengarahkan aku berpikir negatif, terlebih cara Roby menyampaikan dan ekspresinya yang sekarang mendadak senang. "Apa yang terjadi, Rob?" tanyaku penuh selidik.


"Kecelakaan lalu lintas. Dia terlempar dari motornya dan terlindas kendaraan lain."

__ADS_1


Sebenarnya jantungku berdetak kencang dan mulai curiga, tetapi aku berusaha menyikapinya dengan tenang. "Well, kecelakaan normal, atau...?"


"Lu boleh berpikir apa pun. Tapi gue nggak akan jawab. Tapi yang perlu lu tahu, Jessy merasa sangat senang atas musibah menakjubkan itu."


Aku mengangguk-angguk. "Kecelakaan yang disengaja? Lu nyuruh orang?" tanyaku -- skak.


Roby menggeleng tanpa suara. Kusimpulkan kalau dia melakukan hal itu sendiri.


"Ya ampun, Rob," kataku dengan menekan suara sepelan mungkin. "Kok lu nekat banget, sih? Oke, gue sama sekali tidak peduli itu tindakan salah. Tapi nggak terang-terangan juga, Rob. Itu berisiko untuk diri lu sendiri."


Dia mengedikkan bahu. "Jessy yang minta. Gue harus apa, coba? Hmm? Saat kejadian itu, itu benar-benar kesempatan yang bagus. Dan itu sama sekali bukan rencana yang disusun rapi. Keinginan itu, maksud gue keinginan Jessy itu, seketika muncul begitu saja waktu gue dan Jessy nggak sengaja ada di jalan yang sama dengan cowok bajingan itu. Kesempatan dan keinginan itu datang tiba-tiba, target persis ada di depan mata, jalanan sepi, area sekitar nggak ada kamera CCTV, dan Jessy tiba-tiba minta hal itu. Dia maksa, Ngga. Gue nggak bisa berpikir panjang pada saat itu. Karena lu tahu, Jessy bilang itu syarat pertama kalau gue mau nikah sama dia. Dan yah, itu terjadi. Gue ngelakuin itu. Tapi gue nggak nyangka, gue sama sekali nggak nyangka kalau tu cowok bakal dilindas oleh mobil lain."


Ya Tuhan....

__ADS_1


Sadis!


__ADS_2