
Bar yang biasa kami datangi sudah penuh sesak ketika aku masuk keesokan malamnya. Seperti biasa, tempat itu berisi gabungan pengunjung yang aneh: para pesantap malam berduit menikmati hidangan gastro-pub mahal, penduduk setempat berisik menikmati beberapa gelas bir setelah bekerja, dan beberapa kelompok mahasiswa menghabiskan bir sambil mengerubungi meja-meja mungil dengan obrolan yang pasti ngalur-ngidul ke mana-mana.
Malam itu Raymond dan Roy memaksa Roby -- juga aku, untuk kumpul-kumpul dalam rangka pesta mengakhiri masa lajang Roby yang sebentar lagi akan menikahi Jessy. Aku sebenarnya tidak ingin pergi dan meninggalkan Suci di rumah, tetapi aku tidak enak pada sahabat-sahabatku. Aku tidak ingin mereka menganggapku tidak setia kawan. Terlebih pada Roby yang dulu turut serta hadir sewaktu Raymond memaksaku merayakan pesta bujangku, sebelum aku menikah dengan Rhea. Jadi ya sudahlah. Aku pun terpaksa datang.
"Sori telat," kataku pada Roby, seraya menggantungkan jaket di punggung kursi. Lalu aku megedarkan pandangan ke sekeliling pub yang penuh itu. Seperti biasa, Raymond sedang bergoyang panas bersama seorang gadis. Gadis yang sama, Indie.
Malam yang tidak asik, selain aku, Roby pun sama tidak inginnya berada di sana. Dia nampak sibuk dengan ponselnya. Ingin melakukan hal yang sama, aku pun hendak mengeluarkan ponselku ketika dua sosok tidak asing menghampiri meja kami. Roy bersama Stella.
Tentu saja, mereka langsung melihatku, ekspresi Stella sangat datar, sementara Roy tersenyum cerah lalu menghampiri. "Aku tidak tahu kamu akan berada di sini malam ini," kata Stella sembari mendekat. Sedangkan Roy langsung beranjak ke meja bar setelah menyampirkan jaketnya.
"Sama," kataku. Aku beringsut tidak nyaman sambil menatap ke arah bar. Sementara ia menaikkan sebelah alis lalu duduk di kursi yang kosong.
__ADS_1
Sungguh, aku tidak bisa mengabaikan ketidaknyamanan yang terjadi.
"Belum pesan minum, Ngga?" tanya Roy saat dia kembali membawa dua gelas berisi campuran JD dan Coke.
Aku menggeleng. "Ini mau pesan," kataku, sambil menghindari kontak mata dengan Stella. Aku pun beranjak ke meja bar, dan segera kembali ke meja dengan segelas anggur di tanganku.
"Eh, kita duluan, ya," kata Raymond bersama Indie di sampingnya. Dan sekilas kuperhatikan, di tengah-tengah celananya sudah menonjol dan tangannya terselip di belakang tubuh Indie dalam balutan dress tipis dan terawang.
Bagaikan detik yang tak berselang, Roy pun mengosongkan kursi lalu mengajak Stella turun ke lantai dansa.
Stella mengangkat tatapannya ke arahku sejenak. "Have fun, ya," katanya dengan suara khasnya yang mendayu-dayu. Lalu mereka pergi.
__ADS_1
Roby terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Ya ampun, canggung sekali," ledeknya.
Dengan murung, kuputar-putar gelasku di atas permukaan meja yang gelap dan mengilat. "Begitulah," kataku.
Roby menepuk punggungku. "Yah," katanya, agak terlalu ceria, "gue juga mau balik, ya. Sebenarnya... Jessy melarang gue ke sini. Mau tidak mau gue... menurut."
Aku mengangguk, lalu menenggak minumanku. "Gue juga mau balik," kataku. Dan, acara yang tidak jelas itu pun bubar, bahkan sebelum dimulai.
Aku dan Roby akhirnya sama-sama menuju parkiran, aku mengucapkan selamat malam, lalu masuk ke mobil untuk pulang. Sementara lampu-lampu kota yang benderang melesat dalam cahaya buram, tiba-tiba...
"Oh, *hit! Kenapa ini?"
__ADS_1
Aku bergumam sendiri saat merasakan tubuhku mulai panas -- pengaruh obat, sementara otakku kebingungan. Siapa yang menaruh obat ke minumanku? Kapan?