Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Ketika Hujan Reda


__ADS_3

"Tidak apa-apa, kok, Jess. Santai saja. Mungkin kamu punya urusan penting."


Dia menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Tidak kok, Pak. Santai saja."


Terus? Masa iya aku membiarkan perempuan cantik ini berdiri dengan heels tinggi di lobi kantor hanya untuk menemaniku menunggu hujan reda? Terlebih, hujan semakin deras di luar sana. Jalanan di depan gedung kantor yang sejak hujan belum turun memang sudah macet, dan sekarang menjadi semakin macet, seolah kendaraan-kendaraan yang didominasi oleh mobil pribadi dan sepeda motor yang bergegas menerabas hujan yang tak mau reda -- bagai hewan melata yang malas, merayap di jalanan yang basah.


"Bagaimana kalau kita ngopi?" tanyaku dan Jessy berbarengan. Aku mengangguk. Jessy mengangguk. Kami mengiyakan satu sama lain sambil tersenyum.


Aku dan Jessy memutuskan untuk menanti hujan reda dan kemacetan berlalu di sebuah kedai kopi yang terletak di beranda sebelah utara gedung kantor ini. Di kedai yang terang dan hangat ini, kami bercakap-cakap tentang apa saja yang terlintas di benak masing-masing sambil menikmati secangkir cappucino panas dan sepiring kentang goreng.


"Kenapa tadi kamu bilang lebih baik hujan?"


Jessy nampak berpikir sejenak, lalu berkata, "Saya rasa memang lebih baik hujan. Maksud saya, daripada Jakarta panas dan gerah, lebih baik hujan, ya kan, Pak?"


"Saya pikir kamu benar juga, beberapa hari ini langit selalu mendung, tetapi tidak hujan, udara jadi sangat panas dan gerah."

__ADS_1


Kami sependapat akhirnya. Lalu kembali menyeruput cappucino yang kini sudah tak benar-benar panas dalam genggaman tangan kami hingga tuntas. Saat itu, aku mengamati dengan seksama ketika Jessy menikmati cappucino miliknya, bibirnya yang cantik berlipstik warna pink itu tertumbuk begitu seksi dengan bibir mug. Ah, andai saja bibir itu tertumbuk dengan bibirku.


Eh?


Duuuh... Rangga. Lagi-lagi.


Kuingatkan pada diriku sendiri untuk tidak memikirkan apalagi memiliki hubungan spesial dengan sekretaris cantik itu. Sekretaris dan atasan -- big no. Bisa-bisa, aku tidak konsentrasi bekerja bila di antara kami terselip sebuah perasaan.


Tidak boleh, Rangga. Tahan dirimu. Tahan perasaanmu. Jangan.


Tetapi, persis di saat aku sibuk dengan pikiran aneh yang terlintas di kepalaku, kehangatan yang terjadi terasa begitu cepat berlalu dan buyar dalam sekejap, ketika seorang pemuda datang menghampiri meja kami. Jessy melirikku, setengah berbisik ia berucap, "Itu tunangan saya, Pak. Dia menjemput saya. Apa saya boleh pulang duluan?"


Tapi aku hanya bisa membeku, terlongo-longo sendirian dengan mulut terkunci. Mungkin ini yang dinamakan putus sebelum pacaran.


Memalukan! Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menyadari -- di luar hujan telah reda rupanya.

__ADS_1


Ponselku bergetar, whatsapp dari Billy.


》Orang-orang kita sudah berkumpul, Tuan. Siap eksekusi.


Bagus. Waktunya pemanasan. Hujan lebat meninggalkan rasa dingin, bukan? Itu mesti diatasi.


《 Hai Stell. Apa kabar? Aku sudah resmi bercerai. Sekarang statusku kembali single. Kupikir kamu pasti senang mendengar kabar ini, ya kan?


Tanda conteng dua menghijau. Stella membaca pesanku dan seketika balasan chat darinya memberondong whatsapp-ku.


》Sangat....


》Aku senang sekali.


》Maksudku aku turut senang untukmu.

__ADS_1


》Ingin merayakannya denganku? Please... datanglah.


Ikan memakan umpan. Saatnya pertunjukan!


__ADS_2