
"Kamu sibuk sekali dengan perempuan-perempuan di sekelilingmu, bahkan sampai lupa padaku."
Dia mencebikkan bibirnya yang mungil, kelihatan lucu dan imut sekali. Dia cute.
"Kamu cemburu?"
"Hm. Tentu saja. Aku cemburu berat."
"Well, bagaimana aku bisa ingat padamu kalau aku tidak pernah bertemu denganmu?"
Dia mendengus sebal. "Kamu yang tidak mencariku."
"Iya, oke. Tapi aku harus mencarimu ke mana?"
"Aku tidak tahu kita akan bertemu di mana."
"Jadi?"
"Entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa bertemu denganmu. Aku berada di dunia yang gelap."
Aku bingung. "Maksudnya bagaimana? Gelap? Aku tidak mengerti."
"Mimpi itu teka-teki. Mana bisa aku menceritakan semuanya padamu."
Aku menggelengkan kepala -- merasa dipermainkan.
"Paling tidak, beritahu aku siapa namamu?"
"Mau tahu?"
"Iya... siapa?"
"Panggil aku... My atau Yang."
Dia tertawa. Lalu pergi begitu saja.
"Hei! Tunggu...."
"Dah...."
"Kamu tidak bisa datang dan pergi begitu saja!"
Dia benar-benar menghilang dan aku kembali putus asa.
__ADS_1
"Yang...!"
Bug!
"Auw...!"
Aku terjatuh, merosot dari kursi di ruang kerjaku dan langsung disambut tawa menggelegar Raymond. "Busyet...! Enak bener jadi bos. Bebas tidur di mana pun dan kapan pun."
Rasa kantuk yang belum hilang sepenuhnya membuatku terhuyung. "Kampret, lu. Bukannya nolongin."
"Habisnya lucu, sampai jatuh begitu. Lu mimpi apa?"
"Entah, mimpi aneh." Aku kembali duduk.
"Bohong. Jangan-jangan lu mimpi lagi main, ya kan?"
"Sembarangan!"
"Ngaku aja. Mimpi main sama siapa? Stella?"
"Bukan!"
"Terus? Rhea? Belum move on lu? Atau Jessy?"
"Tuh, kan... bener apa kata gue."
Jessy. Ah, aku jadi teringat pada gadis itu. Bagaimana keadaannya sekarang?
"Lu mimpi main sama Jessy? Hmm?"
"Ray...."
"Gimana rasanya doi?"
"Ray... please, jangan bicara sembarang...!"
"Emang bener, kan? Buktinya, gosip kalau lu ada apa-apa sama Jessy meledak pagi ini. Apa itu kalau bukan karena ada sesuatu?"
Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Jessy cuma pingsan, terus gue bawa ke rumah sakit. Salahnya di mana? Kenapa pada bergosip tidak jelas?"
"Mana gue tahu."
"Gue nggak nanya lu."
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Omong-omong, lu tahu si Roby dan Roy pada ke mana?"
Aku memilih menggelengkan kepala, seolah aku tidak tahu ke mana kedua orang itu. Yang sejujurnya aku memang tidak tahu di mana Roy. Tapi untuk Roby, jelas aku tidak jujur kalau dia sedang di rumah sakit menemani Jessy. "Daripada nanyain atau ngomongin mereka, mending kita bahas soal lu."
"Gue?"
"Yap."
"Kenapa gue? Memangnya mau bahas apa?"
"Yang kemarin, di kandang kuda."
Raymond tertawa ngakak. "Lu masih pingin main sama doi?"
"Bukan...."
"Jujur aja, Bro."
"Ray...."
"Gue punya kontak dia. Lu mau?"
"Gue serius. Ini tentang lu."
Raymond berusaha menguasai dirinya kembali. Bulir-bulir bening keluar dari sudut matanya -- saking senangnya dia tertawa mengingat perempuan tunggangannya itu.
"Gue kenapa?"
"Ray, yang gue maksud soal cara main lu."
"Oh, itu...."
"Kenapa bisa begitu?"
"Maksud lu...? Begitu... bagaimana?"
"Itu sudah tidak wajar, Ray...."
"Em--"
"Sori, bukannya gue mau sok menggurui lu. Tapi gue peduli pada lu. Kita bersahabat sudah lama."
Raymond nampak terlihat ragu. Seakan kalimatku yang baru sedikit itu sudah mulai mengusiknya. "Gue tahu," katanya. "Tapi...."
__ADS_1
"Please, gue kepingin lu sembuh."