Hot Duda: Cinta Untuk Rangga

Hot Duda: Cinta Untuk Rangga
Ranum Persik


__ADS_3

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Ketuk palu sang hakim dalam sidang perceraianku dan Rhea telah berketuk. Saat ini, secara hukum negara -- aku, Rangga Sanjaya, resmi menyandang status baru. Ah, tidak perlu kusebutkan. Aku tidak bangga menyebut diriku sebagai duda, tapi jujur aku merasa sangat senang. Aku bukan lagi suami Rhea dan dia bukan lagi istriku. Kami telah resmi bercerai.


Setelah berhari-hari kulalui dengan rasa bosan yang terasa membunuhku perlahan, kini aku memiliki lagi semangatku. Aku seperti layangan putus -- wush... terbang dengan bebas.


》Selamat, Bro. Gue tunggu di peternakan, ya. Kita rayakan kebebasan lu dengan balap kuda. Kita bertiga nungguin lu di sini.


Kupikir okelah, aku meluncur ke sana selepas putusan sidang dibacakan hakim, lalu berbicara sebentar dengan pengacara-ku sekadar untuk mengucapkan terima kasih. Aku pun segera meluncur ke peternakan kuda keluarga Raymond.


Benar saja, Roby dan Roy sudah berada di sana. Bahkan beberapa botol anggur langsung menyambutku begitu aku tiba.


"Kalian pada seneng gue ngeduda?" tanyaku -- bercanda.


Mereka tertawa. "Biar kita samaan, Bro," sahut Roby. "Lebih tepatnya sih kalian berdua. Yang satu resmi bercerai, yang satu lagi resmi batal tunangan. Kompak, kan?"

__ADS_1


"Daripada kalian berdua, dari dulu tidak ada kemajuan sama sekali."


Ckckckc!


Raymond pun langsung tergelak, seolah kalimat yang kulontarkan itu senjata dahsyat untuk melumpuhkan Roby secara telak. "Bener banget. Dari zaman kita kuliah, pedekate aja mulu, jadian kagak."


"Jangan-jangan, sebenarnya kalian berdua udah nembak, tapi ditolak terus. Iya?"


Spontan Roby mendelik. "Sembarangan! Gue sempat pacaran beberapa kali, tahu! Tapi memang nggak perlu diekspose juga. Makanya kalian tidak ada yang tahu."


Praktis, aku pun kegirangan. "Wow! Lu ngasih gue kuda, Ray?"


"Yap, kuda betina, kualitas oke punya. Cek aja di dalam."

__ADS_1


Aku langsung melompat, menukik tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku. "Thanks, Brother...."


Jelas aku senang. Lekas-lekas aku masuk ke dalam dengan hati berbunga. Dan...


Oh... sungguh dia ciptaan Tuhan yang sempurna. Kuda betina itu memiliki *uah dad* bagaikan persik ranum di musim panas. Bermandikan sinar merah keemasan matahari yang menerobos masuk dari loteng istal yang terbuka bak cahaya surgawi, *uah dad* yang tinggi dan terpahat sempurna itu bergoyang dan berkilau samar saat ia bergerak, menggoda mulut lelaki untuk melakukan dosa tanpa penyesalan.


Raymond sialan! Yang ada di dalam kandang itu bukanlah kuda betina sungguhan. Tapi seorang wanita. Dia polos tanpa busana. Si jalan* yang tengah telanjan*.


Saat aku ingin berbalik, sepasang persik bergoyang kembali, dan tanpa disangka-sangka, aku menemukan diriku sangat ingin disesatkan. Wanita ini -- dengan *uah *adanya yang telanjan* dan geraian rambut merah keemasannya -- terlalu indah untuk dibiarkan begitu saja. Yap, dewi fortuna ini terlalu panas untuk diabaikan.


Jujur saja, secara fisik, aku mengakui dia merupakan satu contoh nyata dari kecantikan feminin yang menawan.


"Ayo," godanya, dengan senyuman yang menawan.

__ADS_1


Well, dia sangat cantik, benar-benar menawan dan juga sangat menggiurkan. Tapi dia wanita bayaran. Haruskah aku menolak, atau kunikmati saja?


__ADS_2