
"Inilah yang harus kamu lakukan, Jess," kataku. "Beritahu Ms. Stella bahwa saya akan segera bicara dengannya. Lalu suruh dia menunggu. Kamu tunggu dua menit, lalu sambungkan."
Jessy mengangguk. "Baik."
Aku menyandar di kursiku dan menatap langit-langit. Aku bisa saja menggunakan waktu untuk menghimpun pikiran, hanya saja itulah yang telah kulakukan sepanjang minggu lalu. Tidak ada pikiranku yang mengembara dalam radius seratus lima puluh kilometer.
Kring.
Terima kasih, Jessy.
Aku mengangkat telepon dan berusaha sebaik-baiknya menimbulkan kesan bahwa aku sedang sangat sibuk. Sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk menanggapi dirinya. "Hai, Anda masih ada di sana?"
"Aku masih di sini," katanya.
Aku langsung bisa tahu bahwa dia tidak senang disuruh menunggu. "Tunggu sebentar, oke?"
Kusuruh ia menunggu lagi sebelum ia sempat memprotes. Lalu aku kembali menatap langit-langit. Satu, dua, tiga....
Pada hitungan lima belas, aku kembali mengangkat telepon dan mengembuskan napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Astaga, maaf terpaksa membuat Anda menunggu, Ms. Stella," kataku, sekarang berusaha sebaik-baiknya untuk terkesan menyesal. "Saya sedang sangat sibuk dengan klien di saluran lain. Omong-omong, terima kasih untuk kiriman makanannya. Tapi sungguh, Anda tidak perlu repot-repot untuk itu."
Harusnya cara bicaraku sudah terdengar menyebalkan dan membuat illfeel, bukan?
"Ya, sama-sama. Ehm, supaya terdengar lebih akrab, bisa bicara dengan aku-kamu? Masalahnya, bicara dengan kata saya-anda, itu terkesan begitu formal."
Oh, dia malah semakin jadi. "Ya, baiklah."
"Eh, Ngga, aku berusaha menghubungi nomor ponsel yang diberikan Raymond kepadaku -- tapi ternyata itu nomor orang lain. Bukan nomormu."
Raymond... dasar berengsek!
Oke, kembali bersikap biasa. "Oh, sori soal itu. Tapi bagusnya Anda, maaf -- kamu, jangan tanya pada Raymond. Dia memang rada-rada gila."
"Oh, begitu... oke, Ngga. Omong-omong, boleh aku minta nomor ponselmu sekarang? Boleh, kan?"
Oh, kamu memang wow! Agresif.
Maaf, Stell, tapi aku harus mengabaikanmu.
__ADS_1
Daripada menanggapi Stella, kupikir lebih baik aku pulang. Dan itu yang kulakukan.
Ceklek!
Aku membuka pintu kamar utama di mana Rhea terkurung di dalamnya -- hanya untuk memastikan bahwa wanita yang masih berstatus istriku itu dalam keadaan baik dan masih hidup.
Ia langsung berdiri, menghampiriku, dalam balutan gaun tidur merah, dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, hitam, lebat, dan mengilap. Dia sangat anggun -- bila kau melihatnya dari kaca mata seorang pria. Dan, akhirnya aku berdiri tepat di hadapannya. Kuperingatkan diriku sendiri agar tidak melayangkan tanganku ke wajahnya.
"Akhirnya kamu pulang juga," katanya, suaranya masih terdengar waspada.
Aku mengangguk. "Ya, hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja."
Ia agak melunak. "Ya. Aku baik. Bagaimana kabarmu?"
Aku memilih tidak menanggapi pertanyaannya, lalu melirik ke nampan makan malamnya, makanan dan air minumnya sama sekali belum berkurang. "Kenapa belum makan?"
Kelunakannya berakhir di situ. Sikapnya kembali waspada. "Aku... aku bingung dengan semua ini. Kenapa aku tiba-tiba berada di rumah? Dan badanku terasa sakit semua."
Aku diam sejenak. Aku tidak tahu bagaimana cerita awal anak buahku membawa Rhea hingga dia kebingungan. Atau, dia hanya pura-pura bingung?
__ADS_1