
Tiga puluh menit kemudian, sewaktu aku kembali ke kamar utama, gadis cantik yang belum kuketahui namanya itu sudah selesai mandi. Bibi Merry sudah memberikan pakaian baru untuknya -- yang sejatinya untuk Rhea. Sekarang wajahnya tanpa mekap, dan sama cantiknya. Dia memiliki kecantikan alami walau tanpa riasan. Dan yang paling kusukai adalah alisnya yang tebal, bulu mata yang lentik, dan bibirnya yang kemerahan. Semua begitu alami. Sejujurnya, dia memiliki mata yang indah.
"Bi, di mana Taun... Tuan siapa tadi?"
"Tuan Rangga."
"Oh, ya. Tuan Rangga."
"Tuan Rangga ada di sini."
"Oh, di sini. Di mana?"
"Saya di sini," kataku.
Aku berdiri di dekat jendela sedari tadi, sebelum Bibi Merry membantunya menyisir rambut. Untuk sesaat, gadis itu tertegun. Dia berdiri dari duduknya di depan meja rias dan memutar ke arahku, ke sumber suara yang ia dengar.
"Nak, saya permisi dulu."
__ADS_1
"Ya, Bi. Terima kasih," katanya.
"Tolong bawakan sarapan ke sini, ya, Bi."
"Baik. Permisi, Tuan."
Aku mengangguk, lalu menatap lagi gadis di depanku setelah pintu tertutup. Kusadari, dia nampak sedikit gugup. Tapi ia berhasil menjaga ketenangannya dengan baik. Saat ia beringsut -- yang kuakui, itu dilakukannya dengan sangat baik -- dan menunduk -- dengan kewaspadaan, seolah ia sedang berhadapan dengan seorang penjahat yang sedang mengancam nyawanya.
Atau memang iya?
Dan seperti halnya dia, aku sendiri rasanya tak mampu membuka mulutku. Aku bingung sendiri bagaimana harus bersikap, sehingga aku diam saja, membisu di tempatku berdiri.
Aku bisa melihat ia sedang berpikir. Pria yang belum pernah dilihatnya ini ingin bicara dengannya -- berdua di dalam kamar. Orang asing. Orang asing pemilik rumah di mana dia berada saat ini.
"Jangan khawatir, saya tidak semenakutkan seperti yang Anda pikirkan. Omong-omong, sebenarnya saya cukup jinak," kataku bergurau.
Ia tersenyum sekilas. "Maaf. Saya bukannya bermaksud tampak sangat curiga. Hanya saja--"
__ADS_1
"Saya mengerti. Sekarang ini waktu yang tidak tepat. Maksud saya... kita bertemu di waktu yang tidak tepat, sungguh ini peremuan dengan cara yang tidak tepat. Saya minta maaf."
Dia diam sejenak. "Sejujurnya, saya ingin sekali mengatakan, apa permintaan maaf itu berguna? Keperawanan saya sudah direnggut. Anda sudah merampasnya dari saya."
Kuhela napas dengan berat. Rasa-rasanya aku tidak bisa menjawab perkataannya. "Saya mabuk. Anda juga. Dan kita sama-sama dalam pengaruh obat. Saya benar-benar meminta maaf untuk semua yang terjadi. Itu kekhilafan."
"Lalu tadi pagi?"
Ya ampun, bagaimana caraku menjawabnya? Aku semakin bingung. "Emm... itu... saya terpancing. Anda... posisi Anda tidur menindih saya. Emm... maaf kalau ucapan saya membuat Anda tersinggung. Tapi serius, sewaktu saya menggeserkan tubuh Anda, Anda malah merenggangkan kaki. Maaf kalau saya terkesan seperti bajingan yang tidak bisa menahan diri. Tapi saya lelaki normal. Saya...."
Tidak ada lagi kata-kata. Lagipula, pembelaan diri macam apa ini?
Dalam waktu dan detik-detik bersamaan, gadis itu menggeleng-gelengkan kepala sedari tadi, seolah menolak kenyataan.
"Sekali lagi saya minta maaf, Nona. Saya tidak bermaksud melecehkan Anda. Tapi keadaan...."
Dia mengangguk. "Saya paham. Meski saya tidak ingat kejadian yang sebenarnya, tapi saya coba untuk percaya pada Anda. Dan... seandainya Anda membohongi saya, memanfaatkan kemabukan saya semalam, tidak apa-apa. Toh semuanya sudah terjadi. Salah saya sendiri, saya mabuk, -- dan buta."
__ADS_1
Benar. Kenapa gadis buta datang ke bar? Tapi mana bisa aku mencetuskan pertanyaan itu.